Total Quality Management

BAB 1

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta adanya globalisasi, maka setiap organisasi baik yang bergerak dibidang jasa maupun produk berupa barang dituntut mampu memberikan dan menghasilkan produk yang berkualitas. Untuk dapat memenuhi tuntutan masyarakat tersebut, maka setiap institusi harus memiliki manajemen yang baik. Salah satu bentuk manajemen yang berhasil dimanfaatkan dalam dunia industri dan biasa diadaptasi oleh institusi manapun adalah Total Quality Management (TQM).[1]

Kualitas telah banyak didefinisikan sebagai tingkat keunggulan, kesesuaian untuk tujuan atau penggunaan, zero defect, kesesuaian dengan persyaratan. The British Standards Institute melihat kualitas sebagai totalitas fitur dan karakteristik dari suatu produk atau jasa yang beruang pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat.[2] Deming pada tahun 1986 menekankan bahwa kualitas harus ditujukan pada kebutuhan pelanggan, sekarang dan masa depan dengan perbaikan secara terus menerus.[3] Konsep perbaikan terus menerus inilah yang melandasi TQM yang diadopsi baik di dunia industri maupun dunia pendidikan.

B.     Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini untuk memahami TQM dari aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis.

C.    Metode

Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah studi pustaka.

BAB 2

PEMBAHASAN

 A.    Aspek Ontologis Total Quality Management

  1. Pengertian Mutu

Beberapa pengertian mutu dari para tokoh mutu seperti W.Edwards Deming, Philip B. Crosby, Armand Feigenbaum, Karou Ishikawa dan Joseph Juran akan dibahas berikut ini. Definisi mutu yang dirumuskan oleh kelima tokoh tersebut dapat digolongkan menjadi 2 level yaitu sesuai dengan spesifikasi dan memuaskan pelanggan.Adapun definisi mutu menurut  tokoh diatas antara lain:

  1. Menurut Crosby mutu adalahsesuai dengan persyaratan, yang merupakan satu tingkat untukformulasi. Hal yang ditekankan Crosby dalam definisi mutu adalah bahwa (1) seseorang harus tahu apa persyaratan dan mampu menerjemahkan persyaratan menjadi produk terukur atau karakteristik layanan, dan (2) perlu untuk mengukur karakteristik produk atau jasa untuk menentukan kualitas yang tinggi.[4]
  2. Menurut Deming konsep mutu terdiri dari dua tingkat yaitumultidimensi untuk memproduksi suatu produk dan memberi jasa pelayanan sesuai harapan pelanggan untuk mencapai kepuasan pelanggan. Argumennya yang esensial adalah (1) mutu harus didefinisikan sebagai kepuasan pelanggan, (2) kualitas multidimensional di mana tidak mungkin menentukan kualitas suatu produk atau jasa hanya dengan karakteristik tunggal atau agen, dan (3) ada derajatmutu yang berbeda, karena mutu pada dasarnya disamakan dengan kepuasan pelanggan.[5]
  3. Menurut Feigenbaum mutu adalah produk komposit total dan layanan karakteristik pemasaran, teknik manufaktur, dan pemeliharaan di mana produk dan jasa yang digunakan akan memenuhi harapan pelanggan. Poin penting Feigenbaum ini adalah bahwa (1) kualitas harus didefinisikan dalam hal kepuasan pelanggan, (2) kualitas adalah multidimensi dan harus didefinisikan secara komprehensif, dan (3) karena terjadi perubahan kebutuhan dan harapan pelanggan, maka mutu adalah dinamis. [6]
  4. Menurut Ishikawa mutu adalah dua tingkatandefinisi, yaitu “Kami terlibat dalam kontrol kualitas untuk memproduksi produk-produk dengan kualitas yang dapat memenuhi persyaratan konsumen.” Poin penting definisi mutu menurut Ishikawa adalah bahwa (1) kualitas setara dengan kepuasan konsumen, (2) kualitas harus didefinisikan secara komprehensif, (3) kebutuhan konsumen dan persyaratan berubah terus menerus, oleh karena itu definisi mutu juga selalu berubah, dan (4) harga suatu produk atau jasa merupakan bagian penting dari kualitas.[7]
  5. Menurut Juran mutu merupakan upaya simultan untuk menjadi definisi tingkatsatu dan tingkat dua. Juran mendefinisikan mutu berdasarkan makna ganda, yaitu (1) Kualitas terdiri dari fitur-fitur produk yang memenuhi kebutuhan pelanggan dan dengan demikian memberikan kepuasan produk, (2) Kualitas terdiri dari kebebasan dari kekurangan. Adapun poin penting dari definisi mutu menurut Juran adalah (1) definisi praktis kualitas mungkin tidak mungkin, dan (2) kualitas terkait dengan kebutuhan pelanggan, dan kemampuanmemenuhinya menunjukkan adanya kesesuaian dengan karakteristik produk yang terukur.[8]

