Sentuhan Persalinan

a mother's pain n love

Pendahuluan

Nyeri persalinan merupakan suatu hal yang alamiah, namun tidak semua perempuan mampu menerima hal tersebut. Dengan adanya kemajuan ilmu dan teknoogi, dewasa ini sebagian ibu hamil memilih untuk melahirkan dengan bantuan anastesi epidural, karena pengaruh orang-orang yang berada disekitar mereka. Namun ketika epidural dapat mengeliminasi sensasi nyeri, tindakan tersebut tidak mampu mengusir kekhawatiran, ketakutan, kesendirian, ketidakberdayaan dan berbagai emosi lain yang akan menyebabkan distres, ketidakpuasan atau bahkan penderitaan ibu. 1

Ibu hamil yang telah siap secara mental untuk menghadapi persalinan secara alamiah, termasuk nyeri persalinan yang merupakan efek samping dari proses tersebut, dengan sendirinya dapat mengkoping masalah ini. Nyeri persalinan bukan merupakan suatu penderitaan, namun perasaan tidak enak atau efek samping yang harus dirasakan sebagai proses untuk menjadi seorang ibu. Nyeri merupakan suatu keadaan dimana sensasi fisik yang tidak mengenakan, dapat berhubungan atau tidak sama sekali dengan penderitaan/suffering. Sedangkan penderitaan merupakan suatu distress fisiologis, misalnya ketidakberdayaan, kesedihan, ketakutan, penyesalan, panik dan kehilangan kontrol. 2

Review dari Cochrane menginformasikan bahwa epidural tidak hanya menghilangkan nyeri persalinan, namun seperti tindakan medikal lainnya berdampak pada perpanjangan persalinan, peningkatan penggunaan oksitosin, peningkatan persalinan dengan tindakan seperti forcep atau vakum ekstraksi, dan tindakan seksio sesarea karena kegagalan putaran paksi dalam, resiko robekan hingga tingkat 3-4 dan lebih banyak membutuhkan tindakan episiotomy pada nulipara.3

Studi lain tentang sentuhan persalinan membuktikan bahwa dengan sentuhan persalinan 56% lebih sedikit yang mengalami tindakan Seksio Sesarea, pengurangan penggunaan anestesi epidural hingga 85%, 70 % lebih sedikit kelahiran dibantu forceps, 61% penurunan dalam penggunaan oksitosin; durasi persalinan yang lebih pendek 25%, dan penurunan 58% pada neonatus yang rawat inap.4

Simkin dan Ohara (2002) melaporkan bahwa dengan sentuhan dalam persalinan dapat mengurangi kecemasan, mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan, mengalami waktu persalinan secara signifikan lebih pendek, tinggal di rumah sakit lebih singkat dan kejadian depresi postpartum lebih rendah. 4-5

Asuhan maternitas di abad kedua puluh satu telah menyingkirkan praktik kebidanan tradisional. Hal ini disebabkan karena ketergantungan terhadap kelebihan teknologi yang ditawarkan. Seni kebidanan tradisional sedang disingkirkan, khususnya praktek inti dari sentuhan. Jumlah perangkat teknologi di ruang persalinan berbanding terbalik dengan jumlah kontak manusia antara staf dan pasien. Dalam rangka untuk merebut kembali seni kebidanan itu, ketergantungan terhadap kelebihan teknologi dalam persalinan harus dikurangi dan sentuhan kasih perlu diremajakan kembali. 6

Setiap perempuan adalah unik, begitupula dengan proses persalinannya. Ada ibu yang menginginkan sentuhan selama proses persalinan berlangsung, ada pula yang hanya menginginkan sentuhan pada fase-fase tertentu, ada juga yang tidak menginginkan sentuhan sama sekali. Keinginan-keinginan tersebut haruslah dihargai. Setiap wanita yang berada dalam proses childbirth haruslah menjadi fokus utama asuhan, yang menjadi bagian dari filosofi kebidanan yang harus diterapkan.6

Dari paparan diatas, maka setiap bidan harus memahami sentuhan-sentuhan dalam persalinan, yang dapat menjamin suatu proses persalinan dapat berjalan secara alamiah, juga mengurangi persalinan dengan tindakan yang banyak mengakibatkan komplikasi.4-8

Sejarah dan Pengertian Sentuhan dalam Persalinan

Pada jaman dahulu, perempuan belajar tentang persalinan dari ibu dan saudara perempuannya. Persalinan berlangsung di tempat yang familiar dengan mereka yang memberikan suasana yang nyaman. Tradisi dan ritual yang ada termasuk sentuhan dan masase dalam persalinan, memberikan keyakinan bahwa mereka mampu untuk melahirkan dengan baik. Selama proses persalinan, mereka akan ditemani oleh keluarga, dan kaum perempuan yang bijaksana, yang terus memberikan dukungan yang membesarkan hati mereka dalam menjalani proses tersebut. Bidan yang berada pada seting komuntaslah yang menolong hampir sebagian besar persalinan pada jaman itu. 2

Tahun 1960 organisasi Lamaze berhasil memperjuangkan pasangannya untuk masuk kedalam ruang bersalin. Pasangan tersebut memberikan support emosi yang spesial, karena mereka akan terus hadir untuk menemani sampai anaknya lahir. Hal ini membuat para ibu tidak melewati proses persalinan seorang diri.2

Sebelum praktik-praktik medis Barat menggantikan kebidanan tradisional, sentuhan dan pijatan oleh bidan atau petugas pendamping persalinan merupakan komponen utama dari perawatan childbirth di seluruh dunia. Dengan tidak adanya peralatan, bidan mengunakan mata, telinga dan tangan untuk memberikan asuhan pada kliennya. Kemampuan ini diasah terus menerus, melalui indra pengamatan dan intuisi yang halus. Saat ini, penyembuh tradisional dan ketrampilan bidan yang terintegrasi digunakan dalam praktik kebidanan.6

Dengan adanya perubahan orientasi pelayanan kebidanan pada abad keduapuluh ke medikalisasi, maka pertolongan persalinan yang awalnya berlangsung dirumah diallihkan ke rumah sakit. Tentunya nilai-nilai yang dimiliki oleh perempuan sebelumnya tidak dapat diterapkan seluruhnya di rumah sakit. Para provider memberikan pelayanan dan dukungan namun tidak dapat secara utuh karena perhatian mereka terbagi karena begitu banyak klien yang menjadi tanggung jawabnya. Pada abad ke-21 orientasi pelayanan kebidanan kembali ka abad sebelum abad ke-20 karena para perempuan sudah memperoleh pengetahuan tentang proses persalinan. Mereka berharap agar para providernya baik itu dokter, bidan dan perawat dapat menemani mereka untuk melewati proses persalinan tersebut hingga selesai. Namun kembali kepada tanggung jawab mereka terhadap banyak klien/pasien yang ada, tentu harapan tersebut tidak dapat dipenuhi. 2

