Lotus Birth

Disampaikan pada Seminar “The Amazing of Lotus Birth

Medan, 2 November 2013

Image

A.    Pendahuluan

Infeksi pada bayi baru lahir merupakan salah satu penyebab kematian bayi terutama di negara sedang berkembang. Kematian akibat infeksi tali pusat yang menyebabkan tetanus neonatorum juga masih ditemukan di berbagai negara.1 World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa sekitar 500.000 bayi baru lahir meninggal setiap tahunnya karena infeksi bakteri.2 Salah satu penyebabnya adalah praktik pemotongan tali pusat yang tidak steril.

Waktu pemotongan tali pusat biasanya tergantung pada penerapan manajemen aktif kala III (MAK III) di setiap seting pelayanan. Pemotongan tali pusat yang lebih cepat dilakukan (kombinasi pemberian oksitosin, pemotongan tali pusat yang cepat, dan traksi tali pusat) banyak dilakukan diberbagai negara akibat kebijakan penerapan MAK III aktif tersebut karena dapat menurunkan kejadian perdarahan. Namun demikian WHO juga melaporkan bahwa asuhan yang fisiologis yakni tidak memberikan oksitosin, Peregangan Tali Pusat Terkendali (PTT) juga tidak menambah risiko terjadinya perdarahan. Praktik penundaan penjepitan/ pemotongan tali pusat  terbukti dapat memproteksi bayi dari anemia defisiensi besi.2

Bukti penelitian lain melaporkan bahwa penundaan penjepitan tali pusat dapat mengurangi risiko pemberian transfusi pada bayi akibat anemia. Menunda penjepitan tali pusat pada bayi cukup bulan dapat memberikan tambahan 30 persen darah ekstra hingga 60 persen lebih banyak sel darah merah.3, 4 Studi lain juga melaporkan bahwa penundaan penjepitan tali pusat dapat menurunkan risiko terjadinya retensio placenta.5

Dari fakta yang dipaparkan diatas dapat disimpulkan bahwa penundaan pemotongan tali pusat perlu diadopsi dalam praktik kebidanan. Lotus birth merupakan salah satu metode yang dapat memungkinkan penundaan pemotongan tali pusat dilakukan meskipun masih kontroversi. Sebagai petugas kesehatan yang professional perlu memahami tentang isu tersebut, sehingga dapat memberikan asuhan yang aman dan sesuai dengan kebutuhan klien.

 

B.    Pengertian Lotus Birth

Lotus Birth adalah proses persalinan pada kala III yang tidak langsung dilakukan pemotongan tali pusat, tetapi dibiarkan tetap terhubung antara bayi dan placenta hingga puput dengan sendirinya. Rata-rata tali pusat lepas dari perut bayi sekitar 3-10 hari pasca persalinan.6

Lotus birth meskipun tidak dianjurkan secara medis karena belum ada bukti ilmiahnya, namun menjadi tren diantara ibu-ibu yang ingin melahirkan terutama home birth. Bukti ilmiah memang belum ditemukan informasinya, namun dapat ditemukan dalam penuturan para ibu yang telah melahirkan dan di publis secara online, dapat juga dalam berbagai buku yang telah ditulis oleh mereka yang telah berpengalaman sebagai praktisi kesehatan maupun ditulis oleh ibu bersalin itu sendiri.7

Implikasi dari Lotus Birth sebaiknya didekati melalui perspektif tradisi misteri kuno, dikembangkan di tempat-tempat yang beragam seperti India, Cina, dan Mesir. Melalui disiplin kontemplasi dan meditasi, tradisi ini telah mengembangkan pemahaman tentang totalitas manusia yang masih absen dari ilmu kedokteran Barat. Umumnya, mereka mengartikulasikan dimensi di mana manusia hidup secara bersamaan dan bagaimana ketidakharmonisan atau trauma dalam satu efek yang lain.8

 C.   Sejarah Lotus Birth

Lotus Birth pertama kali dirintis di Negara Amerika Serikat. Meskipun demikian, praktik in sebenarnya sudah ada dalam budaya Bali dan Aborigin di Australia.9 Sumber lain mengatakan bahwa praktik ini dimulai dengan Claire Day yang sadar akan karya Jane Goodall seorang primatology mengamati proses persalinan simpanse. Dia mencatat bahwa simpanse istirahat dan bergerak naik turun di pohon-pohon dengan bayi mereka beserta plasenta yang tetap melekat pada bayi hingga puput secara alami.10

