DIAGNOSTIK DAN PENANGANAN KETUBAN PECAH DINI, AMNIONITIS DAN EMBOLI AIR KETUBAN

Ketuban Pecah Dini (KPD)

Insiden KPD secara umum sebesar 10% pada kehamilan, dan KPD itu sendiri menyumbang sekitar 30-40% kejadian persalinan preterm, sementara itu persalinan preterm dapat mengakibatkan morbiditas dan mortalitas pada bayi baru lahir sebesar 80-85%. Faktor lain yang berhubungan dengan KPD antara lain: sosial ekonomi, BMI yang kurang dari normal, konsumsi tembakau/merokok aktif maupun pasif, riwayat KPD sebelumnya, infeksi saluran kemih, perdarahan pervaginam, inkompeten serviks dan amniosintesis.1

Di Amerika, Ketuban Pecah Dini pada usia premature / Preterm Premature Rupture Of the Membrane (PPROM) menyebabkan 3% dari semua jenis komplikasi dan terjadi pada ± 150.000 kehamilan setiap tahunnya. Jika KPD berlangsung lama atau masih jauh dari usia aterm, maka secara signifikan akan menyebabkan morbiditas dan mortalitas tidak hanya pada bayi tetapi juga pada ibunya. Oleh karena itu petugas kesehatan harus memahami dengan betul tentang diagnosis dan penanganan KPD.1-3

1. Pengertian KPD

  • KPD adalah keluarnya air-air dari vagina setelah usia kehamilan 22 minggu. Ketuban dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum proses persalinan berlangsung. Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi pada kehamilan preterm maupun aterm.4
  • KPD atau dikenal juga Prematur Rupture Of the Membrane (PROM) adalah Keluarnya air-air per vaginam akibat pecahnya selaput ketuban secara spontan pada usia ≥ 34 minggu.5
  • Ketuban pecah yang berkepanjangan/Prolonged Rupture of Membrane adalah ketuban yang pecah lebih dari 24 jam atau disebut juga Ketuban Pecah Lama (KPL)5

2. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala KPD dapat berupa:4, 6

  • Ketuban pecah secara tiba-tiba
  • Keluar cairan ketuban dengan bau yang khas
  • Bisa tanpa disertai kontraksi/his
  • Terasa basah pada pakaian dalam/underwear yang konstan
  • Keluarnya cairan pervagina pada usia paling dini 22 minggu

Dibawah ini adalah table bagaimana mendiagnostik pengeluaran cairan vagina pada ibu hamil.4

Tabel 1. Diagnosis Cairan Vagina

Gejala Dan Tanda Yang Selalu Ada

Gejala Dan Tanda Yang Kadang-Kadang Ada

Diagnosis Kemungkina

Keluar cairan ketuban
  • Ketuban pecah tiba-tiba
  • Cairan tampak di introitus
  • tidak ada his dalam 1 jam
Ketuban Pecah Dini (KPD)
  • Cairan vagina berbau
  • Demam menggigil
  • Nyeri peru
  • Riwayat keluar cairan
  • Nyeri pada uterus
  • DJJ cepat
  • Perdarahan pervaginan sedikit-sedikit
Amnionitis
  • Cairan vagina berbau
  • Tidak ada riwayat ketuban pecah
  • Gatal
  • Keputihan
  • Nyeri perut
  • Disuria
Vaginitis/servisitis
Cairan vagina berdarah
  • Nyeri perut
  • Gerak janin berkurang
  • Perdarahan banyak
Perdarahan Antepartum
Cairan berupa darah dan lendir
  • Pembukaan dan pendataran serviks
  • Ada his
Awal persalinan preterm atau aterm

3. Faktor Risiko

Faktor risiko terjadinya KPD antara lain:6-8

  • Inkompetensia servik
  • Polihidramnion
  • Malpresentasi janin
  • Kehamilan kembar
  • Vaginitis/servisitis, Infeksi Menular Seksual seperti Clamydia dan Gonore
  • Riwayat persalinan premature
  • Perokok (Pasif/aktif) selama kehamilan
  • Perdarahan pervaginam
  • Penyebab yang tidak diketahui
  • Sosial ekonomi (minimnya ANC)
  • Ras : kulit hitam lebih berisiko KPD dibanding kulit puti

4. Komplikasi KPD

Komplikasi yang dapat terjadi akibat KPD antara lain:6, 8

  • Partus Prematur
  • Berkembangnya infeksi yang serius pada plasenta yang menyebabkan korioamnionitis
  • Abrupsio plasenta
  • Kompresi talipusat
  • Infeksi pospartum

5. Pemeriksaan

Lakukan tes lakmus (tes nitrasin) dengan cara:4

  • Lakukan pemeriksaan inspekulo, nilai apakah ada cairan keluar melalui ostium uteri eksternum (OUE) atau terkumpul di forniks posterior
  • Dengan pinset panjang atau klem panjang masukan cairan lakmus ke dalam serviks.
  • Jika kertas lakmus berubah warna menjadi biru, maka tes lakmus positif atau menunjukan adanya cairan ketuban (alkalis)

Harus diperhatikan, darah dan infeksi vagina dapat memberikan hasil positif palsu/false positive. Oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya seperti ultrasonografi untuk melihat indeks cairan amnion. Cara lain yaitu dengan pemeriksaan mikroskopis yaitu tes pakis. Tes Pakis dilakukan dengan cara meneteskan cairan amnion pada objek glas, tunggu hingga kering dan diperiksa di mikroskop, Jika Kristal cairan tersebut berbentuk seperti pakis, maka cairan tersebut adalah cairan amnion yang menandakan tes pakis positif.4

Secara ultrasonografi, Indeks cairan amnion (ICA) diukur pada 4 kuadran. Jika ditemukan ICA kurang dari 8 cm disebut oligohidramnion dan jika > 25 cm disebut polihidramnion. Sumber lain mengatkan bahwa range normal ICA adalah 5-25 cm.9 Empat kuadran untuk pengukuran ICA dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 1. Empat kuadran untuk mengukur indeks cairan ketuban

Sumber: Parinatology.com 9

Pengukuran indeks cairan ketuban dengan USG diukur dengan meletakan probe USG sejajar dengan sumbu longitudinal pasien dan tegak lurus dengan lantai. Setiap kuadran dihitung dalam sentimeter. Keempat pengukuran kemudian dijumlahkan untuk menghitung ICA (gambar 2).10

4 kuadran ICA

Gambar 2. Cara mengukur ICA dengan USG

Sumber: Ultrasoundpaedia 10

Berikut ini adalah gambar grafik indeks cairan amnion untuk mengetahui normal atau tidaknya indeks cairan ketuban ibu hamil.

cara ukur ICA

Gambar 3. Indeks cairan amnion (ICA)

Sumber : Devore diunduh dari: http://www.fetal.com/IUGR/treatment.html1

6. Penanganan

Penanganan KPD adalah sebagai berikut:4

  1. Rawat inap di Rumah sakit
  2. Jika ada perdarahan pervagina disertai nyeri perut, pikirkan adanya abrupsio plasenta
  3. Jika ada tanda-tanda infeksi (demam, cairan vagina berbau) berikan antibiotika sama halnya pada amnionitis
  4. Jika tidak ada tanda infeksi dan kehamilan < 37 minggu:
    1. Berikan antibiotika ampisilin 4 x 500 mg selama 7 hari ditambah eritromisin 3 x 250 mg peroral selama 7 hari
    2. Berikan kortikosteroid untuk pematangan paru
      • Betametason 12 mg IM dalam 2 dosis setiap 12 jam
      • Atau deksametason 6 mg IM dalam 4 dosis setiap 6 jam
      • Kortikosteroid jangan kalau ada infeksi
  5. Lakukan persalinan pada kehamilan 37 minggu
    1. Jika terdapat his dan lendir darah, kemungkinan terjadi persalinan premature
    2. Jika tidak terdapat infeksi dan kehamilan > 37 minggu:
      • Jika ketuban sudah pecah > 18 jam, berikan antibiotic profilaksis
      • Ampisilin 2 gram IV setiap 6 jam
      • Atau penisilin G 2 juta unid IV setiap 6 jam hingga persalinan terjadi
      • Jika tidak ada infeksi pasca persalinan, hentikan antibiotika
  6. Nilai serviks
    • Jika serviks sudah matang, lakukan induksi persalinan dengan oksitosin
    • Jika serviks belum matang, matangkan serviks dengan prostaglandin dan infus oksitosin atau lahirkan dengan seksio sesarea

7. Pencegahan

Hingga kini belum ditemukan tindakan pencegahan terhadap KPD. Evidence base melaporkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara merokok dengan KPD,6 oleh karena itu ibu hamil yang merokok harus berhenti merokok bahkan sebelum terjadi konsepsi, dan juga terhadap perokok pasif agar lebih berhati-hati dengan menghindari perokok aktif di sekitarnya. Selain itu melihat penyebab adalah IMS dan infeksi vagina atau servik, maka personal hygiene dan hubungan seksual yang aman hanya dengan pasangan dianjurkan untuk menghindari faktor risiko yang dapat dicegah.

 

Amnionitis dan Korioamnionitis

1. Pengertian Amnionitis dan Korioamnionitis

Amnionitis adalah radang pada selaput amnion.

Korioamnionitis adalah radang pada korion dan selaput amnion

Korioamnionitis atau infeksi intraamniotik adalah inflamasi akut pada membran dan korion plasenta, terjadi karena infeksi bakteri polymicrobial secara asenden pada saat pecahnya selaput ketuban.12

 

2. Insiden Korioamnionitis

Insiden korioamnionitis di Amerika secara umum sekitar 1-4%. Korioamnionitis menjadi komplikasi sekitar 40-70% terhadap persalinan preterm dengan KPD dan sekitar 1-13% persalinan aterm. Kasus ini menjadi salah satu indikasi utama dilakukannya tindakan seksio sesarea.12

 

3. Faktor Risiko Korioamnionitis

Faktor risiko terjadinya korioamnionitis dari beberapa penelitian dapat dilihat pada table berikut.12

 

Tabel 2. Faktor Risiko Korioamnionitis

No Faktor Risiko Risio Relatif (RR) Penelitian
1 KPD dan KPL·      ≥ 12 jam·      > 18 jam 5,86,9 1314
2 Partus Lama·      Kala 2 > 2 jam·      Fase aktif > 12 jam 3,74,0 1415
3 Pemeriksaan dalam yanglebih seringPada saat KPD·      ≥ 3 pemeriksaan 2-5 13, 15
4 Nulipara 1,8 15
5 Grup B Streptokokus 1,7-7,2 15-17
6 Bakteri Vaginosis (BV) 1,7 18
7 Pemakai Alkohol dan Tembakau 7,9 14
8 Meconium –Stained pd cairan ketuban 1,4-2,3 15, 19
9 Monitoring internal (CTG) 2.0 13
10 Epidural anestesia 4,1 14

 

4. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala amnionitis dan Korioamnionitis antara lain

  • Demam maternal
  • Takikardi maternal
  • Nyeri tekan pada uterus
  • Peningkatan suhu vagina (hangat apabila disentuh)
  • Cairan amnion berbau busuk
  • Lekosit meningkat

 

5. Penanganan

  1. Berikan antibiotika kombinasi sampai persalinan terjadi:
    • Ampisilin 2 gram IV setiap 6 jam, ditambah gentamisin 5mg/kgBB IV setiap 24 jam
    • Jika persalinan pervaginam, hentikan antibiotika pascapersalinan
    • Jika persalinan dengan seksio sesarea, lanjutkan antibiotika dan berikan metronidazole 500 mg IV setiap 8 jam sampai bebas demam selama 8 jam
  2. Nilai Serviks:
    • Jika serviks matang, lakukan induksi dengan oksitosin
    • Jika serviks belum matang, matangkan dengan prostaglandin dan infus oksitosin atau lakukan seksio sesarea
  3. Jika terdapat metritis denga tanda/gejala demam, keluar cairan pervagina dan berbau, berikan antibiotika sesuai dengan protap
  4. Jika terdapat sepsis pada bayi baru lahir, lakukan kultur dan berikan antibiotika

 

6. Dampak Korioamnionitis

Korioamnionitis yang dialami oleh ibu dapat memberikan dampak yang serius baik bagi ibu maupun bayi yang dilahirkan antara lain:12

  • Stillbirth
  • Sepsis Neonatal
  • Penyakit paru kronis
  • Kerusakan otak yang menyebabkan cerebral palsy
  • Neurodevelopmental disabilities

 

7. Pencegahan

Pencegahan terhadap terjadinya korioamnionitis antara lain:12, 20-22

  • Penanganan yang tepat pada ibu hamil dengan infeksi saluran kemih maupun infeksi saluran reproduksi selama hamil, karena koriamnionitis terjadi karena invasi kuman secara asenden.
  • Hindari pemeriksaan dalam pada ibu dengan KPD tanpa indikasi
  • Berikan antibiotika dengan dosis yang tepat
  • Induksi persalinan pada usia kehamilan > 34 minggu pada ibu hamil dengan KPD direkomendasikan karena laporan dari berbagai studi membuktikan mengakhiri kehamilan pada usia > 34 minggu dengan KPD dibandingkan dengan mempertahankan kehamilan secara signifikan dapat menurunkan angka infeksi maternal maupun neonatal dan menurunkan angka perawatan bayi di Neonatal Intensive Care Unit (NICU).

