PERSALINAN LAMA, INDUKSI DAN AKSELERASI PERSALINAN

Sebagian besar masalah pada kala satu dan dua persalinan adalah kemajuan persalinan yang tidak normal. Ketidaknormalan ini secara klinik dikenal dengan kasus:

Distosia

Definisi Distosia

Dystocia adalah persalinan yang sulit dengan karakteristik proses persalinan yang lambat hingga terhenti. Ketika berakhir dengan tindakan seksio sesarea, diagnose selalu ditegakkan sebagai Cephalopelvic Disproportion (CPD) atau partus yang gagal/ failure to process.1

Definisi distosia menurut sumber lainnya adalah persalinan yang sulit ditandai dengan adanya hambatan kemajuan persalinan. Persalinan yang normal (Eutocia) adalah persalinan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung spontan selama 18 jam. Distosia merupakan masalah klinis yang paling sering ditemukan oleh klinisi. Di Amerika, distosia menjadi indikasi utama dilakukannya tindakan SC sebesar 30%.2

Klasifikasi Distosia

Menurut penyebab, distosia dibagi menurut 3 golongan besar yaitu:

  • Distosia karena kekuatan-kekuatan yang mendorong anak tidak memadai yaitu:
  • Kelainan his yang merupakan penyebab paling sering pada distosia
  • Kekuatan mengejan yang kurang kuat, yang biasanya sering terjadi pada ibu dengan sesak napas atau kelelahan
  • Distosia karena adanya kelainan letak janin atau kelainan fisik janin

Penyebab ini dapat ditemukan pada presentasi bahu, presentasi dahi, presentasi muka, presentasi bokong, anak besar, hidrosefal dan monstrum

  • Distosia karena adanya kelainan pada jalan lahir

Kelainan jalan lahir yang dimaksud adalah kelainan pada bagian keras yaitu tulang panggul seperti panggul sempit, kelainan bawaan pada panggul, atau pada bagian lunak seperti tumor pada genitalia interna maupun visera lain didaerah panggul yang menghalangi jalan lahir.

Persalinan Lama

Definisi Partus Lama

Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam dengan kontraksi yang teratur dan menimbulkan nyeri disertai dengan adanya pembukaan serviks. Definisi ini mempunyai keterbatasan, oleh karena itu partus lama dibedakan menurut manajemen berdasarkan tahapan persalinan kala satu yaitu fase laten memanjang dan fase aktif memanjang.

Fase laten memanjang terjadi jika terjadinya kontraksi yang regular pada pembukaan sampai 4 cm lebih dari 8 jam. Fase aktif memanjang adalah terjadinya kontraksi rahim yang regular dan menimbulkan nyeri pada pembukaan lebih dari 4 cm lebih dari 12 jam.3

Menurut Friedman, permulaan fase laten ditandai dengan adanya kontraksi yang menimbulkan nyeri secara regular yang dirasakan oleh ibu. Gejala ini dapat bervariasi menurut masing-masing ibu bersalin karena mereka dapat merasaka nyeri setiap saat terutama pada saat, sehingga definisi ini disebut definisi yang eksklusif.4

Hendricks et al melakukan observasi perubahan serviks pada 303 ibu hamil selama empat minggu melaporkan bahwa rata-rata pembukaan serviks 1,8 cm pada nulipara dan 2,2 cm pada multipara dengan 60% – 70% terjadi effacement pada beberapa hari sebelum persalinan terjadi.5 Banyak studi melaporkan bahwa menurut waktu terjadinya persalinan, persalinan terjadi pada saat pasien masuk rumah sakit.1

Selain definisi diatas, sumber lain mengatakan bahwa persalinan lama adalah fase laten lebih dari 8 jam, persalinan berlangsung lebih dari 12 jam atau lebih tanpa kelahiran bayi dan dilatasi serviks berada di kanan garis waspada partograf.6

Penyebab Partus Lama

Pada umumnya, partus lama disebabkan oleh 3P yaitu:3

  • Powers : tidak terkoordinasinya kontraksi uterus
  • Passenger : diameter kepala bayi yang terlalu besar (> 9,5 cm) atau malposisi
  • Passage : pelvis yang abnormal, tumor, atau adanya obstruksi pelvis atau jalan lahir

 

Partus lama dapat terjadi karena abnormalitas dari dilatasi serviks. Perbukaan serviks berlangsung secara lambat, karena tidak terjadi penurunan kepala untuk menekan serviks tersebut. Pada saat yang sama terjadi edema pada serviks sehingga akan lebih sulit terjadi dilatasi. Oleh karena itu, tindakan seksio sesarea diperlukan segera.

