PENCEGAHAN DAN PENATALAKSANAAN CEDERA PERINEUM DALAM PERSALINAN

1. Anatomi Perineum

Perineum yang dalam bahasa Yunani disebut Perineos adalah daerah antara kedua belah paha, yang pada wanita dibatasi oleh vulva dan anus, dengan simpisis pubis di bagian anterior, tuber ishiadikum dibagian lateral dan os koksigeus dibagian posterior.1

Perineum terdiri dari otot dan fasia urogenitalis serta diafragma pelvis. Perineum merupakan bagian yang sangat penting dalam kebutuhan fisiologis, tidak hanya berperan atau menjadi bagian penting dari proses persalinan, tetapi juga diperlukan untuk mengontrol proses buang air besar dan buang air kecil, menjaga aktivitas peristaltic agar tetap normal (dengan menjaga tekanan intra abdomen) dan fungsi seksual yang sehat setelah bersalin. Anatomi organ perineum dapat dilihat dibawah ini:2

 Anatomi Perineum

Gambar 1. Anatomi Perineum

Sumber : Manavata3

Anatomi P 2

Gambar 2. Anatomi Perineum

Sumber : Hanrettty, P.44 (2010)4

Sedangkan anatomi vulva dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Vulva

Gambar 3. Anatomi Vulva

Sumber : Hanretty, P.39 (2010)4

2. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Robekan Perineum

Cedera perineum adalah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir baik secara spontan maupun dengan menggunakan alat atau tindakan. Robekan perineum umumnya terjadi pada garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat.

Ruptur perineum sering terjadi pada seorang nulipara yakni memiliki risiko lebih besar untuk mengalami ruptur perineum daripada ibu dengan paritas lebih dari satu. Hal ini dikarenakan karena jalan lahir yang belum pernah dilalui oleh kepala bayi sehingga otot-otot perineum belum meregang. Selain itu ras juga berhubungan dengan robekan perineum. Wanita Asia dilaporkan cenderung lebih tinggi prevalensi robekan perineum dibandingkan dengan wanita kulit hitam. Tindakan operatif vagina saat persalinan seperti vakum dan forsep, panjang perineum, bayi yang besar dan diameter kepala bayi juga berisiko terhadap robekan perineum.5-7

Senada dengan informasi diatas, Hirayama juga melaporkan bahwa terdapat hubungan antara ras dengan kejadian rupture perineum derajat ketiga dan keempat. Prevalensinya juga sangat bervariasi. Robekan perineum dejajat III dan IV di China, Kamboja dan India mulai dari 0,1%, sementara itu di Filiina mulai dari 15%. di Jepang dari laporan persalinan diluar fasilitas kesehatan, prevalensi robekan perineum derajat III dan IV sebesar 1,4% sedangkan di Uganda sebesar 0,1%. Faktor nulipara, tindakan forcep dan vakum ekstraksi, berat bayi yang besar merupakan faktor yang signifikan terhadap terjadinya robekan perineum.8

Williams dan Chames (2006) dari studi mereka yang dilakukan di Michigan menginformasikan bahwa kala dua yang lama (>1 jam), tindakan operatif saat persalinan (vakum dan forsep (OR 3,6 IK 95% 1,8-7,3), episiotomy mediolateral (OR 6,9 IK 95% 2,6-18,7) berhubungan dengan robekan perineum. Sementara itu persalinan pervaginam sebelumnya merupakan faktor protektif terhadap laserase perineum (OR 6,36 IK 95% 2,18-18,57).9 Faktor Protektif lain terhadap kejadian robekan perineum adalah BMI diatas rata-rata. Hal ini disebabkan karena adanya ekstra lemak pada bagian perineum wanita dengan berat badan berlebih/obesitas sehingga melindungi dari robekan perineum saat persalinan.10

Selain faktor tersebut diatas, table berikut ini memaparkan tentang faktor risiko terjadinya robekan perineum.