Claire menyadari ini adalah sikap makluk sosial, hewan yang cinta damai dan tetap terhubung bersama-sama. Dia juga membaca banyak tulisan yang menunjukkan bahwa banyak orang suci, seperti kisah Buddha dan Kristus tidak diceritakan memotong tali pusat mereka saat dilahirkan. Claire menyimpulkan bahwa memotong tali pusat adalah traumatis bagi bayi, dan bahwa kita sebagai manusia akan menghabiskan terlalu banyak tahun mencoba untuk pulih dari ini.10

Dr. Sarah Buckley, ibu dari 3 anak dengan metode persalinan Lotus Birth mengatakan bahwa ketika tali pusat dipotong, akan menyebabkan stress pada bayi sehingga bayi menjadi trauma. Meskipun tali pusat pada dasarkan adalah bukan organ yang hidup, namun sebenarnya masih terjadi komunikasi dengan bayi.10

Informasi mengenai Lotus birth ini juga terdapat dalam ajaran Budha, Hindu, Kristen serta Yahudi. Di Tibet dan Zen Buddhisme, istilah “kelahiran teratai” digunakan untuk menggambarkan para guru spiritual seperti Buddha Gautama dan Padmasambhava (Lien Sen-hua), menekankan mereka masuk ke dunia sebagai satu kesatuan yang utuh, anak-anak kudus. Kelahiran teratai juga ditemukan dalam Hinduisme, misalnya dalam kisah kelahiran Wisnu.

Di Indonesia dr. I. Nyoman Hariyasa Sanjaya dalam seminar tentang Lotus Birth di Malang mengatakan bahwa “kalau pohon saja, dengan sendirinya menggugurkan daunnya mengapa kita memaksanya dengan cara memetik daunnya? Nah begitulah sama halnya dengan Plasenta. Kalau tali pusat saja, bisa terlepas dengan sendirinya… mengapa kita harus mengklem/memotongnya…”

Praktik persalinan dengan Lotus birth telah dipraktikan oleh beberapa praktisi khususnya bidan di tanah air diantaranya ibu Robin Lim di Bali, namun dari informasi yang penulis dapatkan, preferensi untuk persalinan dengan metode Lotus Birth masih sangat jarang sekitar 2-3 persalinan setiap bulannya.

 

D.   Penghormatan terhadap Placenta di Berbagai Budaya

Praktik untuk tetap mempertahankan placenta agar tetap berada dekat bayi dilakukan karena alasan kepercayaan dan keyakinan dari berbagai kepercayaan dan kebudayaan. Budaya yang sebenarnya sudah mempraktikan Lotus Birth sebelum booming di Amerika antara lain : India, Cina, Mesir, Indonesia (Bali) dan suku Aborigin di Australia dan beberapa Negara lainnya.8, 11

 

Keyakinan yang mendasari penghormatan terhadap placenta adalah: 10-12

  1. Hawai : Plasenta adalah bagian dari bayi yang harus ditanam di dekat pohon yang bertumbuh seiring dengan pertumbuhan bayi
  2. Suku Navajo Indian Barat Daya menguburkan plasenta bayi di keempat sudut kuburan keluarga yang dianggap mulia, sebagai suatu pengikat tanah leluhur dan masyarakat.
  3. Suku Maori di Selandia Baru menguburkan plasenta di tanah yang masih belum tercemar.
  4. Suku pedalaman Bolivian Aymara dan Queche meyakini bahwa plasenta memiliki spirit tersendiri. Karenanya seorang suami atau ayah dari bayi harus memperlakukan plasenta tersebut dengan mencuci dan menguburkannya pada tempat yang terlindung dan tersembunyi. Jika ritual tersebut tidak dilakukan secara benar, keyakinan mereka adalah ibu atau bayi akan menjadi sakit atau bahkan bisa mati.
  5. Suku Ibo di Negiria dan Ghana memperlakukan placenta sebagai kembaran dari bayi yang hidup, sementara placenta tersebut adalah kembaran sudah meninggal terlebih dahulu.
  6. Nepal : Plasenta adalah teman bayi sehingga harus selalu dekat dengan bayi sampai terlepas dengan sendirinya, tandanya bayi sudah siap
  7. Malaysia : Plasenta sebagai saudara tua/sibling bayi sehingga perlu dihormati
  8. Di Filipina placenta dikuburkan dengan berbagai macam buku oleh ibunya. Ini suatu pengharapan bahwa kelak bayinya akan tumbuh menjadi anak yang pintar.
  9. Di Vietnam dan China placenta disiapkan untuk dikonsumsi oleh ibu yang habis melahirkan. Masyarakat China dan Vietnam meyakini bahwa ibu yang baru melahirkan seharusnya merebus sendiri placenta bayinya, kemudian dijadikan kaldu dan meminumnya untuk memperbaiki kualitas ASI nya.

