Bahan Ajar Metlid P5: Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian

Jenis Penelitian

Penelitian bertitik tolak pada pertanyaan, bukan pernyataan. Jawaban dari suatu pertanyaan akan dipertanyakan lagi, sehingga akan sampai pada pertanyaan yang mendasar. Pertanyaan mendasar tersebut akan menentukan tipe penelitian yang akan digunakan. Pertanyaan mendasar tersebut terdiri dari : (1) apa, (2) bagaimana, dan (3) mengapa.1

Menurut Sugiyono, jenis penelitian jika dilihat dari landasan filsafat dapat dikelompokan menjadi tiga jenis penelitian, baik data maupun analisisnya, yaitu metode penelitian kuantitatif, metode penelitian kualitatif dan metode penelitian kombinasi. Pembagian secara rinci dapat dilihat pada gambar berikut ini.2

Jenis Penelitian Sugiyono_1

Gambar 1. Macam Metode Penelitian

Sumber : Sugiyono (2013)2

 

Rancangan / Disain Penelitian

  1. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian (research designs) atau yang disebut juga model penelitian merupakan suatu hal yang penting dalam penelitian kesehatan, terutama pada jenis penelitian analisis. Validitas penelitian terutama pada validitas Internal/dalam maupun validitas eksternal/luar dapat ditentukan oleh seberapa jauh rancangan penelitian dipilih secara tepat. Untuk itu maka perlu dipahami terlebih dahulu tentang hakekat penelitian, mengapa penelitian perlu didisain/dirancang, dan apakah esensi atau fungsi rancangan penelitian?3

Rancangan/disain penelitian adalah suatu kerangka acuan bagi peneliti untuk mengkaji hubungan antar variabel dalam suatu penelitian. Disain penelitian dapat menjadi petunjuk bagi peneliti untuk mencapai tujuan penelitian dan juga sebagai penuntun bagi peneliti dalam seluruh proses penelitian.4

Hakekat penelitian adalah konfirmasi kebenaran hipotesis dalam rangka menjawab permasalahan yang ada. Dari permasalahan yang dihadapi dengan menggunakan teori, fakta yang diperoleh dari penelitian terdahulu, dan asumsi peneliti, dikembangkan kerangka teoritik yang mendasari perumusan hipotesis. Pada jalur konkrit, dari permasalahan tersebut dilakukan observasi empirik atas fenomena-fenomena penelitian sehingga dihasilkan data. Keberhasilan penelitian ditentukan dengan mempertanyakan seberapa jauh data yang diperoleh tersebut bergayut/relevan dengan jawaban yang dikehendaki.3

Mengapa penelitian memerlukan rancangan? Masih terhubung dengan penjelasan di atas, maka untuk mendapatkan data dapat dilakukan melalui beberapa cara. Yang menjadi pertanyaan cara yang mana yang paling tepat untuk mendapatkan data yang valid dan reliabilitas? Jalan mana yang memungkinkan data diperoleh secara objektif mungkin? Jalan manakah yang memungkinkan data dapat diperoleh secara efektif dan efisien?

Dari penjelasan tersebut di atas maka dapat diketahui bahwa ada lima kriteria yang melatar belakangi perlunya rancangan penelitian di buat. Kriteria tersebut adalah:3

  1. Ketergayutan / relevansi
  2. Objektivitas
  3. Validitas
  4. Reliabilitas
  5. Teknis pelaksanaan yang efektif dan efisien

 

Bedasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan pengertian rancangan/disain penelitian adalah suatu rencana, struktur, dan strategi penelitian yang dimaksudkan untuk menjawab permasalahan yang dihadapi dan memperoleh pemecahan masalah dengan metode dan kaidah ilmiah yang bermanfaat dan dapat dipertanggung jawabkan.

 

  1. Penyusunan Rancangan Penelitian yang Adekuat

Peneliti harus terlebih dahulu memahami tentang pengertian rancangan/disain penelitian. Secara operasional, rancangan penelitian disebut adekuat apabila :

  1. Dapat menjawab masalah penelitian yang dihadapi atau secara adekuat dapat menguji kebenaran hipotesis
  2. Sejauh mungkin dapat mengendalikan atau mengontrol varians. Varians adalah salah satu parameter dari distribusi normal suatu data, yang merupakan salah satu pengukuran penyebaran sejumlah skor yang menunjukkan berapa jauh skor itu menyebar dan seberapa besar derajat perbedaan antara satu skor dengan skor lainnya.

 

Pengendalian varians adalah upaya metodologik yang dilakukan seorang peneliti untuk meningkatkan validitas dalam suatu penelitian. Dalam hal ini upaya pengendalian varians dalam suatu penelitian bukan sekedar meniadakan pengaruh variable-variabel luar saja, tetapi juga meliputi upaya mengaktualkan secara nyata pengaruh variabel yang diteliti dan meniadakan kesalahan-kesalahan yang terjadi berkaitan dengan kegiatan pengukuran.

Ada tiga cara peneliti melakukan pengendalian varians penelitian yang disingkat MAKOMIN yaitu:

  1. Maksimasi varians penelitian : mengupayakan variabilitas perubahan yang terjadi pada variabel tergantung sebesar mungkin. Hal ini dapat dicapai apabila perlakuan pada variabel bebas dan tergantung sama besar.
  2. Kontrol Variabel luar : mediadakan pengaruh variabel luar misalnya subyek penelitian yang homogen, melakukan randomnisasi subyek pada saat melakukan pengelompokan, dan melakukan pengelompokan secara matching. Matching technique adalah menyamakan kondisi subyek penelitian atas variable-variabel tertentu, antara satu kelompok dengan kelompok lain, biasanya digunakan pada metode penelitian case control atau cohort.
  3. Minimasi Varians kesalahan : baik dari segi pengukuran dan mengendalikan kesalahan pengukuran.

