KB Suntik DMPA dan Fungsi Seksual Akseptor KB

Latar Belakang

Fungsi seksual pada akseptor Keluarga Berencana (KB) penting untuk diketahui dan menjadi perhatian petugas kesehatan dalam hal ini bidan, karena masalah seksual menjadi salah satu faktor penentu kualitas hidup seseorang. Fungsi seksual itu sendiri terdiri dari beberapa dimensi diantaranya hasrat, gairah, lubrikasi, orgasme, kepuasan dan dispareunia atau nyeri saat berhubungan seks.1, 2

Fungsi seksual yang menurun atau terganggu menjadi masalah bagi akseptor, karena akan mempengaruhi keutuhan rumah tangga, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kondisi rumah tangga yang tidak harmonis, perceraian, terpisahnya anak dari keluarga yang utuh yang dapat menggiring mereka pada pelarian terhadap gaya hidup yang tidak sehat seperti narkoba, seks bebas, bunuh diri, dan lain sebagainya. Hal ini tentunya akan menciptakan masalah kesehatan reproduksi lainnya, dan juga masalah sosial yang kompleks bukan saja bagi keluarga yang bermasalah tersebut, tetapi juga bagi masyarakat bahkan bagi Negara.3, 4

Masalah seksual umumnya sering ditemukan pada berbagai populasi, angka ini bervariasi dari 12%-63% tergantung pada bagaimana tipe pengukuran yang dilakukan. Masalah ini berhubungan dengan faktor sosial demografi, psikologi, patologi, dan dan faktor lainnya.5 Studi tentang fungsi seksual yang dilakukan di Amerika oleh Laumann dkk (1999), melaporkan bahwa disfungsi seksual lebih banyak terjadi pada perempuan sebesar 43% dibandingkan pada laki-laki 31%.6

Fungsi seksual pada perempuan itu sendiri dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti usia, tingkat pendidikan, usia dan pendidikan pasangan, memasuki masa premenopause, status perkawinan, konsumsi obat antidepresi, perbedaan usia pasangan, lamanya pernikahan, pendapatan, keharmonisan rumah tangga dan juga penggunaan kontrasepsi.2, 7-10

Prevalensi wanita usia subur (WUS) menurut Family Planning Worldwide dalam Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan tahun 2008, Indonesia adalah yang tertinggi di antara Negara ASEAN yakni 65%, sementara di Vietnam sebesar 25,3%, dan di Kamboja sebesar 4%. Sebaliknya pengguna kontrasepsi di Indonesia lebih rendah dari Vietnam dimana Indonesia hanya sebesar 61% dan di Vietnam sebesar 78%.11

Dalam International Conference on Population and Development (ICPD) di Kairo pada tahun 1994, paradigma pengelolaan kependudukan telah berubah yang semula berorientasi kepada penurunan fertilitas (manusia sebagai obyek) menjadi pengutamaan kesehatan reproduksi perorangan dengan menghormati hak reproduksi setiap individu (manusia sebagai subyek).11 Hal ini tidak terlepas dari fungsi seksual akseptor itu sendiri.

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, Prevalensi pengguna kontrasepsi di Indonesia sebesar 75,96 %, alat atau cara kontrasepsi yang dominan dipakai adalah suntik (46,47%), pil (25,81%), dan kondom (2,96%).12

Berdasarkan profil kesehatan provinsi Banten 2012, peserta KB aktif sudah mencapai target 100% dengan jumlah akseptor sebanyak 1372.918 baik Metoda Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) maupun Non-MKJP. MKJP baik tubektomi, vasektomi, alat kontrasepsi dalam Rahim (AKDR) dan implan masih lebih sedikit yaitu sebesar 19,3% masing-masing Implan 8,7%, AKDR 8,1%, Tubektomi 1,6% dan vasektomi 0,9%; dibandingkan Non-MKJP sebesar 80,7%. Proporsi kontrasepsi dari Non-MKJP paling banyak digunakan adalah metode suntikan sebesar 50,2%, diikuti dengan pil 25,3% dan kondom 3,7%.13

Meskipun KB suntik tetap menjadi primadona dari tahun ke tahun, pemakaian KB Suntik banyak memberikan efek yang merugikan kesehatan. Ahrendt, Adolf dan Buhling (2010) melaporkan bahwa wanita yang memakai kontrasepsi pil kombinasi/COC (Combined Oral Contraceptive) mengalami mual muntah 92%, perubahan payudara 90%, sakit kepala 84% dan edema 74%.14 Truit (2003) dalam BKKBN (2010) melaporkan bahwa pada akseptor kontrasepsi hormonal, terjadi penurunan volume ASI pada pemakaian COC rata-rata 42%, sedangkan pada pemakaian kontrasepsi progestin saja terjadi penurunan volume ASI sebesar 12%.15