Terdapat pengertian lain dari mutu yaitu mutu adalahKualitas adalah derajat nilai tambah bagi produk dan / atau pelayanan seperti yang dirasakan oleh semua pemangku kepentingan melalui kesesuaian dengan spesifikasi dan tingkat untuk menambahkan keunggulan suatu produk dan/atau pelayanan melalui motivasi tenaga kerja untuk mencapai kepuasan pelanggan.

Berdasarkan berbagai konsep mutu diatas, maka dapat disimpulkan bahwa mutu adalah suatu konstruk teori yang dibangun berdasarkan dua aspek yaitu sesuai dengan harapan dan memenuhi kepuasan pelanggan secara komprehensif, dimana produk/jasa yang diberikan provider dapat memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak.

  1. Pengertian Total Quality Management

TQM merupakan perpanjangan dari pendekatan tradisional terhadap mutu.Meskipun asal usul TQM kembali ke tahun 1940-an dan 1950-an, Feigenbaum pertama menggunakan istilah resmi pada tahun 1957.TQM menurut Deming bukan hanya tentang produktivitas dan pengendalian mutu, tetapi merupakan visi yang luas tentang sifat organisasi dan bagaimana organisasi tersebut harus diubah.

Menurut Oakland (dikutip Pycraft, Singh & Phihlela 2000:736), TQM adalah filosofi, cara berpikir dan bekerja yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dan harapan pelanggan. TQM berlaku untuk semua bagian, departemen dan bagian dari institusi dan menjadi tanggung jawab semua orang dalam sebuah institusi.TQM dapat dilihat sebagai perpanjangan logis dari cara di mana kualitas yang berhubungan dengan praktik telah berkembang.

Wilkinson dan Witcher dalam Oschman, Stroh dan Auriacombe (2006) ringkasan TQM memiliki tiga persyaratan utama, seperti diuraikan di bawah ini:[9]

  1. Total: Partisipasi orang, proses, institusi: “TQM membutuhkan perbaikan terus menerus dan dilakukan secara benar yang benar sejak awal. Ketika solusi tentang mutu kebanyakan berada di luar kendali setiap individu timTQM membutuhkan kerja tim dan maintenance hubungan yang baik.
  2. Kualitas: ditemukannyapersyaratan pelanggan dengantepat: TQM membutuhkan persetujuan pelanggan terhadap spesifikasi yang memungkinkan provider untuk mengukur kinerja dan kepuasan pelanggan. Individu dan tim perlu menggunakan peralatan berkualitas dan sistem untuk memfasilitasi pengukuran dan pemecahan masalah.
  3. Manajemen: kondisi yang memungkinkan untuk Total Quality: TQM membutuhkan kepemimpinan dan komitmen total dari manajemen senior untuk mencapai tujuan mutu tersebut. Mereka harus memastikan tersedianya infrastruktur yang tepat untuk mendukung secara menyeluruh dan bukan pendekatan terkotak-kotakan.