Tabel 1. Faktor Risiko Terjadinya Robekan Perineum saat Persalinan

RISK FACTOR ODDS RATIO
Nulliparity (primigravidity) 3–4
Short perineal body 8
Instrumental delivery, overall 3
Forceps-assisted delivery 3–7
Vacuum-assisted delivery 3
Forceps vs vacuum 2.88
Forceps with midline episiotomy 25
Prolonged second stage of labor (>1 hour) 1.5–4
Epidural analgesia 1.5–3
Intrapartum infant factors:
Birthweight over 4 kg 2
Persistent occipitoposterior position 2–3
Episiotomy, mediolateral 1.4
Episiotomy, midline 3–5
Previous anal sphincter tear 4
All variables are statistically significant at P< 0,05

Sumber : Brinsmead (2003)2

3. Upaya Pencegahan Cedera perineum

Review dari Cochrane menyebutkan bahwa tindakan episiotomy secara liberal atau tanpa indikasi tidak dapat menurunkan insiden robekan sfingter anus dan berhubungan dengan meningkatnya trauma perineum. Carroli dan Belizan juga melaporkan bahwa tindakan operatif vakum ekstraksi lebih sedikit menimbulkan robekan sfingter dibanding tindakan forsep dengan perbandingan 1:18 persalinan.11, 12

Dari Studi Randomized Control Trial (RCT) dengan besar sampel 5001 ibu serta studi longitudinal /cohort pada 6463 ibu, studi metaanalisis melaporkan bahwa episiotomi yang tidak rutin/restricted lebih sedikit mengalami trauma persalinan (RR 0,87 IK 0,83-0,91) tetapi lebih banyak trauma anterior (RR 1,75 IK 1,52 – 2,01).2

Beberapa studi juga melaporkan bahwa secara keseluruhan dengan tidak dilakukannya episiotomi secara rutin akan lebih banyak menghasilkan persalinan dengan perineum yang utuh, berkurangnya nyeri perineum, lebih cepat kembalinya pola aktivitas seksual dan self esteem yang tinggi, dan sebaliknya lebih banyak robekan sfingcter anus pada penggunaan episiotomi rutin, namun tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap fungsi seksual pada 3 bulan pertama dan fungsi kandung kemih dalam 3 tahun mendatang.2

Rekomendasi dari NICE adalah episiotomi yang rutin juga tidak dianjurkan pada partus spontan dan seharusnya dilakukan hanya dengan indikasi sebagai contoh misalnya pada bayi besar, perinem yang kaku atau perineum yang pendek. Episiotomi jenis mediolateral lebih dianjurkan, dimulai pada bagian belakang fourchette pada sudut 45-60 derajat.13

Dibawah ini adalah rangkuman dari beberapa studi yang telah di publis terkait pencegahan robekan perineum antara lain:2

  1. Tidak dilakukannya episiotomi (adanya pembukaan serviks secara alami sejak usia gestasi 36 minggu) secara signifikan meningkatkan angka persalinan pada ibu nulipara dengan perineum yang utuh.
  2. Pada tahun 2001 – studi kohor prospektif yang dipublis di Jerman melaporkan bahwa terjadi penurunan tindakan episiotomi sebesar 50% pada 50 ibu nulipara, lebih sedikit yang mengalami robekan perineum (2% vs 4%), dan kala II yang lebih pendek (mean 29 vs 54 minutes)
  3. Studi di Melbourne, Australia melaporkan bahwa dari 48 ibu nulipara terjadi penurunan penggunaan episiotomi (26% vs 34%), lebih banyak persalinan dengan perineum yang utuh (46% vs 17%), kala II yang lebih pendek (mean 61 vs 81 menit), dan tidak ada efek pada apgar bayi dengan penggunaan instrument (episiotomi) saat persalinan
  4. Studi observasional dalam skala besar di United Stated (US) melaporkan bahwa kompres panas pada nulipara dapat mereduksi kebutuhan akan intervensi episiotomi dan multipara (borderline), dapat mereduksi robekan perineum spontan pada kedua kelompok baik pada nulipara maupun multipara, tetapi belum dikonfirmasi dengan studi yang lebih tinggi (RCT)
  5. Studi RCT pada 185 ibu yang menggunakan lignocaine spray menginformasikan bahwa tidak ada perbedaan efek nyeri perineum pada kedua kelompok, tetapi lebih sedikit yang mengalami dispareunia dan lebih sedikit yang mengalami robekan perineum pada derajat kedua (RR 0,63 IK 95% 0,42-0,93) pada kelompok ibu yang menggunakan lignocaine spray. Namun demikian, NICE tetap menganjurkan sebaiknya tidak menggunakan lignocain spray.