 

Emboli Air Ketuban

1. Pengertian Emboli air Ketuban

Emboli air ketuban / Amniotic Fluid Embolism(AFE) adalah sindrom katastropik yang terjadi selama persalinan atau segera setelah persalinan. Emboli air ketuban ini merupakan suatu keadaan dimana cairan amnion masuk ke sirkulasi maternal yang jarang namun fatal dan menyebabkan kematian maternal terutama di Negara sedang berkembang.23, 24

2. Insiden Emboli Air Ketuban

Insiden emboli air ketuban belum diperoleh informasinya. Hal ini disebabkan karena syndrome ini sulit untuk diidentifikasi sehingga sulit untuk menegakkan diagnosanya. Sebagian besar kasus (80%) terjadi pada saat persalinan, tetapi dapat terjadi juga sebelum persalinan (20%) atau setelah persalinan.23

Sumber lain melaporkan bahwa kejadian sebenarnya dari kasus emboli air ketuban hingga saat ini belum diketahui, namun dapat dilaporkan insiden emboli air ketuban berkisar antara 1 dalam 8000 dan 1 dalam 80.000 persalinan, dengan tingkat kematian karena emboli air ketuban sebesar 60%, sekalipun dengan terapi yang agresif dan pengobatan segera. Outcome terhadap neonatus secara umum cukup buruk, dengan tingkat kematian sebesar 20-25%, dan jika hidup, hanya 50% dengan neurologis yang intact.25

3. Etiologi Emboli Air Ketuban

Etiologi terjadinya emboli air ketuban hingga kini masih belum jelas. Evidence terkini melaporkan bahwa terjadinya emboli air ketuban ada hubungannya dengan faktor imunologi. Hal ini disebabkan karena masuknya cairan amnion dalam peredaran darah maternal menyebabkan syok anafilaktik. Temuan ini didasari pada perubahan hemodinamik pada anafilaktik syok dengan emboli air ketuban sama. disamping itu ketika melakukan percobaan pada binatang dengan menyuntikan air ketuban pada pembuluh darahnya, tidak ditemukan adanya kondisi emboli air ketuban. Pada ibu dengan emboli air ketuban, tidak selamanya ditemukan sel fetus dalam tubuh ibu. Oleh karena itu disimpulakan masuknya emboli air ketuban menyebabkan syok anafilaktik yang berimbas pada morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal.25 Patofisiologi terjadinya emboli air ketuban juga belum diperoleh informasi yang jelas dan ajeg.

Pada dasarnya keadaan ini terjadi karena masuknya cairan katuban ke dalam peredaran darah maternal yang dapat dijelaskan pada gambar berikut ini.

 

Patofisiologis Emboli Air Ketuban

Gambar 4. Patofisiologi Emboli Air Ketuban

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Amniotic_fluid_embolism#mediaviewer/File:Amniotic_fluid_embolism.png

4. Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala Emboli air ketuban dapat dilihat pada table berikut ini.25

Tabel 2. Tanda dan Gejala Emboli Air Ketuban

No Tanda Dan Gejala %
1 Hipotensi 100
2 Gawat janin 100
3 Edema pulmonal 93
4 Cardiopulmonary arrest 87
5 Sianosis 83
6 Koagulapati 83
7 Dyspnea 47
8 Seizure / kejang 48
9 Atonia uteri 23
10 Bronkospasme 15
11 Transient hypertension/Hipertensi sementara 11
12 Batuk 7
13 Sakit kepala 7
14 Nyeri dada 2

Sumber: Gist et al (2009)25

 

5. Faktor Risiko Emboli Air Ketuban

  • Usia
  • Multipara
  • Faktor Psikologis yang menyebabkan kontraksi
  • Induksi persalinan
  • Instrumen partus pervaginam
  • Kehamilan lewat waktu/postmatur
  • Seksio Sesarea
  • Ruptura uteri
  • Polihidramnion
  • Robekan leher rahim yang banyak
  • Abrupsio plasenta
  • IUFD
  • Bayi besar
  • Meconeum stained dalam cairan amnion
  • Eklampsia
  • Gawat janin
  • Trauma abdomen
  • Intervensi bedah
  • Amnioinfusi dengan salin
  • Meconeum bayi laki-laki

 

6. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan tanda dan gejala diatas. Beberapa diagnosa banding dari emboli air ketuban antara lain:

a. Penyebab obstetri

  • Perdarahan akut
  • Abrupsio plasenta
  • Ruptura uteri
  • Eklampsia
  • Cardyomiopati peripartum

b. Penyebab anestesi

  • Anestesi spinal yang tingi
  • Aspirasi
  • Keracunan anestesi lokal

c. Penyebab non obstetric

  • Emboli paru
  • Emboli udara
  • Anafilaksis
  • Syok sepsis

7. Penanganan

Kondisi emboli air ketuban yang ditemukan secara dini akan memberikan outcome yang leih baik. Manajemen emboli air ketuban antara lain:

  • Tindakan yang paling pertama dilakukan adalah oleh bidah adalah resusitasi ABC
  • Berikan oksigen dengan konsentrasi 100% à intubasi
  • Monitoring VS secara kontinyu
  • IVFD dengan gauge yang besar (16-18G) à pertimbangkan input cairan agar tidak menyebabkan edema paru
  • Segera dirujuk

Selanjutnya tindakan yang lebih lanjut dapat dilakukan oleh tenaga ahli di tempat rujukan

  • Kateterisasi arteri à menitoring tekanan darah yang akurat dan pemeriksaan darah
  • Lahirkan Bayi dengan tindakan resusitasi yang cepat dan tepat agar dapat mereduksi sekuele

 

8. Prognosis

  • Diagnosis dan tindakan yang tepat dengan segera : prognosis baik
  • Diagnosis dan tindakan yang lambat : prognosis buruk, mortalitas tinggi.

 

Referensi:

  1. Mercer BM, Milluzzi C, Colin M. Periviable birth at 20 to 26 weeks of gestation: proximate causes, previous obstetric history and recurrence risk. Am J Obstet Gynecol. 2005;3(2):1175-80.
  1. Mercer BM. Preterm premature rupture of the membranes: diagnosis and management. Clin Perinatol. 2004;4:765-82.
  1. Aagards-Tillery KM, Nurthalapaty FS, Ramsey PS, Ramin KD. Preterm premature rupture of the membranes: perspectives surrounding controversies in management. . Am J Obstet Gynecol. 2005;22:287-97.
  1. Saifuddin AB, Wiknjosastro GH, Affandi B, Waspodo D, editors. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2004.
  1. Jazayeri A. Premature Rupture of Membranes. 2014 September 29, 2014. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/261137-overview – aw2aab6b3.
  1. Premature Rupture of Membranes (PROM)/Preterm Premature Rupture of Membranes(PPROM). Health Encyclopedia [Internet]. 29 September 2014. Available from: http://www.urmc.rochester.edu/Encyclopedia/Content.aspx?ContentTypeID=90&ContentID=P02496.
  1. Varney H, Kriebs JM, Gegor CL. Varney’s Pocket Midwife. Boston: Jones and Bartlett Publisher, Inc; 1998.
  1. Medina TM. Preterm Premature Rupture of Membranes: Diagnosis and Management. American Family Physician. 2006;73(4):659-64. Epub February 15, 2006.
  1. com. Amniotic Fluid Index (AFI). PerinatologyCom:Glosary [Internet]. September 29, 2014. Available from: http://www.perinatology.com/Reference/glossary/A/Amniotic Fluid Index.htm.
  1. Ultrasoundpaedia. 3rd Trimester Ultrasound – Normal. Ultrasounpaedia [Internet]. Available from: http://www.ultrasoundpaedia.com/normal-3rdtrimester/.
  1. Devore GR. Amniotic Fluid Index. Fetal Diagnostic Centers [Internet]. September 29, 2014. Available from: http://www.fetal.com/IUGR/treatment.html.
  1. Tita ATN, Andrews WW. Diagnosis and Management of Clinical Chorioamnionitis. Clin Perinatol. 2010;37(2):339-54.
  2. Soper DE, Mayhall CG, Froggatt JW. Characterization ans control of intraamniotic infection an urban teaching hospital. Am J Obstet Gynecol. 1996;175(2):304-9.
  1. Rickert VI, Wiemann CM, Hankins GD, Mackee JM, Berenson AB. Prevalence and risk factor of chorioamnionitis among adolescents. Obstet Gynecol. 1998;92(2):254-7.
  1. Seaward PG, Hannah ME, T.L M, Farine D, Ohlsson A, Wang EE, et al. International multicentre term prelabor rupture of membranes study: evaluation of predictors of clinical chorioamnionitis and postpartum fever in patients with prelabor rupture of membranes at term. Am J Obstet Gynecol. 1997;177(5):1024-9.
  1. Yancey MK, Duff P, Clark P, Kurtzer T, Frentzen BH, Kubilis P. Peripartum infection associated woth vaginal group B streptococcal clolonization. Obstet Gynecol. 1994;84(5):816-9.
  1. Anderson BL, Simhan HN, Simons KM, Wiesenfeld HC. Untreated asymtomatic group B streptococcal bacteria early in pregnancy and chorioamnionitis at delivery. Am J Obstet Gynecol. 2007;196(6):524-5.
  1. Newton ER, Pearis W. Bacterial vaginosis anf intraamniotic infection. Am J Obstet Gynecol. 1997;176(3):672-7.
  1. Tran SH, Caughey AB, Musci TJ. Meconium-stained amniotic fluid is association with puerperal infection. Am J Obstet Gynecol. 2003;189:784.
  1. Premature rupture of membranes. Clinical management guidelines for obstetrician-gynecologists. Obstet Gynecol. 2007;109(4):1007-19.
  1. Simhan HN, Canavan TP. Preterm premature rupture of membranes: diagnosis, evaluation and management strategies. BJOG. 2005;112(Suppl 1):32-7.
  1. Dare MR, Middleton P, Crowther CA, Flenady VJ, Varatharaju B. Planed early birth versus expectant management (waiting) for prelabour rupture of membranes at term (37 weeks or more). Cochrane Database Syst Rev. 2006(1).
  1. Toy H. Amniotic Fluid Embolism. Eur J Gen Med. 2009;6(2):108-15.
  1. Lindsday P. Complications of the Third of the Stage of Labour. In: Henderson C, Macdonald S, editors. Maye’s Midwifery, A Textbook for Midwives London: Bailiere Tindall; 2004.
  1. Gist RS, Stafford IP, Leibowitz AB, Beilin Y. Amniotic Fluid Embolism. Anest analg. 2009;108(5):1599-602. Epub May 2009.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

WHO | Magnesium sulfate is not used for pre-eclampsia and eclampsia in Mexico and Thailand as much as it should be

WHO | Magnesium sulfate is not used for pre-eclampsia and eclampsia in Mexico and Thailand as much as it should be.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PERSALINAN LAMA, INDUKSI DAN AKSELERASI PERSALINAN

Sebagian besar masalah pada kala satu dan dua persalinan adalah kemajuan persalinan yang tidak normal. Ketidaknormalan ini secara klinik dikenal dengan kasus:

Distosia

Definisi Distosia

Dystocia adalah persalinan yang sulit dengan karakteristik proses persalinan yang lambat hingga terhenti. Ketika berakhir dengan tindakan seksio sesarea, diagnose selalu ditegakkan sebagai Cephalopelvic Disproportion (CPD) atau partus yang gagal/ failure to process.1

Definisi distosia menurut sumber lainnya adalah persalinan yang sulit ditandai dengan adanya hambatan kemajuan persalinan. Persalinan yang normal (Eutocia) adalah persalinan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung spontan selama 18 jam. Distosia merupakan masalah klinis yang paling sering ditemukan oleh klinisi. Di Amerika, distosia menjadi indikasi utama dilakukannya tindakan SC sebesar 30%.2

Klasifikasi Distosia

Menurut penyebab, distosia dibagi menurut 3 golongan besar yaitu:

  • Distosia karena kekuatan-kekuatan yang mendorong anak tidak memadai yaitu:
  • Kelainan his yang merupakan penyebab paling sering pada distosia
  • Kekuatan mengejan yang kurang kuat, yang biasanya sering terjadi pada ibu dengan sesak napas atau kelelahan
  • Distosia karena adanya kelainan letak janin atau kelainan fisik janin

Penyebab ini dapat ditemukan pada presentasi bahu, presentasi dahi, presentasi muka, presentasi bokong, anak besar, hidrosefal dan monstrum

  • Distosia karena adanya kelainan pada jalan lahir

Kelainan jalan lahir yang dimaksud adalah kelainan pada bagian keras yaitu tulang panggul seperti panggul sempit, kelainan bawaan pada panggul, atau pada bagian lunak seperti tumor pada genitalia interna maupun visera lain didaerah panggul yang menghalangi jalan lahir.

Persalinan Lama

Definisi Partus Lama

Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam dengan kontraksi yang teratur dan menimbulkan nyeri disertai dengan adanya pembukaan serviks. Definisi ini mempunyai keterbatasan, oleh karena itu partus lama dibedakan menurut manajemen berdasarkan tahapan persalinan kala satu yaitu fase laten memanjang dan fase aktif memanjang.

Fase laten memanjang terjadi jika terjadinya kontraksi yang regular pada pembukaan sampai 4 cm lebih dari 8 jam. Fase aktif memanjang adalah terjadinya kontraksi rahim yang regular dan menimbulkan nyeri pada pembukaan lebih dari 4 cm lebih dari 12 jam.3

Menurut Friedman, permulaan fase laten ditandai dengan adanya kontraksi yang menimbulkan nyeri secara regular yang dirasakan oleh ibu. Gejala ini dapat bervariasi menurut masing-masing ibu bersalin karena mereka dapat merasaka nyeri setiap saat terutama pada saat, sehingga definisi ini disebut definisi yang eksklusif.4

Hendricks et al melakukan observasi perubahan serviks pada 303 ibu hamil selama empat minggu melaporkan bahwa rata-rata pembukaan serviks 1,8 cm pada nulipara dan 2,2 cm pada multipara dengan 60% – 70% terjadi effacement pada beberapa hari sebelum persalinan terjadi.5 Banyak studi melaporkan bahwa menurut waktu terjadinya persalinan, persalinan terjadi pada saat pasien masuk rumah sakit.1

Selain definisi diatas, sumber lain mengatakan bahwa persalinan lama adalah fase laten lebih dari 8 jam, persalinan berlangsung lebih dari 12 jam atau lebih tanpa kelahiran bayi dan dilatasi serviks berada di kanan garis waspada partograf.6

Penyebab Partus Lama

Pada umumnya, partus lama disebabkan oleh 3P yaitu:3

  • Powers : tidak terkoordinasinya kontraksi uterus
  • Passenger : diameter kepala bayi yang terlalu besar (> 9,5 cm) atau malposisi
  • Passage : pelvis yang abnormal, tumor, atau adanya obstruksi pelvis atau jalan lahir

 

Partus lama dapat terjadi karena abnormalitas dari dilatasi serviks. Perbukaan serviks berlangsung secara lambat, karena tidak terjadi penurunan kepala untuk menekan serviks tersebut. Pada saat yang sama terjadi edema pada serviks sehingga akan lebih sulit terjadi dilatasi. Oleh karena itu, tindakan seksio sesarea diperlukan segera.

Risiko partus Lama

Partus lama dapat barakibat buruk baik bagi ibu maupun bayinya. Ibu dan bayi akan mengalami distress, juga dapat meningkatkan infeksi karena meningkatnya intervensi yang dilakukan seperti periksa dalam serta risiko perdarahan karena atonia uteri dapat terjadi karena kelelahan otot uterus.3

Diagnosis Persalinan Lama

Dibawa ini adalah tabel 1 berikut ini adalah tabel yang digunakan untuk membantu mendiagnosis persalinan lama.