Konsep TQM tidak dapat sepenuhnya dipahami melalui satu definisi saja. TQM dapat digolongkan padasatu pengertian yang luas dan terdiri dari:

  1. TQM sebagai budaya
  2. TQM sebagai manajemen
  3. TQM sebagai filosofi manajemen dan prinsip
  4. TQM sebagai strategi
  5. TQM sebagai suatu sistem

TQM merupakan kombinasi dari kepemimpinan yang efektif, hasil dalam organisasi dan melakukan dengan benar sejak awal. TQM juga merupakan jalan untuk mengelola masa depan, dan tidak hanya menjamin mutu suatu produk atau jasa tetapi juga mengelola proses usaha untuk memastikan tercapainya kepuasan pelanggan secara menyeluruh pada setiap tahap.

Inti dari TQM adalah interfaces dari pelanggan baik internal maupun eksternal pada beberapa tahapan proses. Hal lain yang harus tersedia adalah komitmen terhadap mutu harus dimiliki oleh keduanya, serta dikomunikasikan dengan jelas, serta perubahan budaya organisasi yakni adanya perbaikan terus menerus untuk mencapai mutu yang komprehensif.

Berdasarkan berbagai definisi TQM diatas maka dapat disimpulkan bahwa TQM adalah konsep mutu yang luas untuk dapat mencapai tujuan dengan menggunakan strategi cara melakukan perubahan terus menerus sehingga menjadi budaya kerja dari tim yang solid, melibatkan seluruh komponen dan memberdayakan merekaagar dapat memenuhi harapan pelanggan dan mencapai kepuasan pelanggan.

B.     Aspek Epistemologis TQM

TQM dipandang sebagai perpanjangan alami dari pendekatan sebelumnya untuk kualitas. TQM merupakan konsep mutu dari hasil evolusi konsep sebelumnya seiring dengan berjalannya waktu, diawali dengan tahap inspeksi untuk mengontrol adanya kesalahan sehingga dapat dilakukan pembetulan; kemudian quality control pada kualitas institusi dengan menggunakan statistik, standar kualitas pada tahapan proses dan quality assurance yang terdiri dari system mutu, biaya mutu, pemecahan masalah, dan perencanaan mutu. Pada TQM semua konsep tersebut disintesiskan dengan melibatkan semua komponen dari institusi, menggunakan strategi mutu, bekerja secara tim, memberdayakan para staf dan juga pelanggan serta pemasok atau rekanan.

Pada prinsipnya, perbedaan TQM dengan manajemen proses lainnya terletak pada perubahan yang terus menerus pada individu, kelompok dan institusi. Setiap individu dalam suatu organisasi harus mengetahui apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, mempunyai peralatan yang bagus agar dapat melakukannya secara baik dan benar serta mampu melakukan pengukuran terhadap hasil yang diperoleh serta mendapat umpan balik dari atasannya. Hal ini akan dapat memperbaiki performance bahkan meningkatkan kinerja setiap individu yang terlibat didalamny dimana dengan teori psikologi bahwa ketika seseorang dihargai keberadaannya, maka dengan sendirinya produktivitasnya meningkat.

Meskipun demikian ada beberapa hambatan di lapangan dimana TQM tidak dapat diterapkan dengan optimal. Hambatan – hambatan tersebut antara lain:[12]

  1. Pemimpin tidak memberikan arah yang jelas
  2. Tidak memahami posisi kompetitifatau mengabaikannya
  3. Setiap departemen bekerja hanya untuk dirinya sendiri
  4. Tidak memahami dengan baik antara mutu dengan kualitas dengan tingkatan
  5. Menerima bahwa tingkat cacat atau kesalahan tidak bisa dihindari
  6. Perilaku yang reaktif
  7. Sikap “Ini bukan masalah saya”

Hal yang harus diperhatikan oleh pemimpin dalam melaksanakan TQM adalah para harus mempertimbangkan:

  1. Organisasi membutuhkan komitmen jangka panjang untuk perbaikan terus menerus.
  2. Mengadopsi filosofi dari zero errors/defectsagar terjadi perubahan budayasejak pertama kalinya dilaksanakan dengan tepat.
  3. Melatih orang untuk memahami hubungan pelanggan / pemasok
  4. Jangan membeli produk atau jasa pada harga sajatanpa melihat/membandingkan harga yang sudah ada disekitar
  5. Peningkatan sistem harus dikelola secara tepat
  6. Mengadopsi metode modern yaknipengawasani dan pelatihan serta menghilangkan rasa takut dalam melakukannya.
  7. Menghilangkan hambatan antar departemen dengan mengelola proses dengan meningkatkan komunikasi dan kerja sama tim.
  8. Eliminasi sasaran tanpa metode, standar yang berdasarkan angka, barrier kebanggaan workmanshipfiction,mendapatkan fakta-fakta dengan mempelajari proses
  9. Terus-menerus mendidik dan melatih – mengembangkan.menciptakan para ahli dalam organisasi
  10. Mengembangkan pendekatan sistematis untuk mengelola pelaksanaan TQM

Dengan demikian seperti telah diuraikan diatas bahwa dalam TQM yang terdiri empat pilar yaitu proses, individu, sistem manajemen dan pengukuran kinerja dimanaperbaikan terus menerus harus dilaksanakn tidak hanya pada proses produksi, namun juga perubahan perilaku dari individu yang terlibat. Perubahan budaya bukan hanya pada teknis pelaksanaan SOP namun juga pada perilaku individu.Perubahan ini harus menjadi komitmet dari semua yang terlibat.

C.    Aspek Aksiologi TQM

Pada prinsipnya, perbedaan TQM dengan manajemen proses lainnya terletak pada perubahan yang terus menerus pada individu, kelompok dan institusi. Setiap individu dalam suatu organisasi harus mengetahui apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, mempunyai peralatan yang bagus agar dapat melakukannya dan mampu melakukan pengukuran terhadap hasil yang diperoleh serta mendapat umpan balik dari atasannya. Hal ini akan dapat memperbaiki performance bahkan meningkatkan kinerja setiap ndividu yang terlibat didalamnya.Hal ini sesuai dengan teori psikologi bahwa ketika seseorang dihargai keberadaannya, maka dengan sendirinya produktivitasnya meningkat.

Berdasarkan uraian diatas maka manfaat yang dapat diperoleh dengan melaksanakan TQM dari antara lain:

  1. Memangkas biaya produksidikelola dengan baik pada setiap tahap dan diawali dengan benar pada awalnya.
  2. Meningkatkan profit perusahaan/institusi
  3. Dapat diukur
  4. Memberdayakan SDM yang ada
  5. Karyawan merasa dihargai karena adanya kontribusi dari mereka untuk mencapai tujuan organisasi/institusi
  6. Memberikan keuntungan secara psikologis bagi karyawan menuruh hirarki Maslow yakni terpenuhiny akebutuhan dihargai
  7. Citra organisasi meningkat
  8. Mencapai sasaran yaitu dapat memenuhi harapan serta kepuasan pelanggan

 

BAB 3

KESIMPULAN

 

TQM merupakan filosofi mutu yang mengalami evolusi seiring dengan adanya perubahan kehidupan manusia, merupakan sintesis dari konsep mutu sebelumnya dari inspeksi, Quality control, dan quality assurance.Dalam budaya kita dikenal dengan istilah ”legowo” yakni pimpinan menerima masukan dari bawah, karena pada TQM merupakan kombinasi antara top down dan bottom up.Pengkotak-kotakan antar departemen dan sikap tidak peduli dengan lingkungan serta ketidak cakapan pimpinan dalam memberikan arahan menjadi hambatan terlaksannya TQM di lapangan.

Pelaksanaan TQM sejak awal sudah dmulai dengan benar dan dikelola dengan baik pada setiap tahapanya.Strategi yang telah dirumuskan harus dikomunikasikan dengan baik dan benar, agar semua individu yang terlibat tahu apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapainya, difasilitasi dengan baik dan diukur secara objektif.

Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari dengan menganut filosofi TQM dan melaksanakan dengan baik. Bagi pelanggan sudah dapat dipastikan bahwa harapan dan kepuasan akan terpenuhi. Bagi provider akan mengalami surplus karena manajemen yang baik sejak awal hingga akhir, meningkatkan produktivitas SDM dan menjadikan mereka ahli dibidangnya serta menghargai mereka dan menciptakan citra institusi yang baik.