Tempe, Wadhwa dan Batra (2008) menginformasikan bahwa pada penggunaan oral kontrasepsi mini Pil/ Progesterone Only Pill (POP) terjadi efek samping berupa siklus menstruasi yang ireguler 47-65%, perubahan mood 1%, mual 0,1% dan dismenore 3,2%. Efek lain dari kontrasepsi hormonal adalah Efek samping implan antara lain menyebabkan penambahan berat badan sebanyak 1,5-2% setiap tahunnya. Dampak lain adalah perubahan mood seperti resah dan depresi 1-9% dan sakit kepala 10-30%.16

Hassan dkk (2014) melaporkan bahwa penurunan atau masalah fungsi seksual pada akseptor KB hormonal meningkat seiring dengan durasi penggunaan kontrasepsi hormonal. Penurunan fungsi seksual setelah 6 bulan pertama pemakaian sebesar 53,60%, satu tahun 70,80%, dua tahun 73,90%, dan lebih dari 3 tahun sebsar 77,80%.17

Informasi tentang hubungan KB hormonal dengan disfungsi seksual di Indonesia dilaporkan oleh Batlajery dkk (2015) dari studi yang dilakukan di Puskesmas Palmerah bahwa terjadi kejadian disfungsi seksual pada akseptor KB hormonal lebih tinggi (32,7%) dibandingkan dengan akseptor KB non hormonal (29,1%).18 Sedangkan angka nasioanal belum ditemukan informasinya.

Fungsi Seksual

Pengertian Fungsi Seksual

Definisi fungsi seksual terus berkembang, tidak hanya menyangkut komponen objektif seperti kemampuan melakukan hubungan seks (coitus) dengan frekuensi hubungan seks yang teratur, tetapi juga komponen subyektif seperti kepuasan dan kenikmatan terhadap seks itu sendiri.19

Perilaku seksual adalah manifestasi aktivitas seksual yang mencakup baik hubungan seksual (intercourse, coitus) maupun masturbasi. Dorongan atau nafsu seksual adalah minat untuk memulai atau mengadakan hubungan intim (sexual relationship). Kegairahan seksual (sexual excitement) adalah respon tubuh terhadap rangsangan seksual. Ada dua respon yang mendasar yaitu myotonia atau ketegangan otot yang meninggi dan vasocongestian yaitu bertambahnya aliran darah ke daerah genital.20

Karakteristik seksual dibagi menjadi dua jenis yaitu karakteristik seksual primer yang secara langsung berhubungan dengan reproduksi dan termasuk organ seks (alat kelamin), dan karakteristik seksual sekunder adalah atribut selain organ seks yang umumnya membedakan satu seks dari yang lain tetapi tidak penting untuk reproduksi, seperti payudara yang lebih besar dan lain sebagainya.

Dysfungsi seksual adalah gangguan respon fungsi seksual atau gangguan pada perilaku seksual. Pada perempuan, disfungsi seksual diartikan sebagai kegagalan yang menetap atau berulang, baik sebagian atau keseluruhan, untuk memperoleh dan atau mempertahankan respon lubrikasi vasokongesti sampai berakhirnya aktivitas seksual.20

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV (DSM-IV) menjabarkan tentang disfungsi seksual sebagai gangguan hasrat seksual dan atau di dalam siklus tanggapan seksual yang menyebabkan tekanan berat dan kesulitan hubungan antar manusia. Disfungsi seksual ini dapat terbagi menjadi empat kategori yaitu gangguan minat, gangguan birahi, gangguan orgasme, dan gangguan nyeri seksual.21

Penyebab Dysfungsi Seksual

Beberapa penyebab disfungsi seksual antara lain:21

  1. Penggunaan kontrasepsi hormonal
  2. Gangguan vaskuler pembuluh darah
  3. Penyakit sistemik
  4. Gangguan neurologis dan psikoseksual

 DSM IV dari American Phychiatric Assocation, dan International Classification of Disease-10 (ICD-10) dari WHO, disfungsi seksual wanita ini dibagi menjadi empat kategori yaitu21 :

  1. Gangguan minat/keinginan seksual (desire disorders)

Dua gangguan merefleksikan maalah-masalah yang terkait dengan nafsu dari siklus respon seksual. Masing-masing gangguan ditandai oleh sedikitnya atau tidak adanya minat terhadap seks yang menimbulkan masalah dalam suatu hubungan. Dorongan seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu hormon testosteron, kesehatan tubuh, faktor psikis dan pengalaman seksual sebelumnya. Jika di antara faktor tersebut ada yang menghambat atau faktor tersebut terganggu, maka akan terjadi ganggaun dorongan seksual.

  1. Gangguan birahi (arousal disorder)

Bila seorang wanita mengalami gangguan pada fase rangsangan, maka ia tidak mampu atau gagal mempertahankan lubrikasi hingga hubungan seksual selesai. Hal ini bisa disebabkan oleh kondisi medis tertentu, sehingga produksi cairan tidak mencukupi untuk melumasi vagina saat berhubungan seksual.

  1. Gangguan orgasme (orgasmic disorder)

Disfungsi orgasme adalah terhambatnya atau tidak tercapainya orgasme yang bersifat persisten atau berulang setelah memasuki fase rangsangan (excitement phase) selama melakukan aktivitas seksual.