4. Klasifikasi rupture perineum

Laserasi perineum dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat laserasi yaitu:2, 14-16

  1. Derajat I : robekan hana sebatas fourchette, Hymen, labia, kulit dan mukosa vagina.
  2. Derajat II: termasuk otot vagina dan perineum, otot bulbokavernosus, dan otot perineum transversal serta pada beberapa kasus pada pubokoksigeus
  3. Derajat III: sfingter anus dan septum rektovaginal
  4. Derajat IV: meluas sampai ke mukosa rektal, sfingter anus eksternal dan internal.

Berikut ini adalah gambar derajat robekan perineum seperti yang telah diuraikan diatas.

Robekan Perineum II

Gambar 4. Robekan Perineum Derajat Kedua

Sumber: Leeman et al, (2003)16

Robekan Peri IV

Gambar 5. Robekan Perineum derajat keempat

Sumber: Leeman et al, (2003)16

 

5. Teknik penjahitan

Teknik penjahitan robekan perineum disesuaikan dengan derajat laserasinya. Bagi bidan tentunya harus menyesuaikan dengan wewenang bidan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1464 Tahun 2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan, pada pasal 10 ayat 3 butir (b) yaitu hanya luka jalan lahir derajat I dan II.17

Prinsip penjahitan luka perineum dilakukan setelah memeriksan keadaan robekan secara keseluruhan. Jika robekan terjadi pada derajat III dan IV, segera siapkan tindakan rujukan, sebelumnya dilakukan tindakan penghentian perdarahan pada robekan tingkat jika terjadi. Untuk mendiagnosa berapa derajat robekan dan melakukan penjahitan memerlukan pencahayaan yang cukup.16

Penggunaan benang jika dibandingkan antara catgut atau chromic, menggunakan benang polyglactil (vicryl) akan lebih mudah menyerap dan mengurangi nyeri perineum setelah penjahitan.18

  1. Perbaikan robekan perineum derajat I dan II

Dalam tulisan ini akan memuat cara penjahitan luka perineum derajat I hingga derajat IV tetapi lebih ditekankan pada derajat I dan II. Robekan derajat pertama biasanya tidak memerlukan jahitan, tetapi harus dilihat juga apakah meluas dan terus berdarah. Penggunaan anestesi diperlukan agar dapat mengurangi nyeri agar ibu bisa tenang sehingga operator dapat memperbaiki kerusakan secara maksimal. Berikut ini adalah tahapan penjahitan robekan perineum derajat I dan II.4, 16, 19, 20

  • Ibu ditempatkan dalam posisi litotomi, area bedah dibersihkan
  • Jika daerah apex luka sangat jauh dan tidak terlihat, maka jahitan pertama ditempatkan pada daerah yang paling distal sejauh yang bisa dilihat kemudian diikat dan ditarik agar dapat membawa luka tersebut hingga terlihat dan dapat menempatkan jahitan kembali 1 cm diatas apex. Pastikan aposisi anatomis khususnya pada sisa hymen.
  • Jahitan harus termasuk fascia rektovaginal yang menyediakan sokongan pada bagian posterior vagina. Jahitan dilakukan sepanjang vagina secara jelujur, sampai ke cincin hymen, dan berakhir pada mukos vagina dan fascia rektovaginal, dapat dilihat gambar 6 berikut.

Mucosa Vagina & Fascia

Gambar 6 Mukosa vagina dan fascia rektovaginal

Sumber: Leeman et al, (2003)16

  • Otot pada badan perineum diidentifikasi, dapat dilihat pada gambar 7 berikut ini.

Heacting Lacerasi II

Gambar 7. Penjahitan Laserasi Perineum derajat II

Sumber: Leeman et al, (2003)16

  • Otot perineum transversal disambung dengan jahitan terputus menggunakan benang vicryl 3-0 sebanyak 2 kali, demikian juga dengan otot bulbokavernosus dijahit dengan cara yang sama. Gunakan jarum yang besar untuk mendapatkan hasil jahitan yan baik. Ujung otot bulbokavernosus ditarik kearah posterior kemudian kearah superior, dapat dilihat pada gambar 8 berikut ini.