Tabel 1. Diagnosis Persalinan Lama

Tanda dan Gejala Diagnosis
Serviks tidak membukaTidak ada his atau his tidak teratur Belum inpartu
Pembukaan serviks tidak melewati 4 cm sesudah 8 jam inpartu dengan his yang teratur Fase laten memanjang
Pembukaan serviks melewati kanan garis waspada pada partograf-      Frekuensi his kurang dari 3 kali dalam 10 menit dengan durasi < 40 detik-      Pembukaan serviks dan turunnya bagian janin di presentasi tidak maju sedangkan his baik-      Pembukaan serviks dan turunnya bagian janin di presentasi tidak maju dengan kaputs, terdapat moulase hebat, edema serviks, tanda rupture uteri iminen, gawat janin-      Kelainan presentasi (selain vertex dengan oksiput anterior) Fase aktif memanjangInersia uteriCPDObstruksi kepalaMalpresentasi atau malposisi
Pembukaan serviks lengkap, ibu ingin mengedan, tetapi taka da kemajuan penurunan Kala II lama

Sumber : Mathai et al (2002)7

Penanganan

Penanganan persalinan lama dibedakan atas dua macam yaitu penanganan umum dan penanganan khusus untuk yang belum inpartu/persalinan palsu yang akan dijelaskan dibawah ini.1, 6

  • Penanganan Umum

Penanganan umum persalinan lama antara lain:7

  1. Nilai dengan segera keadaan ibu hamil dan janin termasuk hidrasi dan tanda vital
  2. Kaji kembali partograf, apakah pasien sudah inpartu, nilai keadaan his, frekuensi, durasi dan konsistensinya
  3. Perbaiki keadaan umum dengan:
  • Dukungan emosi, perubahan posisi sesuai dengan penanganan persalinan normal
  • Periksa keton dalam urine dan berikan cairan baik orak maupun parenteral. Upayakan BAK. pemasangan kateter hanya dilakukan jika perlu
  1. Beri analgesia : tramadol atai petidin 25 mg IM (maksimum 1 mg/kg BB) atau morfin 10 mg IM jika pasien merasa nyeri hebat atas advice dokter
  • Penanganan Khusus

Penanganan khusus terbagi atas penanganan khusus pada persalinan palsu, fase laten memanjang dan fase aktif memanjang.

Persalinan Palsu

Pada persalinan lama karena memang belum masuk pada keadaan inpartu atau persalinan palsu, tindakan yang dilakukan adalah periksa apakah ada infeksi saluran kemih atau ketuban pecah. Jika tidak ada pasien boleh rawat jalan.

Fase Laten Memanjang

Penanganan Khusus pada fase laten memanjang yaitu his berlangsung secara teratur dan pembukaan tidak bertambah maka lakukan ulang penilaian serviks:

  1. Jika tidak ada perubahan pada pendataran dan pembukaan serviks dan tidak ada gawat janin, mungkin pasien belum inpartu
  2. Jika ada kemajuan pendataran dan pembukaan serviks, maka lakukan amniotomi dan induksi persalinan dengan oksitosin dna prostaglandin.
  • Lakukan penilaian ulang setiap 4 jam
  • Jika pasien tidak masuk fase aktif setelah dilakukan pemberian oksitosin selama 8 jam, lakukan seksio sesarea
  1. Jika didapatkan tanda-tanda infeksi seperti demam dan cairan vagina berbau:
  • Lakukan akselerasi persalinan pervaginam dengan oksitosin
  • Berikan antobiotika kombinasi hingga persalinan terjadi
    • Ampisilin 2 gram IV setiap 6 jam
    • Gentamisin 5 mg/kg BB setiap 24 jam
    • Jika persalinan pervaginam terjadi, antibiotika si hentikan pada pascapersalinan
    • Jika dilakukan seksio sesarea, lanjutkan antibiotika ditambah metronidazole 500 mg IV setiap 8 jam sampai ibu bebas 48 jam

 

Fase Aktif Memanjang

Pada keadaan kasus fase aktif memanjang maka tindaka yang perlu dilakukan antara lain:

  1. Jika tidak ada tanda-tanda CPD, atau obstruksi dan ketuban masih utuh, ketuban dipecahkan
  2. Nilai his:
  • Jika his tidak adekuat yaitu kurang dari 3 kali dalam 10 menit dengan durasi kurang dari 40 detik pertimbangkan adanya inersia uteri
  • Jika his adekuat pertimbangkan adanya disporporsi
  1. Lakukan penanganan umum yang akan memperbaiki his dan mempercepat kemajuan persalinan

 

Cephalopelvic Disproportion (CPD)

Pada awalnya Cephalopelvic Disproportion (CPD) dideskripsikan sebagai obstruksi persalinan karena adanya kontraksi pelvis yang disebabkan oleh rakhitis. Sekarang ini kontraksi pelvis yang sebenarnya jarang terjadi dan CPD merupakan disgnosis subjektif yang berasal dari kecurigaan klinisi bahwa bayi tidak dapat turun dan melewati panggul karena bayi yang terlalu besar atau malposisi atau dapat disebabkan juga karena ukuran panggul yang terlalu kecil. Kriteria terjadinya persalinan antara lain pecahnya selaput ketuban, keluarnya lendir dan darah pervaginam, atau terjadinya penipisan/effacement mulut rahim yang lengkap.1

Friedman mendefinisikan keadaan patologis pada kala satu fase laten adalah memanjangnya fase laten yaitu ≥ 20 jam pada nulipara dan ≥14 jam pada multipara antara mulainya persalinan dengan kala satu fase aktif. Friedman juga melaporkan bahwa pemakaian obat sedative, tindakan epidural yang lebih awal dan serviks yang kaku berhubungan dengan abnormalitas fase laten.4

Penanganan CPD:

  • Jika diagnose CPD telah ditegakkan, lahirkan bayi secara Seksio Sesarea
  • Jika janin telah meninggal, lahirkan secara craniotomy
  • Jika operator tidak dapat melakukan craniotomy, segera rujuk untuk dilakukan SC
  • Jika pembukaan serviks sudah lengkap dan kepala sudah di stase 0 (Hodge ….) lakukan partus dengan tindakan VE
  • Jika kepala terlalu tinggi dan janin masih hidup, lahirkan segera dengan SC

 

Kala II memanjang

Kala dua memanjang artinya lama kala dua atau kala pengeluaran lebih dari 2 jam pada nulipara dan lebih dari 1 jam pada multipara.8 Batasan lain menurut sumber yang berbeda dari The Ottawa’s Hospital Clinical Practice Guideline fro the Second Stage of Labour dibagi menurut paritas dan intervensi yang diberikan seperti berikut ini:9

  • Nulipara tanpa tindakan epidural

Jika dua jam dengan upaya mengejan yang aktif tanpa kelahiran bayi. Mengejan yang aktif dimulai saat dilatasi sempurna. Total lama kala dua lebih dari 3 jam tanpa kelahiran bayi

  • Multipara tanpa tindakan epidural

Jika satu jam mengejan yang aktif tanpa kelahiran bayi. Mengejan yang aktif dimulai saat dilatasi sempurna. Total lama kala dua lebih dari 2 jam tanpa kelahiran bayi

  • Nulipara dengan tindakan epidural

Jika dua jam dengan upaya mengejan yang aktif tanpa kelahiran bayi. Mengejan yang aktif dimulai saat dilatasi sempurna. Total lama kala dua lebih dari 4 jam tanpa kelahiran bayi

  • Multipara dengan tindakan epidural

Jika dua jam dengan upaya mengejan yang aktif tanpa kelahiran bayi. Mengejan yang aktif dimulai saat dilatasi sempurna. Total lama kala dua lebih dari 3 jam tanpa kelahiran bayi

Batasan diatas sama dengan yang siacu oleh ACOG practice bulletin pada bulan Desember 2003, dimana kala dua memanjang jika lebih dari 3 jam yang menggunakan anestesi dan lebih dari 2 jam bagi yang tidak menggunakan anestesi.

Tindakan mengejan oleh ibu sebenanrnya meningkatkan risiko pada bayi karena berkurangnya aliran darah yang berisi oksigen ke dalam darah janin. Oleh karena itu, ibu sebaiknya dibiarkanmengejan secara spontan jika merasa ada dorongan untuk mengejan tetapi jangan menganjurkan cara mengejan yang lama disertai dengan menahan napas.10

 

Induksi Persalinan

Induksi persalinan (induction of labor) adalah tindakan artifisial digunakan untuk menginisiasi persalinan sebelum persalinan spontan terjadi.11

Induksi persalinan adalah merangsang uterus untuk memulai terjadinya persalinan7

Akselerasi (Augmented of labor) persalinan adalah meningkatkan frekuensi, lama dan kekuatan kontraksi uterus dalam persalinan.

Induksi persalinan telah dilakukan di berbagai belahan dunia dan menjadi praktik yang rutinitas pada maternitas modern.12

 

Tujuan dilakukannya induksi persalinan adalah agar tercapai kontraksi yang adekuat yaitu 3 kali kontraksi dalam 10 menit dengan durasi 40 detik.6

Sebelum melakukan induksi persalinan, yang harus diperhatikan adalah keadaan serviks yang siap untuk mengalami dilatasi atau serviks yang matang. Secara kuantitatif dapat ditentukan menggunakan skor Bishop yang dapat dilihat pada table 2. Nilai > 9 menunjukkan derajat kematangan servik yang paling baik dengan angka keberhasilan induksi persalinan yang tinggi. Umumnya induksi persalinan yang dilakukan pada kasus dilatasi servik 2 cm, pendataran servik (effacement) 80%, kondisi servik lunak dengan posisi tengah dan derajat desensus -1 akan berhasil dengan baik. Akan tetapi sebagian besar kasus menunjukkan bahwa ibu hamil dengan induksi persalinan memiliki servik yang tidak “favourable” ( Skoring Bishop < 4 ) untuk dilakukannya induksi persalinan.

Jika serviks belum matang, ada beberapa cara untuk mematangkan serviks seperti cara mekanis dan medikamentosa/kimiawi.14

  1. Cara mekanis : balon kateter, dilatator mekanis dan stripping of the membrane.
  2. Kimiawi/medikamentosa:

a. Prostaglandine E2

  • Dinoprostone lokal dalam bentuk jelly ( Prepidil ) yang diberikan dengan aplikator khusus intraservikal dengan dosis 0.5 mg.
  • Dinoproston vaginal suppositoria 10 mg (Cervidil). Pemberian prostaglandine harus dilakukan di kamar bersalin.
  • Pemberian oksitosin drip paling cepat diberikan dalam waktu 6 – 12 jam pasca pemberian prostaglandine E2.
  • Efek samping: Tachysystole uterine pada 1 – 5% kasus yang mendapat prostaglandine suppositoria.

b. Prostaglandine E1

  • Misoprostol (Cytotec) dengan sediaan 100 dan 200 µg. Pemberian secara intravagina dengan dosis 25 µg pada fornix posterior dan dapat diulang pemberiannya setelah 6 jam bila kontraksi uterus masih belum terdapat. Bila dengan dosis 2 x 25 µg masih belum terdapat kontraksi uterus, berikan ulang dengan dosis 50 µg. Pemberian Misoprostol maksimum pada setiap pemberian dan dosis maksimum adalah 4 x 50 µg ( 200 µg ).
  • Dosis 50 µg sering menyebabkan :
    • Tachysystole uterin
    • Mekonium dalam air ketuban
    • Aspirasi Mekonium
  • Pemberian per oral: Pemberian 100 µg misoprostol peroral setara dengan pemberian 25 µg per vaginam

 

Cara melakukan induksi persalinan ada dua yaitu:

  1. Alami

Induksi secara alami dapat dilakukan dengan cara hubungan seksual sehingga sperma yang masuk yang mengandung prostaglandin dapat memicu kontraksi rahim

  1. Obat-obatan atau tindakan lainnya:
    1. Amniotomi
    2. Balon kateter
    3. Memberikan prostaglandin seperti E2(PGE2) atau Oksitosin

Cara melakukan induksi persalinan ada dua yaitu:

  1. Alami

Induksi secara alami dapat dilakukan dengan cara hubungan seksual sehingga sperma yang masuk yang mengandung prostaglandin dapat memicu kontraksi rahim

  1. Obat-obatan atau tindakan lainnya:
    1. Amniotomi
    2. Balon kateter
    3. Memberikan prostaglandin seperti E2(PGE2) atau Oksitosin

 

  1. Amniotomi

Amniotomi adalah tindakan memecahkan selaput amnion untuk merangsang kontraksi karena terjadinya penurunan kepala bayi yang menekan OUI.

 

Yang harus diperhatikan adalah:

  1. Pada daerah yang tinggi insiden HIV, tidak dianjurkan melakukan amniotomi, bahkan sedapat mungkin tetap dipertahankan utuh.
  2. Hati-hati pada kehamilan dengan hidramnion, karena dapat menyebabkan solutio placenta sehingga dapat terjadi perdarahan hebat dan kematian janin, pada presentasi muka, tali pusat terkemuka dan vasa previa.

 

Cara Melakukan Amniotomi:

  • Periksa djj
  • Lakukan pemeriksaan serviks dan catat konsistensi serviks, posisi apakan ante, tengah atau retro flexy atau ante/retro versi, persentase effacement (pendataran serviks) dan dilatasi (pembukaan serviks) dengan menggunakan sarung tangan DTT
  • Masukan alat untuk memecahkan ketuban atau dapat juga menggunakan ½ kocher yang dipegang dengan tangan kiri (jika tidak kidal) dan dengan menggunakan jari telunjuk dan tengah tangan kanan hingga menyentuh selaput ketuban.
  • Gerakan ujung jari tangan kiri yang memegang kocher untuk menorehkan gigi kocher hingga merobek selaput ketuban
  • Cariran ketuban akan keluar secara perlahan, tetapi jangan keluarkan jari tangan kanan yang masih berada didalam vagina dan yakini tidak teraba bagian terkecil bayi atau tali pusat yang menumbung, sambil melihat dan mengingat warna, kejernihan, pewarnaan meconium, serta perkiraan jumlahnya yang ditampung dalam nierbechken / piala ginjal. Jika terdapat pewarnaan meconium (kehijauan) suspek gawat janin.
  • Setelah cairan ketuban tidak keluar lagi, keluarkan jari tangan kanan dari vagina dan lakukan DTT terhadap semua alat yang digunakan
  • Periksa djj saat kontraksi dan sesudah kontraksi uterus. Apabila terdapat akselerasi (> 180x/menit) atau deselerasi (<100x/menit) suspek gawat janin. Berikan oksigen dengan masker 5 liter /menit dan segera dirujuk, jika tidak, lanjutkan pada langkah berikutnya
  • Catat temuan dalam dokumentasi kebidanan
  • Jika kelahiran tidak terjadi dalam 18 jam, berikan antobiotika unutk pencegahan infeksi : Ampicillin 2 gram IV, ulangi setiap 6 jam sampai lahir.
  • Jika tidak ada tanda-tanda infeksi hingga kelahiran bayi, antibiotika harus dihentikan
  • Jika proses persalinan tidak terjadi dalam 1 jam setelah amniotomi, mulailah dengan pemberikan oksitosin
  • Pada persalinan dengan masalah misalnya sepsis atau eklampsia, infus oksitosin dilakukan bersamaan dengan amniotomi, tetapi tindakan ini dilakukan di tempat layanan yang ada dokter spesialis kebidanan seperti RS, RSIA, atau puskesmas Poned.