Persalinan mungkin akan mengejutkan ibu (dan pasangan) dengan kekuatannya. Didampingi oleh seorang wanita yang berpengalaman dalam persalinan untuk meyakinkan ibu dan pasangannya, akan sangat membantu. Mereka akan meyakinkah ibu bahwa persalinannya akan berjalan dengan normal dan mereka akan terus membantunya dan pasangannya dalam mengatasinya. Seorang wanita yang berpengalaman dengan kelahiran juga akan tahu bagaimana caranya memberikan sentuhan yang menghibur seperti masase dan menyarankan posisi yang nyaman yang akan membantu kemajuan dan kenyamanan persalinan ibu.4

Laporan penelitian membuktikan bahwa dukungan persalinan yang berkelanjutan memberikan keuntungan yang mengesankan.4,8 Review dari Cochrane Pregnancy and Childbirth Group menginformasikan bahwa dukungan yang berkelanjutan dalam persalinan sangat menguntungkan dibanding yang tidak memperoleh dukungan persalinan secara kontinyu. Ibu yang mendapat dukungan persalinan secara kontinyu, lebih sedikit yang mengalami persalinan dengan tindakan seperti:

  1. Seksio Sesarea
  2. Vakum Ekstraksi
  3. Anastesi persalinan seperti Epidural
  4. Laporan tentang negative Feeling tentang pengalaman persalinan

Beberapa peneliti melaporkan bahwa, dukungan persalinan akan lebih efektif jika orang yang akan mendukung ibu tidak merupakan bagian dari tim rumah sakit tersebut. Dan sebaiknya dukungan tersebut dimulai sejak awal persalinan, terutama pada ibu yang berasal dari ekonomi menengah kebawah.2

Hampir tidak ada orang baik pada jaman dahulu maupun modern, yang tidak memberikan sentuhan maupun ekspresi dalam persalinan. Pernyataan tersebut dibuat pada tahun 1884, tetapi tetap bertahan dengan ujian waktu. Pada awal abad berikutnya, dokter dan antropolog Hrdlicka Ales, yang bepergian di seluruh Amerika Utara, melaporkan bahwa bantuan yang diberikan di mana-mana secara substansial sama, terdiri dari tekanan atau memijat dengan tangan atau dengan perban disekitar perut, tujuannya adalah untuk memberikan bantuan langsung dalam proses kelahirannya. Bidan mempunyai posisi unik dalam memanfaatkan keuntungan dari pijatan ini pada proses persalinan. Dengan demikian, para ibu dapat mengontrol rasa sakit, mendorong relaksasi lebih dalam dan bahkan mempercepat proses persalinan tersebut.4-6

Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa sentuhan persalinan adalah suatu tindakan yang diberikan pada ibu yang dapat mengurangi rasa nyeri persalinan dan kecemasannya melalui sentuhan-sentuhan dan pijatan ringan, dapat dilakukan oleh pasangannya maupun orang lain yang menemaninya dalam proses persalinannya yang dipilih oleh ibu sendiri.

Studi Tentang Sentuhan Persalinan

Sebuah studi yang dilaporkan Mental Helth Update (1993) menunjukkan bahwa dukungan fisik dan emosional oleh doula memberikan manfaat besar bagi wanita dalam persalinan. Dalam studi tersebut, kelompok wanita yang menerima sentuhan fisik (pijatan ringan dan counter-pressure) dan dukungan emosional, dibandingkan dengan kontrol (yang tidak mendapat pijatan ringan/counter-pressure), 56% lebih sedikit yang mengalami tindakan Seksio Sesarea; pengurangan penggunaan anestesi epidural sebesar 85%; sebanyak 70% lebih sedikit kelahiran yang dibantu dengan forseps; 61% penurunan dalam penggunaan oksitosin; durasi persalinan yang lebih pendek 25%, dan penurunan 58% pada neonatus yang rawat inap.2,4

Touch Research Institute (Miami, Florida) melaporkan bahwa wanita yang dipijat pasangannya merasa kurang tertekan, mengalami nyeri persalinan yang kurang dan memiliki stres dan tingkat kecemasan yang lebih rendah. Selain itu, ibu yang dipijat ringan mengalami waktu persalinan secara signifikan lebih pendek, tinggal di rumah sakit lebih singkat dan depresi postpartum kurang. 4,5,7,8

Keterlibatan mitra berkorelasi dengan kurangnya kebutuhan terhadap obat pereda nyeri, proses persalinan pendek, lebih sedikit komplikasi perinatal dan sikap yang lebih positif.4 Dalam studi lain, masase yang disediakan oleh pasangan dipandang oleh para ibu memiliki nilai lebih daripada terapi sentuhan bidan atau perawat. 2,4

Penggunaan Sentuhan dalam Persalinan

Respon wanita terhadap sentuhan dalam persalinan tidak dapat diprediksi dan sangat bervariasi. Bidan harus memahami bahwa karena tidak ada cara yang jelas untuk mengetahui bagaimana seorang ibu akan menjawab, dia akan perlu untuk menggunakan sejumlah teknik dan strategi yang berbeda.4

Sentuhan selama persalinan bukan berarti dipijat seperti pengertian secara tradisional. Sentuhan tidak memerlukan resep yang diberikan secara rutin. Sentuhan ini tidak memiliki awal, tengah atau akhir dan tidak berdasarkan pada jarum jam. Sebaliknya, selama proses persalinan, sumber dan jenis sentuhan harus berubah seiring dengan kemajuan persalinan, jika usaha tersebut di sambut dengan baik. Dari membelai hingga menggunakan lebih banyak dukungan/counter-pressure harus dilakukan bidan dalam manajemen nyeri pada ibu.

Umumnya, selama istirahat di antara kontraksi, elongated strokes-predominantly Effleurage (teknik pijat yang digunakan untuk pemanasan otot sebelum bekerja jaringan dalam) digunakan untuk mengendurkan otot, mengurangi asam laktat dan mengendalikan nyeri. Ibu juga dapat secara efektif menggunakan latihan peregangan pada saat ini, untuk meningkatkan sirkulasi dan mengurangi ketegangan otot. Bergerak di sekitar dan/atau mengubah posisi melahirkan sering berfungsi sebagai penghilang rasa sakit.1

Teknik lain untuk memberikan menghilangkan nyeri adalah menggunakan counter-pressure, sacral lift, panggul miring/pelvic tilts, hip squeezes dan stimulasi untuk mendapatkankan titik akupuntur persalinan yang spesifik selama kontraksi. Seorang ibu inpartu juga juga dapat menggoyangkan pinggulnya secara berirama dengan pola angka delapan sambil berdiri, bersandar atau membungkuk. Berikut ini adalah beberapa gambar tentang teknik untuk mengurangi nyeri persalinan.