Risiko partus Lama

Partus lama dapat barakibat buruk baik bagi ibu maupun bayinya. Ibu dan bayi akan mengalami distress, juga dapat meningkatkan infeksi karena meningkatnya intervensi yang dilakukan seperti periksa dalam serta risiko perdarahan karena atonia uteri dapat terjadi karena kelelahan otot uterus.3

Diagnosis Persalinan Lama

Dibawa ini adalah tabel 1 berikut ini adalah tabel yang digunakan untuk membantu mendiagnosis persalinan lama.

Tabel 1. Diagnosis Persalinan Lama

Tanda dan Gejala Diagnosis
Serviks tidak membukaTidak ada his atau his tidak teratur Belum inpartu
Pembukaan serviks tidak melewati 4 cm sesudah 8 jam inpartu dengan his yang teratur Fase laten memanjang
Pembukaan serviks melewati kanan garis waspada pada partograf-      Frekuensi his kurang dari 3 kali dalam 10 menit dengan durasi < 40 detik-      Pembukaan serviks dan turunnya bagian janin di presentasi tidak maju sedangkan his baik-      Pembukaan serviks dan turunnya bagian janin di presentasi tidak maju dengan kaputs, terdapat moulase hebat, edema serviks, tanda rupture uteri iminen, gawat janin-      Kelainan presentasi (selain vertex dengan oksiput anterior) Fase aktif memanjangInersia uteriCPDObstruksi kepalaMalpresentasi atau malposisi
Pembukaan serviks lengkap, ibu ingin mengedan, tetapi taka da kemajuan penurunan Kala II lama

Sumber : Mathai et al (2002)7

Penanganan

Penanganan persalinan lama dibedakan atas dua macam yaitu penanganan umum dan penanganan khusus untuk yang belum inpartu/persalinan palsu yang akan dijelaskan dibawah ini.1, 6

  • Penanganan Umum

Penanganan umum persalinan lama antara lain:7

  1. Nilai dengan segera keadaan ibu hamil dan janin termasuk hidrasi dan tanda vital
  2. Kaji kembali partograf, apakah pasien sudah inpartu, nilai keadaan his, frekuensi, durasi dan konsistensinya
  3. Perbaiki keadaan umum dengan:
  • Dukungan emosi, perubahan posisi sesuai dengan penanganan persalinan normal
  • Periksa keton dalam urine dan berikan cairan baik orak maupun parenteral. Upayakan BAK. pemasangan kateter hanya dilakukan jika perlu
  1. Beri analgesia : tramadol atai petidin 25 mg IM (maksimum 1 mg/kg BB) atau morfin 10 mg IM jika pasien merasa nyeri hebat atas advice dokter
  • Penanganan Khusus

Penanganan khusus terbagi atas penanganan khusus pada persalinan palsu, fase laten memanjang dan fase aktif memanjang.

Persalinan Palsu

Pada persalinan lama karena memang belum masuk pada keadaan inpartu atau persalinan palsu, tindakan yang dilakukan adalah periksa apakah ada infeksi saluran kemih atau ketuban pecah. Jika tidak ada pasien boleh rawat jalan.

Fase Laten Memanjang

Penanganan Khusus pada fase laten memanjang yaitu his berlangsung secara teratur dan pembukaan tidak bertambah maka lakukan ulang penilaian serviks:

  1. Jika tidak ada perubahan pada pendataran dan pembukaan serviks dan tidak ada gawat janin, mungkin pasien belum inpartu
  2. Jika ada kemajuan pendataran dan pembukaan serviks, maka lakukan amniotomi dan induksi persalinan dengan oksitosin dna prostaglandin.
  • Lakukan penilaian ulang setiap 4 jam
  • Jika pasien tidak masuk fase aktif setelah dilakukan pemberian oksitosin selama 8 jam, lakukan seksio sesarea
  1. Jika didapatkan tanda-tanda infeksi seperti demam dan cairan vagina berbau:
  • Lakukan akselerasi persalinan pervaginam dengan oksitosin
  • Berikan antobiotika kombinasi hingga persalinan terjadi
    • Ampisilin 2 gram IV setiap 6 jam
    • Gentamisin 5 mg/kg BB setiap 24 jam
    • Jika persalinan pervaginam terjadi, antibiotika si hentikan pada pascapersalinan
    • Jika dilakukan seksio sesarea, lanjutkan antibiotika ditambah metronidazole 500 mg IV setiap 8 jam sampai ibu bebas 48 jam