  1. Gangguan nyeri saat berhubungan seksual (sexual pain disorder).

Nyeri genital yang berulang kali terjadi, baik yang dialami oleh laki-laki maupun perempuan sebelum, selama, atau setelah hubungan seksual.

Dimensi Fungsi Seksual

Dimensi fungsi seksual terdiri dari beberapa dimensi dari berbagai referensi. Dalam penelitian ini dimensi fungsi seksual merujuk pada dimensi fungsi seksual yang dikemukakan oleh Rosen dkk (2000). Dimensi fungsi seksual menurut Rosen dkk terdiri dari 6 dimensi yaitu:

  1. Desire

Desire/ hasrat / minat seksual adalah perasaan ingin melakukan hubungan seksual, merasa menerima ajakan untuk berhubungan seksual dari pasangannya, dan memikirkan serta membayangkan atau berfantasi terhadap hubungan seksual dengan pasangannya.

  1. Arousal / birahi

Arousal adalah perasaan baik aspek fisik maupun mental terhadap kenikmatan seksual. Bisa seperti sensasi rasa hangat/panas dan kesemutan pada alat kelamin, lubrikasi/keluarnya lendir vagina, dan kontraksi otot kelamin saat terangsang.

  1. Lubrication

Lubrication adalah keluarnya lender serviks karena berhasrat / birahi terhadap rangsangan seksual yang dirasakan terhadap pasangannya. Lubrikasi akan terus terjadi hingga aktivitas seksual selesai.

  1. Orgasm

Orgasme adalah perasaan mencapai klimaks saat melakukan hubungan seksual.

  1. Satisfaction

Perasaan nikmat dan puas setelah melakukan hubungan seksual, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pasangannya.

  1. Pain

Perasaan nyeri ketika melakukan hubungan seksual baik pada awal, saat penetrasi penis maupun setelah selesai. Hal ini bisa terjadi karena terganggunya fungsi seksual pada dimensi lain seperti tidak terjadi lubrikasi karena terangsang. Penyebab lain bisa karena vaginismus yaitu terjadinya kontraksi atau kejang otot-otot vagina sepertiga bawah sebelum atau selama senggama sehingga penis sulit masuk ke dalam vagina.

KB Suntikan

Menurut komposisinya, KB suntik terdiri dari 2 macam yaitu KB suntik kombinasi dan KB suntik progestin saja. Untuk lebih lanjut akan dijelaskan dibawah ini.

  1. Suntikan Kombinasi

Jenis KB Suntik di Indonesia

Suntikan kombinasi yang beredar di Indonesia adalah Depo Medroksiprogesteron Asetat (DMPA) 25mg dan estradiol Sipionat 5 mg yang diberikan secara intra muskuler (IM) setiap bulannya. Jenis yang lain adalah Noretindron Enantat Valerat 50mg (Cyclofem) dan estradiol Valerat 5mg yang juga diberikan secara IM setiap bulannya. Efektifitasnya dapat mencapai 0,1-0,4 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama penggunaan.22

Cara Kerja Suntikan Kombinasi

Cara kerja suntikan kombinasi adalah menekan ovulasi, mengentalkan lendir serviks sehingga mempersulit penetrasi sperma, membuat implantasi hasil konsepsi terganggu karena endometrium menjadi atrofi dan menghambat transportasi gamet oleh tuba karena motilitas tuba menjadi terganggu.22, 23

Fakta – fakta terkait penggunaan kontrasepsi suntikan kombinasi

Suntikan kombinasi/ Combined Injectable Contraceptive (CIC) dapat menyebabkan menstruasi yang tidak teratur sehingga menyebabkan terhentinya kelangsungan pemakaian metode ini sekitar 7%.16 Dalam Journal of Obstetrics and Gynaecologic Canada menginformasikan bahwa pada penggunaan kontrasepsi hormonal kombinasi baik itu pil maupun suntikan mempunyai resiko terhadap kejadian stroke namun angkanya sangat kecil yakni 1/5.880. Studi-studi yang lain melaporkan bahwa penggunaan kontrasepsi hormonal kombinasi pada wanita yang berusia kurang dari 20 tahun akan meningkatkan resiko relatif terhadap kejadian kanker payudara. Hal ini disebabkan karena adanya hormon dari luar (sintetik) mempengaruhi reseptor hormon steroid terhadap tumor positif.24

 

  1. Suntikan Progestin

Jenis KB Suntik Progesteron saja yang beredar di Indonesia:

  • Depo Medroksiprogesteron Asetat (DMPA) disuntikan setiap tiga bulan.
  • Depo Noretisteron Enantat (Depo Noristerat) diulang setiap du bulan.