1. Teknik Counter PResure

Gambar 1. Teknik Counter-pressure Sumber:http://www.childbirthconnection.org/pop.asp?ck=10426

2. Teknik Counter Presure_

Gambar 2. Teknik Counter-pressure

Sumber: http://www.getbabied.com/2011-06-30/slow-and-steady-wins-the-race-or-um-baby

Sacral Lift 1

Gambar 3. Posisi Sacral Lift

Sumber:http://www.childbirthconnection.org/pop.asp?ck=10433

Sacral Lift 2

Gambar 4. Sacral Lift

Sumber:http://naturalbirthinkitsap.blogspot.com/

5. Pelvic TIlt

Gambar 5. Posisi Pelvil Tilt

Sumber: http://transitiontoparenthood.com/ttp/foreducators/arthome.htm

6. Pelvic Tilt

Gambar 6. Posisi Pelvil Tilt

Sumber: http://naturalbirthinkitsap.blogspot.com/

7. Hip Squeeze

Gambar 7. Posisi Hip Squeeze

Sumber: http://www.getbabied.com/tag/double-hip-squeeze

8. Hip Squeze

Gambar 7. Posisi Hip Squeeze

Sumber: http://www.getbabied.com/2011-06-30/slow-and-steady-wins-the-race-or-um-baby

Berbagai posisi melahirkan dan alat lain dapat memfasilitasi persalinan dan meringankan nyeri persalinan, terutama di bagian punggung. Misalnya, bidan dapat menekan bola tenis di bagian belakang ibu atau pinggul, di lokasi rasa sakit, selama kontraksi. Ibu juga mungkin memposisikan punggungnya menekan bola dan biarkan berat badan sendiri memberikan tekanan pada bola tersebut. Teknik lain adalah dengan menggunakan rolling pin berongga diisi dengan es atau air dingin untuk meredakan sakit otot punggung. 1,4

Tekanan yang diberikan tergantung pada tingkat kenyamanan ibu, yang dapat diharapkan untuk mengubah tingkat nyeri, seiring dengan kemajuan proses persalinan. Jenis sentuhan yang menenangkannya sebelumnya kini mungkin mengganggu dirinya. Bidan dapat meminta ibu untuk memberikan umpan balik, atau hanya mengetahui perasaannya bahwa ibu merasa rileks dari sentuhan yang diberikan bidan. Ketika seorang wanita tidak bisa mengartikulasikan kebutuhannya, dia akan mengungkapkannya melalui bahasa tubuh. Menjadi sadar akan perubahan halus dan reaksi sangat penting.

Stimulasi taktil seperti membelai, dapat meningkatkan input pada serabut saraf yang membantu menghambat impuls nyeri. Semakin proaktif suatu proses persalinan, semakin penting untuk diperhatikan dalam pengaturan pernapasan atau strategi relaksasi.

Bidan atau orang lain yang memberikan dukungan dapat dengan mudah memberikan pijatan di berbagai posisi dan dalam lingkungan yang akrab bagi perempuan yang pulang selama fase laten/kala satu, atau yang tinggal di rumah selama proses persalinannya. Mereka harus siap untuk membantu dan mendukung ibu dalam berbagai posisi tanpa mengorbankan tubuh mereka sendiri.

Caranya jika pendamping berdiri dibelakang ibu, pertahankan bahu dan lengan anda tetap dalam keadaan rileks. Gunakan kedua tungkai/kaki untuk bertumpu sebagai sumber kekuatan. Angkat berat badan anda dari kaki yang satu ke kaki yang lain, bersandarlah pada ibu untuk menambahkan kekuatan pada ibu dari pada mengunakan kedua tangan anda.

Ketika penolong sementara berlutut dibelakang ibu, tempatkan bantal dibawah lutut dan lanjutkan mengangkat dari kaki ke kaki ketika melakukan masase atau tekanan. Pertahankan bahu anda tetap rileks dan ingatlah selalu untuk menarik napas. Berdiri atau duduk setiap selesai suatu stroke/kontraksi untuk mengembalikan sirkulasi kekaki anda.

Relaksasi penting untuk mempromosikan kemajuan persalinan; banyak tindakan dilakukan untuk kenyamanan ibu dan coping strategies selama persalinan untuk memastikan bahwa ibu yang melahirkan tetap tenang dan terkendali. Bidan dapat menggunakan sentuhan ringan untuk membuat ibu menyadari daerah yang tegang pada tubuhnya yang perlu untuk dibuat rileks. Bidan juga dapat mendorong ibu untuk bernapas dan buang napas sambil mendesah keras. Bernapas bersama dengan ibu akan membantu menciptakan suatu pola pernapasan yang teratur.

Selama kala satu persalinan, impuls nyeri ditransmisikan sepanjang tulang belakang, antara T11 dan T12 dan melalui aksesori torakalis bawah dan atas saraf simpatis lumbal. (Saraf ini berasal dari rahim dan leher rahim). Ibu biasanya merasa sangat neri dan tidak nyamanan karena perubahan serviks pada abdominal bagian bawah. Mereka juga mungkin mengalami rasa sakit yang terpancar dari rahim dan dirasakan di daerah lumbosakral, puncak iliaka, gluteals dan menuruni paha. Secara umum, nyeri datang hanya selama kontraksi, meskipun beberapa wanita mungkin merasa tidak nyaman karena adanya residu nyeri di antara kontraksi.

Hampir 25-65% wanita mengalami nyeri punggung bagian bawah, yang dapat memperlambat kemajuan persalinan. Nyeri ini dapat berasal dari perubahan rahim, iskemia uterus dan distensi dari posisi oksiput posterior janin di mana kepala janin meregangkan ligament sakroiliaka. Kebanyakan bayi akan berputar selama kelahiran dan mengurangi tekanan pada punggung bawah. Alasan lain yang mungkin terjadi adalah nyeri lumbosakral cephalo-pelvic disproporsi, yang memberikan tekanan pada saraf sakral dan struktur panggul lainnya. Ketika kontraksi awal mulai, ibu harus mengambil napas pembersihan yang dalam, melalui hidung dan keluar melalui mulut. Pola pernapasan harus diulang setelah kontraksi berakhir.4