HEacting otot Bulbokavernosus

Gambar 8 Penjahitan otot bulbokavernosus dengan cara terputus

Sumber: Leeman et al, (2003)16

 

  • Jika robekan memisahkan fascia retrovaginal dari badan perineum, sambungkan fascia dengan dua jahitan vertikal secara terputus dengan benang vicryl, dapat dilihat pada gambar 9 berkut ini.

Heacting Septum

Gambar 9 Penjahitan septum rektovaginal pada badan perineum

Sumber: Leeman et al, (2003)16

  • Daerah subkutan dijahit dengan kedalaman 1 cm dengan jarak antara 1 cm untuk menutupi luka kutaneus. Jahitan kulit yang rapih ditentukan oleh aposisi subkutis yang ditempatkan dengan baik.
  • Gunakan benang vicryl 4-0 untuk menjahit kulit. Mulailah penjahitan pada bagian posterior dari apex kulit dengan jarak 3 mm dari tepi kulit.

2. Perbaikan robekan perineum derajat III dan IV

  • Apex dari mukosa rectum dan sfingter anus diidentifikasi, kemudian dijahit dengan menggunakan benang vicryl 4-0 secara terputus, hati-hati agar jahitannya tidak terlalu dalam sehingga tidak menembus saluran anal untuk mencegah fistula. Anus bagian internal berwarna putih yang mengkilap, dengan struktur fibrosa antara mukosa rektal dan sfingter anus eksternal, dapat dilihat pada gambar 10 berikut.

Mucosa Rectal

Gambar 10. Mukosa rektal dan Spincter anus eksternal

Sumber: Leeman et al, (2003)16

  • Sfingter ditarik secara lateral, tempatkan allys klem pada ujung otot agar mudah diperbaiki.
  • Sfingter anus diakhiri dengan jahitan kontinyu dengan menggunakan benang vicryl 2-0.
  • Sfingter ani eksternal terlihat seperti berkas otot skeletal dengan kapsul fibrous. Allis klem ditempatkan pada setiap ujung spincter anus, kemudian jahitan dilakukan pada pukul 12,3,6 dan 9 dengan menggunakan benang polydiaxanone 2-0 (absorbi yang agak lambat) untuk memungkinkan kedua ujung sfingter membentuk scar secara bersamaan.

Bukti penelitian menunjukan bahwa sambungan dari ujung ke ujung pada sfingter tidak memberikan sambungan anatomis yang baik, dan buruknya fungsi sfingter dikemudian hari jika ujungnya beretraksi. Teknik jahitan ujung ke ujung dapat dilihat pada gambar 11 berikut.

Sambungan Spincter

Gambar 11. Sambungan Spincter anus dari ujung ke ujung

Sumber: Leeman et al, (2003)16

  • Teknik lain adalah sambungan secara tumpang tindih pada sfingter anal eksternal. Teknik ini menjadikan lebih banyak lipatan pada perineal dan fungsi spincter yang lebih baik. Para ahli lebih banyak yang memilih teknik ini, dapat dilihat pada gambar 12 berikut.

Sambungan Spincter 2

Gambar 12. Sambungan spincter anus secara overlapping

Sumber: Leeman et al, (2003)16

 

  • Anus harus dapat dimasuki satu jari setelah otot-otot sfingter dipertemukan kembali
  • Instroitus vagina juga harus dapat dimasuki dua jari pada akhir perbaikan
  • Kulit disatukan dengan jahitan subkutan seperti pada perbaikan derajat satu dan dua.

6. Perawatan luka perineum

Meskipun belum banyak referensi yang memberikan informasi tentang perawatan perineum setelah perbaikan robekan karena persalinan, dibawah ini adalah perawatan perineum yang dapat dilakuan ibu antara lain:

  • Sitz bath dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri
  • Analgesia yang adekuat seperti ibuprofen dengan resep dokter
  • Jika ibu akan merasa nyeri yang berlebihan, sebaiknya diperiksa secepatnya karena nyeri adalah gejala yang umum dari infeksi
  • Diet rendah serat
  • Terapi laxansia diperlukan terutama bagi robekan derajat III dan IV
  • Antibiotik diperlukan untuk mengurangi infeksi luka jahitan, gunakan metronidazole dan antibotik dengan spectrum yang luas
  • Anjurkan tindakan SC untuk persalinan selanjutnya, jika persalinan pervaginam dapat menyebabkan inkontinensia anal.

