PENGARUH CHRONICAL PELVIC PAIN TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. 1.    Latar Belakang

Nyeri panggul kronis adalah masalah ginekologis yang umum terjadi dengan estimasi prevalensi 38 per 1000 pada wanita berusia 15-73, sebanding dengan asma (37/1000) dan nyeri punggung kronis (41/1000). Keadaan ini menjadi indikasi paling umum terhadap rujukan ke klinik ginekologi, terhitung 20% dari semua pasien rawat jalan yang ada di tingkat pelayanan sekunder di Amerika. 1

Chronic Pelvic Pain (CPP) adalah sakit perut dan panggul yang nonsiklik dengan durasi minimal 6 bulan. Keadaan ini adalah masalah umum pada wanita dari semua kunjungan ginekologi (10-40%).2-4 Beberapa studi telah berusaha untuk mengidentifikasi faktor risiko nyeri panggul kronis tetapi seringkali dengan hasil yang bertentangan. Sebuah meta-analisis sebelumnya melaporkan bahwa faktor-faktor sosial dan psikologis turut berperan terhadap kejadian CPP tersebut.1

Nyeri panggul kronis tidak hanya berlangsung pada saat haid, tapi dapat juga disebabkan oleh kondisi lain seperti perlengketan, tumor, visceral pain, apekdiksitis dan lain sebagainya. Kondisi ini menjadikan 10% dari kunjungan ginekologi, 20% dari indikasi laparaskopi serta 12% dari indikasi laparatomi. CPP dapat mempengaruhi psikologi dan aktivitas sehari-hari. Keadaan ini lambat laun akan mempengaruhi produktivitas seseorang. 3

Dampak yang dapat ditimbulkan oleh nyeri panggul kronis antara lain turunnya status kesehatan secara umum serta kualitas hidup, depresi, membatasi aktivitas dan penurunan produktivitas. Beberapa studi melaporkan bahwa faktor umur, status ekonomi, ras dan tingkat pendidikan karyawan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kejadian PCC. Sementara itu PCC lebih banyak terdapat pada wanita yang bercerai dari pada wanita yang menikah atau yang masih singgle.4

Sebesar 15% sampai 20% wanita yang berusia antara 18 dan 50 tahun, mengalami nyeri panggul kronis dengan durasi lebih dari satu tahun.
kasus nyeri panggul kronis menempati 2%-10% dari semua konsultasi rawat jalan ginekologi per tahun (Reiter dalam Zaitoun, 2011)

Pada umumnya setelah dirujuk ke dokter kandungan sebagai penyelidikan awal untuk mengungkap penyebab patologis misalnya, endometriosis atau perlengketan, namun memiliki hasil negatif di lebih dari setengah kasus. Selain itu, sejauh mana kondisi seperti itu menyebabkan rasa sakit tidak pasti karena ada tumpang tindih dengan faktor psikososial dalam banyak kasus. Bahkan laparoskopi mungkin memiliki efek menguntungkan melalui mekanisme psikologis. Jadi pengobatan empiris semakin banyak direkomendasikan sebagai manajemen awal standar.2

Data di Indonesia secara umum tentang nyeri panggul kronis belum ditemukan secara nasional, maupun menurut daerah atau institusi pelayanan kesehatan sekunder atau tersier.

 

  1. 2.    Rumusan Masalah

Dari paparan diatas dapat diketahui bahwa sekalipun nyeri panggul kronis tergolong rendah prevalensinya, namun berdampak buruk terhadap kesehatan secara umum, psikologis dan produktivitas hingga penurunan kualitas hidup individu. Setiap praktisi kesehatan harus dapat memahami dengan baik kasus ini dan dapat menanganinya dengan benar serta tahu penatalaksanaannya sesuai dengan wewenang serta tanggung jawabnya, agar dapat meningkatkan produktivitas kliennya.

 

  1. 3.    Tujuan

Tujuan penulisan makalah ilmiah ini agar dapat memahami dengan benar konsep nyeri panggul kronis serta mengetahui upaya yang dapat diambil petugas kesehatan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup klien.