 

  1. Kegunaan Disain Penelitian

Kegunaan disain penelitian adalah:4, 5

  1. Menjadi sarana peneliti untuk memperoleh jawaban penelitian
  2. Merupakan alat bagi peneliti untuk dapat mengendalikan atau mengontrol berbagai variabel yang berpengaruh atau berperan dalam suatu penelitian
  3. Menambah pemahaman peneliti mengenai observasi apa yang harus dilakukan
  4. Menambah pemahaman peneliti mengenai bagaimana menganalisis data hasil pengukuran
  5. Menambah pemahaman peneliti mengenai mana yang menjadi variabel independen, dependen, dan mana yang menjadi variabel kontrol dalam penelitian

 

  1. Jenis Rancangan Penelitian

Jenis penelitian dalam bidang kesehatan secara umum terdiri dari dua jenis penelitian yaitu penelitian observasional dan penelitian eksperimental. Namun secara rinci, jenis penelitian dapat dibagi menurut beberapa klasifikasi yang dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Klasifikasi Disain Penelitian Kesehatan /Kedokteran

NO KLASIFIKASI JENIS PENELITIAN

 

1. Berdasarkan Ruang Lingkup Penelitian ·       Penelitian Klinis

·       Penelitian Lapangan

·       Penelitian Laboratorium

 

2. Berdasarkan Waktu ·       Penelitian Transversal : cross sectional, : prospektif atau retrospektif,

·       Penelitian Longitudinal : prospektif atau retrospektif

 

3. Berdasarkan pada substansi ·       Penelitian Dasar

·       Penelitian Terapan

 

4. Berdasarkan pada ada atau tidaknya analisis hubungan antar variabel

 

·       Penelitian Diskriptif

·       Penelitian Analitik

 

5. Disain Khusus ·       Uji Diagnostik

·       Analisis Kesintasan (survival analysis)

·       Meta – analisis

 

Sumber : Sastroasmoro dan Ismael (2011)5

 

Pembagian jenis penelitian menurut sudut pandang penamaan disain penelitian dikemukakan oleh Dahlah (2012) dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini.

 

Tabel 2. Pembagian Jenis Penelitian menurut Berbagai Sudut Pandang

No Sudut Pandang Klasifikasi Jenis Penelitian
1. Waktu ·       Potong Lintang

·       Longitudinal Prospektif

·       Longitudinal Retrospektif

2. Statistik ·       Deskriptif

·       Analitik

3. Analisis untuk Penelitian Longitudinal ·       Insiden

·       Insiden rate (Survival)

4. Intervensi ·       Ekperimen

·       Observasional

5. Cara Mencari Kausalitas ·       Eksperimen

·       Kohort

·       Kasus Kontrol

·       Potong Lintang

6. Kerangka Konsep ·       Ada variabel utama

·       Tidak ada variabel utama

7 Substansi ·       Mencari Besar Masalah

·       Diagnostik

·       Etiologik

·       Terapetik

·       Prosnostik

·       Patofisiologi

Sumber : Dahlan (2012)6

 

Yang paling sering dibahas adalah jenis penelitian menurut ada atau tidaknya jenis variabel yaitu penelitian deskriptif dan penelitian analisis. Dari kedua jenis penelitian ini sering terdapat kerancuan pada penulisan karya tulis mahasiswa (KTI/SKRIPSI) di berbagai perguruan tinggi.

Pada naskah penelitian ditulis penelitian deskriptif, tetapi tetap melakukan uji statistik seperti uji chi square, hanya saja hasil p value tidak ditampilkan. Praktik seperti ini sebenarnya salah, seharusnya penelitian deskriptif hanya memaparkan tentang fenomena yang ditemukan, dan hasil penelitian tidak diperoleh dari uji statistik untuk melihat hubungan atau menguji hipotesis.5 Cukup dengan mencari persentase untuk data katagorik dan nilai mean, median, modus untuk data numerik.

Penelitian analitik dilakukan untuk menguji hipotesis yaitu melihat apakan ada hubungan/beda/korelasi antara variabel dependen dan independen. Untuk membuktikan ada atau tidak ada hubungan maka dilakukan uji statistik. Uji statistik dipilih sesuai dengan :7

  1. Skala pengukuran : kategorik atau numerik
  2. Jenis hipotesis : komparatif atau korelatif
  3. Masalah skala pengukuran : data numerik atau katagorik
  4. Data berpasangan atau tidak berpasangan
  5. Jumlah Kelompok data : dua kelompok atau lebih dari dua kelompok
  6. Syarat uji parametrik dan non parametrik
  7. Prinsip table 2×2 atau lebih

 

Untuk membahas tentang uji statistik akan dipelajari pada pertemuan mendatang. Pemilihan disain penelitian harus konsisten dengan masalah penelitian. Berikut ini adalah tabel yang menjelaskan pemilihan disain penelitian berdasarkan maslah penelelitian.

 

Tabel 3. Pemilihan Disain Penelitian Berdasarkan Masalah Penelitian

No Masalah Disain Penelitian Yang Sesuai
1. Deskriptif (Prevalensi) Potong Lintang
2. Dekskriptif (Insiden) Kohort
3. Hubungan antar Variabel ·       Eksperimen / uji klinis

·       Kohort

·       Kasus Kontrol

·       Potong Lintang

·       Serial Kasus

·       Laporan Kasus

4. Uji Klinis ·       Uji Klinis acak tersamar ganda

·       Uji klinis acak tersamar ganda

·       Uji klinis acak tidak tersamar

·       Uji klinis tidak acak dengan pembanding

·       Uji klinis tanpa pembanding

5. Diagnostik ·       Ootong Lintang

·       Kasus Kontrol

6. Survival Kohort

Sumber : Dahlan (2012)6

 

Selanjutnya jenis penelitian yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah penelitian observasional dan penelitian eksperimen yang dapat dilihat pada gambar 2 berikut ini.