 

Perlakuan masyarakat Bali (beragama Hindu) terhadap plasenta

  1. Setelah dibersihkan dimasukkan ke dalam kelapa yang telah di belah, sebagai lambang dunia dan isinya.
  2. Di isi dengan duri-duri, sehingga terhindar dari gangguan, ditambahkan rempah-rempah, dan diberi wewangian agar harum dan tidak berbau.
  3. Di bungkus kain putih dan di tanam di depan rumah, dengan ketentuan sebelah kanan untuk laki-laki, sedangkan sebelah kiri untuk perempuan.
  4. Selama 42 hari selalu di pasang lilin (malam hari), setiap hari plasenta tersebut diberikan susu juga.

 

Perlakuan masyarakat Jawa terhadap ari-ari

  1. Setelah ari-ari dibersihkan dimasukkan ke dalam kendi.
  2. Di dalam kendi disertakan tulisan jawa / Abjad agar diharapkan kelak bayi tersebut pintar.
  3. Diberikan anget-anget dan duri sehingga pandangannya tajam.
  4. Selanjutnya di tanam di depan rumah untuk bayi laki-laki selama 42 hari, dan di belakang rumah selama 36 hari untuk bayi perempuan.
  5. Sebagian ada yang membuangnya ke sungai, sehingga bayi ini kelak akan dianggap suka merantau.

 

Perlakuan masyarakat Nusa Tenggara Timur terhadap plasenta

  1. Ditaruh sekitar 3 bulan di atas perapian sampai kering.
  2. Ada juga dengan mencuci plasenta hingga bersih
  3. Selanjutnya di tanam di sertai doa benda lain sesuai dengan harapan orang tua seperti alat tulis supaya pintar, alat jahit bagi bayi perempuan supaya trampil dan lain sebagainya.
  4. E.    Langkah-langkah dalam melakukan Proses Lotus Birth

Prosedur pertolongan persalinan dengan metode Lotus Birth adalah sebagai berikut: 8, 13

  1. Ketika bayi lahir , biarkan tali pusat utuh. Jika tali pusat melingkari leher bayi, cukup di keluarkan melalui  kepala.
  2. Tunggu kelahiran placenta secara alamiah. Jangan gunakan oksitosin kaerena oksitosin akan memaksa darah terlalu banyak terlalu cepat ke bayi dan kompromi plasenta .
  3. Ketika plasenta lahir, tempatkan ke dalam mangkuk bersih di samping ibu .
  4. Tunggu transfusi melalui tali pusat ke bayi sebelum menangani plasenta .
  5. Basuhlah plasenta dengan air hangat dan keringkan .
  6. Tempatkan plasenta ke dalam saringan saringan selama 24 jam untuk memungkinkan drainase .
  7. Bungkus plasenta dalam bahan penyerap , popok atau kain dan dimasukkan ke dalam ke dalam kantong plasenta. Ganti pembungkusnya setiap hari atau lebih sering jika jika terjadi rembesan. Plasenta dapat diletakkan di tempat tidur yang telah ditaburi garam laut (yang diganti setiap hari ) dapat pula dengan herbal yang mengandung Echinacea, Calendula dan Arnica serta minyak Lavender .
  8. Bayi digendong dan disusui sesuai keinginan atau kebutuhan bayi yang diketahui secara insting oleh ibu jika bayi mengangis atau reaksi lainnya.
  9. Bayi diberi pakaian longgar agar tidak mengganggu gerakan karena tali pusat masih menempel.
  10. Bayi dapat dimandikan seperti biasa, palcenta dibiarkan seperti itu.
  11. Batasi pergerakan selama tali pusat belum puput.