Teknik Masase pada Awal Persalinan

  1. Pijatan dimulai diantara kontraksi dengan Effleurage (long, gliding stroke) pada pertengahan dan kembali ke sakrumnya, sesuai arah serat otot. Tekanan yang diberikan harus sesuai dengan keinginan ibu. Pijatan ini dapat dilakukan dalam posisi duduk di bangku, membungkuk di atas tempat tidur atau tumpukan bantal, atau berbaring miring. Secara bertahap pijatan dilakukan lebih dalam ke otot erector spinae, lebih rendah dari T11 ke sakrum menggunakan ujung jari anda, ibu jari, buku-buku jari atau siku di serat-serat otot dari batas lateral dari erector spinae ke prosesus transversus tulang belakang dan turun ke sendi lumbosakral.
  2. Pijatlah seluruh punggungnya dari sakrum, naik searah tulang belakang hingga bahu atas, juga sekitar bahu dan lehernya.
  3. Ketika kontraksi mulai, pakailah counter-pressure di tempat nyeri atau bagian yang tidak nyaman. Jaga pergelangan tangan anda tetap netral dan sebagai alternatif antara menggunakan pergelangan tangan anda, dapat menggunakan buku-buku jari, siku atau lutut (pada sakrum nya). Tahan counter-pressure ini selama kontraksi dan ingatkan untuk bernapas.
  4. Gunakan sacral lift selama kontraksi untuk mengurangi tekanan kepala janin pada saraf tulang belakang, mengurangi tekanan perut bagian bawah, pembengkakan wasir dan mendukung dasar panggul untuk melebar. Tempatkan tangan anda pada bagian rendah sakrum dan angkatlah ke atas dan sedikit ke arah umbilikusnya. (hal ini tidak dapat dilakukan pada orang dengan nyeri tulang ekor atau subluksasi.) Gunakan buku-buku anda, lengan, bahu, lutut dan kaki sebagai alternatif dari tangan Anda. Tahanlah selama kontraksi berlangsung. Lebih baik dilakukan ketika ibu duduk, tapi bisa sangat efektif dalam posisi berbaring hanya menggunakan kepalan tangan anda secara netral. Lipat handuk tangan kecil atau kain kering di atas buku-buku anda untuk mencegah kontak antara tulang dengan tulang yang dapat memberikan ketidaknyamanan.
  5. Selama kontraksi miringkan panggul, lakukan dengan klien anda di sisinya. Ini memanjang lumbar spine, meregangkan otot-otot dan mengurangi nyeri punggung bagian bawah. Gunakan lengan anda yang berotot di pinggul atas dan perlahan-lahan tarik ke arah kepalanya, sementara tangan anda lebih rendah pada sakrum dengan lembut ditarik ke arah kakinya. Sebuah variasi dari pelvic tilt adalah menekan lutut, juga dilakukan dengan klien anda di sisinya. Duduk di belakang ibu dan tempatkan secara aman pinggul anda secara langsung pada sakrumnya. Membungkuk dan genggamlah tangan anda di sekitar lutut bagian atas ibu. Posisikan pinggulnya di sudut kanan dan tarik lutut ke arah pinggul anda. Untuk dukungan tambahan, tekan tubuh anda ke pinggulnya, sehingga memberikan tekanan panggul pada saat yang sama.
  6. Jika dia memiliki sakit punggung, cobalah menekan panggul atau hip squeeze (menemukan bokong bagian tengah dan gunakan kepalan tangan anda dengan pergelangan tangan netral, lakukan gerakan seperti memeras kearah atas membentuk huruf X dan tahan selama kontraksi). Sebuah titik akupunktur dapat melepaskan banyak ketegangan pada bagian belakang selama persalinan: Gall Bladder 34 ditemukan dalam depresi anterior dan inferior pada small head of fibula pada kedua kaki. Tahan kedua titik pada waktu yang sama untuk 10 hitungan, ulangi hinga 10 kali.
  7. Titik akupunktur yang lain dapat meminimalkan nyeri, ditemukan di posterior sudut luar kuku jari kedua kaki. Titik ini adalah kandung kemih 67. Di Cina, titik ini ditususk dengan jarum untuk menghentikan rasa sakit saat persalinan. Sebuah studi baru-baru ini menginformasikan bahwa teknik Cina kuno telah terbukti efektif dalam mengurangi nyeri persalinan.4
  8. Untuk mempercepat persalinan pada setiap tahap/kala, gunakan tekanan pada titik-titik akupunktur tertentu, terutama selama kontraksi. Tahan setiap titik bilateral selama kontraksi, lepaskan hanya untuk meringankan jari-jari anda.

 Kala I Fase Aktif

Sebagaimana persalinan berkembang menjadi fase aktif, terlihat terjadi pergeseran dalam pola kontraksi dan respon emosional ibu. Tujuan bidan adalah untuk menjaga agar ibu tetap tenang, nyaman dan terfokus yang akan mendorong kemajuan persalinan normal. Tugas lain yang penting adalah memenuhi kebutuhan emosional dengan pemahaman, memelihara dan menghormati ibu. Hal ini akan membuat ibu mempunyai kemampuan kontrol persalinan yang lebih besar, yang berdampak pada self esteem yang tinggi, lebih puas dan pengalaman terhadap persalinan yang lebih baik.

Teknik-teknik bodywork sekarang harus disesuaikan dengan kebutuhan emosional dan fisik ibu dan perubahanya. Pola napasnya akan berbeda dan harus didorong oleh untuk bernapas bersama ibu.

Teknik untuk persalinan Kala 1 Fase Aktif

  1. Dorong ibu untuk mengubah posisi setiap kali diperlukan, setidaknya setiap 30 menit obati sakit punggung dan mempercepat persalinan.
  2. Pertahankan pelvic tilting selama kontraksi.
  3. Gunakan kompres panas atau dingin dengan atau tanpa tekanan bergulir pada punggung bagian bawah.
  4. Gunakan tekanan lutut dengan posisi ibu duduk di kursi dengan punggung didukung oleh bantal. Tekanan rendah hanya pada lutut dan pertahankan tekanan ini selama kontraksi. Jika pergelangan tangan anda lelah, duduk di lantai dan berpaling darinya, menghadap ke luar. Bersandar pada lututnya dengan punggung anda, istirahatkan tangan Anda.
  5. Gunakan pelvic squeezel untuk meringankan nyeri persalinan pada bagian belakang, karena mereposisi sendi sakroiliaka yang sedang diregangkan oleh bagian belakang kepala bayi terhadap sakrum ibu.
  6. Lakukan drainase limfatik secara lembut, membelai ke jantungnya, jika kakinya goyang atau merasa lelah dan berat.

 Masa Transisi

Proses persalinan yang berkembang ke tahap transisi kala satu, kebanyakan wanita tidak lagi nyaman dengan setiap kontraksi yang lama dengan frekuensi yang semakin cepat. Beberapa wanita mungkin benar-benar menarik diri dari sentuhan sama sekali. Kompres panas atau dingin, atau potongan es (mungkin mengandung obat herbal seperti black cohosh, jika tekanan darahnya rendah dan stabil) dapat diterima. Memegang, goyang atau berayun dengannya mungkin dibutuhkannya. Tempatkan tangan Anda di atas daerah yang tegang dan berikan tekanan pada sakrumnya selama kontraksi dapat meredakan sakit punggung. (Jangan lupa untuk membiarkan wajah dan rahang rileks, karena banyak ibu meringis kesakitan diakhir persalinan dan mengunci rahang mereka.)