 

Fase Aktif Memanjang

Pada keadaan kasus fase aktif memanjang maka tindaka yang perlu dilakukan antara lain:

  1. Jika tidak ada tanda-tanda CPD, atau obstruksi dan ketuban masih utuh, ketuban dipecahkan
  2. Nilai his:
  • Jika his tidak adekuat yaitu kurang dari 3 kali dalam 10 menit dengan durasi kurang dari 40 detik pertimbangkan adanya inersia uteri
  • Jika his adekuat pertimbangkan adanya disporporsi
  1. Lakukan penanganan umum yang akan memperbaiki his dan mempercepat kemajuan persalinan

 

Cephalopelvic Disproportion (CPD)

Pada awalnya Cephalopelvic Disproportion (CPD) dideskripsikan sebagai obstruksi persalinan karena adanya kontraksi pelvis yang disebabkan oleh rakhitis. Sekarang ini kontraksi pelvis yang sebenarnya jarang terjadi dan CPD merupakan disgnosis subjektif yang berasal dari kecurigaan klinisi bahwa bayi tidak dapat turun dan melewati panggul karena bayi yang terlalu besar atau malposisi atau dapat disebabkan juga karena ukuran panggul yang terlalu kecil. Kriteria terjadinya persalinan antara lain pecahnya selaput ketuban, keluarnya lendir dan darah pervaginam, atau terjadinya penipisan/effacement mulut rahim yang lengkap.1

Friedman mendefinisikan keadaan patologis pada kala satu fase laten adalah memanjangnya fase laten yaitu ≥ 20 jam pada nulipara dan ≥14 jam pada multipara antara mulainya persalinan dengan kala satu fase aktif. Friedman juga melaporkan bahwa pemakaian obat sedative, tindakan epidural yang lebih awal dan serviks yang kaku berhubungan dengan abnormalitas fase laten.4

Penanganan CPD:

  • Jika diagnose CPD telah ditegakkan, lahirkan bayi secara Seksio Sesarea
  • Jika janin telah meninggal, lahirkan secara craniotomy
  • Jika operator tidak dapat melakukan craniotomy, segera rujuk untuk dilakukan SC
  • Jika pembukaan serviks sudah lengkap dan kepala sudah di stase 0 (Hodge ….) lakukan partus dengan tindakan VE
  • Jika kepala terlalu tinggi dan janin masih hidup, lahirkan segera dengan SC

 

Kala II memanjang

Kala dua memanjang artinya lama kala dua atau kala pengeluaran lebih dari 2 jam pada nulipara dan lebih dari 1 jam pada multipara.8 Batasan lain menurut sumber yang berbeda dari The Ottawa’s Hospital Clinical Practice Guideline fro the Second Stage of Labour dibagi menurut paritas dan intervensi yang diberikan seperti berikut ini:9

  • Nulipara tanpa tindakan epidural

Jika dua jam dengan upaya mengejan yang aktif tanpa kelahiran bayi. Mengejan yang aktif dimulai saat dilatasi sempurna. Total lama kala dua lebih dari 3 jam tanpa kelahiran bayi

  • Multipara tanpa tindakan epidural

Jika satu jam mengejan yang aktif tanpa kelahiran bayi. Mengejan yang aktif dimulai saat dilatasi sempurna. Total lama kala dua lebih dari 2 jam tanpa kelahiran bayi

  • Nulipara dengan tindakan epidural

Jika dua jam dengan upaya mengejan yang aktif tanpa kelahiran bayi. Mengejan yang aktif dimulai saat dilatasi sempurna. Total lama kala dua lebih dari 4 jam tanpa kelahiran bayi

  • Multipara dengan tindakan epidural

Jika dua jam dengan upaya mengejan yang aktif tanpa kelahiran bayi. Mengejan yang aktif dimulai saat dilatasi sempurna. Total lama kala dua lebih dari 3 jam tanpa kelahiran bayi

Batasan diatas sama dengan yang siacu oleh ACOG practice bulletin pada bulan Desember 2003, dimana kala dua memanjang jika lebih dari 3 jam yang menggunakan anestesi dan lebih dari 2 jam bagi yang tidak menggunakan anestesi.