1. Klasifikasi penelitian Kes

Gambar 2. Klasifikasi Penelitian Kesehatan / Kedokteran

Sumber : Sastroasmoro dan Ismael (2011)5

 

Disain Survei

Rancangan penelitian survei hanya melihat perubahan pada variabel yang diamati, tanpa memberikan perlakuan (kuasi eksperimen/eksperimen murni). Disain survei dapat digunakan pada penelitian deskriptif maupun penelitian analitik yang akan dijelaskan lebih lanjut.

  • Penelitian Survei Diskriptif

Survei deskriptif dilakukan pada sekelompok objek yang biasanya bertujuan untuk melihat gambaran atau fenomena yang terjadi dalam suatu populasi tertentu.

Disain penelitian survei diskriptif adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan suatu fenomena yang terjadi di dalam masyarakat.8

Langkah-langkah membuat survey diskriptif adalah sebagai berikut:8

  1. Memilih masalah yang diteliti
  2. Merumuskan masalah, melakukan studi pendahuluan untuk memperoleh informasi penelitian sebagai dasar menyusun justifikasi masalah dan kerangka konsep penelitian
  3. Mengidentifikasi variable-variabel yang akan diamati atau dikumpulkan
  4. Merumuskan dan memilih teknik pengumpulan data
  5. Menentukan kriteria atau kategori untuk mengadakan klasifikasi data
  6. Menentukan teknik dan alat pengumpulan data yang akan digunakan
  7. Melakukan pengolahan dan analisis data
  8. Menyusun dan mempublikasikan laporan penelitian

 

  • Penelitian Survei Analitik

Survey analitik adalah penelitian yang menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi, kemudian melakukan analisis dinamika korelasi antara fenomena atau antara faktor risiko dengan faktor efek. Contoh faktor risiko misalnya merokok, dan contoh faktor efek adalah kanker paru-paru.8

 

Disain Cross Sectional / potong lintang

Sama halnya dengan disain survei, disain cross sectional atau disain potong lintang dapat digunakan untuk penelitian deskriptif maupun penelitian analitik.5 Dalam literatur lainnya, disain cross sectional/potong lintang, case control/kasus kontrol dan cohort/kohort digolongkan termasuk pada penelitian survey analitik.8 Namun pada tulisan ini akan menjelaskan masing-masing disain secara terpisah.

Rancangan/disain cross sectional adalah disain penelitian yang digunakan untuk mencari hubungan atau perbedaan antara variabel dependen dengan variabel independen dengan cara melakukan observasi variabel yang diteliti pada waktu yang bersamaan (point time). Artinya semua subyek penelitian hanya diobservasi satu kali, dan pengukuran variabel tersebut dilakukan pada saat pengambilan data. Perlu diperhatikan bahwa penelitian yang menggunakan disain potong lintang hanya mengukur prevalensi, bukan insiden, maka studi potong lintang disebut juga studi prevalens. Penyajian data pada penelitian potong lintang biasanya disajikan dalam table 2 x 2.5

Langkah-langkah yang dilakukan pada studi potong lingtang antara lain:5

  1. Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis yang sesuai

Contoh :

  • (1). Pertanyaan penelitian : Apakah ada hubungan ibu hamil yang merokok dengan kejadian BBLR?
  • (2). Hipotesis : ada hubungan ibu hamil yang merokok dengan kejadian BBLR

Skema cross sectional

Gambar 3. Skema Studi Cross Sectional. Faktor Risiko Dan Efek Diperiksa Pada Saat Yang Sama

Sumber: Sastroasmoro dan Ismael (2011)5

 

Hasil analisis data pada disain cross sectional dapat di lihat pada tabel 2 x 2 berikut ini.

Tabel 4. Hasil Analisis table 2 x 2

Faktor Risiko Efek Jumlah
Ya Tidak
Ya a b a + b
Tidak c d c + d
Jumlah a + c b + d a + b + c + d

 Sumber : Sastroasmoro dan Ismael (2011)5

 Keterangan:

Sel a     : Subyek dengan faktor risiko yang mengalami efek

Sel b    : Subyek dengan faktor risiko yang tidak mengalami efek

Sel c     : Subyek tanpa faktor risiko yang mengalami efek

Sel d    : Subyek tanpa faktor risiko yang tidak mengalami efek

 

Contoh sesuai dengan hipotesis diatas adalah sebagai berikut.

 Tabel 4. Hubungan Merokok dengan Kejadian BBLR

Ibu Perokok Kejadian BBLR Jumlah
Ya Tidak
Ya a b a + b
Tidak c d c + d
Jumlah a + c b + d a + b + c + d

 

2. Mengidentifikasi variable bebas/independen dan terikat/dependen

Semua variable penelitian baik dependen maupun independen harus dapat diidentifikasi dan dibuat definisi operasional. Variabel lain yang diduga dapat berpengaruh tetapi tidak diteliti hendaknya diidentifikasi juga agar dapat disingkirkan atau paling tidak dikurangi pada waktu pemiihan subyek penelitian.

3. Menetapkan subyek penelitian

Pada tahap ini peneliti menetapkan subyek penelitian yang dipilih dari populasi, yang kemudian ditentukan sampelnya siapa saja dan berapa besar sampel yang diperlukan sesuai dengan disain penelitian yang digunakan. Penjelasan selanjutnya dapat dilihat di bawah ini.