Filosofi TQM ini tidak hanya dapat dilaksanakan di dunia industri, tetapi dapat diadopsi juga oleh dunia pendidikan sehingga kualitas pendidikan dapat ditingkatkan sekaligus memenuhi harapan pelanggan baik internal dan eksternal serta memenuhi tujuan pembangaunan manusia Indonesia secara utuh.

 DAFTAR PUSTAKA

  1. Anon. Total Quality Management (TQM) from Quality to Excellence, Departmen of
  2. Trade and Industri.www.dti.gov.uk/quality/tqm Dikutip 14 Februari 2013
  3. British Standards Institution, Quality Systems, BS EN ISO 9002, BSI, London, 1994
  4. Crosby,P.B, Quality is Free, New York:McGraw-Hill Book Co, 1979
  5. Deming, W.E, Out of The Crisis: Quality Productivity and Competitive Position, Cambridge University Press, Cambridge, 1986
  6. ____Out of The Crisis, Cambridge, MA:Massachusetts Institute of Technology, 1988
  7. Garbut S. The Transfer of TQM form industri to education. Journal of Education + Training. 1996;38(7):16-22.
  8. Feigenbaum, A.V, Total Quality Control, Third Edition, New York: McGraw-Hill Book Co, 1983
  9. Hindle T. Guide to Management Ideas and Gurus. The Economist, 2001

About Moudy E.U Djami

Lahir dan besar di So'E, Kab Timor Tengah Selatan, Prop Nusa Tenggara Timur, telah menyelesaikan studi D4 Bidan Pendidik di Poltekes Depkes Jakarta III, S2 Kesehatan Reproduksi dari Universitas Indonesia dan S2 Ilmu Kebidanan dari Universitas Padjadjaran Bandung. Sekarang ini sementara melanjutkan studi di S3 Manajemen Pendidikan di Universitas Pakuan Bogor. Riwayat Pekerjaan pernah bekerja sebagai bidan di RSMM Timika, RS Puri Cinere Depok, Klinik Medika Timika, dan RSTM Timika. Menikah dengan Ong Tjandra dan dikaruniai seorang putri tercinta Alexa Candika. Rutinitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga dan juga tenaga pendidik di Akademi Kebidanan Bina Husada Tangerang dan bidan pengelola di Klinik Sehati.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to Total Quality Management

  1. hans says:

    Halo Moudy, ada karya lengkap TQM? kita lagi seleksi untuk penerbitan buku tentang TQM, reach my email: hansradja@yahoo.com

    • Liana says:

      Malam .. boleh tau tidak buku buku apa saja yang membahas total quality management ? Tahun terbit 2010-2014 ?

      • Maaf baru buka blog lagi, bisa di lihat di buku2 Management, misalnya Richard L. Daft, New Era of Management, dan buku1 management lainnya terbitan Mc-Graw Hill. Sy banyak beli buku lewat Tokopedia, juga toko buku Spectra di Salemba…. Ok, selamat berburu buku…. sukses ya🙂

  2. Rohani says:

    Selamat malam, salam sejahtera
    Lotus Birth menurut saya klo saya baca dari manfaatnya untuk bayi sih sangat bagus tapi jika kita hubungkan dengan infeksi tali pusat mungkin lotus birt bisa menjadi pencetus pertama terjadinya infeksi tali pusat. karena infeksi tali pusat bukan karena masalah cara pemotongan atau alat yang tidak steril saja tapi menurut pengalaman saya infeksi terjadi karena kurangnya kebersihan menjaga tali pusat dikarenakan ada yang tidak berani atau takut memegang tali pusat, apa lagi menggunakan cara lotus birth pasti mereka lebih kesusahan untuk merawatnya, ada juga yang masih menggunakan serbuk kopi. Padahal sebelum pasien pulang ke rumah kita sudah memberikan penkes tentang merawat tali pusat tapi masih saja ada yang seperti itu.
    Jadi menurut saya lotus birt kurang efektif untuk di terapkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s