Terdapat juga perawatan dengan menggunakan herbal bagi ibu yang tertarik menggunakannya, yang telah terbukti secara ilmiah memberikan efek yang positif misalnya :15

a. Arnica :

  • Kelelahan otot perineum dan kaki
  • Tidak boleh digunakan pada luka terbuka
  • Sebagai obat luar yang paten seperti memar.

Arnica

Gambar 13. Arnica

Lavender :

  • Mengurangi nyeri dan anti-inflamasi
  • Dapat dipakai untuk kompres hangat dan sitz bath

Lavender

Gambar 14. Lavender

Plantain :

  • Anti-inflamasi
  • Antimikroba
  • Dapat digunakan untuk kompres dan sitz bath

Plantain

Gambar 15. Plantain

Chickweed :

  • emollient action, tinggi vitamin C, dan bioflavonoid
  • Luka terbuka
  • Iritasi
  • Gatal-gatal
  • Mengurangi bekas luka
  • Dapat dipakai untuk kompres hangat dan sitz bath

Chickweed

Gambar 16. Chickweed

Calendula :

  • Anti-inflamasi
  • Astrigent
  • Antimikroba
  • Dapat digunakan untuk kompres dan sitz bath

Calendula

Gambar 17. Calendula

Metode Alternatif Perawatan Robekan Perineum setelah dijahit:15

  • Sitz bath: merendam perineum dalam baskom yang cukup besar untuk diduduki dengan menggunakan air bersih kurang lebih 10 cangkir (200cc). Jika ada inflamasi atau bengkak, gunakan air dingin. Setelah reda, gunakan air hangat hingga ibu merasa nyaman. Beberapa ibu menemukan bahwa menggunakan air hangat akan memperbaiki peredaran darah sehingga mengurangi nyeri. setiap 1 cangkir air, diperlukan 1 senduk herbal yang kering. Sebaiknya yang kering karena akan lebih banyak sarinya kerena telah dikeringkan dibawah sinar matahari.
  • Kompres : dengan menggunakan sehelai kain bersih seperti linen, katun atau kain gaaz, kompreskan dengan air hangat yang telah direndam herbal di daerah perineum. Kompres dingin atau secara bergantian panas-dingin dapat dilakukan untuk memperlancar peredaran darah.

7. Kesimpulan

Robekan perineum pada dasarnya dapat dicegah dengan seperti menghindari episiotomy yang rutin, dan juga pijat perineum pada kala II. Hal ini telah terbukti secara ilmiah memberikan dampak terhadap robekan perineum yang lebih sedikit terutama robekan derajat III dan IV, nyeri perineum yang berkurang, aktivitas seksual yang lebih cepat, dispareunia akibat penjahitan perineum dan self esteem ibu sendiri yang tinggi.

Ada banyak pilihan bagi ibu maupun petugas kesehatan dalam memberikan asuhan bagi ibu khususnya pasca persalinan dengan robekan perineum tingkat I-IV, misalnya secara medikal maupun tradisional dengan terapi herbal, yang mana telah terbukti secara ilmiah bermanfaat bagi proses penyembuhan dan pencegahan infeksi. Sebagai petugas kesehatan yang bijaksana, harus dapat memberikan saran yang baik berdasarkan bukti ilmiah dan semua keputusan dikembalikan kepada ibu dan keluarga dengan sebelumnya memberikan informasi yang tepat.