 

  1. 4.    Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan makalah ilmiah ini diawali dengan penelusuran ilmiah baik dari textbook maupun jurnal dan artikel ilmiah dengan topik nyeri panggul kronis. Setelah itu menganalisa factor-faktor yang melatarbelakangi kejadian PCP. Langkah berikutnya adalah melakukan analisa untuk mengetahui upaya yang perlu dilakukan agar dapat meningkatkan produktivitas individu sehubungan dengan PCP, sesuai dengan kewenangan bidan.

BAB II

KAJIAN TEORI

 

 

  1. 1.    Definisi Nyeri Panggul Kronis

Nyeri panggul kronis/Chronic Pelvic Pain (CPP) didefinisikan sebagai sakit perut dan panggul yang nonsiklik dengan durasi minimal 6 bulan.2-4 Sementara itu Reiter dalam Zaitoun (2011) CPP adalah nyeri pada perut dan panggul yang diderita oleh wanita berusia antara 18 dan 50 tahun, kadang berlangsung lebih dari satu tahun. 4

Chronic Pelvic Pain adalah masalah ginekologis yang umum terjadi dengan estimasi prevalensi 38 per 1000 pada wanita berusia 15-73, tingkat sebanding dengan asma (37 per 1000) dan nyeri punggung kronis (41 per 1000). Keadaan ini menjadi indikasi paling umum terhadap rujukan ke klinik ginekologi, terhitung 20% dari semua pasien rawat jalan yang ada di tingka pelayanan sekunder Amerika. 1

            Definisi lain dari nyeri panggul kronis adalah rasa sakit nonmalignant yang dirasakan dalam struktur yang terkait dengan panggul dari pria dan wanita. Dalam kasus nyeri nosiseptif yang didokumentasikan menjadi kronis, nyeri pasti terus menerus atau berulang selama minimal 6 bulan. Jika mekanisme sensitisasi nonacute dan tengah sakit didokumentasikan dengan baik, rasa sakit dapat dianggap sebagai kronis, terlepas dari jangka waktu tersebut. Dalam semua kasus sering dikaitkan dengan kognisi negatif, perilaku, seksual, dan konsekuensi emosional. Nyeri panggul kronis dibagi menjadi sindrom nyeri panggul dan non-sindrom nyeri panggul.       

Nyeri panggul kronis (juga dikenal sebagai persisten) adalah nyeri yang berhubungan dengan perubahan dalam sistem saraf pusat (SSP) yang dapat mempertahankan persepsi nyeri dengan tidak adanya cedera akut. Perubahan ini juga dapat memperbesar persepsi sehingga rangsangan nonpainful dianggap menyakitkan (allodynia) dan rangsangan yang menyakitkan dianggap lebih menyakitkan daripada yang diharapkan (hiperalgesia). Inti otot (misalnya otot panggul) dapat menjadi hyperalgesic dengan poin memicu ganda. Organ lain juga bisa menjadi sensitif (misalnya, rahim dengan dispareunia dan dismenorea atau usus dengan gejala iritasi usus). 5

Perubahan dalam SSP terjadi di seluruh neuroaxis keseluruhan. Akibatnya, aktivitas eferen abnormal dapat menjadi penyebab perubahan fungsional (misalnya, gejala iritasi usus) dan perubahan struktural (misalnya, edema neurogenik ditemukan di beberapa sindrom sakit kandung kemih). Perubahan pusat mungkin juga bertanggung jawab untuk beberapa perubahan psikologis, yang juga memodifikasi mekanisme nyeri di kanan mereka sendiri. 5

 

  1. 2.    Prevalensi Nyeri Panggul Kronis

Prevalensi pada wanita di Amerika sebesar 38 per 1000 pada wanita berusia 15-73.1  Sumber lain menyebutkan bahwa kasus CPP menempati 20% dari semua pasien rawat jalan di tingkat pelayanan kesehatan sekunder, dan 10-40% dari semua kunjungan ginekologi yang ada di Amerika. CPP di tempat lain diinformasikan bahwa 10% dari kunjungan ginekologi, 20% dari indikasi laparaskopi serta 12% dari indikasi laparatomi.3