  • (1) Menentukan populasi penelitian

Sesuai dengan tujuan penelitian, maka ditentukan populasi terjangkau di mana subyek penelitian akan dipilih, apakah dari rumah sakit atau fasilitas kesehatan, ataukah dari komunitas. Yang perlu menjadi perhatian adalah apakah populasi yang dipilih memungkinkan peneliti memperoleh besar sampel yang dibutuhkan. Misalnya untuk meneliti kasus HIV/AIDS, populasi yang paling cocok adalah kelompok subyek yang sering terpajan virus jenis ini seperti homoseksual, atau penyalah guna narkotik.

  • (2) Menentukan sampel dan memperkirakan besar sampel.

Dalam menentukan besar sampel, yang harus di perhatikan adalah menggunakan rumus yang sesuai dengan disain yang dipilih, apakah jenis penelitian diskriptif, analitik, jenis data numerik, katagorik, dan lain sebagainya. Penetapan besar sampel untuk menguji hipotesis (analitik) pada disain cross sectional sama dengan penetapan besar sampel pada penelitian dengan menggunakan disain kohort. Sedangkan pada penelitian deskriptif besar sampel harus melihat jenis data apakah katagorik atau numerik pada rumus besar sampel untuk satu populasi /kelompok.

4. Melaksanakan pengukuran

Pengukuran dapat dilakukan dengan berbagai cara, tergantung variable yang diteliti. Sebagai contoh misalnya untuk variabel pengetahuan digunakan kuesioner yang berisi pertanyaan tentang pengetahuan yang akan diukur, untuk mengukur berat badan bayi, digunakan alat timbangan berat badan bayi (digital/jarum), dan lain sebagainya. Cara apapunyang digunakan harus ditetapkan dalam definisi operasional (DO) yang jelas, dan harus diperhatikan hal – hal yang dapat mengurangi validitas penelitian. Misalnya kuesioner telah dirancang dan diuji serta telah terbukti valid dan reliabel, tetapi pada saat pengambilan data tidak dilakujkan dengan baik.

5. Melakukan analisis

Pada saat melakukan analisis statistik, peneliti harus dapat memilih uji statistik yang sesuai dengan disain penelitian, hipotesis, jenis data, dan apakah memenuhi syarat untuk menggunakan uji statistik tersebut.

6. Menyimpulkan hasil penelitian dan membuat laporan penelitian serta mempublikasikannya

Pada saat peneliti akan menyimpulkan dan mempublikasikan hasil penelitian yang sudah dilakukan, perlu diperhatikan untuk menganalisis temuan tersebut secara menyeluruh dari berbagai faktor seperti sosial, budaya, kebijakan, dan faktor lain yang memungkinkan masalah tersebut dapat terjadi. Misalnya masalah ASI eksklusif masih belum tercapai karena faktor pengetahuan ibu yang masih rendah tentang pentingnya ASI eksklusif. Peneliti harus menganalisis secara mendalam mengapa faktor pengetahuan mempengaruhi pemberian ASI eksklusif dari segi sosial budaya, keyakinan, kebijakan dan lain sebagainya.

Adapun kelebuhan dan kekurangan disain penelitian cross sectional dapat di lihat pada tabel berikut ini.

Tabel 5. Kelebihan dan Kekurangan Disain Cross Sectional

NO KELEBIHAN KEKURANGAN

 

1. Relatif mudah, murah, dan hasilnya cepat diperoleh. Sulit untuk menentukan sebab dan akibat karena pengambilan data risiko dan efek secara point time.

 

2. Memungkinkan menggunakan populasi dari masyarakat umum, tidak hanya pasien yang mencari pengobatan, sehingga generalisasinya cukup memadai Memungkinkan terjadinya salah interpretasi pada penelitian kasus penyakit yang mempunyai masa sakit yang panjang dari pada masa sakit yang pendek, karena subyek dengan masa sakit yang pendek mempunyai kesempatan lebih sedikit untuk terjaring.

 

3. Dapat digunakan untuk meneliti banyak variabel sekaligus

 

Dibutuhkan jumlah subyek yang cukup banyak, terutama jika variabel yang dipelajari banyak.

 

4. Jarang terjadi loss to follow up karena melihat pajanan dan efek secara bersamaan /point time Tidak menggambarkan perjalanan penyakit, insidens maupun prognosis.

 

5. Dapat dimasukan ke tahapan pertama suatu penelitian kohort atau eksperimen, tanpa atau sedikit menambah biaya Tidak dapat digunakan untuk meneliti kasus yang sangat jarang.

 

 

6. Dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya yang bersifat konklusif Memungkinkan terjadi bias prevalens dan bias insidens karena efek suatu faktor risiko selama periode tertentu dapat disalah tafsirkan sebagai penyakit.

 

Sumber : Sastroasmoro dan Ismael (2011)5

 

Disain Case Control

Penelitian case control / kasus kotrol adalah suatu penelitian analitik yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan retrospektif yang dimulai dari efek atau suatu penyakit tertentu pada subyek penelitian. Pada studi kasus kontrol subyek yang mengalami efek/penyakit tertentu dibandingkan dengan kelompok yang tidak mengalami efek atau kelompok kontrol. Dalam studi ini di teliti apakah faktor risiko tertentu berpengaruh terhadap terjadinya efek/penyakit yang diteliti, dengan membandingkan kekerapan pajanan faktor risiko tersebut pada kelompok kasus dan kelompok kontrol. Skema penelitian kasus kontrol dapat di lihat pada gambar 4 berikut ini.5, 8

 

 

4. Skema Kasus Kontrol

Gambar 4. Skema Penelitian Kasus Kontol

Sumber : Satari dan Wirakusuma (2011)9

Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi subyek dengan efek (kelompok kasus), dan mencari subyek yang tidak terkena efek (kelompok kontrol), kemudian mencari penyebab efek tersebut secara retrospektif kemudian dibandingkan. Perhatikan arah anak panah yang dimulai dari efek/penyakit ke arah faktor risiko.