Dorongan yang tenang dan kepastian adalah hal yang terpenting selama masa transisi. Menjaga ibu tetap rileks dan tenang memungkinkan ritme alamiah persalinannya berjalan lancar.

 Kala Dua Persalinan

Setelah fase istirahat singkat kala dua, di mana ibu mungkin menikmati luncuran beberapa stroke di punggung atau perut, resume kontraksi yang kuat dan dorongan untuk meneran dirasakan dengan sendirinya. Relaksasi sangat penting untuk menghemat energi dan memuluskan jalan, terutama dasar panggul dan adductors, karena setiap ketegangan fisik dapat meningkatkan rasa sakit dan persalinan yang lambat. Secara lembut dan tenang ingatkan ibu untuk melepaskan ketegangannya.

Cara yang tepat untuk membantu ibu adalah dengan mendukung dan memberikan dorongan, tetap tenang dan membantunya mengikuti pola pernapasan dan relaksasi. Bantulah dengan perubahan posisi dan menggosok setiap daerah yang tegang jika dia ingin disentuh. Stroke dari Effleurage perut selama fase aktif dimulai pada fundus dan bergerak ke arah tulang kemaluan seiring dengan kontraksi uterus. Antara kontraksi, cobalah Effleurage dari punggung bawah, atau dia mungkin lebih suka menggoyang panggul dengan lembut. Kaki kram atau kejang otot dapat diobati dengan pijatan ringan, peregangan aktif atau pasif, atau pijatan kaki yang sesuai. Ibu akan mungkin memerlukan bantuan untuk meluruskan kakinya setelah jongkok untuk kembali berdiri tegak atau duduk.

Kelahiran

Sebagian besar dukungan selama kelahiran bayi adalah membantu ibu untuk tetap tenang dan mengingatkannya untuk tetap santai dan menghemat energinya. Bidan dapat menawarkan beberapa bantuan fisik seperti dukungan counter-pressure atau support perineum dan membantunya menemukan posisi melahirkan yang nyaman.4

Kala  III Persalinan

Pada beberapa suku, kelahiran plasenta biasanya sangat cepat karena ibu berada dalam kondisi fisik yang baik dan mereka menggunakan posisi melahirkan efisien. Berdiri dan peregangan dapat mempercepat kelahiran plasenta. Pijat digunakan hampir secara eksklusif untuk mendorong pelepasan plasenta pada suku-suku tertentu. Prosedur lainnya termasuk kontraksi otot perut, bersin, gigitan ibu pada sesuatu yang sangat keras atau setelah dia meniup ke tangannya atau botol kosong. Aplikasi panas juga digunakan untuk  mengefektifkan pengeluaran plasenta.

Para wanita dari Maroko merendam ujung tali pusar yang telah dipotong dalam minyak yang dipanaskan di atas bara panas. Dalam beberapa menit tindakan tersebut dilakukan, ibu yang baru saja melahirkan tersebut berdiri dan plasenta jatuh keluar. Orang-orang Filipina menghangatkan gagang sendok nasi yang terbuat dari kayu, lalu menekan pusar wanita. Di daerah tertentu di Meksiko, tortilla panas ditempatkan ke sisi kanan ibu. Di India, penolong persalinan meminyaki kepalanya lalu dengan kepalanya  menggosok ke  perut ibu sambil berdiri sampai semua darah keluar. Di Tahiti, plasenta dikeluarkan dengan cara ibu meremas perutnya sendiri sambil mandi di laut. Suaminya menekan kakinya melawan dia untuk merangsang pelepasan plasenta.

Pijat perut dari fundus ke tulang pubis, kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi (perawatan kanguru), stimulasi puting atau stimulasi oral (oleh pasangannya) mendorong pelepasan endogenous oksitosin yang merangsang kontraksi rahim dan melepaskan plasenta. Bidan dapat merangsang titik akupunktur Limpa 10 untuk melepaskan plasenta. Tempatkan tumit tangan Anda di perbatasan atas lutut ibu. Ibu jari Anda harus mencapai perut otot medialis vastus dimana titik ditemukan. Tahan selama 10 hitungan, ulangi sampai rahim mulai berkontraksi. Jika ibu mulai gemetar, tekan lengkungan kakinya untuk mengontrol gerakan.

Kebijakan pemerintah sehubungan dengan sentuhan dalam persalinan

Dalam kebijakan Kemenkes 369/MEKKES/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan. Dijelaskan bahwa asuhan kebidanan adalah proses pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan.9

Berdasarkan Kemenkes diatas, maka bidan dapat melakukan praktik sentuhan persalinan, karena sesuai dengan filosofi kebidanan. Praktik ini telah terbukti dapat meminimalkan persalinan dengan tindakan, baik forcep maupun vakum ekstraksi, seksio sesarea, pengunaan oksitosin, anestesi epidural dan berbagai emosi negatif pada ibu bersalin serta memberikan pengalaman persalinan yang memuaskan pada ibu.

Kasus

Kasus Ny. X di RS Rujukan Pemerintah Tahun 2007 . Nyonya X, G1 P0 A0 dirujuk oleh salah satu BPS di Jakarta karena kala 1 memanjang. Jam 10.00 WIB pembukaan 5 cm, effacement 50%, ketuban sudah  merembes, putih keruh, presentasi kepala, Hodge 2. Ibu hanya tergeletak di tempat tidur ruang bersalin, tanpa ditemani oleh keluarganya. Sentuhan dalam persalinan tidak ada sama sekali. Mahasiswa bidan DIV, karena merupakan salah satu staff di RS tsb, memperbolehkan keluarga untuk masuk dan menemani ibu di ruang persalinan. Mahasiswa bidan juga membantu memberikan dukungan dan motivasi bahwa persalinan ibu dapat berlangsung secara alamiah. Ibu dan suaminyapun menginginkan proses persalinan tersebut berjalan dengan normal. Ibu dan keluarga diperbolehkan berdoa bersama di ruang persalinan. Persalinan berlangsung progresif, dan 8 jam setelah diberikan dukungan persalinan baik itu penkes dari mahasiswa bidan, motivasi, pendampingan dari suaminya serta sentuhan berupa masase ringan di bagian belakang/sacrum, ibu melahirkan spontan, anak dan ibu sehat. Ibu dan suami sangat berterimakasih pada mahasiswa bidan yang membantu proses tersebut sehingga dapat berjalan dengan normal.