 

F.    Kerugian Dilakukan Lotus Birth

Metode ini rentan terjadi infeksi karena port de entry antara tali placenta, tali pusat dan bayi masih ada. Akibatnya metode ini belum dapat sepenuhnya diadopsi dalam praktis medis. Kontroversi ini terjadi di berbagai belahan dunia, namun pilihan untuk menggunakan metode ini adalah hak ibu dan keluarga sehingga efek samping jika terjadi komplikasi seperti infeksi merupakan tanggung jawab ibu dan keluarga.13

 

Selain dapat terjadi infeksi, kekurangan lain dari metode Lotus birth adalah:12

  1. Tidak bisa diterapkan pada semua seting pelayanan karena terbatas oleh keyakinan, budaya dan kebijakan serta bukti ilmiah.
  2. Membutuhkan fasilitas kesehatan yang memadai dan SDM yang kompeten.
  3. Perlu hati-hati dalam merawat bayi, tali pusat dan plasenta sebelum puput agar tidak infeksi, tidak berbau dan tidak putus karena tindakan yang tidak disengaja karena terburu-buru atau tidak hati-hati

 

G.   Alasan Memilih Lotus Birth

 Beberapa alasan seorang ibu menentukan Lotus birth sebagai pilihan antara lain:14

  1. Tidak ada keinginan ibu untuk memisahkan plasenta dari bayi dengan cara memotong tali pusat
  2. Supaya proses transisi bayi terjadi secara lembut dan damai, yang memungkinkan penolong persalinan untuk memotong tali pusat pada waktu yang tepat.
  3. Merupakan suatu penghormatan terhadap bayi dan plasenta.
  4.  Mendorong ibu untuk menenangkan diri pada minggu pertama postpartum sebagai masa pemulihan sehingga bayi mendapat perhatian penuh.
  5.  Mengurangi kematian bayi karena pengunjung yang ingin bertemu bayi. Sebagian besar pengunjung akan lebih memilih untuk menunggu hingga plasenta telah lepas.
  6.  Alasan rohani atau emosional.

  7. Tradisi budaya yang harus dilakukan.

  8. Tidak khawatir tentang bagaimana mengklem, memotong atau mengikat tali pusat.

  9. Kemungkinan menurunkan waktu penyembuhan luka pada perut (adanya luka membutuhkan waktu untuk penyembuhan sedangkan jika tidak ada luka, waktu penyembuhan akan minimal). 

H. Kesimpulan

  1. Lotus birth adalah salah satu pilihan untuk melahirkan plasenta dengan cara alamiah, sesuai dengan filosof kebidanan.
  2. Kontroversi metode Lotus Birth untuk diaplikasikan secara general masih terus diperdebatkan, namun konsensus untuk menunda penjepitan dan pemotongan tali pusat telah disepakati dan di setujui oleh WHO bahwa tali pusat dijepit setelah berhenti berdenyut untuk memungkinkan penambahan aliran darah pada bayi untuk mencegah anemia.
  3. Sebagai tenaga kesehatan yang professional perlu mempertimbangkan baik buruk dan untung ruginya suatu metode agar dapat menghasilkan output kehamilan yaitu ibu dan bayi yang aman dan sehat serta generasi penerus yang berkualitas.

 

Referensi

  1. Black RE, Moris SS, Brice J. Where and why are 10 million children dying every year? The Lancet. 2003;361(9376):2226-34. Epub 28 June 2003.
  2. WHO. Care of the umbilical cord10 October 2013. Available from: https://apps.who.int/rht/documents/MSM98-4/MSM-98-4.htm#REVIEW.
  3. Black RE, Moris SS, Brice J. Where and why are 10 million children dying every year? The Lancet. 2003;361(9376):2226-34. Epub 28 June 2003.
  4. WHO. Care of the umbilical cord10 October 2013. Available from: https://apps.who.int/rht/documents/MSM98-4/MSM-98-4.htm#REVIEW.
  5. McDonald S, Abbott J, Hinggis S. Prophilactic ergometrine-oxytocin versus oxytocin for the third stage of labor (Cochrane Review).The Cochrane Library. John Wiley and Sons Ltd. 2006(3).
  6. Rabe H, Reynolds G, Diaz-Rossello. Early versus delayed umbilical cord clampsing in preterm infants. The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2006(3).
  7. Soltari H, Dickinson F, Symonds I. Placental cord drainage after spontaneous vaginal delivery as part of the management of the third stage of labour. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2006;3.
  8. Orbe M. Lotus Birthing : trend or risk2009 5 Oktober 2013. Available from: http://news.medill.northwestern.edu/chicago/news.aspx?id=151179.
  9. __________. Lotus Borth-Shop5 Oktober 2013. Available from: http://www.womenofspirit.asn.au/ShopText.htm.
  10. __________. Lotus Birth. International College of Spiritual Midwifery, Women of Spirit [Internet]. 5 Oktober 2013. Available from: http://www.womenofspirit.asn.au/LotusBirthText.htm.
  11. __________. Common Question about Neonatal Umbilical Integrity (Lotus Birth) : A Resource5 October 2013. Available from: http://www.lotusfertility.com/Lotus_Birth_Q/Lotus_Birth_QA.html.
  12.  __________. Lotus Birth5 Oktober 2013. Available from: http://www.lovenaturalbirth.com/lotus-birth.html.
  13. Dantes Lotus BIrth and Baby Moon2012 13 Oktober 2013. Available from: http://www.youtube.com/watch?v=OWEThfEGTso.
  14. Ayuwinda S. Lotus Birth2012 5 Oktober 2013. Available from: http://syefrinayuwinda.blogspot.com/2012/06/lotus-birth.html
  15. Jacqueline. Lotus Birth-Bo’s Birth. Available from: http://www.jacquelinejimmink.com/bambigioi/engels/images/lotus-birth-bo.pdf.
  16. Djami MEU. Isu Terkini dan Evidence Based dalam Praktik Kebidanan2012 5 Oktober 2013. Available from: http://moudyamo.wordpress.com/2013/06/.