Tindakan mengejan oleh ibu sebenanrnya meningkatkan risiko pada bayi karena berkurangnya aliran darah yang berisi oksigen ke dalam darah janin. Oleh karena itu, ibu sebaiknya dibiarkanmengejan secara spontan jika merasa ada dorongan untuk mengejan tetapi jangan menganjurkan cara mengejan yang lama disertai dengan menahan napas.10

 

Induksi Persalinan

Induksi persalinan (induction of labor) adalah tindakan artifisial digunakan untuk menginisiasi persalinan sebelum persalinan spontan terjadi.11

Induksi persalinan adalah merangsang uterus untuk memulai terjadinya persalinan7

Akselerasi (Augmented of labor) persalinan adalah meningkatkan frekuensi, lama dan kekuatan kontraksi uterus dalam persalinan.

Induksi persalinan telah dilakukan di berbagai belahan dunia dan menjadi praktik yang rutinitas pada maternitas modern.12

 

Tujuan dilakukannya induksi persalinan adalah agar tercapai kontraksi yang adekuat yaitu 3 kali kontraksi dalam 10 menit dengan durasi 40 detik.6

Sebelum melakukan induksi persalinan, yang harus diperhatikan adalah keadaan serviks yang siap untuk mengalami dilatasi atau serviks yang matang. Secara kuantitatif dapat ditentukan menggunakan skor Bishop yang dapat dilihat pada table 2. Nilai > 9 menunjukkan derajat kematangan servik yang paling baik dengan angka keberhasilan induksi persalinan yang tinggi. Umumnya induksi persalinan yang dilakukan pada kasus dilatasi servik 2 cm, pendataran servik (effacement) 80%, kondisi servik lunak dengan posisi tengah dan derajat desensus -1 akan berhasil dengan baik. Akan tetapi sebagian besar kasus menunjukkan bahwa ibu hamil dengan induksi persalinan memiliki servik yang tidak “favourable” ( Skoring Bishop < 4 ) untuk dilakukannya induksi persalinan.

Jika serviks belum matang, ada beberapa cara untuk mematangkan serviks seperti cara mekanis dan medikamentosa/kimiawi.14

  1. Cara mekanis : balon kateter, dilatator mekanis dan stripping of the membrane.
  2. Kimiawi/medikamentosa:

a. Prostaglandine E2

  • Dinoprostone lokal dalam bentuk jelly ( Prepidil ) yang diberikan dengan aplikator khusus intraservikal dengan dosis 0.5 mg.
  • Dinoproston vaginal suppositoria 10 mg (Cervidil). Pemberian prostaglandine harus dilakukan di kamar bersalin.
  • Pemberian oksitosin drip paling cepat diberikan dalam waktu 6 – 12 jam pasca pemberian prostaglandine E2.
  • Efek samping: Tachysystole uterine pada 1 – 5% kasus yang mendapat prostaglandine suppositoria.

b. Prostaglandine E1

  • Misoprostol (Cytotec) dengan sediaan 100 dan 200 µg. Pemberian secara intravagina dengan dosis 25 µg pada fornix posterior dan dapat diulang pemberiannya setelah 6 jam bila kontraksi uterus masih belum terdapat. Bila dengan dosis 2 x 25 µg masih belum terdapat kontraksi uterus, berikan ulang dengan dosis 50 µg. Pemberian Misoprostol maksimum pada setiap pemberian dan dosis maksimum adalah 4 x 50 µg ( 200 µg ).
  • Dosis 50 µg sering menyebabkan :
    • Tachysystole uterin
    • Mekonium dalam air ketuban
    • Aspirasi Mekonium
  • Pemberian per oral: Pemberian 100 µg misoprostol peroral setara dengan pemberian 25 µg per vaginam

 

Cara melakukan induksi persalinan ada dua yaitu:

  1. Alami

Induksi secara alami dapat dilakukan dengan cara hubungan seksual sehingga sperma yang masuk yang mengandung prostaglandin dapat memicu kontraksi rahim

  1. Obat-obatan atau tindakan lainnya:
    1. Amniotomi
    2. Balon kateter
    3. Memberikan prostaglandin seperti E2(PGE2) atau Oksitosin

Cara melakukan induksi persalinan ada dua yaitu:

  1. Alami

Induksi secara alami dapat dilakukan dengan cara hubungan seksual sehingga sperma yang masuk yang mengandung prostaglandin dapat memicu kontraksi rahim

  1. Obat-obatan atau tindakan lainnya:
    1. Amniotomi
    2. Balon kateter
    3. Memberikan prostaglandin seperti E2(PGE2) atau Oksitosin

 

  1. Amniotomi

Amniotomi adalah tindakan memecahkan selaput amnion untuk merangsang kontraksi karena terjadinya penurunan kepala bayi yang menekan OUI.