Amniotomi

Gambar 1. Amniotomi

Sumber : Stormont -Vail GOM bay friendly ebook13

Keberhasilan Induksi Persalinan

Keberhasilan induksi persalinan dilaporkan berhubungan dengan Bishop Score. Jika skor Bishop ≥ 6 biasanya induksi cukup dilakukan dengan oksitosin. Jika ≤ 5, sebaiknya serviks dimatangkan terlebih dahulu dengan prostaglandin atau balon kateter. dibawah ini adalah tabel Skor Bishop.7

 

Tabel 2. Skor Bishop

Faktor Skor
0 1 2 3
Bukaan (cm) Tertutup 1-2 3-4 Lebih dari 5
Panjang Serviks (cm)/effacement > 4 3-4 1-2 <1
Konsistensi Kenyal Rata-rata Lunak
Posisi Posterior Tengah Anterior
Turunnya kepala (cm dari spina iskiadika) -3 -2 -1 +1, +2
Turunnya kepala (dengan palpasi abdominal menurut system perlimaan) 4/5 3/5 2/5 1/5

Sumber : Mathai et al (2002)7

2. Balon Kateter

Balon kateter / Foley Catheter merupakan pilihan lain disamping pemberian prostaglandin untuk mematangkan serviks pada induksi persalinan. Hal yang harus diperhatikan adalah tidak boleh memasang balon kateter pada ibu dengan perdarahan. ketuban pecah dini, pertumbuhan janin terhambat, atau adanya infeksi vagina maupun infeksi saluran kemih (ISK).7

 

Persiapan Alat untuk Memasang Balon Kateter

Baki steril berisi:

  • Sarung tangan DTT
  • Balon kateter ukuran 18-20 CH
  • Venster klem/Klem Panjang/forceps
  • Spuit steril yang berisi Aqua Bidestilata10 ml

Cara melakukan induksi persalinan adalah:

  • Kaji ulang indikasi induksi persalinan
  • Lakukan vulva hygiene
  • Masukan speculum DTT kedalam vagina, pastikan ukurannya tepat sesuai dengan berat badan ibu
  • Masukan balon kateter secara perlahan-lahan kedalam serviks ibu dengan menggunakan forceps DTT atau klem panjang atau venster klem. Pastikan ujung balon kateter telah melewati ostium uteri internum (OUI)
  • Gembungkan balon kateter dengan memasukan cairan sebanyak 10 steril (aqua bidestilata) sebanyak 10 ml
  • Gulung sisa kateter dan masukan ke dalam vagina, atau dapat juga diplester pada paha ibu bagian dalam
  • Diamkan selama 12 jam sambil diobservasi hingga timbul kontraksi uterus atau maksimal pemasangan 12 jam.
  • Kempiskan balon kateter sebelum kateter dikeluarka
  • Jika sudah ada pembukaan lebih besar dari balon yang dibuat, kateter akan keluar dengan sendirinya
  • Lanjutkan dengan pemberian oksitosin

PEMASANGAN BALON KATETER UNTUK INDUKSI PERSALINAN

Gambar 2. Pemasangan Balon kateter untuk induksi persalinan

Sumber: Widjanarko (2011)

3. Oksitosin

Oksitosin adalah hormone yang diproduksi oleh hipotalamus posterior yang dapat menyebabkan kotraksi rahim juga memancarkan ASI. Pada praktek kebidanan oksitosin yang di gunakan adalah oksitosin sintesis untuk memicu induksi maupun akselerasi persalinan.

Oksitosin harus digunakan secara hati-hati karena dapat menyebabkan gawat janin dan hiperstimulasi. Walaupun jarang, rupture uteri dapat terjadi dan risiko rupture uteri pada pemberian oksitosin meningkat pada ibu multipara. Dosis oksitosin bervariasi dan dilarutkan dalam cairan dekstrose atau cairan garam fisiologis denga tetesan dinaikan secara bertahap sampai his adekuat ( 2 kali dalam 10 menit). Pada saat melakukan induski persalinan dengan oksitosin, ibu harus dipantau secara ketat sehingga jika terjadi komplikasi pada ibu dan janin dapat diketahui secara dini.7

 

Cara Melakukan Induksi Persalinan

  • Pantau denyut nadi, tekanan darah, dan kontraksi ibu hamil serta periksa denyut jantung janin secara berkala
  • Kaji ulang indikasi
  • Baringkan ibu hamil miring ke kiri
  • Catat semua hasil observadi ke dalam partograf (Tetesan infus oksitosin, frekuensi dan durasi kontraksi, djj setiap 30 menit). Jika djj < 100 x/menit, infus oksitosin dihentikan)
  • Infus oksitosin 2,5 Unid dalam 500 cc dekstrose 5% atau cairan garam fisiologis mulai dengan 10 tetes per menit (dapat dilihat pada table berikut)
  • Naikan kecepatan infus 10 tetes per menit tiap 30 menit sampai kontraksi adekuat (3 kali dalam 10 menit durasi lebih dari 40 detik) dipertahankan sampai terjadi kelahiran

Tabel 3. Kecepatan Infus Oksitosin untuk Induksi Persalinan

Waktu sejak Induksi (Jam) KonsentrasiOksitosin Tetes Per Menit Dosis (mlU/menit) Volume Infus Total Volume Infus
0,0 2,5 unit dalam 500 ml dekstrose 5% atau garam fisiologik (5 mlU/ml) 10 3 0 0
0,5 Idem 20 5 15 15
1,0 Idem 30 8 30 45
1,5 Idem 40 10 45 90
2,0 Idem 50 13 60 150
2,5 Idem 60 15 75 225
3,0 5 Unit dalam 500 ml dekstrose 5% atau garam fisiologis (10 mlU/ml) 30 15 90 315
3,5 Idem 40 20 45 360
4,0 Idem 50 25 60 420
4,5 Idem 60 30 75 495
5,0 10 Unit dalam 500 ml dekstrose 5% atau garam fisiologis (20 mlU/ml) 30 30 90 630
5,5 Idem 40 40 45 630
6,0 Idem 50 50 60 690
6,5 Idem 60 60 75 765
7,0 Idem 60 60 90 855

Sumber : Mathai et al (2002)7

Jika terjadi hiperstimulasi ( durasi lebih dari 60 detik) atau lebih dari 4 kali kontraksi dalam 10 menit hentikan infus dan kurangi hiperstimulasi dengan :

  • Terbutalin 250 mcg IV pelan-pelan selama 5 menit
  • Salbutamol 5 mg dalam 500 ml cairan (garam fisiologis atau Ringer Lactat) 10 tetes per menit

 Tabel 4. Ekskalasi Cepat pada Primigravida. Kecepatan Infus Oksitosin untuk Induksi Persalinan

Waktu sejak Induksi (Jam) KonsentrasiOksitosin Tetes Per Menit Dosis (mlU/menit) Volume Infus Total Volume Infus
0,0 2,5 unit dalam 500 ml dekstrose 5% atau garam fisiologik(5 mlU/ml) 15 4 0 0
0,5 Idem 30 8 23 23
1,0 Idem 45 11 45 68
1,5 Idem 60 15 90 135
2,0 5 Unit dalam 500 ml dekstrose 5% atau garam fisiologis(10 mlU/ml) 30 15 90 225
2,5 Idem 45 23 45 270
3,0 Idem 60 30 68 338
3,5 10 Unit dalam 500 ml dekstrose 5% atau garam fisiologis(20 mlU/ml) 30 30 90 428
4,0 Idem 45 45 45 473
4,5 Idem 60 60 68 540
5,0 Idem 60 60 90 630

Sumber : Mathai et al (2002)7

 

Yang harus diperhatikan ketika melakukan induksi persalinan adalah:

  1. Jika tidak terjadi kontraksi yang adekuat (3 kali dalam 10 menit dengan durasi 40 detik) setelah infus oksitosin mencapai 60 tetes per menit:
  • Naikkan konsentrasi oksitosin menjadi 5 unit dalam 500 ml dekstrose 5% atau cairan garam fisiologis. Sesuaikan kecepatan infus sampai 30 tetes per menit (15 mlU/menit)
  • Naikkan kecepatan infus 10 tetes per menit tiap 3 menit sampai mencapai kontraksi adekuat (3 kali dalam 10 menit dengan durasi 40 detik) atau setelah infus oksitosin mencapai 60 tetes per menit
  1. Jika masih tidak tercapai kontraksi yang adekuat dengan konsentrasi yang lebih tinggi:
  • Pada multigravida : induksi dianggap gagal dan segera dilakuka seksio sesarea
  • Induksi persalinan dengan 10 mlU oksitosin tidak boleh diberikan pada multigravida dan pada bekas seksio sesarea
  • Pada primigravida: infus oksitosin bisa dinaikkan konsentrasinya yaitu:
    • 10 unit dalam 500 ml dekstrose atau garam fisiologis 30 tetes per menit
    • Naikan 10 tetes tiap 30 menit sampai kontraksi adekuat
    • Jika kontraksi tetap tidak adekuat setelah 60 tetes per menit (60 mlU per menit) lakukan seksio sesarea

Hal yang Harus Diperhatikan dan Dipatuhi

Materi yang diberikan adalah ilmu pengetahuan yang harus diketahui, tapi pengetahuan belum tentu menjadi kewenangan bidan. Kewenangan bidan diatur oleh peraturan pemerintah (Kemenkes 1464 Tahun 2010 tenang ijin dan praktik bidan).15 Sebagai tenaga professional, sekalipun mampu harus mengetahui sejauh mana kewenangan yang dimiliki. Melihat teknik di induksi dan augmentasi diatas, maka wewenang bidan hanya dapat melakukan amniotomi tetapi harus diperhatikan semua syarat yang ada harus terpenuhi. Pemberian Misoprostol (citotec, gastrula dsb) bukan menjadi wewenang bidan dan perlu diingat penggunaan obat ini dapat berakibat fatal karena perdarahan. Teman sejawat sebaiknya mempelajari kebijakan yang ada sehingga pelayanan yang diberikan aman secara hukum dan tidak merugikan pasien, keluarga dan diri sendiri.

REFERENSI

  1. Ness A, Goldberg J, Berghella V. Abnormalities of the first and second stages of labor. Obstet Gynecol Clin N Am. 2005;32(2005):201-20.
  2. Bratakoesoema DS. Distosia. In: Sastrawinata S, Martaadisoebrata D, Wirakusumah FF, editors. Obstetri Patologi, Ilmu Kesehatan Reproduksi. 2 ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2005.
  3. Educational material for teachers of midwifery. Midwifery education modules – second edition. . Genewa: International Confederation of Midwifery, World Health Organization; 2008.
  4. Friedman E. Labor: clinical evaluation and management. 2 ed. New York: Appleton-Century-Crofts; 1978.
  5. Hendricks C, Brenner W, Kraus G. Normal cervical dilatation pattern in late pregnancy and labor. Am J Obstet Gynecol. 1970;106:1065-80.
  6. Saifuddin AB, Wiknjosastro GH, Affandi B, Waspodo D, editors. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2004.
  7. Mathai M, Sangvi H, Guidotti RJ, Broekhuizen F, Chalmers B, Johnson R, et al. Integrated Management of Pregnancy ans Childbirth. Managing Complication in Pregnancy and Childbirth. Geneva: Reproductive Health and Research World Health Organization; 2002.
  8. Diagnosis of labour dystocia. Systematic Review. 2009;55. Epub September 2007.
  9. The Ottawa’s Hospital Clinical Practice Guideline for the Second Stage od Labour. Oprimal Birth BC. 2006. Epub September 2006.
  10. Dystocia anf Agumentation of Labour. International Journal of Gynecology and Obstetrics. 2003;49.
  11. McGeown P. Induction of Labour and Post-term Pregnancy. In: Henderson C, Macdonald S, editors. Mayes’ Midwifery, A Textbook for Midwifes. 13 ed. Edinburg: Elsevier Limited; 2004.
  12. Enkin M, Keirse M, Neilson J, Crowther C, Duley L, Hodnett E, et al. A Guide to Effective Care in Pregnancy and Childbirth. London: Oxford Medical Publications; 2000.
  13. ______. Amniotomi, Artificial Rupture of Membrane. Available from: http://giftofmotherhood.com/stormontvail/files/assets/seo/page74.html.
  14. Widjanarko B. Induksi dan Akselerasi Persalinan. Informasi Reproduksi [Internet]. 2011. Available from: http://reproduksiumj.blogspot.com/2011/09/induksi-dan-akselerasi-persalinan.html.
  15. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1464 Tahun 2010 tentang izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan.

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

PENCEGAHAN DAN PENATALAKSANAAN CEDERA PERINEUM DALAM PERSALINAN

1. Anatomi Perineum

Perineum yang dalam bahasa Yunani disebut Perineos adalah daerah antara kedua belah paha, yang pada wanita dibatasi oleh vulva dan anus, dengan simpisis pubis di bagian anterior, tuber ishiadikum dibagian lateral dan os koksigeus dibagian posterior.1

Perineum terdiri dari otot dan fasia urogenitalis serta diafragma pelvis. Perineum merupakan bagian yang sangat penting dalam kebutuhan fisiologis, tidak hanya berperan atau menjadi bagian penting dari proses persalinan, tetapi juga diperlukan untuk mengontrol proses buang air besar dan buang air kecil, menjaga aktivitas peristaltic agar tetap normal (dengan menjaga tekanan intra abdomen) dan fungsi seksual yang sehat setelah bersalin. Anatomi organ perineum dapat dilihat dibawah ini:2

 Anatomi Perineum

Gambar 1. Anatomi Perineum

Sumber : Manavata3

Anatomi P 2

Gambar 2. Anatomi Perineum

Sumber : Hanrettty, P.44 (2010)4

Sedangkan anatomi vulva dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Vulva

Gambar 3. Anatomi Vulva

Sumber : Hanretty, P.39 (2010)4

2. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Robekan Perineum

Cedera perineum adalah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir baik secara spontan maupun dengan menggunakan alat atau tindakan. Robekan perineum umumnya terjadi pada garis tengah dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat.