Dibawah ini adalah hasil penelitian disain kasus kontrol yang disajikan dalam table 2 x 2.

Tabel 6. Tabel Hasil Analisis Disain Kasus Kontrol

Faktor Risiko Kasus Kontrol Jumlah
(+) a b a + b
(-) c d c + d
Jumlah a + c b + d a + b + c + d

Sumber : Sastroasmoro dan Ismael (2011)5

 Keterangan:

Sel a     : Kasus yang mengalami pajanan

Sel b    : Kontrol yang mengalami pajanan

Sel c     : Kasus yang tidak mengalami pajanan

Sel d    : Kontrol yang tidak mengalami pajanan

 

Contoh lain pada masalah kesehatan berdasarkan tabel di atas dapat di lihat pada table 7 berikut ini.

Tabel 7. Hubungan PMT sebelum Usia 6 Bulan dengan Kejadian Malnutrisi

PMT Sebelum Usia 6 Bulan Malnutrisi Jumlah
Malnutrisi (+) Malnutrisi (-)
Ya a b a + b
Tidak c d c + d
Jumlah a + c b + d a + b + c + d

Risko relatif yang dinyatakan dalam Odds Ratio (OR) Rumusnya adalah sebagai berikut:

rumus OR

Studi kasus kontrol sering digunakan karena dibandingkan dengan studi kohort studi ini lebih murah, lebih cepat memberi hasil dan tidak memerlukan jumlah subyek yang banyak. Studi ini paling cocol untuk meneliti kasus yang jarang serta mencari faktor risiko kasus tersebut.5 Sebagai contoh misalnya penelitian di bidang kedokteran seperti kasus bayi lahir dengan kelainan bawaan spina bifida, penyakit jantung bawaan dan lain sebagainya.

Langkah – langkah melakukan penelitian menggunakan disain kasus kontrol adalah sebagai berikut:5, 8

  • Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis yang sesuai

Contoh pertanyaan penelitian dan hipotesis:

  1. Pertanyaan penelitian : Apakah terdapat hubungan konsumsi asam folat 3 bulan sebelum hamil dengan kejadian spina bifida pada janin?
  2. Hipotesis : Terdapat hubungan konsumsi asam folat 3 bulan sebelum hamil dengan kejadian spina bifida pada janin
  • Mendiskripsikan variabel penelitian : faktor risiko, efek pajanan

Faktor Risiko (Variabel Independen)

Intensitas pajanan factor risiko diukur dengan melihat apa yang dialami seperti lama pajanan, dosis obat atau frekuensi. Ukuran pajanan pada factor risiko yang berhubungan dengan frekuensi dapat bersifat:

  • (1) Dikotom : apabila hanya terdapat dua kategori : minum obat atau tidak
  • (2) Polikotom : pajanan diukur pada lebih dari dua tingkat, misalnya tidak pernah, kadang-kadang, sering, sering sekali.
  • (3) Kontinyu : pajanan diukur dalam skala kontinyu atau numerik, misalnya umur dalam tahun, tekanan darah, kadar Hb dan sebagainya.

Ukuran pajanan yang dapat berhubungan dengan waktu dapat berupa:

  • (1) Lamanya pajanan : lama pemakaian AKDR dalam bulan dan apakah berlangsung terus menerus
  • (2) Saat mendapat pajanan pertama
  • (3) Bilakah terjadi pajanan terakhir

Efek (Variabel Dependen)

Untuk menentukan efek khususnya kasus penyakit harus sudah jelas didiagnosa oleh dokter yang merawatnya, karena efek atau outcome pada penelitian kasus kontrol adalah merupakan hal yang utama.

Kontrol

Cara yang harus diperhatikan dalam memilih kontrol untuk mengurangi bias adalah:

  • (1) Memilih kasus dan kontrol dari populasi yang sama
  • (2) Matching, memilih kontrol dengan karakteristik yang sama dengan kelompok kasus dalam semua variabel yang memungkinkan berperan sebagai faktor risiko kecuali variabel yang sedang diteliti.
  • (3) Dapat menggunakan kelompok kontrol lebh dari satu jika jumlah sampel pada kelompok kontrol tidak mencukupi. Misalnya kelompok kasus diambil di rumah sakit, maka kelompok kontrol diambil dari daerah yang sama dengan kasus terjadi.
  • Menentukan subyek penelitian

Untuk menentukan kasus, cara terbaik adalah diambil secara random. Tetapi karena pada disain kasus kontrol dilakukan pada kasus yang sangat jarang, maka pengambilan subyek penelitian secara acak sukar untuk dilakukan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mengambil kasus yang baru untuk membatasi bias karena harus menggambarkan populasi (masa sakit singkat atau mortalitas yang tinggi). Selain itu tempat pengumpulan kasus jika di komunitas, maka pilih daerah dengan pencatatan yang baik (registrasi yang baik, data base yang baik), tetapi di Indonesia sangat sulit ditemukan pencatatan yang baik. Hal lain adalah saat diagnosis perlu memperhatikan pajanan faktor risiko sebelum terjadinya efek, bukan setelah timbulnya efek atau penyakit yang sedang dipelajari.