Dengan adanya evidence base yang telah dipaparkan diatas, diharapkan agar para praktisi kesehatan terutama bidan dapat secara bijak mengambil keputusan yang tepat pada saat menolong ibu dalam proses persalinan sehingga dapat meminimasi kejadian trauma perineum tersebut, dengan meminimasi intervensi yang tidak diperlukan seperti episiotomi rutin yang malah akan memperparah robekan perineum.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1994.
  2. Brinsmead M. Obstetric Perineal Injury. New South Wales, Australia: Coffs Harbour Rural School of Medicine (The University of New South Wales); 2013.
  3. Reproductive System. 2010. Available from: http://www.manavata.org/HBReproSys.htm
  4. Hanretty KP. Ilustrasi Obstetri. 7 ed. Santoso BI, Muliawan E, Ho M, Tjandra O, editors. Singapore: Churchill Livingstone; 2010.
  5. Goldberg J, Hyslop T, Tolosa JE, Sultana C. Racial differences in severe perineal laceration after vaginal delivery. Am J Obstet Gynecol. 2003(188):1063-7.
  6. Howard D, Davies PS, DeLancey JOL, Small Y. Differences in perineal laceration in black and white priimiparas. Am J Obstet Gynecol. 2000(96):622-4.
  7. Beckmann MM, Garrett AJ. Antenatal perineal massage for reducing perineal trauma. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2009(1).
  8. Hirayama F, Koyanagi A, Mori R, Souza JP, Gulmezoglu AM. Prevalence and risk factor for third- and fourth-degree perineal lacerations during vaginal delivery: a multy – country study. BJOG An International Journal of Obstetrics and Gynaecology. 2012.
  9. Williams MK, Chames MC. Risk factor for the breackdown of perineal lacaration repair after vaginal delivery. Am J Obstet Gynecol. 2006(195):755-9. Epub 29 June 2006.
  10. Landy HJ, Laughon SK, Bailit J, Kominiarek MA, Gonzalez-Quintero VH, Ramirez M, et al. Characteristic associated with severe perineal and cervical laceration during vaginal delvery. Obstet Gynecol. 2011;117(3):627-35. Epub March 2011.
  11. Carroli G, Belizan J. Episiotomi for Vaginal Birth. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2003;1(CD000081).
  12. Eason E, Labrecque M, Wells G, Feldman P. Preventing perineal trauma during childbirth, a systematic review. Obstet Gynecol. 2000(95):464-71.
  13. Antenatal Care, routine care for the healthy pregnant woman. 2 ed. London: Royal College of Obstetricians and Gynaecologists; 2008.
  14. Fraser DM, Cooper MA. Myles Textbook for Midwives. Downe S, editor. Oxford, United Kongdom: Elsevier Limited; 2003.
  15. Clark D. Herbs for postpartum perineum : Part one 2005. Available from: http://www.midwiferytoday.com/articles/herbspostperineum1.asp.
  16. Leeman L, Spearman M, Rogers R. Repair of Obstetric Perineal Laceration. American Family Physician [Internet]. 2003 17 March 2014. Available from: http://www.aafp.org/afp/2003/1015/p1585.pdf.
  17. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1464/MENKES/PER/2010. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2010.
  18. Kettle C, Johansen RB. Asorbdable synthetic versus catgur suture material of perineal repair. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2003.
  19. Liu DTY. Labour Ward Manual. Oxford, United Kingdom: Elsevier Limited; 2004.
  20. Fitzpatrick M, Behan M, O’Connel PR, O’Herlihy C. A randomized clinical trial comparing primary overlap with approximation repair of third degree obstetric tears. Am J Obstet Gynecol. 2000;183:1220-4.

About Moudy E.U Djami

Lahir dan besar di So'E, Kab Timor Tengah Selatan, Prop Nusa Tenggara Timur, telah menyelesaikan studi D4 Bidan Pendidik di Poltekes Depkes Jakarta III, S2 Kesehatan Reproduksi dari Universitas Indonesia dan S2 Ilmu Kebidanan dari Universitas Padjadjaran Bandung. Sekarang ini sementara melanjutkan studi di S3 Manajemen Pendidikan di Universitas Pakuan Bogor. Riwayat Pekerjaan pernah bekerja sebagai bidan di RSMM Timika, RS Puri Cinere Depok, Klinik Medika Timika, dan RSTM Timika. Menikah dengan Ong Tjandra dan dikaruniai seorang putri tercinta Alexa Candika. Rutinitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga dan juga tenaga pendidik di Akademi Kebidanan Bina Husada Tangerang dan bidan pengelola di Klinik Sehati.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s