Ruptur perineum sering terjadi pada seorang nulipara yakni memiliki risiko lebih besar untuk mengalami ruptur perineum daripada ibu dengan paritas lebih dari satu. Hal ini dikarenakan karena jalan lahir yang belum pernah dilalui oleh kepala bayi sehingga otot-otot perineum belum meregang. Selain itu ras juga berhubungan dengan robekan perineum. Wanita Asia dilaporkan cenderung lebih tinggi prevalensi robekan perineum dibandingkan dengan wanita kulit hitam. Tindakan operatif vagina saat persalinan seperti vakum dan forsep, panjang perineum, bayi yang besar dan diameter kepala bayi juga berisiko terhadap robekan perineum.5-7

Senada dengan informasi diatas, Hirayama juga melaporkan bahwa terdapat hubungan antara ras dengan kejadian rupture perineum derajat ketiga dan keempat. Prevalensinya juga sangat bervariasi. Robekan perineum dejajat III dan IV di China, Kamboja dan India mulai dari 0,1%, sementara itu di Filiina mulai dari 15%. di Jepang dari laporan persalinan diluar fasilitas kesehatan, prevalensi robekan perineum derajat III dan IV sebesar 1,4% sedangkan di Uganda sebesar 0,1%. Faktor nulipara, tindakan forcep dan vakum ekstraksi, berat bayi yang besar merupakan faktor yang signifikan terhadap terjadinya robekan perineum.8

Williams dan Chames (2006) dari studi mereka yang dilakukan di Michigan menginformasikan bahwa kala dua yang lama (>1 jam), tindakan operatif saat persalinan (vakum dan forsep (OR 3,6 IK 95% 1,8-7,3), episiotomy mediolateral (OR 6,9 IK 95% 2,6-18,7) berhubungan dengan robekan perineum. Sementara itu persalinan pervaginam sebelumnya merupakan faktor protektif terhadap laserase perineum (OR 6,36 IK 95% 2,18-18,57).9 Faktor Protektif lain terhadap kejadian robekan perineum adalah BMI diatas rata-rata. Hal ini disebabkan karena adanya ekstra lemak pada bagian perineum wanita dengan berat badan berlebih/obesitas sehingga melindungi dari robekan perineum saat persalinan.10

Selain faktor tersebut diatas, table berikut ini memaparkan tentang faktor risiko terjadinya robekan perineum.

Tabel 1. Faktor Risiko Terjadinya Robekan Perineum saat Persalinan

RISK FACTOR ODDS RATIO
Nulliparity (primigravidity) 3–4
Short perineal body 8
Instrumental delivery, overall 3
Forceps-assisted delivery 3–7
Vacuum-assisted delivery 3
Forceps vs vacuum 2.88
Forceps with midline episiotomy 25
Prolonged second stage of labor (>1 hour) 1.5–4
Epidural analgesia 1.5–3
Intrapartum infant factors:
Birthweight over 4 kg 2
Persistent occipitoposterior position 2–3
Episiotomy, mediolateral 1.4
Episiotomy, midline 3–5
Previous anal sphincter tear 4
All variables are statistically significant at P< 0,05

Sumber : Brinsmead (2003)2

3. Upaya Pencegahan Cedera perineum

Review dari Cochrane menyebutkan bahwa tindakan episiotomy secara liberal atau tanpa indikasi tidak dapat menurunkan insiden robekan sfingter anus dan berhubungan dengan meningkatnya trauma perineum. Carroli dan Belizan juga melaporkan bahwa tindakan operatif vakum ekstraksi lebih sedikit menimbulkan robekan sfingter dibanding tindakan forsep dengan perbandingan 1:18 persalinan.11, 12

Dari Studi Randomized Control Trial (RCT) dengan besar sampel 5001 ibu serta studi longitudinal /cohort pada 6463 ibu, studi metaanalisis melaporkan bahwa episiotomi yang tidak rutin/restricted lebih sedikit mengalami trauma persalinan (RR 0,87 IK 0,83-0,91) tetapi lebih banyak trauma anterior (RR 1,75 IK 1,52 – 2,01).2

Beberapa studi juga melaporkan bahwa secara keseluruhan dengan tidak dilakukannya episiotomi secara rutin akan lebih banyak menghasilkan persalinan dengan perineum yang utuh, berkurangnya nyeri perineum, lebih cepat kembalinya pola aktivitas seksual dan self esteem yang tinggi, dan sebaliknya lebih banyak robekan sfingcter anus pada penggunaan episiotomi rutin, namun tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap fungsi seksual pada 3 bulan pertama dan fungsi kandung kemih dalam 3 tahun mendatang.2

Rekomendasi dari NICE adalah episiotomi yang rutin juga tidak dianjurkan pada partus spontan dan seharusnya dilakukan hanya dengan indikasi sebagai contoh misalnya pada bayi besar, perinem yang kaku atau perineum yang pendek. Episiotomi jenis mediolateral lebih dianjurkan, dimulai pada bagian belakang fourchette pada sudut 45-60 derajat.13

Dibawah ini adalah rangkuman dari beberapa studi yang telah di publis terkait pencegahan robekan perineum antara lain:2

  1. Tidak dilakukannya episiotomi (adanya pembukaan serviks secara alami sejak usia gestasi 36 minggu) secara signifikan meningkatkan angka persalinan pada ibu nulipara dengan perineum yang utuh.
  2. Pada tahun 2001 – studi kohor prospektif yang dipublis di Jerman melaporkan bahwa terjadi penurunan tindakan episiotomi sebesar 50% pada 50 ibu nulipara, lebih sedikit yang mengalami robekan perineum (2% vs 4%), dan kala II yang lebih pendek (mean 29 vs 54 minutes)
  3. Studi di Melbourne, Australia melaporkan bahwa dari 48 ibu nulipara terjadi penurunan penggunaan episiotomi (26% vs 34%), lebih banyak persalinan dengan perineum yang utuh (46% vs 17%), kala II yang lebih pendek (mean 61 vs 81 menit), dan tidak ada efek pada apgar bayi dengan penggunaan instrument (episiotomi) saat persalinan
  4. Studi observasional dalam skala besar di United Stated (US) melaporkan bahwa kompres panas pada nulipara dapat mereduksi kebutuhan akan intervensi episiotomi dan multipara (borderline), dapat mereduksi robekan perineum spontan pada kedua kelompok baik pada nulipara maupun multipara, tetapi belum dikonfirmasi dengan studi yang lebih tinggi (RCT)
  5. Studi RCT pada 185 ibu yang menggunakan lignocaine spray menginformasikan bahwa tidak ada perbedaan efek nyeri perineum pada kedua kelompok, tetapi lebih sedikit yang mengalami dispareunia dan lebih sedikit yang mengalami robekan perineum pada derajat kedua (RR 0,63 IK 95% 0,42-0,93) pada kelompok ibu yang menggunakan lignocaine spray. Namun demikian, NICE tetap menganjurkan sebaiknya tidak menggunakan lignocain spray.

4. Klasifikasi rupture perineum

Laserasi perineum dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat laserasi yaitu:2, 14-16

  1. Derajat I : robekan hana sebatas fourchette, Hymen, labia, kulit dan mukosa vagina.
  2. Derajat II: termasuk otot vagina dan perineum, otot bulbokavernosus, dan otot perineum transversal serta pada beberapa kasus pada pubokoksigeus
  3. Derajat III: sfingter anus dan septum rektovaginal
  4. Derajat IV: meluas sampai ke mukosa rektal, sfingter anus eksternal dan internal.

Berikut ini adalah gambar derajat robekan perineum seperti yang telah diuraikan diatas.

Robekan Perineum II

Gambar 4. Robekan Perineum Derajat Kedua

Sumber: Leeman et al, (2003)16

Robekan Peri IV

Gambar 5. Robekan Perineum derajat keempat

Sumber: Leeman et al, (2003)16

 

5. Teknik penjahitan

Teknik penjahitan robekan perineum disesuaikan dengan derajat laserasinya. Bagi bidan tentunya harus menyesuaikan dengan wewenang bidan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1464 Tahun 2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan, pada pasal 10 ayat 3 butir (b) yaitu hanya luka jalan lahir derajat I dan II.17

Prinsip penjahitan luka perineum dilakukan setelah memeriksan keadaan robekan secara keseluruhan. Jika robekan terjadi pada derajat III dan IV, segera siapkan tindakan rujukan, sebelumnya dilakukan tindakan penghentian perdarahan pada robekan tingkat jika terjadi. Untuk mendiagnosa berapa derajat robekan dan melakukan penjahitan memerlukan pencahayaan yang cukup.16

Penggunaan benang jika dibandingkan antara catgut atau chromic, menggunakan benang polyglactil (vicryl) akan lebih mudah menyerap dan mengurangi nyeri perineum setelah penjahitan.18

  1. Perbaikan robekan perineum derajat I dan II

Dalam tulisan ini akan memuat cara penjahitan luka perineum derajat I hingga derajat IV tetapi lebih ditekankan pada derajat I dan II. Robekan derajat pertama biasanya tidak memerlukan jahitan, tetapi harus dilihat juga apakah meluas dan terus berdarah. Penggunaan anestesi diperlukan agar dapat mengurangi nyeri agar ibu bisa tenang sehingga operator dapat memperbaiki kerusakan secara maksimal. Berikut ini adalah tahapan penjahitan robekan perineum derajat I dan II.4, 16, 19, 20

  • Ibu ditempatkan dalam posisi litotomi, area bedah dibersihkan
  • Jika daerah apex luka sangat jauh dan tidak terlihat, maka jahitan pertama ditempatkan pada daerah yang paling distal sejauh yang bisa dilihat kemudian diikat dan ditarik agar dapat membawa luka tersebut hingga terlihat dan dapat menempatkan jahitan kembali 1 cm diatas apex. Pastikan aposisi anatomis khususnya pada sisa hymen.
  • Jahitan harus termasuk fascia rektovaginal yang menyediakan sokongan pada bagian posterior vagina. Jahitan dilakukan sepanjang vagina secara jelujur, sampai ke cincin hymen, dan berakhir pada mukos vagina dan fascia rektovaginal, dapat dilihat gambar 6 berikut.

Mucosa Vagina & Fascia

Gambar 6 Mukosa vagina dan fascia rektovaginal

Sumber: Leeman et al, (2003)16

  • Otot pada badan perineum diidentifikasi, dapat dilihat pada gambar 7 berikut ini.

Heacting Lacerasi II

Gambar 7. Penjahitan Laserasi Perineum derajat II

Sumber: Leeman et al, (2003)16

  • Otot perineum transversal disambung dengan jahitan terputus menggunakan benang vicryl 3-0 sebanyak 2 kali, demikian juga dengan otot bulbokavernosus dijahit dengan cara yang sama. Gunakan jarum yang besar untuk mendapatkan hasil jahitan yan baik. Ujung otot bulbokavernosus ditarik kearah posterior kemudian kearah superior, dapat dilihat pada gambar 8 berikut ini.

HEacting otot Bulbokavernosus

Gambar 8 Penjahitan otot bulbokavernosus dengan cara terputus

Sumber: Leeman et al, (2003)16

 

  • Jika robekan memisahkan fascia retrovaginal dari badan perineum, sambungkan fascia dengan dua jahitan vertikal secara terputus dengan benang vicryl, dapat dilihat pada gambar 9 berkut ini.

Heacting Septum

Gambar 9 Penjahitan septum rektovaginal pada badan perineum

Sumber: Leeman et al, (2003)16

  • Daerah subkutan dijahit dengan kedalaman 1 cm dengan jarak antara 1 cm untuk menutupi luka kutaneus. Jahitan kulit yang rapih ditentukan oleh aposisi subkutis yang ditempatkan dengan baik.
  • Gunakan benang vicryl 4-0 untuk menjahit kulit. Mulailah penjahitan pada bagian posterior dari apex kulit dengan jarak 3 mm dari tepi kulit.

2. Perbaikan robekan perineum derajat III dan IV

  • Apex dari mukosa rectum dan sfingter anus diidentifikasi, kemudian dijahit dengan menggunakan benang vicryl 4-0 secara terputus, hati-hati agar jahitannya tidak terlalu dalam sehingga tidak menembus saluran anal untuk mencegah fistula. Anus bagian internal berwarna putih yang mengkilap, dengan struktur fibrosa antara mukosa rektal dan sfingter anus eksternal, dapat dilihat pada gambar 10 berikut.

Mucosa Rectal

Gambar 10. Mukosa rektal dan Spincter anus eksternal

Sumber: Leeman et al, (2003)16

  • Sfingter ditarik secara lateral, tempatkan allys klem pada ujung otot agar mudah diperbaiki.
  • Sfingter anus diakhiri dengan jahitan kontinyu dengan menggunakan benang vicryl 2-0.
  • Sfingter ani eksternal terlihat seperti berkas otot skeletal dengan kapsul fibrous. Allis klem ditempatkan pada setiap ujung spincter anus, kemudian jahitan dilakukan pada pukul 12,3,6 dan 9 dengan menggunakan benang polydiaxanone 2-0 (absorbi yang agak lambat) untuk memungkinkan kedua ujung sfingter membentuk scar secara bersamaan.

Bukti penelitian menunjukan bahwa sambungan dari ujung ke ujung pada sfingter tidak memberikan sambungan anatomis yang baik, dan buruknya fungsi sfingter dikemudian hari jika ujungnya beretraksi. Teknik jahitan ujung ke ujung dapat dilihat pada gambar 11 berikut.

Sambungan Spincter

Gambar 11. Sambungan Spincter anus dari ujung ke ujung

Sumber: Leeman et al, (2003)16

  • Teknik lain adalah sambungan secara tumpang tindih pada sfingter anal eksternal. Teknik ini menjadikan lebih banyak lipatan pada perineal dan fungsi spincter yang lebih baik. Para ahli lebih banyak yang memilih teknik ini, dapat dilihat pada gambar 12 berikut.