 

 

Posted in Uncategorized | 7 Comments

Isu Terkini dan Evidence Based dalam Praktik Kebidanan

  1. Isu Terkini Praktik Kebidanan

a.      Pendahuluan

Sebelum berbicara tentang isu terkini dalam praktik kebidanan, pertama-tama filosofi kebidanan harus ditengok kembali sehingga bukti ilmiah yang kita pakai sebagai bidan tidak melenceng dari filosofi perofesi bidan itu sendir. Filosofi dasar profesi kebidanan terdiri dari 6 filosofi dasar antara lain:1

1)      Normal & Natural childbirth

2)      Women centre care

3)      Continuity of care

4)      Empowering women

5)      women and family partnership

 

 b.      Isu Terkini Praktik Kebidanan

Pada kenyataannya, banyak diantara kita mengakses temuan ilmiah namun bukan pada domain kebidanan yakni mengupayakan proses reproduksi berjalan dengan fisilogis, tetapi lebih kearah medical. Misalnya penggunaan medikamentosa untuk manajemen nyeri persalinan dengan ILA dan lain sebagainya. Berkiblat pada filosofi diatas, maka manajemen nyeri haruslah memanfaatkan alam dan kompetensi bidan yang ada misalnya dengan touch in labor. 2, 3

Image

Isu Terkini dalam praktik kebidanan lain yang sangat fenomenal adalah lotus birth yang membuat Robin Lim mendapat penghargaan yang membanggakan sejawat di seluruh dunia. Lotus Birth, atau tali pusat yang tidak dipotong, adalah praktek meninggalkan tali pusat yang tidak diklem dan lahir secara utuh, daripada ikut menghalangi proses fisiologis normal dalam perubahan Wharton’s jelly yang menghasilkan pengkleman internal alami dalam 10-20 menit pasca persalinan.

Image

Tali pusat kemudian Kering dan akhirnya lepas dari umbilicus. Pelepasan tersebut umumnya terjadi 3-10 hari setelah lahir.
Organisasi Kesehatan Dunia(WHO) menekankan pentingnya penyatuan atau penggabungan pendekatan untuk asuhan ibu dan bayi, dan menyatakan dengan jelas (dalam Panduan Praktis Asuhan Persalinan Normal:, Geneva, Swiss, 1997) “Penundaan Pengkleman (atau tidak sama sekali diklem) adalah cara fisiologis dalam perawatan tali pusat, dan pengkleman tali pusat secara dini merupakan intervensi yang masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.”
Lotus Birth jarang dilakukan di rumah sakit tetapi umumnya dilakukan di klinik dan rumah bersalin, sehingga proses bonding attachment antara ibu dan bayi dapat dilakukan, hal ini tentunya bermanfaat bagi ibu dan bayi yang baru lahir .

Image

Meskipun merupakan suatu fenomena alternatif yang baru, penundaan pemotongan tali pusat sudah ada dalam budaya Bali dan budaya orang Aborigin.
Oleh karena itu, keputusan untuk dilakukannya Lotus Birth serta dampak fisiologis yang dapat terjadi karena Lotus Birth merupakan tanggungjawab dari klien yang telah memilih dan membaut keputusan tentang tindakan tersebut.