Cara Kerja KB Suntikan Progestin saja (DMPA)

Cara kerja KB suntik progestin adalah menghambat ovulasi, mengentalkan lendir serviks sehingga kemampuan penetrasi sperma terganggu, menipiskan endometrium dan menghambat transportasi gamet oleh tuba. Efektivitas kontrasepsi suntikan progestin saja sangat tinggi yaitu 0,3/100 perempuan pertahunnya, asal penyuntikannya dilakukan dengan benar, tepat waktu sesuai dengan jadwal yang ditentukan.

Fakta – fakta terkait penggunaan kontrasepsi suntikan Progestin

Pemakaian DMPA akan menginduksi amenore sebesar 55-60% pada 12 bulan pemakaian. Amenore meningkat menjadi 80% pada pemakaian 5 tahun berikutnya. Hal ini berhubungan juga terhadap penurunan masa tulang atau Bone Mineral Density (BMD). Sementara itu estrogen sendiri berhubungan dengan formasi tulang. Kekurangan estrogen akan menyebabkan meningkatnya remodeling tulang dan resorbsi dari volume tulang. Hal ini menyebabkan menurunnya BMT dan kejadian osteoporosis. Dengan demikian pemakaian DMPA dalam waktu yang lama dianggap dapat menyebabkan meningkatnya prevalensi osteoporosis yang mengakibatkan fraktur tulang.24

Remaja yang menggunakan DMPA akan meningkatkan resiko osteoporosis. Hal ini disebabkan karena DMPA yang dipakai pada pascamenarche akan mempengaruhi formasi massa tulang sehingga memicu terjadinya osteopenia yang berakibat osteoporosis. Menurut Beksinska (2005) dalam BKKBN (2010) penggunaan DMPA sejak remaja akan meningkatkan resiko osteoporosis dan fraktur pada usia selanjutnya karena belum mencapai masa puncak tulang tertinggi.25

Sekitar 90% BMD pada wanita terjadi pada usia 18 tahun dan pada usia 18-30 tahun akan terjadi penambahan 10% terakhir dari BMD maksimal. Pada usia 30 tahun massa tulang akan terus menerus berkurang karena tingginya proses resorbsi tulang. Pemakaian DMPA akan mengakibatkan penurunan densitas masa tulang 0,5-3,5% pada tahun pertama, dan menjadi 5,7-7,5% pada dua tahun berikutnya. Hal ini dilaporkan pada studi potong lintang pada kelompok dewasa maupun remaja ≥ 18 tahun dan kelompok remaja < 18 tahun, keduanya kelompok tersebut menunjukan hasil yang sama.26

Melihat akibat diatas, The US Food and Drug Administration/FDA menyarankan agar penggunaan DMPA tidak lebih dari 2 tahun kecuali tidak ada pilihan kontrasepsi lain pada wanita tersebut. Sementara itu WHO tidak merekomendasikan pembatasan durasi pemakaian DMPA.25

Kontra Indikasi KB Suntik

Kontra indikasi KB suntik antara lain:23

  1. Penderita yang peka terhadap medroxy progesteron acetat.
  2. Perdarahan divagina yang tidak diketahui penyebabnya
  3. Kelainan patologis payudara yang tidak diketahui penyebabnya.
  4. Perdarahan pada saluran kemih yang tidak diketahui penyebabnya
  5. Kehamilan

Efek Samping KB Suntik

Efek samping KB suntikan Kombinasi:27

  • Terjadi perubahan pola haid, seperti tidak teratur, perdarahan bercak / spotting, atau perdarahan sela sampai 10 hari.
  • Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan yang akan hilang pada minggu kedua atau ketiga setelah pemakaian KB suntikan kombinasi
  • Ketergantungan klien terhadap pelayanan kesehatan karena harus kembali setiap 30 hari.
  • Efektifitas berkurang jika digunakan bersamaan dengan obat-obatan seperti epilepsy (fenitoin dan barbiturate) serta oba tuberculosis (rifampisin).
  • Dapat terjadi efek samping yang serius, seperti serangan jantung, stroke, bekuan darah pada paru atau otak, dan kemungkinan timbulnya tumor hati.
  • Penambahan berat badan
  • Terlambatnya pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian.

Efek samping KB suntikan Progestin saja:27

  • Amenore, amonore masih berlangsung setelah pengehentian pemakaian, rata-rata 6 bulan
  • Perdarahan ringan / spotting
  • Penambahan berat badan
  • Sakit kepala
  • Nyeri payudara
  • Terlambatnya kesuburan setelah penghentian pemakaian

 Faktor – Faktor yang Berhubungan dengan Fungsi Seksual

Menurut DeLamater dan Karraker (2009), ada empat faktor yang mempengaruhi fungsi seksual yaitu faktor biologis, psikologis, konteks sosial termasuk budaya, dan interaksi antara keempat faktor tersebut.28 Sementara itu Shahossein dkk (2014) membagi faktor penentu fungsi seksual menjadi faktor demografi, faktor patohistologikal, faktor psikososial, dan faktor sosiokultural.29 Berikut ini akan dijelaskan terlebih dahulu tentang faktor KB hormonal.