 

Yang harus diperhatikan adalah:

  1. Pada daerah yang tinggi insiden HIV, tidak dianjurkan melakukan amniotomi, bahkan sedapat mungkin tetap dipertahankan utuh.
  2. Hati-hati pada kehamilan dengan hidramnion, karena dapat menyebabkan solutio placenta sehingga dapat terjadi perdarahan hebat dan kematian janin, pada presentasi muka, tali pusat terkemuka dan vasa previa.

 

Cara Melakukan Amniotomi:

  • Periksa djj
  • Lakukan pemeriksaan serviks dan catat konsistensi serviks, posisi apakan ante, tengah atau retro flexy atau ante/retro versi, persentase effacement (pendataran serviks) dan dilatasi (pembukaan serviks) dengan menggunakan sarung tangan DTT
  • Masukan alat untuk memecahkan ketuban atau dapat juga menggunakan ½ kocher yang dipegang dengan tangan kiri (jika tidak kidal) dan dengan menggunakan jari telunjuk dan tengah tangan kanan hingga menyentuh selaput ketuban.
  • Gerakan ujung jari tangan kiri yang memegang kocher untuk menorehkan gigi kocher hingga merobek selaput ketuban
  • Cariran ketuban akan keluar secara perlahan, tetapi jangan keluarkan jari tangan kanan yang masih berada didalam vagina dan yakini tidak teraba bagian terkecil bayi atau tali pusat yang menumbung, sambil melihat dan mengingat warna, kejernihan, pewarnaan meconium, serta perkiraan jumlahnya yang ditampung dalam nierbechken / piala ginjal. Jika terdapat pewarnaan meconium (kehijauan) suspek gawat janin.
  • Setelah cairan ketuban tidak keluar lagi, keluarkan jari tangan kanan dari vagina dan lakukan DTT terhadap semua alat yang digunakan
  • Periksa djj saat kontraksi dan sesudah kontraksi uterus. Apabila terdapat akselerasi (> 180x/menit) atau deselerasi (<100x/menit) suspek gawat janin. Berikan oksigen dengan masker 5 liter /menit dan segera dirujuk, jika tidak, lanjutkan pada langkah berikutnya
  • Catat temuan dalam dokumentasi kebidanan
  • Jika kelahiran tidak terjadi dalam 18 jam, berikan antobiotika unutk pencegahan infeksi : Ampicillin 2 gram IV, ulangi setiap 6 jam sampai lahir.
  • Jika tidak ada tanda-tanda infeksi hingga kelahiran bayi, antibiotika harus dihentikan
  • Jika proses persalinan tidak terjadi dalam 1 jam setelah amniotomi, mulailah dengan pemberikan oksitosin
  • Pada persalinan dengan masalah misalnya sepsis atau eklampsia, infus oksitosin dilakukan bersamaan dengan amniotomi, tetapi tindakan ini dilakukan di tempat layanan yang ada dokter spesialis kebidanan seperti RS, RSIA, atau puskesmas Poned.

Amniotomi

Gambar 1. Amniotomi

Sumber : Stormont -Vail GOM bay friendly ebook13

Keberhasilan Induksi Persalinan

Keberhasilan induksi persalinan dilaporkan berhubungan dengan Bishop Score. Jika skor Bishop ≥ 6 biasanya induksi cukup dilakukan dengan oksitosin. Jika ≤ 5, sebaiknya serviks dimatangkan terlebih dahulu dengan prostaglandin atau balon kateter. dibawah ini adalah tabel Skor Bishop.7

 