 

  1. 3.    Etiologi

Penyebab CPP dibagi menjadi dua yaitu faktor ginekologik dan nonginekologikal. Faktor genekologik dapat nerupa:3

  1. Siklik : endometriosis, adenomiosis, mioma ovarium dan remnant syndrome
  2. Non-Siklik: mioma

Faktor Non-Ginekologik dapat berupa :  apendiksitis, visceral pain dan referred pain.

Sedangkan faktor lain yang berhubungan dengan kejadian CPP dapat dilihat dibawah ini:1

  1. Presentasi dengan dismenorea dikaitkan dengan usia (<30 tahun), menjadi kurus (IMT <20), merokok, menstruasi dini (<12 tahun), lebih lama siklus/masa perdarahan, menstruasi tidak teratur atau berat, adanya gejala pramenstruasi, secara klinis diduga penyakit radang panggul, sterilisasi, dan penyerangan seksual historyof.
  2. Risiko dismenorea meningkat dengan jumlah rokok yang dihisap (P <0,05 dengan uji trend). Penggunaan kontrasepsi oral, asupan ikan, latihan fisik, menikah atau dalam hubungan yang stabil, dan paritas lebih tinggi dikaitkan dengan penurunan risiko dismenorea.
  3. Dispareunia lebih umum pada wanita yang telah “disunat,” telah secara klinis diduga adanya penyakit radang panggul, atau apakah peri/pascamenopause. Kecemasan, depresi, dan kekerasan seksual lebih umum pada wanita dengan dispareunia.
  4. Non-siklus nyeri panggul dikaitkan dengan berbagai kondisi umum obstetri dan ginekologi seperti riwayat keguguran sebelumnya, adanya endometriosis, secara klinis diduga penyakit radang panggul, bekas luka operasi caesar, adhesi pelvis, pelecehan fisik pada masa kanak-kanak dan pelecehan seksual seksual yang berlangsung seumur hidup.

 

Faktor lain yang ditemukan tidak berhubungan dengan CPP adalah umur, status ekonomi, ras dan tingkat pendidikan karyawan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kejadian PCC. Sementara itu PCC lebih banyak terdapat pada wanita yang bercerai dari pada wanita yang menikah atau yang masih singgle.4

 

  1. 4.    Diagnosa

Sangat sedikit yang dapat dilihat dan dievaluasi oleh dokter. Sekitar 75% wanita yang melaporkan CPP belum melihat dokter selama 3 bulan terus-menerus, meskipun rasa sakit telah mempengaruhi kegiatan sehari-hari.5

Kenyataan di lapangan 61% tidak ada diagnosis yang diberikan oleh dokter, 39% diagnosis diberikan oleh dokter, 25% endometriosis, 49% siklus tidak berhubungan gangguan ginekologi (misalnya infeksi jamur kronis atau PID), 10% non-ginekologi dan gangguan16% lainnya. Untuk mendiagnosa secara pasti, pemeriksaan diagnostik yang dilakukan adalah dengan tindakan inspekulo, laparaskopi dan histeroskopi. Jika memerlukan terapi, saat itu langsung diberikan atau dilanjutkan dengan histerektomi.