  1. Kontrasepsi Hormonal

Kontrasepsi hormonal dapat mempengaruhi pada efek umpan balik positif estrogen (estrogen positive feedback) dan umpan balik negatif progesteron (progesteron negative feedback). Pemberian hormon yang berasal dari luar tubuh seperti pada kontrasepsi hormonal baik berupa estrogen maupun progesteron menyebabkan peningkatan kadar kedua hormon tersebut di darah, hal ini akan di deteksi oleh hipofisis anterior dan akan menimbulkan umpan balik negatif dengan menurunkan sekresi hormon FSH dan LH dan dengan keberadaan progesteron efek penghambatan estrogen akan berlipat ganda. Dalam jangka waktu tertentu tubuh dapat mengkompensasi dengan meningkatkan sekresi estrogen agar tetap dalam keadaan normal namun dalam jangka waktu yang lama menyebabkan hilangnya kompensasi tubuh dan menurunnya sekresi hormon terutama estrogen.21

Bukti penelitian yang dapat mendukung teori diatas disampaikan oleh Hassan dkk dari penelitian yang dilakukan di Kairo pada tahun 2014 bahwa kejadian disfungsi seksual terjadi seiring dengan lama penggunaan kontrasepsi hormonal. Pada 6 bulan pertama 53,60% akseptor mengalami dysfungsi seksual, 1 tahun berikutnya meningkat menjadi 70,80%, 2 tahun berikutnya meningkat menjadi 73,90%, dan penggunaan 3 tahun atau lebih meningkat sebesar 77,80%.17

Hal yang sama dilaporkan oleh Afefy dari peneltian yang dilakukan terhadap pasien yang berkunjung ke Cairo University Hospital bahwa penggunaan kontrasepsi terbukti berkorelasi secara signifikan terhadap penurunan fungsi seksual pada akseptor dengan arah korelasi positif dan kekuatan korelasi r =0,22 dan nilai p 0,03. 30

Hasil penelitian lain yang sama disampaikan oleh Batlajery dkk (2015) dari studi yang dilakukan di Puskesmas Palmerah bahwa terjadi kejadian dysfungsi seksual pada akseptor KB hormonal lebih tinggi (32,7%) dibandingkan dengan akseptor KB non hormonal (29,1%).18

Hal yang berbeda disampaikan oleh Tekin dkk (2014) bahwa akseptor yang menggunakan kontrasepsi hormonal mempunyai skore FSFI yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal (nilai p = 0,00). Namun demikian, pada dimensi nyeri, akseptor kontrasepsi hormonal mempunyai skor nyeri yang lebih tinggi dibanding kelompok yang tidak menggunakan kontrasepsi hormonal (4,1: 3,8) hal ini dapat disebabkan karena berkurangnya lubrikasi saat bersanggama.7

 

  1. Faktor Demografi dan Biologis

Umur

Beberapa studi sebelumnya melaporkan bahwa ada hubungan antara umur dengan fungsi seksual. Hal ini berkaitan dengan teori penuaan bahwa sel-sel tubuh akan menurun fungsinya, demikian juga fungsi reproduksi yang mana pada kaum perempuan akan terjadi penurunan fungsi ovarium yang memproduksi hormon estrogen dan progesterone yang mempengaruhi fungsi seksual itu sendiri.22

Penurunan kadar testosterone seiring denga bertambahnya usia juga turut berperan dalam penurunan gairah seksual baik pada perempuan maupun laki-laki. Namun beberapa penelitian lain membuktikan bahwa usia bukan satu-satunya faktor penyebab penurunan gairah atau frekuensi aktivitas seseorang dalam berhubungan seks. Faktor patologis atau penyakit yang diderita justru lebih berpengaruh terhadap fungsi seksual seseorang.28 Hal yang sama disampaikan oleh Genazzani (2007) bahwa menurunnya testosterone menyebabkan menurunnya gairah seksual dan meningkatnya disfungsi ereksi. Digaris bawahi bahwa rendahnya kadar testosterone berkorelasi dengan beberapa penyakit kronis, termasuk sindrom metabolic, penyakit kardiovaskuler, dan tipe 2 diabetes.31

Shahhossein dkk (2014) melaporkan bahwa penurunan fungsi seksual berhubungan dengan umur yang semakin bertambah pada populasi. Terlihat bahwa dengan bertambahnya usia, aktivitas seksual akan terpengaruh karena adanya tugas baru seperti tanggung jawab sebagai orang tua, dalam keluarga, maupun komunitas.32 Berbeda dengan hasil penelitian Guida dkk (2005), bahwa tidak terbukti ada hubungan antara usia akseptor dengan disfungsi seksual.33

Perbedaan umur pasangan

Jarak antara usia antar pasangan ditemukan berhubungan secara statistik dengan fungsi seksual. Ditemukan pasangan dengan perbedaan usia 10 tahun mengalami kepuasan seks maupun kepuasan hidup berumah tangga yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasangan dengan perbedaan usia yang lebih jauh. Penjelasan lebih jauh tentang hal ini belum ada informasinya.34