Sambungan Spincter 2

Gambar 12. Sambungan spincter anus secara overlapping

Sumber: Leeman et al, (2003)16

 

  • Anus harus dapat dimasuki satu jari setelah otot-otot sfingter dipertemukan kembali
  • Instroitus vagina juga harus dapat dimasuki dua jari pada akhir perbaikan
  • Kulit disatukan dengan jahitan subkutan seperti pada perbaikan derajat satu dan dua.

6. Perawatan luka perineum

Meskipun belum banyak referensi yang memberikan informasi tentang perawatan perineum setelah perbaikan robekan karena persalinan, dibawah ini adalah perawatan perineum yang dapat dilakuan ibu antara lain:

  • Sitz bath dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri
  • Analgesia yang adekuat seperti ibuprofen dengan resep dokter
  • Jika ibu akan merasa nyeri yang berlebihan, sebaiknya diperiksa secepatnya karena nyeri adalah gejala yang umum dari infeksi
  • Diet rendah serat
  • Terapi laxansia diperlukan terutama bagi robekan derajat III dan IV
  • Antibiotik diperlukan untuk mengurangi infeksi luka jahitan, gunakan metronidazole dan antibotik dengan spectrum yang luas
  • Anjurkan tindakan SC untuk persalinan selanjutnya, jika persalinan pervaginam dapat menyebabkan inkontinensia anal.

Terdapat juga perawatan dengan menggunakan herbal bagi ibu yang tertarik menggunakannya, yang telah terbukti secara ilmiah memberikan efek yang positif misalnya :15

a. Arnica :

  • Kelelahan otot perineum dan kaki
  • Tidak boleh digunakan pada luka terbuka
  • Sebagai obat luar yang paten seperti memar.

Arnica

Gambar 13. Arnica

Lavender :

  • Mengurangi nyeri dan anti-inflamasi
  • Dapat dipakai untuk kompres hangat dan sitz bath

Lavender

Gambar 14. Lavender

Plantain :

  • Anti-inflamasi
  • Antimikroba
  • Dapat digunakan untuk kompres dan sitz bath

Plantain

Gambar 15. Plantain

Chickweed :

  • emollient action, tinggi vitamin C, dan bioflavonoid
  • Luka terbuka
  • Iritasi
  • Gatal-gatal
  • Mengurangi bekas luka
  • Dapat dipakai untuk kompres hangat dan sitz bath

Chickweed

Gambar 16. Chickweed

Calendula :

  • Anti-inflamasi
  • Astrigent
  • Antimikroba
  • Dapat digunakan untuk kompres dan sitz bath

Calendula

Gambar 17. Calendula

Metode Alternatif Perawatan Robekan Perineum setelah dijahit:15

  • Sitz bath: merendam perineum dalam baskom yang cukup besar untuk diduduki dengan menggunakan air bersih kurang lebih 10 cangkir (200cc). Jika ada inflamasi atau bengkak, gunakan air dingin. Setelah reda, gunakan air hangat hingga ibu merasa nyaman. Beberapa ibu menemukan bahwa menggunakan air hangat akan memperbaiki peredaran darah sehingga mengurangi nyeri. setiap 1 cangkir air, diperlukan 1 senduk herbal yang kering. Sebaiknya yang kering karena akan lebih banyak sarinya kerena telah dikeringkan dibawah sinar matahari.
  • Kompres : dengan menggunakan sehelai kain bersih seperti linen, katun atau kain gaaz, kompreskan dengan air hangat yang telah direndam herbal di daerah perineum. Kompres dingin atau secara bergantian panas-dingin dapat dilakukan untuk memperlancar peredaran darah.

7. Kesimpulan

Robekan perineum pada dasarnya dapat dicegah dengan seperti menghindari episiotomy yang rutin, dan juga pijat perineum pada kala II. Hal ini telah terbukti secara ilmiah memberikan dampak terhadap robekan perineum yang lebih sedikit terutama robekan derajat III dan IV, nyeri perineum yang berkurang, aktivitas seksual yang lebih cepat, dispareunia akibat penjahitan perineum dan self esteem ibu sendiri yang tinggi.

Ada banyak pilihan bagi ibu maupun petugas kesehatan dalam memberikan asuhan bagi ibu khususnya pasca persalinan dengan robekan perineum tingkat I-IV, misalnya secara medikal maupun tradisional dengan terapi herbal, yang mana telah terbukti secara ilmiah bermanfaat bagi proses penyembuhan dan pencegahan infeksi. Sebagai petugas kesehatan yang bijaksana, harus dapat memberikan saran yang baik berdasarkan bukti ilmiah dan semua keputusan dikembalikan kepada ibu dan keluarga dengan sebelumnya memberikan informasi yang tepat.

Dengan adanya evidence base yang telah dipaparkan diatas, diharapkan agar para praktisi kesehatan terutama bidan dapat secara bijak mengambil keputusan yang tepat pada saat menolong ibu dalam proses persalinan sehingga dapat meminimasi kejadian trauma perineum tersebut, dengan meminimasi intervensi yang tidak diperlukan seperti episiotomi rutin yang malah akan memperparah robekan perineum.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1994.
  2. Brinsmead M. Obstetric Perineal Injury. New South Wales, Australia: Coffs Harbour Rural School of Medicine (The University of New South Wales); 2013.
  3. Reproductive System. 2010. Available from: http://www.manavata.org/HBReproSys.htm
  4. Hanretty KP. Ilustrasi Obstetri. 7 ed. Santoso BI, Muliawan E, Ho M, Tjandra O, editors. Singapore: Churchill Livingstone; 2010.
  5. Goldberg J, Hyslop T, Tolosa JE, Sultana C. Racial differences in severe perineal laceration after vaginal delivery. Am J Obstet Gynecol. 2003(188):1063-7.
  6. Howard D, Davies PS, DeLancey JOL, Small Y. Differences in perineal laceration in black and white priimiparas. Am J Obstet Gynecol. 2000(96):622-4.
  7. Beckmann MM, Garrett AJ. Antenatal perineal massage for reducing perineal trauma. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2009(1).
  8. Hirayama F, Koyanagi A, Mori R, Souza JP, Gulmezoglu AM. Prevalence and risk factor for third- and fourth-degree perineal lacerations during vaginal delivery: a multy – country study. BJOG An International Journal of Obstetrics and Gynaecology. 2012.
  9. Williams MK, Chames MC. Risk factor for the breackdown of perineal lacaration repair after vaginal delivery. Am J Obstet Gynecol. 2006(195):755-9. Epub 29 June 2006.
  10. Landy HJ, Laughon SK, Bailit J, Kominiarek MA, Gonzalez-Quintero VH, Ramirez M, et al. Characteristic associated with severe perineal and cervical laceration during vaginal delvery. Obstet Gynecol. 2011;117(3):627-35. Epub March 2011.
  11. Carroli G, Belizan J. Episiotomi for Vaginal Birth. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2003;1(CD000081).
  12. Eason E, Labrecque M, Wells G, Feldman P. Preventing perineal trauma during childbirth, a systematic review. Obstet Gynecol. 2000(95):464-71.
  13. Antenatal Care, routine care for the healthy pregnant woman. 2 ed. London: Royal College of Obstetricians and Gynaecologists; 2008.
  14. Fraser DM, Cooper MA. Myles Textbook for Midwives. Downe S, editor. Oxford, United Kongdom: Elsevier Limited; 2003.
  15. Clark D. Herbs for postpartum perineum : Part one 2005. Available from: http://www.midwiferytoday.com/articles/herbspostperineum1.asp.
  16. Leeman L, Spearman M, Rogers R. Repair of Obstetric Perineal Laceration. American Family Physician [Internet]. 2003 17 March 2014. Available from: http://www.aafp.org/afp/2003/1015/p1585.pdf.
  17. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1464/MENKES/PER/2010. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2010.
  18. Kettle C, Johansen RB. Asorbdable synthetic versus catgur suture material of perineal repair. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2003.
  19. Liu DTY. Labour Ward Manual. Oxford, United Kingdom: Elsevier Limited; 2004.
  20. Fitzpatrick M, Behan M, O’Connel PR, O’Herlihy C. A randomized clinical trial comparing primary overlap with approximation repair of third degree obstetric tears. Am J Obstet Gynecol. 2000;183:1220-4.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lotus Birth

Disampaikan pada Seminar “The Amazing of Lotus Birth

Medan, 2 November 2013

Image

A.    Pendahuluan

Infeksi pada bayi baru lahir merupakan salah satu penyebab kematian bayi terutama di negara sedang berkembang. Kematian akibat infeksi tali pusat yang menyebabkan tetanus neonatorum juga masih ditemukan di berbagai negara.1 World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa sekitar 500.000 bayi baru lahir meninggal setiap tahunnya karena infeksi bakteri.2 Salah satu penyebabnya adalah praktik pemotongan tali pusat yang tidak steril.

Waktu pemotongan tali pusat biasanya tergantung pada penerapan manajemen aktif kala III (MAK III) di setiap seting pelayanan. Pemotongan tali pusat yang lebih cepat dilakukan (kombinasi pemberian oksitosin, pemotongan tali pusat yang cepat, dan traksi tali pusat) banyak dilakukan diberbagai negara akibat kebijakan penerapan MAK III aktif tersebut karena dapat menurunkan kejadian perdarahan. Namun demikian WHO juga melaporkan bahwa asuhan yang fisiologis yakni tidak memberikan oksitosin, Peregangan Tali Pusat Terkendali (PTT) juga tidak menambah risiko terjadinya perdarahan. Praktik penundaan penjepitan/ pemotongan tali pusat  terbukti dapat memproteksi bayi dari anemia defisiensi besi.2

Bukti penelitian lain melaporkan bahwa penundaan penjepitan tali pusat dapat mengurangi risiko pemberian transfusi pada bayi akibat anemia. Menunda penjepitan tali pusat pada bayi cukup bulan dapat memberikan tambahan 30 persen darah ekstra hingga 60 persen lebih banyak sel darah merah.3, 4 Studi lain juga melaporkan bahwa penundaan penjepitan tali pusat dapat menurunkan risiko terjadinya retensio placenta.5

Dari fakta yang dipaparkan diatas dapat disimpulkan bahwa penundaan pemotongan tali pusat perlu diadopsi dalam praktik kebidanan. Lotus birth merupakan salah satu metode yang dapat memungkinkan penundaan pemotongan tali pusat dilakukan meskipun masih kontroversi. Sebagai petugas kesehatan yang professional perlu memahami tentang isu tersebut, sehingga dapat memberikan asuhan yang aman dan sesuai dengan kebutuhan klien.

 

B.    Pengertian Lotus Birth

Lotus Birth adalah proses persalinan pada kala III yang tidak langsung dilakukan pemotongan tali pusat, tetapi dibiarkan tetap terhubung antara bayi dan placenta hingga puput dengan sendirinya. Rata-rata tali pusat lepas dari perut bayi sekitar 3-10 hari pasca persalinan.6

Lotus birth meskipun tidak dianjurkan secara medis karena belum ada bukti ilmiahnya, namun menjadi tren diantara ibu-ibu yang ingin melahirkan terutama home birth. Bukti ilmiah memang belum ditemukan informasinya, namun dapat ditemukan dalam penuturan para ibu yang telah melahirkan dan di publis secara online, dapat juga dalam berbagai buku yang telah ditulis oleh mereka yang telah berpengalaman sebagai praktisi kesehatan maupun ditulis oleh ibu bersalin itu sendiri.7

Implikasi dari Lotus Birth sebaiknya didekati melalui perspektif tradisi misteri kuno, dikembangkan di tempat-tempat yang beragam seperti India, Cina, dan Mesir. Melalui disiplin kontemplasi dan meditasi, tradisi ini telah mengembangkan pemahaman tentang totalitas manusia yang masih absen dari ilmu kedokteran Barat. Umumnya, mereka mengartikulasikan dimensi di mana manusia hidup secara bersamaan dan bagaimana ketidakharmonisan atau trauma dalam satu efek yang lain.8

 C.   Sejarah Lotus Birth

Lotus Birth pertama kali dirintis di Negara Amerika Serikat. Meskipun demikian, praktik in sebenarnya sudah ada dalam budaya Bali dan Aborigin di Australia.9 Sumber lain mengatakan bahwa praktik ini dimulai dengan Claire Day yang sadar akan karya Jane Goodall seorang primatology mengamati proses persalinan simpanse. Dia mencatat bahwa simpanse istirahat dan bergerak naik turun di pohon-pohon dengan bayi mereka beserta plasenta yang tetap melekat pada bayi hingga puput secara alami.10

Claire menyadari ini adalah sikap makluk sosial, hewan yang cinta damai dan tetap terhubung bersama-sama. Dia juga membaca banyak tulisan yang menunjukkan bahwa banyak orang suci, seperti kisah Buddha dan Kristus tidak diceritakan memotong tali pusat mereka saat dilahirkan. Claire menyimpulkan bahwa memotong tali pusat adalah traumatis bagi bayi, dan bahwa kita sebagai manusia akan menghabiskan terlalu banyak tahun mencoba untuk pulih dari ini.10

Dr. Sarah Buckley, ibu dari 3 anak dengan metode persalinan Lotus Birth mengatakan bahwa ketika tali pusat dipotong, akan menyebabkan stress pada bayi sehingga bayi menjadi trauma. Meskipun tali pusat pada dasarkan adalah bukan organ yang hidup, namun sebenarnya masih terjadi komunikasi dengan bayi.10

Informasi mengenai Lotus birth ini juga terdapat dalam ajaran Budha, Hindu, Kristen serta Yahudi. Di Tibet dan Zen Buddhisme, istilah “kelahiran teratai” digunakan untuk menggambarkan para guru spiritual seperti Buddha Gautama dan Padmasambhava (Lien Sen-hua), menekankan mereka masuk ke dunia sebagai satu kesatuan yang utuh, anak-anak kudus. Kelahiran teratai juga ditemukan dalam Hinduisme, misalnya dalam kisah kelahiran Wisnu.

Di Indonesia dr. I. Nyoman Hariyasa Sanjaya dalam seminar tentang Lotus Birth di Malang mengatakan bahwa “kalau pohon saja, dengan sendirinya menggugurkan daunnya mengapa kita memaksanya dengan cara memetik daunnya? Nah begitulah sama halnya dengan Plasenta. Kalau tali pusat saja, bisa terlepas dengan sendirinya… mengapa kita harus mengklem/memotongnya…”

Praktik persalinan dengan Lotus birth telah dipraktikan oleh beberapa praktisi khususnya bidan di tanah air diantaranya ibu Robin Lim di Bali, namun dari informasi yang penulis dapatkan, preferensi untuk persalinan dengan metode Lotus Birth masih sangat jarang sekitar 2-3 persalinan setiap bulannya.