 

  1. 5.    Terapi

Terapi yang diberikan disesuaikan dengan penyebabnya, apakah dengan laparaskopi atau histerektomi, atau hanya perlu konseling dan terapi kimiawi.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat bada bagan berikut ini.5

 

 

Gambar 2.1 Algoritma Diagnosa dan Penatalaksanaan CPP

 

  1. 6.    Dampak Nyeri Panggul Kronis

Dampak CPP dapat berupa:

  1. Skor kesehatan umum lebih rendah
  2. Terkait gangguan suasana hati dan tingkat energi (> 50%)
  3. Depresi
  4. Kualitas hidup menurun
  5. Terbatasnya aktivitas
  6. Penurunan produktivitas
  7. Keluhan dispareunia (90% pada wanita dengan CPP)

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

Dari pemaparan teori dan hasil penelitian pada bab sebelumnya, dapat diketahui bahwa nyeri panggul kronis dapat berlangsung minimal 6 bulan, atau bahkan lebih dari itu baik secara siklik mapupun non siklik. CPP juga tidak hanya pada kasus ginekologik, tapi juga dapat terjadi pada kasus urologi, sistem persarafan, sistem intestinal dan kondisi lainnya. Oleh karena itu, CPP tidak hanya diderita oleh kaum perempuan, tapi dapat juga diderita oleh laki-laki.

Penatalaksanaan dimulai dengan anamnesa yang lengkap, pemeriksaan fisik, pemeriksaan ginekologi hingga ke pemeriksaan diagnostik seperti histeroskopi dan laparaskopi atau pemeriksaan lainnya. Penatalkasanaan kasus ini hendaklah disesuaikan dengan kemampuan, tanggung jawab dan wewenang praktisi, agar tidak menimbulkan kerugian bagi klien.

Bidan sebagai praktisi kesehatan di lini terdepan pelayanan kesehatan, mempunyai tanggung jawab untuk mengatasi masalah ini. Karena CPP berdampak pada penurunan kualitas hidup, produktivitas dan gangguan psikologis individu. Yang harus diperhatikan adalah dalam penatalaksanaannya, harus disesuaikan dengan peraturan maupun kebijakan di tingkat nasional dan daerah yang berlaku. Hal ini disebabkan karena bidan maupun praktisi kesehatan lainnya harus dapat mempertanggung jawabkan apa yang telah mereka berikan kepada klien. Perlu diperhatikan juga adalah praktik yang diberikan harus sesuai dengan eviden base dan filosofi profesi masing-masing.

Dalam kasus CPP,  kewenangan bidan mulai dari anamnesa secara mendalam, pemeriksaan fisik yang terdiri dari inspeksi, palpasi dan auskultasi serta pemeriksaan ginekologi dengan inspekulo. Jika ditemukan hal-hal yang tidak normal, bidan harus melakukan rujukan.

Selain itu, dalam penatalaksanaan, bidan harus lebih banyak memberikan tindakan pencegahan maupun promosi kesehatan. Yang dapat dilakukan oleh bidan adalah dengan memberikan edukasi bagi klien tentang konsep CPP, dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Sebagai contoh misalnya depresi yang berhubungan dengan CPP. Jika ibu juga merokok, maka akan cenderung meningkatkan resiko dismenore yang merupakan salah satu penyebab CPP. Oleh karena itu, gaya hidup yang sehat perlu di terapkan.

Depresi yang disebebkan oleh faktor lain misalnya perceraian yang meningkatkan kejadian CPP, juga perlu mendapat perhatian. Peran bidan dalam kasus ini adalah menjadi konselor bagi klien, agar dapat meringankan beban pikirannya dengan memberikan motivasi dan support sehingga dapat lebih “nrimo” dalam menjalani kehidupan.

Sementara itu, penyebab lain seperti depresi karena adanya riwayat pelecehan seksual pada masa kecil, bidan juga berperan sebagai konselor sehingga masa lalu tidak lagi membebaninya pada kehidupan sekarang dan dimasa yang akan datang.

Sedangkan kondisi-kondisi patologis obstetri maupun ginekologi seperti adanya dismenore karena penyebab lain, PID, endometriosis, mioma dan lain sebagainya bukan menjadi wewenang bidan sehingga jika menemukan kasus seperti ini bidan harus melakukan rujukan.

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. 1.    Kesimpulan

Nyeri panggul kronis adalah nyeri panggul yang dapat dialami baik oleh pria maupun wanita, durasinya dapat berlangsung selama 6 bulan atau lebih. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kelainan baik ginekologik maupun non-ginekologik. Pentalaksanaannya disesuaikan dengan penyebab dan kewenangan masing-masing praktisi kesehatan.