Pendidikan

Pendidikan dilaporkan berhubungan dengan indeks fungsi seksual yang tinggi, dimana ibu yang berpendidikan tinggi mempunyai indeks fungsi seksual yang lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan rendah. Hal ini dapat berhubungan dengan semakin tingginya pendidikan seseorang, semakin luas wawasan yang dimiliki termasuk dalam hal seksualitas sehingga memungkinkannya untuk mempunyai perilaku seksual yang lebih bervariasi, lebih percaya diri terhadap pasangannya dalam melakukan hubungan seksual sehingga dapat memberikan kepuasan seksual bagi keduanya.34

Jumlah Anak

Kaitannya dengan jumlah anak, kepuasan seksual ditemukan lebih rendah pada ibu dengan jumlah anak kurang dari 2-3 dibandingkan dengan lainnya. Hal ini ada hubungannya dengan pengalaman akan dispareunia.35

Pekerjaan

Ibu yang bekerja sebagai wanita karir dilaporkan memiliki kepuasan seksual yang lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja atau ibu rumah tangga. Hal ini disebabkan karena mereka lebih independen secara finansial, mempunyai kepercayaan diri yang lebih tinggi sebagai konsekuensi dari perasaan puas terhadap kehidupan seks mereka akibat dari kemampuan menghasilkan uang.34 Perempuan dengan pendapatan yang lebih rendah atau tidak mempunyai pendapatan merasa kurang seksi, yang bisa mengakibatkan kurangnya minat uuntuk berhubungan seks dengan pasangannya, atau kurangnya kepuasan dalam kehidupan seksualnya.36 Bertolak belakang dengan informasi tersebut, bukti penelitian lain mengatakan bahwa ibu rumah tangga memiliki kualitas kehidupan seksual yang lebih tinggi dari ibu yang memiliki karir di luar rumah.37

Lama Waktu menikah

Durasi lama pernikahan dilaporkan berhubungan dengan frekuensi hubungan seksual. Call dkk dalam DeLamater (2009) menemukan bahwa kebiasaan dalam hal hubungan seks terjadi pada hubungan suami – isteri yang sudah berlangsung lama dan terjadi penurunan.

Penurunan dalam hubungan rumah tangga terjadi pada saat yang bersamaan dengan bertambahnya usia, yang juga menjadi faktor konfounding dalam hubungan seksual antar pasangan. Namun bagaimanapun menurunnya frekuensi hubungan seksual bukan menjadi satu-satunya ukuran menurunnya fungsi seksual.28

Pendapatan

Faktor sosial ekonomi seperti income keluarga dapat menyebabkan konlik dalam rumah tangga. Status ekonomi menjadi tekanan dalam rumah tangga, sebagai salah satu faktor yang menyebabkan konflik antara suami isteri dapat menurunkan fungsi seksual masing-masing.34, 37, 38

Psikologikal

Faktor kesehatan mental merupakan faktor yang sangat berperan terhadap kualitas kehidupan seksual seseorang. Sebagian besar studi melaporkan bahwa kesehatan mental ditemukan sebagai faktor yang kuat terhadap kepuasan seksual seseoran. Dalam hal ini, kesehatan mental menyangkut orang yang mempunyai standar individual bagaimana untuk berpikir dan merasakan / menikmati hidupnya secara keseluruhan maupun dalam hal khusus seperti kehidupan seks mereka hubungan interpersonal, fisik maupun status mentalnya. 34

Studi lain melaporkan bahwa stress maupun depresi yang dialami berdampak buruk terhadap fungsi seksual seseorang. Terapi yang digunakan terhadap depresi juga dapat menyebabkan disfungsi seksual seperti anorgasme, disfungsi ereksi, dan berkurangnya libido.28

Patologikal

Penyakit diabetes ditemukan sebagai faktor risiko terhadap penurunan fungsi seksual. Hal ini disebabkan karena penyakit diabetes dapat menurunkan libido seks dan menyebabkan terganggunya lubrikasi saat berhubungan seksual, sehingga mengurangi kepuasan seksual. Demikian juga dengan penyakit artritis rematoid (AR). Sekitar 31-70% dari mereka yang menderia AR mengalami masalah dalam kehidupan seksualnya. Masalah kesehatan lain seperti penyakit jantung koroner, inkontinensia uri, atrofi vagina, vaginitis, vulvititis, juga dapat menyebabkan menurunnya fungsi seksual. 34, 39

Onset klimakterium menyebabkan perubahan hormonal yang signifikan, sehingga dapat menyebabkan menurunnya fungsi seksual. Meskipun demikian, wanita lansia yang sudah menopause dan mempunyai pasangan yang mengerti terhadap menopause, meskipun frekuensi hubungan seks berkurang, masalah terhadap lubrikasi menurunnya gairah seks, tetap saja memiliki kepuasan seksual karena mempunyai pasangan yang dapat menerima keadaannya.28, 40