Tabel 2. Skor Bishop

Faktor Skor
0 1 2 3
Bukaan (cm) Tertutup 1-2 3-4 Lebih dari 5
Panjang Serviks (cm)/effacement > 4 3-4 1-2 <1
Konsistensi Kenyal Rata-rata Lunak
Posisi Posterior Tengah Anterior
Turunnya kepala (cm dari spina iskiadika) -3 -2 -1 +1, +2
Turunnya kepala (dengan palpasi abdominal menurut system perlimaan) 4/5 3/5 2/5 1/5

Sumber : Mathai et al (2002)7

2. Balon Kateter

Balon kateter / Foley Catheter merupakan pilihan lain disamping pemberian prostaglandin untuk mematangkan serviks pada induksi persalinan. Hal yang harus diperhatikan adalah tidak boleh memasang balon kateter pada ibu dengan perdarahan. ketuban pecah dini, pertumbuhan janin terhambat, atau adanya infeksi vagina maupun infeksi saluran kemih (ISK).7

 

Persiapan Alat untuk Memasang Balon Kateter

Baki steril berisi:

  • Sarung tangan DTT
  • Balon kateter ukuran 18-20 CH
  • Venster klem/Klem Panjang/forceps
  • Spuit steril yang berisi Aqua Bidestilata10 ml

Cara melakukan induksi persalinan adalah:

  • Kaji ulang indikasi induksi persalinan
  • Lakukan vulva hygiene
  • Masukan speculum DTT kedalam vagina, pastikan ukurannya tepat sesuai dengan berat badan ibu
  • Masukan balon kateter secara perlahan-lahan kedalam serviks ibu dengan menggunakan forceps DTT atau klem panjang atau venster klem. Pastikan ujung balon kateter telah melewati ostium uteri internum (OUI)
  • Gembungkan balon kateter dengan memasukan cairan sebanyak 10 steril (aqua bidestilata) sebanyak 10 ml
  • Gulung sisa kateter dan masukan ke dalam vagina, atau dapat juga diplester pada paha ibu bagian dalam
  • Diamkan selama 12 jam sambil diobservasi hingga timbul kontraksi uterus atau maksimal pemasangan 12 jam.
  • Kempiskan balon kateter sebelum kateter dikeluarka
  • Jika sudah ada pembukaan lebih besar dari balon yang dibuat, kateter akan keluar dengan sendirinya
  • Lanjutkan dengan pemberian oksitosin

PEMASANGAN BALON KATETER UNTUK INDUKSI PERSALINAN

Gambar 2. Pemasangan Balon kateter untuk induksi persalinan

Sumber: Widjanarko (2011)

3. Oksitosin

Oksitosin adalah hormone yang diproduksi oleh hipotalamus posterior yang dapat menyebabkan kotraksi rahim juga memancarkan ASI. Pada praktek kebidanan oksitosin yang di gunakan adalah oksitosin sintesis untuk memicu induksi maupun akselerasi persalinan.

Oksitosin harus digunakan secara hati-hati karena dapat menyebabkan gawat janin dan hiperstimulasi. Walaupun jarang, rupture uteri dapat terjadi dan risiko rupture uteri pada pemberian oksitosin meningkat pada ibu multipara. Dosis oksitosin bervariasi dan dilarutkan dalam cairan dekstrose atau cairan garam fisiologis denga tetesan dinaikan secara bertahap sampai his adekuat ( 2 kali dalam 10 menit). Pada saat melakukan induski persalinan dengan oksitosin, ibu harus dipantau secara ketat sehingga jika terjadi komplikasi pada ibu dan janin dapat diketahui secara dini.7

 

Cara Melakukan Induksi Persalinan

  • Pantau denyut nadi, tekanan darah, dan kontraksi ibu hamil serta periksa denyut jantung janin secara berkala
  • Kaji ulang indikasi
  • Baringkan ibu hamil miring ke kiri
  • Catat semua hasil observadi ke dalam partograf (Tetesan infus oksitosin, frekuensi dan durasi kontraksi, djj setiap 30 menit). Jika djj < 100 x/menit, infus oksitosin dihentikan)
  • Infus oksitosin 2,5 Unid dalam 500 cc dekstrose 5% atau cairan garam fisiologis mulai dengan 10 tetes per menit (dapat dilihat pada table berikut)
  • Naikan kecepatan infus 10 tetes per menit tiap 30 menit sampai kontraksi adekuat (3 kali dalam 10 menit durasi lebih dari 40 detik) dipertahankan sampai terjadi kelahiran