Bidan harus memperhatikan faktor-faktor yang melatarbelakangi kejadian CPP, mengkajinya dengan teliti, melakukan pemeriksaan sesuai dengan batas kewenangan serta merujuk kasus yang bukan menjadi wewenangnya.

Filosofi masing-masing profesi dan peraturan–peraturan nasional maupun daerah harus menjadi landasan bagi para praktisi kesehatan dalam menjalankan tugasnya.

CPP dapat berdampak buruk tidak hanya bagi kesehatan secara umum, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan psikologis dan penurunan produktivitas yang berakhir dengan kualitas hidup individu yang rendah. Oleh karena itu, upaya yang dapat dilakukan bidan adalah pada upaya preventif dan promosi kesehatan agar dapat mengurangi dampak dari CPP tersebut. Pemahaman yang lebih baik dari kontribusi relatif dari berbagai faktor patologis, sosial, dan faktor psikologis akan membantu dalam evaluasi klinis serta dalam pengembangan strategi pencegahan dan pengobatan.

 

  1. 2.    Saran
    • Setiap praktisi kesehatan harus memahami dengan baik konsep CPP, faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya CPP dan manajemen CPP sesuai dengan wewenang menurut undang–undang yang berlaku.
    • Perlu melakukan refresing atau peningkatan wawasan serta ketrampilan bagi pra praktisi kesehatan dalam hal manajemen CPP
    • Institusi kesehatan baik pendidikan maupun pelayanan seyogyanya memberikan perhatian terhadap konsep dan penatalaksanaan CPP bagi para kandidat maupun praktisi kesehatan yang ada.
    • Perlu adanya studi ilmiah lebih lanjut mengenai CPP dan korelasinya dengan produktivitas kerja serta kualitas hidup.
    • Jurnal-jurnal ilmiah hendaknya difasilitasi oleh pemerintah, khususnya instansi terkait sehingga para praktisi/mahasiswa dapat dengan mudah mengakses sumber-sumber tulisan ilmiah guna peningkatan ilmu dan pengetahuannya.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Latthe P et al. Factors predisposing women to chronic pelvic pain: systematic review. BMJ. February 2006
  2. Belenky A et al. Ovarian Varices in Healthy Female Kidney Donors: Incidence, Morbidity, and Clinical Outcome. American Journal of Radiology(AJR). September 2002.
  3. Gandamiharja S. Chronic Pelvic Pain. Disampaikan pada kuliah formal FK Unpad Prodi Ilmu Kebidanan. SMF Obstetri  dan Ginekologi FKUP/RSHS. Bandung. 2011
  4. Zaitoun K. Chronic Pellvic Pain (CPP). Assistant Clinical Professor Columbia University. 2011
  5. Fall et al. EAU Guidelines on Chronic Pelvic Pain. European Association of Urology. Published by Elsevier B.V. All rights reserve. 2009

 

About Moudy E.U Djami

Lahir dan besar di So'E, Kab Timor Tengah Selatan, Prop Nusa Tenggara Timur, telah menyelesaikan studi D4 Bidan Pendidik di Poltekes Depkes Jakarta III, S2 Kesehatan Reproduksi dari Universitas Indonesia dan S2 Ilmu Kebidanan dari Universitas Padjadjaran Bandung. Sekarang ini sementara melanjutkan studi di S3 Manajemen Pendidikan di Universitas Pakuan Bogor. Riwayat Pekerjaan pernah bekerja sebagai bidan di RSMM Timika, RS Puri Cinere Depok, Klinik Medika Timika, dan RSTM Timika. Menikah dengan Ong Tjandra dan dikaruniai seorang putri tercinta Alexa Candika. Rutinitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga dan juga tenaga pendidik di Akademi Kebidanan Bina Husada Tangerang dan bidan pengelola di Klinik Sehati.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s