Pembahasan

Dari pemaparan teori pada bab sebelumnya dan kasus diatas, maka akan dibahas lebih lanjut pada tulisan ini tentang faktor-faktor penghambat sentuhan persalinan tidak dapat diterapkan oleh bidan, serta hubungan sentuhan persalinan dengan filosofi kebidanan.

Faktor–Faktor yang Menyebabkan Sentuhan dalam Persalinan Tidak Dapat di Terapkan:

  1. Kurangnya pemahaman bidan tentang sentuhan dalam persalinan.
  2. Kebijakan diseting pelayanan yang tidak memperbolehkan praktik sentuhan dalam persalinan atau dukungan  dalam persalinan dapat dijalankan.
  3. Seting dalam praktik bidan sendiri tidak menerapkan asuhan yang dapat mendukung persalinan agar dapat berlangsung secara fisiologis
  4. Mental model bidan yang tidak mau tahu, tidak peduli dengan kliennya.
  5. Kurikulum, pendidikan bidan yang kurang menggali praktik asuhan berdasarkan filosofi kebidanan.

Hubungan sentuhan persalinan dengan filosofi persalinan

  1. Normal and natural childbirth. Praktik sentuhan dalam persalinan merupakan praktik yang mendukung filosofi bidan dimana bidan yakin bahwa proses persalinan merupakan suatu proses yang alamiah. Hal ini disebabkan karena dengan sentuhan dalam persalinan dapat mengupayakan pesalinan dapat berlangsung secara alamiah. Sentuhan tersebut dapat mengoptimalisasi fungsi tubuh dalam memanajemen nyeri. Sentuhan seperti membelai akan memberikan stimulasi taktil yang dapat meningkatkan input pada serabut saraf sehingga membantu menghambat impuls nyeri. Teknik elongated strokes-predominantly Effleurage (teknik pijat yang digunakan untuk pemanasan otot sebelum bekerja di jaringan dalam) dapat berfungsi untuk mengendurkan otot, mengurangi asam laktat dan mengendalikan nyeri. Latihan peregangan juga dapat meningkatkan sirkulasi dan mengurangi ketegangan otot. Dengan melakukan gerakan berirama membentuk pola angka delapan juga dapat memberikan efek mengurangi nyeri persalinan. Sentuhan tidak hanya berupa fisik, namun dalam praktik kebidanan praktik sentuhan juga berupa sentuhan verbal yang berdampak secara fisiologis, yakni memberikan semangat dan kesabaran kepada ibu sehingga kuat untuk melewati proses persalinan tersebut. Dengan demikian maka baik sentuhan fisik dan psikologis akan memberikan kenyamanan kepada ibu sehingga nyeri tidak dirasakan lagi sebagai suatu penderitaan/suffer, namun sebagai bagian dari proses untuk menjadi seorang ibu yang bahagia. Akan lebih bijaksana jika dukungan psikologis secara verbal berisi filosofi pribadi yang dilator belakangi oleh keyakinan ibu. Keyakinan dan kepercayaan tersebut mempunyai power yang mampu memberikan kekuatan kepada setiap umat yang meyakininya. Sentuhan kalbu tersebut diberikan sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan ibu, sehingga dengan praktik sentuhan, asuhan kebidanan dapat diberikan secara komprehensif, baik itu bio, psiko, sosio dan spiritual.
  2. Empowering Woman. Dengan memberikan pendidikan kepada ibu tentang upaya apa saja yang dapat dilakukan oleh ibu dan keluarga agar persalinan dapat berlangsung secara normal. Ibu akan mengerti dan dapat membiarkan pendampingnya membantunya melewati proses persalinan seperti nyeri persalinan dengan tenang dan memahami bahwa nyeri merupakan efek yang fisiologis dari persalinan. Bidan dapat memberdayakan ibu, dimana pijatan/sentuhan dalam persalinan memampukan ibu untuk memberitahu bagian mana yang ingin dimasase, oleh siapa, kapan dan bagaiman caranya sehingga proses persalinan dapat berjalan sealamiah mungkin, yang akan menjadi pengalaman yang menyenangkan dan membahagiakan. Alangkah bijaksana jika bidan memiliki kepekaan karena pada ibu yang sudah kesakitan, kadang tidak mampu berkomunikasi secara verbal. Kepekaan bidan tentu diperlukan dalam memberikan asuhan yang sesuai dengan kebutuhan dari bahasa tubuh ibu. Setiap manusia itu unik, sehingga praktik sentuhan tidak dapat secara sama diberikan pada setiap ibu. Di Timika, Papua, praktik untuk meredakan nyeri menggunakan daun yang disebut ‘daun gatal’. Efeknya memberikan rasa gatal sehingga mengalihkan perhatian ibu terhadap rasa nyeri tersebut. Bidan tentu memberikan asuhan sesuai dengan budaya yang dimiliki ibu, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam menjalani proses persalinannya. Yang harus diperhatikan adalah apakah praktik berdasarkan budaya tersebut memberikan dampak positif atau negative terhadap kesehatan ibu, dan harus menyikapinya dengan santun dan bijaksana.
  3. Woman and Family Patnership. Partnership antara ibu dan bidan dapat berjalan dengan baik, begitu pula dengan keluarganya kaena bidan memberikan kiat berupa praktik sentuhan persalinan pada suami atau keluarga yang mendukung ibu agar proses persalinan dapat dilalui dengan baik. Praktik ini juga memungkinkan bidan membina hubungan dengan ibu sehingga terjadi ikatan yang erat. Dengan ikatan yang erat ini bidan mendapat kepercayaan dari ibu sebagai pendamping persalinannya. Membangun hubungan dengan keluarga khususnya pasangannya, dengan sendirinya suami dapat menghargai isterinya, karena dapat mengalami proses persalinan yang begitu menyakitkan sendirian, tanpa bisa dibantu olehnya. Akibatnya hak-hak isterinya akan mendapat tempat untuk dihargai. Pandangan terhadap isterinya akan berubah. Ibu dapat menentukan hak reproduksinya sendiri yang merupakan bagian dari hak asasi manusia. Selain terbina ikatan dengan ibu, juga ikatan dengan suami atau anggota keluarga lainnya. Hal ini dapat memberikan keuntungan pada kedua belah pihak, karena keberlanjutan asuhan dapat berlangsung kkarena telah terbina kepercayaan antara bidan dengan ibu serta keluarganya.
  4. Woman Center Care. Asuhan yang berpusat pada wanita dapat dijalankan, karena antara ibu dan bidan telah terjalin suatu ikatan, bidan tahu apa yang diinginkan ibu. Apakah pijatan diberikan selama proses persalinan, atau jika ibu menginginkan atau tidak menginginkannya. Apakah pijatan diberikan oleh suami, oleh bidan, atau anggota keluarganya sendiri. Selain bidan, keluargapun dapat memahami apa yang menjadi keinginan maupun kebutuhan ibu, serta dapat meresponinya dengan baik. Koping ibu terhadap nyeri persalinan akan lebih baik, karena menjadi pusat dalam asuhan dengan memperoleh support dari semua pendamping persalinannya.
  5. Continuity of Care. Praktik yang berkelanjutan dapat dilaksanakan, karena kepercayaan ibu terhadap bidan telah terbina, sehingga bidan dapat melakukan asuhan selama proses persalinan, bahkan hingga masa nifas. Kepercayaan ini dapat dibina pada masa ANC, melalui kelas ANC, persiapan menjadi orang tua dan berbagai program dan kegiatan lainnya. Dengan memberikan sentuhan dalam persalinan, ibu akan merasa bahwa bidan peduli terhadap keadaannya atau ‘penderitaannya’ sehingga dapat terjalin ikatan tersebut. Keberadaan bidan sebagai perempuan memberikan kesempatan lebih besar untuk terbinanya ikatan tersebut. Tidak menutup kemungkinan jika kontak pertama bidan dengan ibu terjadi pada saat inpartu. Dengan sentuhan persalinan, bidan memberikan perhatian dan kepedulian kepada ibu, dan menjadi sahabat yang dapat memahami apa yang dialaminya, sehingga ikatan dan kepercayaan dapat terjalin dan keberlanjutan asuhan dapat terjadi, tidak hanya sampai masa nifas, namun dalam seluruh siklus reproduksi ibu tersebut dan keluarganya.