Tabel 3. Kecepatan Infus Oksitosin untuk Induksi Persalinan

Waktu sejak Induksi (Jam) KonsentrasiOksitosin Tetes Per Menit Dosis (mlU/menit) Volume Infus Total Volume Infus
0,0 2,5 unit dalam 500 ml dekstrose 5% atau garam fisiologik (5 mlU/ml) 10 3 0 0
0,5 Idem 20 5 15 15
1,0 Idem 30 8 30 45
1,5 Idem 40 10 45 90
2,0 Idem 50 13 60 150
2,5 Idem 60 15 75 225
3,0 5 Unit dalam 500 ml dekstrose 5% atau garam fisiologis (10 mlU/ml) 30 15 90 315
3,5 Idem 40 20 45 360
4,0 Idem 50 25 60 420
4,5 Idem 60 30 75 495
5,0 10 Unit dalam 500 ml dekstrose 5% atau garam fisiologis (20 mlU/ml) 30 30 90 630
5,5 Idem 40 40 45 630
6,0 Idem 50 50 60 690
6,5 Idem 60 60 75 765
7,0 Idem 60 60 90 855

Sumber : Mathai et al (2002)7

Jika terjadi hiperstimulasi ( durasi lebih dari 60 detik) atau lebih dari 4 kali kontraksi dalam 10 menit hentikan infus dan kurangi hiperstimulasi dengan :

  • Terbutalin 250 mcg IV pelan-pelan selama 5 menit
  • Salbutamol 5 mg dalam 500 ml cairan (garam fisiologis atau Ringer Lactat) 10 tetes per menit

 Tabel 4. Ekskalasi Cepat pada Primigravida. Kecepatan Infus Oksitosin untuk Induksi Persalinan

Waktu sejak Induksi (Jam) KonsentrasiOksitosin Tetes Per Menit Dosis (mlU/menit) Volume Infus Total Volume Infus
0,0 2,5 unit dalam 500 ml dekstrose 5% atau garam fisiologik(5 mlU/ml) 15 4 0 0
0,5 Idem 30 8 23 23
1,0 Idem 45 11 45 68
1,5 Idem 60 15 90 135
2,0 5 Unit dalam 500 ml dekstrose 5% atau garam fisiologis(10 mlU/ml) 30 15 90 225
2,5 Idem 45 23 45 270
3,0 Idem 60 30 68 338
3,5 10 Unit dalam 500 ml dekstrose 5% atau garam fisiologis(20 mlU/ml) 30 30 90 428
4,0 Idem 45 45 45 473
4,5 Idem 60 60 68 540
5,0 Idem 60 60 90 630

Sumber : Mathai et al (2002)7

 

Yang harus diperhatikan ketika melakukan induksi persalinan adalah:

  1. Jika tidak terjadi kontraksi yang adekuat (3 kali dalam 10 menit dengan durasi 40 detik) setelah infus oksitosin mencapai 60 tetes per menit:
  • Naikkan konsentrasi oksitosin menjadi 5 unit dalam 500 ml dekstrose 5% atau cairan garam fisiologis. Sesuaikan kecepatan infus sampai 30 tetes per menit (15 mlU/menit)
  • Naikkan kecepatan infus 10 tetes per menit tiap 3 menit sampai mencapai kontraksi adekuat (3 kali dalam 10 menit dengan durasi 40 detik) atau setelah infus oksitosin mencapai 60 tetes per menit
  1. Jika masih tidak tercapai kontraksi yang adekuat dengan konsentrasi yang lebih tinggi:
  • Pada multigravida : induksi dianggap gagal dan segera dilakuka seksio sesarea
  • Induksi persalinan dengan 10 mlU oksitosin tidak boleh diberikan pada multigravida dan pada bekas seksio sesarea
  • Pada primigravida: infus oksitosin bisa dinaikkan konsentrasinya yaitu:
    • 10 unit dalam 500 ml dekstrose atau garam fisiologis 30 tetes per menit
    • Naikan 10 tetes tiap 30 menit sampai kontraksi adekuat
    • Jika kontraksi tetap tidak adekuat setelah 60 tetes per menit (60 mlU per menit) lakukan seksio sesarea