  • Menentukan populasi terjangkau dan sampel (kasus dan kontrol), dan cara untuk pemilihan subyek

Besar sampel perlu ditentukan sebelum memulai suatu penelitian. Pada dasarnya, untuk melakukan penelitian kasus kontrol jumlah subyek yang perlu diteliti bergantung pada:

  • (1) Frekuensi pajanan faktor risiko pada suatu populasi.
  • (2) OR terkecil yang pernah bermakna dari penelitian sebelumnya
  • (3) Derajat kemaknaan (a) dan kekuatan (1-b) yang dipilih biasanya a = 5%, b= 10% atau 20% (power 90%, atau 80%).
  • (4) Rasio antara jumlah kasus dan kontrol. Jika dipilih kontrol lebih banyak, maka jumlah kasus dapat dikurangi. Rumusnya adalah :

Besar kelompok sampel case control

  • Melakukan pengukuran variabel efek dan faktor risiko

Karena penelitian disain kasus kontrol melihat kebelakang dari efek yang telah terjadi, pengukuran dilakukan secara retrospektif, maka keterangan yang diperlukan hanya berdasarkan ingatan responden/subyek penelitian sehingga dapat menyebabkan recall bias.

Recall bias adalah kesalahan sistematika akibat perbedaan upaya untuk mengingat hal yang telah terjadi pada masa lampau antara kelompok kasus dan kontrol, bukan sekedar kesalahan mengingat saja. Bias ini merupakan kelemahan utama studi kasus kontrol, jadi peneliti harus mempunyai strategi untuk dapat meminimasi bias tersebut.

  • Menganalisis data

Analisis disain kasus kontrol disesuaikan dengan jenis data untuk dapat mengetahui OR yang telah disebutkan di atas. Uji statistik yang dipilih juga harus menuruti kaidah yang berlaku seperti jenis data numerik atau katagorik, kelompok data berpasangan atau tidak, lebih dari dua kelompok atau tidak dan lain sebagainya.

  • Menyimpulkan, membuat laporan penelitian dan mempublikasikannya

Tidak berbeda dengan analisis pada studi potong lintang, hasil penelitian harus dapat dianalisis secara mendalam dan komprehensif dari berbagai faktor seperti sosial, budaya, kebijakan, dan faktor lain yang memungkinkan masalah tersebut dapat terjadi.

Kelebihan dan kekurangan studi kasus control dapat dilihat pada tabel 8 berikut ini.

Tabel 8. Kelebihan dan Kekurangan Studi Kasus Kontrol

NO KELEBIHAN KEKURANGAN

 

1. Merupakan satu-satunya studi yang digunakan untuk meneliti kasus yang sangat jarang Data pajanan mengandalkan daya ingat sehingga recall bias cukup tinggi

 

2. Hasil dapat diperoleh secara cepat Validasi informasi kadang sukar diperoleh

 

3. Biaya yang diperlukan relatif murah dibandingkan dengan studi kohort Kasus dan kontrol dipilih oleh peneliti karena subyek yang sedikit, sukar meyakinkan bahwa kedua kelompok sebanding

 

4. Memerlukan subyek penelitian yang lebih sedikit Tidak dapat memberikan incidence rate
5. Dapat digunakan untuk mengidentifikasi pelbagai faktor risiko sekaligus dalam satu penelitian Tidak dapat dipakai untuk menentukan lebih dari 1 variabel dependen, hanya berkaitan dengan satu penyakit atau efek

 

Sumber : Sastroasmoro dan Ismael (2011)5

 

Disain Cohort

Penelitian kohort adalah penelitian yang digunakan untuk mempelajari hubungan antara faktor risiko dengan efek. Asal kata kohort berasal dari bahasa Romawi “cohort” yang berarti sekelompok tentara yang berbaris maju ke medan perang. Model pendekatan yang digunakan dalam studi kohort adalah pendekatan waktu secara longitudinal atau time – period approach.5, 8

Jenis – jenis penelitian kohort adalah sebagai berikut:5

  • (1) Studi kohort prospektif denga kelompok pembanding internal
  • (2) Studi kohort prospektif dengan kelompok pembanding eksternal (studi kohort ganda)
  • (3) Studi kohort retrospektif
  • (4) Case – cohort study
  • (5) Nested case – control study

Skema studi kohort dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Skema Cohort

Gambar 5. Skema Penelitian Kohort

Sumber : Sastroasmoro dan Ismael (2011)5

Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi subyek tanpa efek dan tanpa risiko. Kemudian diikuti secara alamiah akan terpajan faktor risiko atau tidak. Risiko relative dihitung dengan cara membandingkan insiden efek pada kelompok dengan risiko dengan insiden pada kelompok tanpa risiko.

Dibawah ini adalah hasil penelitian disain kasus kontrol yang disajikan dalam table 2 x 2.

Tabel 8. Tabel Hasil Analisis Disain Kohort

Faktor Risiko Efek (+) Efek (-) Jumlah
(+) a b a + b
(-) c d c + d
Jumlah a + c b + d a + b + c + d

Sumber : Sastroasmoro dan Ismael (2011)5

 Keterangan:

Sel a     : Subyek dengan faktor risiko dan mengalami efek

Sel b    : Subyek dengan faktor risiko tanpa mengalami efek

Sel c     : Subyek tanpa faktor risiko dan mengalami efek

Sel d    : Subyek tanpa faktor risiko tanpa mengalami efek

Contoh lain pada masalah kesehatan berdasarkan tabel di atas dapat di lihat pada table 7 berikut ini.