Obesitas ditemukan sebagai faktor risiko terhadap menurunnya fungsi seksual. Obesitas dapat mengurangi orgasme, lubrikasi dan gairah seks baik langsung maupun tak langsung yang secara signifikan dapat mengurangi kepuasan seksual. Obesitas secara langsung dapat mempengaruhi self-esteem pada perempuan yang menciptakan gambaran diri yang negatif (nilai p = 0,001).41

Keharmonisan Rumah Tangga

Keharmonisan dalam rumah tangga akan berpengaruh terhadap kepuasan seks yang tinggi. Adanya kekerasan dalam rumah tangga menyebabkan menurunnya fungsi seksual dari pihak perempuan, karena memepengaruhi minat dan gairah seksual untuk melakukan hubungan seks.34

Kerangka Pemikiran

Berdasarkan berbagai teori dan bukti ilmiah di atas maka kerangka pemikiran dari masalah ini adalah sebagai berikut:

Kerangka Teori KB DMPA vs Fungsi Seksual Akseptor

DAFTAR PUSTAKA

  1. WHOQOL-BREEF. Health PoM, editor. Geneva: World Health Organization; 2002.
  1. Rosen R, Brown C, Heiman J, Leiblum S, Meston C, Shabsigh R, et al. The Female Sexual Function Index (FSFI) : A multidimensional self-report instrument for the assessment of female sexual function Journal of Sex & Marital Therapy. 2000;26:191-208.
  1. Fagan PF, Churchil A. The effects of divorce in children. Marriage & Religion Research Institute: Washington; 2012.
  1. Whitton SW, Rhoades GK, Stanley SM, Markman HJ. Effects of parental divorce on marital commitment and confidence. J Fam Psychol, NIH Public Access. 2008;22(5):789-93.
  1. Neal KL, Teng S, Nyamukapa M, Greenberg V, Braverman A, Worly B. Socioeconomic variables effecting female sexual function in an urban, community setting. Open Journal of Obstetrics and Gynecology. 2015;5(195-202).
  1. Laumann EO, Paik A, Rosen RC. Sexual dysfunction in the United States, Prevalence and predictors. JAMA. 1999;281(6):537-44.
  1. Tekin YB, Mete U, Ustuner I, Balik G, Guven ESG. Evaluation of female sexual function index and associated factors among married woman in North Eastern Black Sea region of Turkey. J Turk Soc Obstet Gynecol. 2014;3:153-8
  1. Mezones-Holquin E, Cordova-Marcelo W, Lau-Chu-Fon F, Aguila-Silva C, Morales-Cabrera J, Bolanos-Diaz R, et al. Association between sexual function and depression in sexually active, mid-aged, Peruvian women. Climacteric. 2011;14:654-60.
  1. Ezfehani RJ, Fazel N, Dashti S, Moshkani S, Hasanabad FH, Foji S, et al. Female disfunction and its associated risk factors: an epidemiological study in the North-East Iran. Journal of Midwifery & reproductive Health. 2016;4(1):498-505.
  1. Elnashar AM, Ibrahim ME-D, El-Desoky MM, Ali OM, Hassa ME-SM. Female sexual dysfunction in Lower Egypt. BJOG. 2007;114:201-6.
  1. Mujiati I. Situasi Keluarga Berencana di Indonesia. Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan Kementerian Kesehatan Indonesia. 2013;Semester II.
  2. Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan Repiblik Indonesia; 2012.
  1. DINKES DKI Jakarta. Profil Kesehatan DKI Jakarta Tahun 2013. Jakarta: Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Jakarta; 2014.
  1. Ahrent HJ, Adolf D, Buhling KJ. Review atvantages and chalenges of oestrogen – free hormonal contraception. Current Medical Research & Opinion. 2010;26(8).
  1. Truitt ST, Fraser A, Gallo MF, Lopez LM, Grimes DA, Schulz KF. Combined hormonal versus nonhormonal versus progestin-only in lactation (Review). The Cocharane Collaboration. 2007;The Cocharane Library(4).
  1. Tempe A, Wadhwa L, Batra S. Current Concepts in Contraception and Women’s Health. India: Jaypee Brothers; 2008.
  1. Hassan RS, Eraky EM, Khatwa aMa, Ghonemy GI. Studi the effect of hormonal contraceptive method on female sexual function. Med J Cairo Univ. 2014;83(1):115-20.
  1. Batlajery J, Hamidah, Mardiana. Penggunaan metode kontrasepsi suntikan DMPA berhubungan dengan disfungsi seksual wanita pada akseptor KB suntik. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan 2015;2(2):49-56.
  1. Araujo AB, Mphr BA, McKinlay JB. Changes in sexual function in middle – aged and older men: longitudinal data from th Massachutes Male Aging study. J Am Geriatri Soc. 2004;52:1502-9.
  1. Chandra L. Gangguan fungsi atau perilaku seksual dan penanggulangannya Jakarta: Cermin Dunia Kedokteran; 2005.
  1. Zettira Z, Nisa K. Analisis hubungan penggunaan kontrasepsi hormonal dengan disfungsi seksual pada wanita. Majority. 2015;4(7):103-8.