Kesimpulan

Sentuhan persalinan telah dijalankan sejak jaman dahulu dan telah terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan proses persalinan yang alamiah. Dengan sentuhan persalinan persalinan dengan tindakan seperti forcep, vakum ekstraksi, seksio sesarea, penggunaan oksitosin, anastesi epidural dapat dikurangi.

Praktik ini sesuai dengan filosofi kebidanan, yang harus dipahami oleh bidan dan diterapkan dalam asuhannya sehari-hari. Sentuhan dalam persalinan dapat diterapkan oleh bidan dalam berbagai seting pelayanan, baik di rumah sakit maupun di komunitas seperti BPS, Klinik atau Puskesmas

Saran

Berdasarkan pemaparan teori dan pembahasan pada bab sebelumnya maka saran yang dapat di usulkan adalah sebagai berikut:

  1. Untuk masalah mental model para bidan, harus dimulai dari pendidikan kebidanan dimana dalam kurikulum sebaiknya memuat dan membahas secara mendalam tentang etika kebidanan, budi pekerti sehingga dapat memahami secara mendalam filosofi kebidanan yang menjadi pedoman dalam asuhannya.
  2. Organisasi profesi sebaiknya terus merefresh ilmu dan ketrampilan yang berhubungan dengan praktik kebidanan yang sesuai dengan filosofi maupun evidence base, agar asuhan yang diberikan para anggotanya sesuai dengan keyakinan profesinya.
  3. Praktisi bidan sebaiknya menerapkan asuhan yang sesuai dengan filosofi, yang dapat menjadi acuan bagi kandidat bidan, sebagai role model mereka dalam memberikan asuhan dikemudian hari.
  4. Akses terhadap jurnal-jurnal kebidanan yang sulit, menyebabkan bidan sedikit sekali bahkan tidak samasekali terpapar dengan praktik kebidanan yang sesuai dengan keyakinannya maupun filosofinya. Alangkah baiknya organisasi profesi dapat memfasilitasi keterbatasan ini agar para anggotanya dapat mengakses ilmu pengetahuan yang baru.

Daftar Pustaka

  1. Simkin P. Comfort in Labor. How You Can Help Your Self to a Normal Satisfying Childbirt. 2007. [Online] Diakses tanggal 10 Desember 2011 dari: http://www. Childbirthconnection.org
  2. Green J, Amis A, Barbara A., Continuous Labor Support. Journal of Perinatal Education. Vol.16. Page 25-28. May 2007.
  3. Rock JP. Epidural Anasthesia in Labor. Journal for Midwives. 2000 [Online] diakses tanggal 10 Desember 2011 dari: http://midwifeinfo.com/articles/epidural-anesthesia-in-labor
  4. Stillerman E. A Midwive’s Touch. Midwifery Today. 2008. [Online] diakses tanggal 20 November 2011 dari: http://midwiferytoday.com/articles/midwifestouch.asp
  5. Field T et al. Labor pain is reduced by message therapy.1997. [Online] diakses tanggal 9 Desember 2011 dari: http://informahealthcare.com/doi/abs/10.3109/01674829709080701?journalCode=pob
  6. Spencer KM. The Primal Touch of Birth: Midwives, Mothers and Massage. 2004. Midwifery Today. [Online] diakses tanggal 10 Desember 2011 dari: http://www.midwiferytoday.com/articles/primaltouch.asp
  7. Childbirth Conection. Labor Pain. 30 Juni 2008. [Online] diakses tanggal 10 Desember 2011 dari: http://www.childbirthconnection.org/printerfriendly.asp?ck=10183
  8. Pairman S. Pinocomble J. Thorogood C. Tracy S. Midwifery Preparation for Practice.Elsevier. Autralia. 2006
  9. Keputusan Menteri Kesehatan No.369/MEKKES/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan

About Moudy E.U Djami

Lahir dan besar di So'E, Kab Timor Tengah Selatan, Prop Nusa Tenggara Timur, telah menyelesaikan studi D4 Bidan Pendidik di Poltekes Depkes Jakarta III, S2 Kesehatan Reproduksi dari Universitas Indonesia dan S2 Ilmu Kebidanan dari Universitas Padjadjaran Bandung. Sekarang ini sementara melanjutkan studi di S3 Manajemen Pendidikan di Universitas Pakuan Bogor. Riwayat Pekerjaan pernah bekerja sebagai bidan di RSMM Timika, RS Puri Cinere Depok, Klinik Medika Timika, dan RSTM Timika. Menikah dengan Ong Tjandra dan dikaruniai seorang putri tercinta Alexa Candika. Rutinitas sehari-hari sebagai ibu rumah tangga dan juga tenaga pendidik di Akademi Kebidanan Bina Husada Tangerang dan bidan pengelola di Klinik Sehati.
Aside | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

6 Responses to Sentuhan Persalinan

  1. indah dwi susanti D4 kebidanan says:

    Selamat siang bu, sy indah dwi susanti mau mengkomentari masalah tali pusat tidak di potong,
    Saya tidak setuju karena dari faktor lingkungan akan menimbulkan bau tak sedap.
    Sedangkan orang yang habis melahirkan biasanya banyak kerabat yang menjenguk.