Tabel 9. Hubungan Pemakaian Kontrasepsi Hormonal dengan Kejadian Kanker Payudara

Pemakaian KB Hormonal Kanker Payudara Jumlah
(+) (-)
Ya a b a + b
Tidak c d c + d
Jumlah a + c b + d a + b + c + d

Risko Relatif (RR) Rumusnya adalah sebagai berikut:

rumus RR

Langkah – langkah pada studi kohort:

  • Merumuskan pertanyaan penelitian dan hipotesis
  • Menetapkan kohort
  • Memilih kelompok kontrol
  • Menentukan variable penelitian
  • Mengamati terjadinya efek
  • Menganalisis hasil
  • Menyimpulkan, membuat laporan penelitian dan mempublikasikannya

 

Disain Eksperimen

Penelitian eksperimen atau percobaan/experimental research adalah penelitian yang melakukan kegiatan percobaan yang bertujuan untuk mengetahui gejala atau pengaruh yang timbul sebagai akibat dari perlakukan yang diberikan.8

Tujuan penelitian eksperimen adalah untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab akibat dengan cara mengadakan perlakukan / intervensi / percobaan kemudian hasil / akibat dari intervensi tersebut dibandingkan dengan kelompok yang tidak dikenakan perlakuan. Didunia kesehatan, penelitian eksperimen terdiri dari tiga jenis yaitu : 8

  • Praeksperimen / pre experimental design
  • Eksperimen Murni / true experimental design
  • Eksperimen Semu / quasi experimental designs

Dalam penelitian eksperimen dikenal istilah atau singkatan sebagai berikut:

R         : Randomisasi / Randomizations

0 1       : Pengukuran pertama

X         : Perlakuan / intervensi / percobaan / eksperimen

0 2       : Pengukuran kedua

 

  1. Rancangan Praeksperimen

Terdiri dari :

  • Posttest Only Design

Perlakukan (X) telah diberikan kemudian dilakukan pengukuran (observasi) atau posttest (0 2). Selama tidak ada kelompok control, hasil 0 2 tidak mungkin dibandingkan dengan yang lain. Rancangan ini sering juga disebut The one shot case study.

Skema rancangan preeksperimental dapat di lihat pada gambar berikut.

 

 

Kelebihan dan kelemahan rancangan praeksperimen: 8

  1. Kelebihan : Cepat, mudah, sering digunakan dalam penelitian inovatif dalam bidang pendidikan kesehatan
  2. Kelemahan : Rancangan praeksperimen tidak ada kontrol dan tidak ada internal validitas.

 

  • One Group Pretest Posttest Design

Rancangan eksperimen One Group Pretest Posttest juga tidak ada kelompok pembanding, tetapi observasi dilakukan sebanyak dua kali, pada awal dengan pretest dan di akhir dengan posttest untuk mengetahui ada tidaknya perubahan setelah diberikan perlakuan. Bentuk rancangan adalah sebagai berikut.8

 

 

Kelebihan dan kelemahan rancangan One Group Pretest Posttest:

  1. Kelebihan : tidak ada jaminan bahwa perubahan yang terjadi pada variable dependen karena adanya intervensi/perlakukan, tidak terhindar dari berbagai macam kelemahan seperti validitas : sejarah, testing, maturasi dan instrument.
  2. Kelemahan : Dapat mengetahui adanya perubahan setelah perlakuan.
  • Perbandingan Kelompok Statis / Static Group Comparison

Rancangan kelompok statis adalah rancangan yang telah diberi perlakukan dan kemudian dilakukan pengukuran dan membandingkan dengan kelompok pembanding. Kelompok eksperimen menerima intervensi (X) yang diikuti dengan pengukuran kedua (0 2). Hasil observasi ini kemudian dikontrol dan dibandingkan dengan hasil observasi pada kelompok/kontrol, yang tidak menerima program atau intervensi. Rancangan ini dapat diilustrasikan seperti berikut ini.

 

  Perlakukan Posttest
Kelompok Eksperimen X O 2
Kelompok Kontrol   0 2

 

Dalam rancangan ini beberapa factor pengganggu seperti history maturation dan instrumentation dapat dikontrol walaupun dapat diperhitungkan efeknya.

 

  1. Rancangan Eksperimen Sungguhan (True Experiment)
  2. Rancangan pretest dan posttest dengan kelompok kontrol / Pretest – Posttest with Control Group
  • Pengelompokan anggota kelompok control dan eksperimen dilakukan secara random/acak.
  • Lakukan pretest pada kedua kelompok tersebut
  • Intervensi diberikan pada kelompok eksperimen
  • Setelah waktu yang ditentukan, diberikan posttest

Bentuk rancangan adalah sebagai berikut:

 

  Pretest Perlakukan Posttest
R. Kel. Eksperimen 0 1 X 0 2
R. Kel. Kontrol 0 1   0 2

 

Kelebihan dan kelemahan rancangan pretest dan posttest dengan kelompok kontrol / Pretest – Posttest with Control Group:

  1. Kelebihan :
  • Randomisasi memungkinkan kedua kelompok mempunyai sifat yang sama sebelum melakukan intervensi
  • Perbedaan hasil posttest ) 2 pada kedua kelompok tersebut merupakan hasil intervensi yang diberikan karena kedua kelompok sama pada awalnya.
  • Rancangan eksperimen yang terkuat dalam mengontrol ancaman –ancaman terehadap validitas.
  1. Kelemahan :
  • Sulit dilaksanakan karena sulit atau tidak mungkin melakukan randomisasi.
  • Sulit dilakukan dari segi etika

 

Rancangan dapat diperluas dengan ilustrasi sebagai berikut:

  Pretest Perlakukan Posttest
R. (Kel. Eksperimen a) 0 1 X (a) 0 2
R. (Kel. Eksperimen b) 01 X (b) 0 2
R. (Kel. Kontrol) 0 1   0 2

 

 

  1. Rancangan Randomized Salomon Four Group

Dapat mengatasi kelemahan validitas eksternalyang ada pada rancangan randomized control group posttest.

Ilustrasi rancangan ini dapat dilihat di bawah ini.