 

D.   Penghormatan terhadap Placenta di Berbagai Budaya

Praktik untuk tetap mempertahankan placenta agar tetap berada dekat bayi dilakukan karena alasan kepercayaan dan keyakinan dari berbagai kepercayaan dan kebudayaan. Budaya yang sebenarnya sudah mempraktikan Lotus Birth sebelum booming di Amerika antara lain : India, Cina, Mesir, Indonesia (Bali) dan suku Aborigin di Australia dan beberapa Negara lainnya.8, 11

 

Keyakinan yang mendasari penghormatan terhadap placenta adalah: 10-12

  1. Hawai : Plasenta adalah bagian dari bayi yang harus ditanam di dekat pohon yang bertumbuh seiring dengan pertumbuhan bayi
  2. Suku Navajo Indian Barat Daya menguburkan plasenta bayi di keempat sudut kuburan keluarga yang dianggap mulia, sebagai suatu pengikat tanah leluhur dan masyarakat.
  3. Suku Maori di Selandia Baru menguburkan plasenta di tanah yang masih belum tercemar.
  4. Suku pedalaman Bolivian Aymara dan Queche meyakini bahwa plasenta memiliki spirit tersendiri. Karenanya seorang suami atau ayah dari bayi harus memperlakukan plasenta tersebut dengan mencuci dan menguburkannya pada tempat yang terlindung dan tersembunyi. Jika ritual tersebut tidak dilakukan secara benar, keyakinan mereka adalah ibu atau bayi akan menjadi sakit atau bahkan bisa mati.
  5. Suku Ibo di Negiria dan Ghana memperlakukan placenta sebagai kembaran dari bayi yang hidup, sementara placenta tersebut adalah kembaran sudah meninggal terlebih dahulu.
  6. Nepal : Plasenta adalah teman bayi sehingga harus selalu dekat dengan bayi sampai terlepas dengan sendirinya, tandanya bayi sudah siap
  7. Malaysia : Plasenta sebagai saudara tua/sibling bayi sehingga perlu dihormati
  8. Di Filipina placenta dikuburkan dengan berbagai macam buku oleh ibunya. Ini suatu pengharapan bahwa kelak bayinya akan tumbuh menjadi anak yang pintar.
  9. Di Vietnam dan China placenta disiapkan untuk dikonsumsi oleh ibu yang habis melahirkan. Masyarakat China dan Vietnam meyakini bahwa ibu yang baru melahirkan seharusnya merebus sendiri placenta bayinya, kemudian dijadikan kaldu dan meminumnya untuk memperbaiki kualitas ASI nya.

 

Perlakuan masyarakat Bali (beragama Hindu) terhadap plasenta

  1. Setelah dibersihkan dimasukkan ke dalam kelapa yang telah di belah, sebagai lambang dunia dan isinya.
  2. Di isi dengan duri-duri, sehingga terhindar dari gangguan, ditambahkan rempah-rempah, dan diberi wewangian agar harum dan tidak berbau.
  3. Di bungkus kain putih dan di tanam di depan rumah, dengan ketentuan sebelah kanan untuk laki-laki, sedangkan sebelah kiri untuk perempuan.
  4. Selama 42 hari selalu di pasang lilin (malam hari), setiap hari plasenta tersebut diberikan susu juga.

 

Perlakuan masyarakat Jawa terhadap ari-ari

  1. Setelah ari-ari dibersihkan dimasukkan ke dalam kendi.
  2. Di dalam kendi disertakan tulisan jawa / Abjad agar diharapkan kelak bayi tersebut pintar.
  3. Diberikan anget-anget dan duri sehingga pandangannya tajam.
  4. Selanjutnya di tanam di depan rumah untuk bayi laki-laki selama 42 hari, dan di belakang rumah selama 36 hari untuk bayi perempuan.
  5. Sebagian ada yang membuangnya ke sungai, sehingga bayi ini kelak akan dianggap suka merantau.

 

Perlakuan masyarakat Nusa Tenggara Timur terhadap plasenta

  1. Ditaruh sekitar 3 bulan di atas perapian sampai kering.
  2. Ada juga dengan mencuci plasenta hingga bersih
  3. Selanjutnya di tanam di sertai doa benda lain sesuai dengan harapan orang tua seperti alat tulis supaya pintar, alat jahit bagi bayi perempuan supaya trampil dan lain sebagainya.
  4. E.    Langkah-langkah dalam melakukan Proses Lotus Birth

Prosedur pertolongan persalinan dengan metode Lotus Birth adalah sebagai berikut: 8, 13

  1. Ketika bayi lahir , biarkan tali pusat utuh. Jika tali pusat melingkari leher bayi, cukup di keluarkan melalui  kepala.
  2. Tunggu kelahiran placenta secara alamiah. Jangan gunakan oksitosin kaerena oksitosin akan memaksa darah terlalu banyak terlalu cepat ke bayi dan kompromi plasenta .
  3. Ketika plasenta lahir, tempatkan ke dalam mangkuk bersih di samping ibu .
  4. Tunggu transfusi melalui tali pusat ke bayi sebelum menangani plasenta .
  5. Basuhlah plasenta dengan air hangat dan keringkan .
  6. Tempatkan plasenta ke dalam saringan saringan selama 24 jam untuk memungkinkan drainase .
  7. Bungkus plasenta dalam bahan penyerap , popok atau kain dan dimasukkan ke dalam ke dalam kantong plasenta. Ganti pembungkusnya setiap hari atau lebih sering jika jika terjadi rembesan. Plasenta dapat diletakkan di tempat tidur yang telah ditaburi garam laut (yang diganti setiap hari ) dapat pula dengan herbal yang mengandung Echinacea, Calendula dan Arnica serta minyak Lavender .
  8. Bayi digendong dan disusui sesuai keinginan atau kebutuhan bayi yang diketahui secara insting oleh ibu jika bayi mengangis atau reaksi lainnya.
  9. Bayi diberi pakaian longgar agar tidak mengganggu gerakan karena tali pusat masih menempel.
  10. Bayi dapat dimandikan seperti biasa, palcenta dibiarkan seperti itu.
  11. Batasi pergerakan selama tali pusat belum puput.

 

F.    Kerugian Dilakukan Lotus Birth

Metode ini rentan terjadi infeksi karena port de entry antara tali placenta, tali pusat dan bayi masih ada. Akibatnya metode ini belum dapat sepenuhnya diadopsi dalam praktis medis. Kontroversi ini terjadi di berbagai belahan dunia, namun pilihan untuk menggunakan metode ini adalah hak ibu dan keluarga sehingga efek samping jika terjadi komplikasi seperti infeksi merupakan tanggung jawab ibu dan keluarga.13

 

Selain dapat terjadi infeksi, kekurangan lain dari metode Lotus birth adalah:12

  1. Tidak bisa diterapkan pada semua seting pelayanan karena terbatas oleh keyakinan, budaya dan kebijakan serta bukti ilmiah.
  2. Membutuhkan fasilitas kesehatan yang memadai dan SDM yang kompeten.
  3. Perlu hati-hati dalam merawat bayi, tali pusat dan plasenta sebelum puput agar tidak infeksi, tidak berbau dan tidak putus karena tindakan yang tidak disengaja karena terburu-buru atau tidak hati-hati

 

G.   Alasan Memilih Lotus Birth

 Beberapa alasan seorang ibu menentukan Lotus birth sebagai pilihan antara lain:14

  1. Tidak ada keinginan ibu untuk memisahkan plasenta dari bayi dengan cara memotong tali pusat
  2. Supaya proses transisi bayi terjadi secara lembut dan damai, yang memungkinkan penolong persalinan untuk memotong tali pusat pada waktu yang tepat.
  3. Merupakan suatu penghormatan terhadap bayi dan plasenta.
  4.  Mendorong ibu untuk menenangkan diri pada minggu pertama postpartum sebagai masa pemulihan sehingga bayi mendapat perhatian penuh.
  5.  Mengurangi kematian bayi karena pengunjung yang ingin bertemu bayi. Sebagian besar pengunjung akan lebih memilih untuk menunggu hingga plasenta telah lepas.
  6.  Alasan rohani atau emosional.

  7. Tradisi budaya yang harus dilakukan.

  8. Tidak khawatir tentang bagaimana mengklem, memotong atau mengikat tali pusat.

  9. Kemungkinan menurunkan waktu penyembuhan luka pada perut (adanya luka membutuhkan waktu untuk penyembuhan sedangkan jika tidak ada luka, waktu penyembuhan akan minimal). 

H. Kesimpulan

  1. Lotus birth adalah salah satu pilihan untuk melahirkan plasenta dengan cara alamiah, sesuai dengan filosof kebidanan.
  2. Kontroversi metode Lotus Birth untuk diaplikasikan secara general masih terus diperdebatkan, namun konsensus untuk menunda penjepitan dan pemotongan tali pusat telah disepakati dan di setujui oleh WHO bahwa tali pusat dijepit setelah berhenti berdenyut untuk memungkinkan penambahan aliran darah pada bayi untuk mencegah anemia.
  3. Sebagai tenaga kesehatan yang professional perlu mempertimbangkan baik buruk dan untung ruginya suatu metode agar dapat menghasilkan output kehamilan yaitu ibu dan bayi yang aman dan sehat serta generasi penerus yang berkualitas.

 

Referensi

  1. Black RE, Moris SS, Brice J. Where and why are 10 million children dying every year? The Lancet. 2003;361(9376):2226-34. Epub 28 June 2003.
  2. WHO. Care of the umbilical cord10 October 2013. Available from: https://apps.who.int/rht/documents/MSM98-4/MSM-98-4.htm#REVIEW.
  3. Black RE, Moris SS, Brice J. Where and why are 10 million children dying every year? The Lancet. 2003;361(9376):2226-34. Epub 28 June 2003.
  4. WHO. Care of the umbilical cord10 October 2013. Available from: https://apps.who.int/rht/documents/MSM98-4/MSM-98-4.htm#REVIEW.
  5. McDonald S, Abbott J, Hinggis S. Prophilactic ergometrine-oxytocin versus oxytocin for the third stage of labor (Cochrane Review).The Cochrane Library. John Wiley and Sons Ltd. 2006(3).
  6. Rabe H, Reynolds G, Diaz-Rossello. Early versus delayed umbilical cord clampsing in preterm infants. The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2006(3).
  7. Soltari H, Dickinson F, Symonds I. Placental cord drainage after spontaneous vaginal delivery as part of the management of the third stage of labour. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2006;3.
  8. Orbe M. Lotus Birthing : trend or risk2009 5 Oktober 2013. Available from: http://news.medill.northwestern.edu/chicago/news.aspx?id=151179.
  9. __________. Lotus Borth-Shop5 Oktober 2013. Available from: http://www.womenofspirit.asn.au/ShopText.htm.
  10. __________. Lotus Birth. International College of Spiritual Midwifery, Women of Spirit [Internet]. 5 Oktober 2013. Available from: http://www.womenofspirit.asn.au/LotusBirthText.htm.
  11. __________. Common Question about Neonatal Umbilical Integrity (Lotus Birth) : A Resource5 October 2013. Available from: http://www.lotusfertility.com/Lotus_Birth_Q/Lotus_Birth_QA.html.
  12.  __________. Lotus Birth5 Oktober 2013. Available from: http://www.lovenaturalbirth.com/lotus-birth.html.
  13. Dantes Lotus BIrth and Baby Moon2012 13 Oktober 2013. Available from: http://www.youtube.com/watch?v=OWEThfEGTso.
  14. Ayuwinda S. Lotus Birth2012 5 Oktober 2013. Available from: http://syefrinayuwinda.blogspot.com/2012/06/lotus-birth.html
  15. Jacqueline. Lotus Birth-Bo’s Birth. Available from: http://www.jacquelinejimmink.com/bambigioi/engels/images/lotus-birth-bo.pdf.
  16. Djami MEU. Isu Terkini dan Evidence Based dalam Praktik Kebidanan2012 5 Oktober 2013. Available from: https://moudyamo.wordpress.com/2013/06/.

 

 

Posted in Uncategorized | 7 Comments

Isu Terkini dan Evidence Based dalam Praktik Kebidanan

  1. Isu Terkini Praktik Kebidanan

a.      Pendahuluan

Sebelum berbicara tentang isu terkini dalam praktik kebidanan, pertama-tama filosofi kebidanan harus ditengok kembali sehingga bukti ilmiah yang kita pakai sebagai bidan tidak melenceng dari filosofi perofesi bidan itu sendir. Filosofi dasar profesi kebidanan terdiri dari 6 filosofi dasar antara lain:1

1)      Normal & Natural childbirth

2)      Women centre care

3)      Continuity of care

4)      Empowering women

5)      women and family partnership

 

 b.      Isu Terkini Praktik Kebidanan

Pada kenyataannya, banyak diantara kita mengakses temuan ilmiah namun bukan pada domain kebidanan yakni mengupayakan proses reproduksi berjalan dengan fisilogis, tetapi lebih kearah medical. Misalnya penggunaan medikamentosa untuk manajemen nyeri persalinan dengan ILA dan lain sebagainya. Berkiblat pada filosofi diatas, maka manajemen nyeri haruslah memanfaatkan alam dan kompetensi bidan yang ada misalnya dengan touch in labor. 2, 3

Image

Isu Terkini dalam praktik kebidanan lain yang sangat fenomenal adalah lotus birth yang membuat Robin Lim mendapat penghargaan yang membanggakan sejawat di seluruh dunia. Lotus Birth, atau tali pusat yang tidak dipotong, adalah praktek meninggalkan tali pusat yang tidak diklem dan lahir secara utuh, daripada ikut menghalangi proses fisiologis normal dalam perubahan Wharton’s jelly yang menghasilkan pengkleman internal alami dalam 10-20 menit pasca persalinan.

Image

Tali pusat kemudian Kering dan akhirnya lepas dari umbilicus. Pelepasan tersebut umumnya terjadi 3-10 hari setelah lahir.
Organisasi Kesehatan Dunia(WHO) menekankan pentingnya penyatuan atau penggabungan pendekatan untuk asuhan ibu dan bayi, dan menyatakan dengan jelas (dalam Panduan Praktis Asuhan Persalinan Normal:, Geneva, Swiss, 1997) “Penundaan Pengkleman (atau tidak sama sekali diklem) adalah cara fisiologis dalam perawatan tali pusat, dan pengkleman tali pusat secara dini merupakan intervensi yang masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.”
Lotus Birth jarang dilakukan di rumah sakit tetapi umumnya dilakukan di klinik dan rumah bersalin, sehingga proses bonding attachment antara ibu dan bayi dapat dilakukan, hal ini tentunya bermanfaat bagi ibu dan bayi yang baru lahir .