Hal yang Harus Diperhatikan dan Dipatuhi

Materi yang diberikan adalah ilmu pengetahuan yang harus diketahui, tapi pengetahuan belum tentu menjadi kewenangan bidan. Kewenangan bidan diatur oleh peraturan pemerintah (Kemenkes 1464 Tahun 2010 tenang ijin dan praktik bidan).15 Sebagai tenaga professional, sekalipun mampu harus mengetahui sejauh mana kewenangan yang dimiliki. Melihat teknik di induksi dan augmentasi diatas, maka wewenang bidan hanya dapat melakukan amniotomi tetapi harus diperhatikan semua syarat yang ada harus terpenuhi. Pemberian Misoprostol (citotec, gastrula dsb) bukan menjadi wewenang bidan dan perlu diingat penggunaan obat ini dapat berakibat fatal karena perdarahan. Teman sejawat sebaiknya mempelajari kebijakan yang ada sehingga pelayanan yang diberikan aman secara hukum dan tidak merugikan pasien, keluarga dan diri sendiri.

REFERENSI

  1. Ness A, Goldberg J, Berghella V. Abnormalities of the first and second stages of labor. Obstet Gynecol Clin N Am. 2005;32(2005):201-20.
  2. Bratakoesoema DS. Distosia. In: Sastrawinata S, Martaadisoebrata D, Wirakusumah FF, editors. Obstetri Patologi, Ilmu Kesehatan Reproduksi. 2 ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2005.
  3. Educational material for teachers of midwifery. Midwifery education modules – second edition. . Genewa: International Confederation of Midwifery, World Health Organization; 2008.
  4. Friedman E. Labor: clinical evaluation and management. 2 ed. New York: Appleton-Century-Crofts; 1978.
  5. Hendricks C, Brenner W, Kraus G. Normal cervical dilatation pattern in late pregnancy and labor. Am J Obstet Gynecol. 1970;106:1065-80.
  6. Saifuddin AB, Wiknjosastro GH, Affandi B, Waspodo D, editors. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2004.
  7. Mathai M, Sangvi H, Guidotti RJ, Broekhuizen F, Chalmers B, Johnson R, et al. Integrated Management of Pregnancy ans Childbirth. Managing Complication in Pregnancy and Childbirth. Geneva: Reproductive Health and Research World Health Organization; 2002.
  8. Diagnosis of labour dystocia. Systematic Review. 2009;55. Epub September 2007.
  9. The Ottawa’s Hospital Clinical Practice Guideline for the Second Stage od Labour. Oprimal Birth BC. 2006. Epub September 2006.
  10. Dystocia anf Agumentation of Labour. International Journal of Gynecology and Obstetrics. 2003;49.
  11. McGeown P. Induction of Labour and Post-term Pregnancy. In: Henderson C, Macdonald S, editors. Mayes’ Midwifery, A Textbook for Midwifes. 13 ed. Edinburg: Elsevier Limited; 2004.
  12. Enkin M, Keirse M, Neilson J, Crowther C, Duley L, Hodnett E, et al. A Guide to Effective Care in Pregnancy and Childbirth. London: Oxford Medical Publications; 2000.
  13. ______. Amniotomi, Artificial Rupture of Membrane. Available from: http://giftofmotherhood.com/stormontvail/files/assets/seo/page74.html.
  14. Widjanarko B. Induksi dan Akselerasi Persalinan. Informasi Reproduksi [Internet]. 2011. Available from: http://reproduksiumj.blogspot.com/2011/09/induksi-dan-akselerasi-persalinan.html.
  15. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1464 Tahun 2010 tentang izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan.

 

About Moudy E.U Djami

Lahir dan besar di So'E, Kab Timor Tengah Selatan, Prop Nusa Tenggara Timur, telah menyelesaikan studi D4 Bidan Pendidik di Poltekes Depkes Jakarta III, S2 Kesehatan Reproduksi dari Universitas Indonesia dan S2 Ilmu Kebidanan dari Universitas Padjadjaran Bandung. Sekarang ini sementara melanjutkan studi di S3 Manajemen Pendidikan di Universitas Pakuan Bogor. Riwayat Pekerjaan pernah bekerja sebagai bidan di RSMM Timika, RS Puri Cinere Depok, Klinik Medika Timika, dan RSTM Timika. Menikah dengan Ong Tjandra dan dikaruniai seorang putri tercinta Alexa Candika. Rutinitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga dan juga tenaga pendidik di Akademi Kebidanan Bina Husada Tangerang dan bidan pengelola di Klinik Sehati.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s