  1. Baziad A. Kontrasepsi Hormonal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2002.
  1. Contraceptive Method Mix. Wulansari P, Hartanto, editors. Jakarta: EGC; 1998.
  1. Reid R. Pateint safety. Canadian Consensus Guideline Continuous and Extended Hormonal Contraception. Journal of Obstetric and Gynaegologic [Internet]. 2007. diunduh dari:http://www.sogc.org/guidelines/documents/gui195CPG0707.pdf.
  1. Operational Research (OR) IUD Post Placenta di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Pusat Penelitian dan Pengembangan KB dan Kesehatan Reproduksi. 2010.
  1. Technical consultation on the effects of hormonal contraception on Bone Health. Geneva, Switzerland: World Health Organiztion; 2005.
  1. Saifuddin AB. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Affandi B, Baharuddin M, Soekir S, editors. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono; 2006.
  1. DeLamater J, Karraker A. Sexual functioning in older adults. Current Psychiatry Reports. 2009;11:6-11.
  1. Sharifi F, Mirarefin M, Fakhrzadeh H, Saada S, Ghadepanahi M, Badamchizade Z. Prevalence of Hypertension and Diabetes in Elderly: Elderly Kahrzak Study (Brief Communication). Iranian Journal of Diabetes and Lipid Disorder. 2010;9:1-7.
  1. Afefy NAF. Factors associated with female sexual problems among women attending Cairo University Hospital. Journal of Biology, Agricultural and Healthcare. 2015;5(14).
  1. Genazzani AR, Gambuacciani M, Simoncini T. Manopause anf aging, quality of life, and sexuality. Climacteric. 2007;10:88-96.
  1. Baheiraei A, Hamzehgardeshi Z, Mohammadi MR, Nedjat S, Mohammadi E. Personal and family factors affecting life time cigarette smoking among adolescents in Tehran (Iran): A community based study. Oman Medical Journal. 2003;28(3):184-90.
  1. Guida M, Sardo aDS, Bramante S, Sparice S, Acunzo G, Tommaselli GA, et al. Effect of two types of hormonal contraception – oral versus intravaginal – on the sexual life of women and their partners. Human Reproductive. 2005;20(4):1100-6.
  1. Shahhosseini Z, Gardeshi ZH, Pourasghar M, Salehi F. A review of affecting factors on sexual satisfaction in women. Mater Sociomed. 2014;26(6):378-81.
  1. Ziherl S, Masten R. Differences in predictors of sexual satisfaction and in sexual satisfaction between female and male univwersity students in Slovenia. Psychiatria Dabubina. 2010;22(3):425-9.
  1. Ahmadi A, Malekzadegan A, Hosseini A. A sexual satisfaction and its related factors in primigravidas. Iran Journal of Nursing. 2011;24(71):54-62.
  2. Mohammad-Alizadeh-Charandabi S, Mirghafourvand M, Asghari-Jafarabadi M, Tavananezhad N, Karkhaneh M. Modeling of socio-demographic predictors of sexual function in woman of reproductive age. Journal of Mazandaran University of Medical Sciences. 2014;23(110):237-42.
  1. Yela C. Predictors of and factor related to loving and sexual satisfaction for men and women. Predictors of and factors related to loving and sexual satisfaction for men and women. 2000;European Review of Applied Psychology(50):1.
  1. Enzin P, Mathieu C, Bruen AVd, Bosteels J, Vanderschueren D, Demyttenaere K. Sexual dysfunction in women with tipe 1 diabetes, a controlles study. Diabetes Care. 2002;24(4):672-7.
  1. Trompeter SE, Bettencourt R, Barret-Connor E. Sexual activity ans satisfaction in healthy community-dwelling older woman. The American Journal of Medicine. 2012;125(1):37-43.
  1. Esposito K, Ciotola M, Giugliano F, Bisogni C, Schisano B, Autorino R, et al. Original Articel: Association of body weight wiith sexual function in women. International Journal of Impotence Research. 2007;19:353-7.

 

About Moudy E.U Djami

Lahir dan besar di So'E, Kab Timor Tengah Selatan, Prop Nusa Tenggara Timur, telah menyelesaikan studi D4 Bidan Pendidik di Poltekes Depkes Jakarta III, S2 Kesehatan Reproduksi dari Universitas Indonesia dan S2 Ilmu Kebidanan dari Universitas Padjadjaran Bandung. Sekarang ini sementara melanjutkan studi di S3 Manajemen Pendidikan di Universitas Pakuan Bogor. Riwayat Pekerjaan pernah bekerja sebagai bidan di RSMM Timika, RS Puri Cinere Depok, Klinik Medika Timika, dan RSTM Timika. Menikah dengan Ong Tjandra dan dikaruniai seorang putri tercinta Alexa Candika. Rutinitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga dan juga tenaga pendidik di Akademi Kebidanan Bina Husada Tangerang dan bidan pengelola di Klinik Sehati.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s