  2. Selamat siang bu…….
    Salam sejahtera
    Menurut saya lotus birth klo di lihat dari manfaatnya sangat bagus jika di terapkan, tapi jika kita hubunhgkan dengan infeksi tali pusat mungkin lotus birth bisa menjadi penyebab utama karena dengan tali pusat di potong ja masih banyak terjadi infeksi bagaimana klo tidak di potong.
    Menurut pengalaman saya terjadinya infeksi tali pusat bukan saja karena alat yg tidak steril tapi karena perawatannya yang kurang bagus dan ada saja yg masih memberikan kopi pda tali pusat, kebanyakan dari ibu2 mereka tidak berani atau takut untuk memegang tali pusat sampai2 bayi tidak di mandikan jika tidak ada yg memandikan karena takut.
    Jadi menurut saya lotus birth kurang bagus untuk di terapkan karena akan lebih sulit merawatnya.

  3. RIKA SELPIYANA says:

    Nama : Rika Selpiyana (D IV Kebidanan) NIM : 052.01.32.13

    Selamat pagi bu,
    Saya ingin memberikan sedikit tanggapan atas infomasi yang telah ibu paparkan di atas tapi sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih kepada ibu karena dengan informasi tersebut sudah menambah wawasan saya tentang betapa bermanfaatnya sentuhan dan pendampingan keluarga dalam persalinan.
    Saya setuju dengan apa yang sudah ibu paparkan di atas, karena kebutuhan dasar setiap manusia menurut Abraham maslow diantaranya adalah kebutuhan rasa aman, dicintai dan mencintai serta harga diri. Pada ibu bersalin, kebutuhan rasa aman, dicintai dan harga diri dapat diberikan dengan cara pendampingan keluarga saat persalinan, memberikan sentuhan dan pijatan untuk mengurangi nyeri serta berempati akan apa yang ibu rasakan selama proses persalinan.
    Dengan memberikan sentuhan dan pijatan ringan pada ibu bersalin dapat mengurangi rasa nyeri akibat kontraksi, meningkatkan kenyamanan dan mengurangi kecemasan ibu dalam proses persalinannya. Sentuhan ini tidak hanya bisa dilakukan oleh bidan tapi bisa dilakukan oleh pasangannya atau keluarga ibu. Pendampingan saat persalinan oleh pasangan/keluarga juga sangat dianjurkan karena dapat membuat ibu merasa lebih tenang, tidak merasa sendirian, dapat memberikan semangat, dukungan dan memotivasi ibu supaya kuat dalam menjalani proses persalinannya. Peran bidan dalam proses persalinan juga sangat penting dimana selain membantu proses persalinan, bidan juga bisa memberikan semangat pada ibu serta dapat menjelaskan kepada ibu tahapan-tahapan persalinan khususnya pada ibu primigravida agar ibu mendapatkan bayangan akan proses persalinan yang akan dilewatinya. Bidan juga bisa mengajarkan pada ibu teknik relaksasi dengan cara mengatur pola pernafasan untuk mengurangi rasa nyeri saat kontraksi.
    Dengan pemenuhan kebutuhan dasar ibu bersalin, diharpakan dapat mengubah asumsi ibu bahwa persalinan bukan merupakan suatu penderitaan namun perasaan tidak enak atau efek samping yang harus dirasakan sebagai proses untuk menjadi seorang ibu.

  4. SANTI says:

    Nama : Santi
    NIM : 033. 01. 32. 13 (DIV Kebidanan)

    Selamat malam ibu, terima kasih atas infonya,.. saya santi
    Setelah membaca isu tentang sentuhan persalinan, saya sangat setuju karena berdasarkan pengalaman yang pernah saya alami saat proses persalinan berlangsung maka mental ibu akan mengalami kekhawatiran, ketakutan, ketidakberdayaan dan berbagai emosi ditambah lagi selama mengalami rasa nyeri persalinan juga. Dengan memberikan memberikan sentuhan persalinan maka dapat menggambarkan kepedulian kita pada ibu, dan secara tidak langsung sentuhan persalinan ini akan membuat ibu merasa tenang dan menurut penelitian-penelitian yang pernah ada sentuhan persalinan akan mempengaruhi proses persalinan tersebut, yakni : ketika ibu merasa tenang, maka rasa sakit yang dirasakan akan sedikit berkurang dan akan meningkatkan persalinan secara alamiah.

  5. dilla says:

    Nama : Dilla Maya Shinta Sari (DIV KEBIDANAN) NIM : 043.01.32.13

    Selamat malam bu Moudy,

    Saya ingin memberikan tanggapan tentang materi sentuhan persalinan, sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada ibu karena informasi tersebut sudah menambah wawasan saya tentang manfaat dari sentuhan dan pendampingan keluarga dalam persalinan.
    Saya setuju dengan apa yang sudah ibu paparkan di atas, karena banyak ibu hamil dalam proses persalinan merasa berkurang rasa nyerinya karena sapuan lembut pada perut selama kontraksi. Sentuhan dengan memijat punggung ibu akan memgurangi rasa nyeri dan cemas ibu terhadap proses persalinan. Selain sentuhan bidan juga mengajarkan teknik relaksasi yang bisa membuat ibu lebih tenang. Pada ibu bersalin, kebutuhan yang paling penting yaitu adanya pendampingan keluarga saat persalinan,karena dengan hadirnya pendamping membuat dia merasa lebih nyaman . Pendamping yang dibutuhkan tidak hanya bidan saja tapi bisa suami atau keluarganya yang bisa memberikan semangat, dukungan atau motivasi pada ibu untuk tetap tenang menghadapi persalinan karena dengan ibu tenang dan nyaman bisa meningkatkan persalinan secara alamiah. Jadi, menurut saya sentuhan dan pendamping persalinan sangat penting untuk ibu dalam menghadapi persalinan untuk mengubah pandangan bahwa melahirkan secara alamiah itu lebih baik karena rasa nyeri itu bisa diatasi dengan support dan perhatian yang selalu diberikan oleh bidan, pasangan atau keluarga.

  6. Yana Sembiring says:

    Nama : Yana Hendriaty Br.Sembiring
    Nim : 052.01.32.13
    Selamat malam bu..
    Terima kasih buat info yang ibu berikan tentang Lotus Birth.
    Saya kurang setuju dengan lotus birth karena banyak faktor yang dapat ditimbulkan dr cara ini.
    Contohnya banyak masyarakat yang tinggal didaerah yang kumuh dan lingkungan yang kurang bersih.
    Sedangkan kita potong segera setelah lahir pun banyak ibu yang takut untuk membersihkan/memandikan bayinya, apalagi dengan tidak dipotong meraka akan semakin takut.
    Apakah tidak akan menimbulkan infeksi tali pusat dan membahayakan bayi tersebut?
    Dan kita sebagai bidan juga belum siap untuk melakukannya karena belum ada penyuluhan tentang Lotus Birth dapat dilakukan atau tidak.
    Terima Kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s