Image

Meskipun merupakan suatu fenomena alternatif yang baru, penundaan pemotongan tali pusat sudah ada dalam budaya Bali dan budaya orang Aborigin.
Oleh karena itu, keputusan untuk dilakukannya Lotus Birth serta dampak fisiologis yang dapat terjadi karena Lotus Birth merupakan tanggungjawab dari klien yang telah memilih dan membaut keputusan tentang tindakan tersebut.

Praktik Modern dari Lotus Birth menunjukkan bahwa mamalia yang mempunyai 99% bahan genetik hampir sama dengan manusia, yaitu simpanse pun membiarkan plasenta utuh, tidak merusak atau memotongnya. Hal tersebut dikenal dengan fakta primatologistsSampai sekarang belum ada penelitian lebih lanjut mengenai adanya kehilangan berat badan bayi dan penyakit kuning karena tindakan Lotus Birth.
Referensi mengenai Lotus Birth ini terdapat dalam ajaran Budha, Hindu, serta Kristen dan Yahudi.

Beberapa alasan ibu untuk memilih Lotus Birth:

1)    Tidak ada keinginan ibu untuk memisahkan plasenta dari bayi dengan cara memotong tali pusat

2)    Supaya proses transisi bayi terjadi secara lembut dan damai, yang memungkinkan penolong persalinan untuk memotong tali pusat pada waktu yang tepat.

3)    Merupakan suatu penghormatan terhadap bayi dan plasenta.

4)    Mendorong ibu untuk menenangkan diri pada minggu pertama postpartum sebagai masa pemulihan sehingga bayi mendapat perhatian penuh.

5)    Mengurangi kematian bayi karena pengunjung yang ingin bertemu bayi. Sebagian besar pengunjung akan lebih memilih untuk menunggu hingga plasenta telah lepas.

6)    Alasan rohani atau emosional.


7)    Tradisi budaya yang harus dilakukan.


8)    Tidak khawatir tentang bagaimana mengklem, memotong atau mengikat tali pusat.


9)    Kemungkinan menurunkan risiko infeksi (Lotus Birth memastikan sistem tertutup antara plasenta, tali pusat, dan bayi sehingga tidak ada luka terbuka)

10) Kemungkinan menurunkan waktu penyembuhan luka pada perut (adanya luka membutuhkan waktu untuk penyembuhan.sedangkan jika tidak ada luka, waktu penyembuhan akan minimal).

 

Beberapa manfaat dilakukannya Lotus Birth diantaranya :

1)    Tali pusat dibiarkan terus berdenyut sehingga memungkinkan terjadinya perpanjangan aliran darah ibu ke janin.

2)    Oksigen vital yang melalui tali pusat dapat sampai ke bayi sebelum bayi benar-benar dapat mulai bernafas sendiri.

3)    Lotus Birth juga memungkinkan bayi cepat untuk menangis segera setelah lahir.

4)    Bayi tetap berada dekat ibu setelah kelahiran sehingga memungkinkan terjadinya waktu yang lebih lama untuk bounding attachment.

5)    Dr Sarah Buckley mengatakan :”bayi akan menerima tambahan 50-100ml darah yang dikenal sebagai transfusi placenta. Darah transfusi ini mengandung zat besi, sel darah merah, keeping darah dan bahan gizi lain, yang akan bermanfaat bagi bayi sampai tahun pertama.”
Hilangnya 30 mL darah ke bayi baru lahir adalah setara dengan hilangnya 600 mL darah untuk orang dewasa. Asuhan persalinan umum dengan pemotongan tali pusat sebelum berhenti berdenyut memungkinkan bayi baru lahir kehilangan 60 mL darah, yang setara dengan 1200mL darah orang dewasa.

 2. Evidence Base Praktik Kebidanan

  1. Definisi

Pengertian evidence Base jika ditinjau dari pemenggalan kata (Inggris) maka evidence Base dapat diartikan sebagai berikut:

Evidence : Bukti, fakta

Base   : Dasar

Jadi evidence base adalah: praktik berdasarkan bukti.

 Pengertian Evidence Base menurut sumber lain:

The process of systematically finding, appraising and using research findings as the basis for clinical decisions.4

 Evidence base adalah proses sistematis untuk mencari, menilai dan menggunakan hasil penelitian sebagai dasar untuk pengambilan keputusan klinis.

 

Jadi pengertian Evidence Base-Midwifery dapat disimpulkan sebagai asuhan kebidanan berdasarkan bukti penelitian yang telah teruji menurut metodologi ilmiah yang sistematis.

 2. Manfaat Evidence Base

Manfaat yang dapat diperoleh dari pemanfaatan Evidence Base antara lain:

1)    Keamanan bagi nakes karena intervensi yang dilakukan berdasarkan bukti ilmiah

2)    Meningkatkan kompetensi (kognitif)

3)    Memenuhi tuntutan dan kewajiban sebagi professional dalam memberikan asuhan yang bermutu

4)    Memenuhi kepuasan pelanggan yang mana dalam asuhan kebidanan klien mengharapkan asuhan yang benar, seseuai dengan bukti dan teori serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

 

 3. Sumber Evidence Base

Sumber EBM dapat diperoleh melalui bukti publikasi jurnal dari internet maupun berlangganan baik hardcopy seperti majalah, bulletin, atau CD. Situs internet yang ada dapat diakses, ada yang harus dibayar namun banyak pula yang public domain. Contoh situs yang dapat diakses secarea gratis (open access) seperti:

1)    Evidence Based Midwifery di Royal College Midwives Inggris : http://www.rcm.org.uk/ebm/volume-11-2013/volume-11-issue-1/the-physical-effect-of-exercise-in-pregnancy-on-pre-eclampsia-gestational-diabetes-birthweight-and-type-of-delivery-a-struct/

2)    Midwifery Today :

http://www.midwiferytoday.com/articles/midwifestouch.asp

3)    International Breastfeeding Journal :http://www.internationalbreastfeedingjournal.com/content

4)    Comfort in Labor : http://Childbirthconnection.org.

5)    Journal of Advance Research in Biological Sciences :

 http://www.ejmanager.com/mnstemps/86/86-1363938342.pdf?t=1370044205

6)    American Journal of Obstetric and Gynecology : http://ajcn.nutrition.org/

7)    American Journal of Clinical Nutrition : http://ajcn.nutrition.org/

8)    American Journal of Public Health : http://ajcn.nutrition.org/

9)    American Journal of Nursing :

http://journals.lww.com/ajnonline/pages/default.aspx

10) Journal of Adolescent Health : http://www.jahonline.org/article/S1054-139X(04)00190-9/abstract

 4. Tingkatan Evidence Base

Quality

: Type Of Evidence

1 a (best)

: Systematic review of randomized controlled trials

1 b

: Individual randomized controlled trials with narrow confidence interval

1 C

: All or one case series (when all patients died before a new therapy was introduced but     patient receiving the new therapy now survive)

2a

: Systematic review of cohort studies

2b

: Individual study or randomized controlled trials with <80% follow up

2c

: outcome research: ecological studies

3a

:Systematic review of case –control studies

3b

: Individual case –control study

4

: Case series

5 (worse)

: Expert opinion

 Tidak semua EBM dapat langsung diaplikasikan oleh semua professional kebidanan di dunia. Oleh karena itu bukti ilmiah tersebut harus ditelaah terlebih dahulu, mem[ertimbangkan manfaat dankerugian serta kondisi setempat seperti budaya, kebijakan dan lain sebagainya.

 

5.  Evidence Base – Midwifery

Dibawah ini akan dipaparkan Evidence Base dalam praktik Kebidanan terkini menurut proses reproduksi: 5-7

1)      EBM-ANC

KEBIASAAN

KETERANGAN

Diet rendah garam untuk mengurangi hipertensi

Hipertensi bukan karena retensi garam

Membatasi hubungan seksual untuk mencegah abortus dan kelahiran prematur

Dianjurkan untuk memakai kondom ada sel semen  yang mengandung prostaglandin tidak kontak langsung dengan organ reproduksi yang dapat memicu kontraksi uterus

Pemberian kalsium untuk mencegah kram pada kaki

Kram pada kaki bukan semata-mata disebabkan oleh kekurangan kalsium

Diet untuk memcegah bayi besar

Bayi besar disebabkan oleh gangguan metabolism pada ibu seperti diabetes melitus

Aktititas dan mobilisasi/latihan (senam hamil dll) saat masa kehamilan menurunkan kejadian PEB, gestasional diabetes dan BBLR dan persalinan SC

 

  • Berkaitan dengan peredaran darah dan kontraksi otot. (lihat jurnal)8

 

 

2)      EBM INC & PNC

KEBIASAAN

KETERANGAN

Tampon Vagina

Tampon vagina menyerap darah tetapi tidak menghentikan perdarahan, bahkan perdarahan tetap terjadi dan dapat menyebabkan infeksi

 

Gurita atau sejenisnya

Selama 2 jam pertama atau selanjutnya penggunaan gurita akan menyebabkan kesulitan pemantauan involusio rahim

 

Memisahkan ibu dan bayi

Bayi benar-benar siaga selama 2 jam pertama setelah kelahiran. Ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan kontak  kulit ke kulit untuk mempererat bonding attachment serta keberhasilan pemberian ASI

 

Menduduki sesuatu yang panas

Duduk diatas bara yang panas dapat menyebabkan vasodilatasi, menurunkan tekanan darah ibu dan menambah perdarahan serta menyebabkan dehidrasi

 

Review dari Cochrane menginformasikan bahwa epidural tidak hanya menghilangkan nyeri persalinan, namun seperti tindakan medikal lainnya berdampak pada perpanjangan persalinan, peningkatan penggunaan oksitosin, peningkatan persalinan dengan tindakan seperti forcep atau vakum ekstraksi,  dan tindakan seksio sesarea karena kegagalan putaran paksi dalam, resiko robekan hingga tingkat 3-4 dan lebih banyak membutuhkan tindakan episiotomy pada nulipara. 9

 

Studi lain tentang sentuhan persalinan membuktikan bahwa dengan sentuhan persalinan 56% lebih sedikit yang mengalami tindakan Seksio Sesarea, pengurangan penggunaan anestesi epidural hingga 85%,  70 % lebih sedikit kelahiran dibantu forceps, 61% penurunan dalam penggunaan oksitosin; durasi persalinan yang lebih pendek 25%, dan penurunan 58% pada neonatus yang rawat inap.10

Menyusui secara esklusif dapat meingkatkan gerakan peristaltic ibu sehingga mencegah konstipasi ibu. Ibu yang menyusui secara eksklusif akan lebih sedikit yang konstipasi.11

3)      NEWBORN CARE

TEMUAN ILMIAH

Breastfeeding berhubungan dengan perkembangan neurodevelopment pada usia 14 bulan.12

 

Perawatan tali pusan secara terbuka lebih cepat puput dan mengurangi kejadian infeksi TP dari pada perawatan tertutup dengan penggunaan antiseptik13

 

Penyebab kematian terbanyak pada anak adalah pneumonia dan diare, sedangkan penyebab lain adalah penyakit menular atau kekurangan gizi. Salah satu upaya untuk mencegah kematian pada anak adalah melalui pemberian nutrisi yang baik dan ASI eksklusif. 14

 

Penelitian yang dilakukan di Banglades melaporkan bahwa pemberian  ASI ASI secara eksklusif merupakan faktor protektif terhadap infeksi saluran pernapasan akut OR (IK 95%) : 0,69 (0,54-0,88) dan diare OR (IK95%) : 0,69 (0,49-0,98)15

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

1)    Yuniati I. Filosofi Kebidanan. Bandung: Program Pascasarjana Program Studi Magister Kebidanan Fakultas Kedokteran  Universitas Padjadjaran Bandung; 2011.

2)    Simkin P. Comfort in Labor. How you can help your self to a normal satisfying childborth 2007. Available from: http://Childbirthconnection.org.

3)    Stillerman E. A Midwife’s Touch. Midwifery Today. 2008(84).

4)    NICE. Antenatal Care, routine care for the healthy pregnant woman. 2 ed. London: Royal College of Obstetricians and Gynaecologists; 2008.

5)    Saifuddin AB, Wiknjosastro GH, Affandi B, Waspodo D, editors. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2002.

6)    Sandip S, Asha K, Paulin G, Hiren S, Gagandeep S, Amit V. A comparative study of serum uric acid, calcium anf magnesium in preeclampsia and normal pregnancy. Journal of Advance Research in Biological Sciences. 2013;5(1):55-8.

7)    Black S, Yu H, Lee J, Sachchithananthan M, Medcalf RL. Physiologic concentration of magnesium and placental apoptosis: prevention by antioxidants. Obstetrics & Gynecology. 2001;98(2):319-24.

8)    Dignon A, Reddington A. The physical effect of exercise in pregnancy on-pre-eclampsia, gestational diabetes, birthweight and type of delivery. Evidence Based Midwifery. 2013;11(2):60-6.

9)    Rock JP. Epidural Anasthesia in Labor. Journal for Midwifes. 2000.

10) Field T, Hermandez-Reif M, Taylor S, O.Quintino, Burman I. Labor pain is reduced by massage therapy. 1997.

11) Worthington-Roberts BS, Williams SR. Nutrition throughout the Life Cycle. 4 ed. Singapore: McGraw-Hill International Ed; 2000.

12) Guxens M, Mendez MA, Molto-Puigmarti C, Julvez J, Garcia-Esteban R, Forns J, et al. Breastfeeding, long chain polyunsaturated fatty acids in colostrum and infant mental development. Official Journal of The American Academy of Pediatics. 2011;128(4):e880-e9. Epub 4 October 2011.

13) Moegni EM, Ocviyanti D, editors. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan. Jakarta: WHO, UFPA, UNICEF, Kemenkes RI, IBI, POGI; 2012.

14) Black RE, Moris SS, Brice J. Where and why are 10 million children dying every year? The Lancet. 2003;361(9376):2226-34. Epub 28 June 2003.

15) Mihrshahi S, Ichikawa N, Shuaib M, Oddy W, Ampon R, J.Dibley M, et al. Prevalence of exclusive breastfeeding in Bangladesh and its association with diarrhoea and acute respiratory infection: result of the multiple indicator cluster survey 2003. J Nutr Educ Behav. 2007;25(2):195-204.

 

Posted in Uncategorized | 64 Comments

About

About.

Posted in Uncategorized | Leave a comment