 

  Pretest Perlakukan Posttest
R. (Kel. Eksperimen ) 0 1 X 0 2
R. (Kel. kontrol) 01   0 2
R. (Kel. kontrol)   X 0 2
R. (Kel. Kontrol) 0 1   0 2

 

  1. Rancangan Posttest dengan Kelompok Kontrol (Posttest Only Control Group Design)

Rancangan ini mirip dengan rancangan eksperimen sebelumnya, tetapi tidak ada pretest. Hal ini disebabkan karena kasus-kasus telah dirandominasi pada kelompok eksperimen maupun control. Kelompok-kelompok tersebut dianggap sama sebelum dilakukan perlakuan. Ilustrasi rancangan dapat dilihat di bawah ini.

  Perlakukan Posttest
R. Kel. Eksperimen X 0 2
R. Kel. Kontrol   0 2

 

 

Kelebihan : Rancangan ini memungkinkan peneliti mengukur pengaruh intervensi pada kelompok eksperimen dengan cara membandingkan kelompok tersebut dengan kelompok control.

Kelemahan : Tidak memungkinkan peneliti untuk menentukan sejauh mana atau seberapa besar perubahan karena intervensi terjadi, karena tidak melakukan pretest.

 

Rancangan Eksperimen Semu / Quasi Experimental Design

Disain ini tidak mempunyai pembataasn terhadap randomisasi, dan pada saat yang sama dapat mengontrol ancaman – ancaman validitas. Disebut eksperimen semu karena disain ini tidak memiliki ciri-ciri rancangan eksperimen sebenarnya, karena variable – variable yang seharusnya dikontrol atau di manipulasi sulit dilakukan, validitas penelitian menjadi kurang untuk disebut eksperimen yang sebenarnya.

Jenis rancangan kuasi eksperimen:

  • Rancangan Rangkaian waktu / Time Series Design

Sama dengan rancangan eksperimen pretest posttest, tetapi pengukuran dilakukan secara berulang seperti ilustrasi di bawah ini.

 

Pretest Perlakukan Posttest
01 02 03 04 X 05 06 07 08

 

Kelebihan :

  • Memungkinkan validitas lebih tinggi
  • Memungkinkan hasil 02 dipengaruhi dari factor luar sangat besar, tetapi Karena observasi dilakukan lebih dari satu kali baik pada pre maupun posttest maka pengaruh factor luar dapat dikurangi.
  • Rancangan rangkaian waktu dengan kelompok pembanding / Control Time Series Design

Merupakan rancangan rangkaian waktu yang ditambahkan kelompok control, seperti ilustrasi dibawah ini.

 

  Pretest Perlakukan Posttest
Kel. Eksperimen 01 02 03 X 04 05 06 07
Kel. Kontrol 01 02 03 X 04 05 06 07

 

  • Rancangan Non Equivalent Control Group

Memungkinkan membandingkan hasil intervensi program kesehatan dengan satu kelompok kontrol yang serupa, tetapi tidak perlu kelompok yang sama.

 

  Pretest Perlakukan Posttest
R. Kel. Eksperimen 0 1 X 0 2
R. Kel. Kontrol 0 1   0 2

 

  • Rancangan Separate Sample Pretest Posttest
  • Sering digunakan untuk penelitian kesehatan dan keluarga berencana.
  • Pretest dilakujkan pada semua sampel yang dipilih secara acak
  • Diberikan intervensi / program pada seluruh populasi
  • Lakukan pengukuran kedua (0 2) posttest pada kelompok sampel yang dipilih secara acak
  • Sangat baik untuk menghindari pengaruh efek dari pretest, meskipun tidak dapat mengontrol sejarah, maturitas dan instrument.

Ilustrasi dapat dilihat di bawah ini.

  Pretest Perlakukan Posttest
R. Kel. Eksperimen 0 1 X  
R. Kel. Kontrol     0 2

 

Daftar Pustaka

  1. Gulo W. MetodologiPenelitian. Jakarta: Grasindo; 2000.
  2. Metode Penelitian Kombinasi (Mix Methods). Bandung: Alfabeta; 2013.
  3. Achmad HEK. Metodologi Penelitian, Seri Bahan Pendidikan PS KARS UI. 2000.
  4. Riyanto A. Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan; Dilengkapi COntoh kuesioner dan Laporan Penelitian. Yogyakarta: Nuha Medika; 2011.
  5. Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: Sagung Seto; 2011.
  6. Dahlan S. Langkah-Langkah Membuat Proposal Penelitian Bidang Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Sagung Seto; 2012.
  7. Dahlan S. Statistik untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta: Sagung Seto; 2011.
  8. Notoatmodjo S. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta Rineka Cipta; 2010.
  9. Satari MH, Wirakusumah FF. Konsistensi Penelitian. Bandung: Refika Aditama; 2011.

 

About Moudy E.U Djami

Lahir dan besar di So'E, Kab Timor Tengah Selatan, Prop Nusa Tenggara Timur, telah menyelesaikan studi D4 Bidan Pendidik di Poltekes Depkes Jakarta III, S2 Kesehatan Reproduksi dari Universitas Indonesia dan S2 Ilmu Kebidanan dari Universitas Padjadjaran Bandung. Sekarang ini sementara melanjutkan studi di S3 Manajemen Pendidikan di Universitas Pakuan Bogor. Riwayat Pekerjaan pernah bekerja sebagai bidan di RSMM Timika, RS Puri Cinere Depok, Klinik Medika Timika, dan RSTM Timika. Menikah dengan Ong Tjandra dan dikaruniai seorang putri tercinta Alexa Candika. Rutinitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga dan juga tenaga pendidik di Akademi Kebidanan Bina Husada Tangerang dan bidan pengelola di Klinik Sehati.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s