Praktik Modern dari Lotus Birth menunjukkan bahwa mamalia yang mempunyai 99% bahan genetik hampir sama dengan manusia, yaitu simpanse pun membiarkan plasenta utuh, tidak merusak atau memotongnya. Hal tersebut dikenal dengan fakta primatologistsSampai sekarang belum ada penelitian lebih lanjut mengenai adanya kehilangan berat badan bayi dan penyakit kuning karena tindakan Lotus Birth.
Referensi mengenai Lotus Birth ini terdapat dalam ajaran Budha, Hindu, serta Kristen dan Yahudi.

Beberapa alasan ibu untuk memilih Lotus Birth:

1)    Tidak ada keinginan ibu untuk memisahkan plasenta dari bayi dengan cara memotong tali pusat

2)    Supaya proses transisi bayi terjadi secara lembut dan damai, yang memungkinkan penolong persalinan untuk memotong tali pusat pada waktu yang tepat.

3)    Merupakan suatu penghormatan terhadap bayi dan plasenta.

4)    Mendorong ibu untuk menenangkan diri pada minggu pertama postpartum sebagai masa pemulihan sehingga bayi mendapat perhatian penuh.

5)    Mengurangi kematian bayi karena pengunjung yang ingin bertemu bayi. Sebagian besar pengunjung akan lebih memilih untuk menunggu hingga plasenta telah lepas.

6)    Alasan rohani atau emosional.


7)    Tradisi budaya yang harus dilakukan.


8)    Tidak khawatir tentang bagaimana mengklem, memotong atau mengikat tali pusat.


9)    Kemungkinan menurunkan risiko infeksi (Lotus Birth memastikan sistem tertutup antara plasenta, tali pusat, dan bayi sehingga tidak ada luka terbuka)

10) Kemungkinan menurunkan waktu penyembuhan luka pada perut (adanya luka membutuhkan waktu untuk penyembuhan.sedangkan jika tidak ada luka, waktu penyembuhan akan minimal).

 

Beberapa manfaat dilakukannya Lotus Birth diantaranya :

1)    Tali pusat dibiarkan terus berdenyut sehingga memungkinkan terjadinya perpanjangan aliran darah ibu ke janin.

2)    Oksigen vital yang melalui tali pusat dapat sampai ke bayi sebelum bayi benar-benar dapat mulai bernafas sendiri.

3)    Lotus Birth juga memungkinkan bayi cepat untuk menangis segera setelah lahir.

4)    Bayi tetap berada dekat ibu setelah kelahiran sehingga memungkinkan terjadinya waktu yang lebih lama untuk bounding attachment.

5)    Dr Sarah Buckley mengatakan :”bayi akan menerima tambahan 50-100ml darah yang dikenal sebagai transfusi placenta. Darah transfusi ini mengandung zat besi, sel darah merah, keeping darah dan bahan gizi lain, yang akan bermanfaat bagi bayi sampai tahun pertama.”
Hilangnya 30 mL darah ke bayi baru lahir adalah setara dengan hilangnya 600 mL darah untuk orang dewasa. Asuhan persalinan umum dengan pemotongan tali pusat sebelum berhenti berdenyut memungkinkan bayi baru lahir kehilangan 60 mL darah, yang setara dengan 1200mL darah orang dewasa.

 2. Evidence Base Praktik Kebidanan

  1. Definisi

Pengertian evidence Base jika ditinjau dari pemenggalan kata (Inggris) maka evidence Base dapat diartikan sebagai berikut:

Evidence : Bukti, fakta

Base   : Dasar

Jadi evidence base adalah: praktik berdasarkan bukti.

 Pengertian Evidence Base menurut sumber lain:

The process of systematically finding, appraising and using research findings as the basis for clinical decisions.4

 Evidence base adalah proses sistematis untuk mencari, menilai dan menggunakan hasil penelitian sebagai dasar untuk pengambilan keputusan klinis.

 

Jadi pengertian Evidence Base-Midwifery dapat disimpulkan sebagai asuhan kebidanan berdasarkan bukti penelitian yang telah teruji menurut metodologi ilmiah yang sistematis.

 2. Manfaat Evidence Base

Manfaat yang dapat diperoleh dari pemanfaatan Evidence Base antara lain:

1)    Keamanan bagi nakes karena intervensi yang dilakukan berdasarkan bukti ilmiah

2)    Meningkatkan kompetensi (kognitif)

3)    Memenuhi tuntutan dan kewajiban sebagi professional dalam memberikan asuhan yang bermutu

4)    Memenuhi kepuasan pelanggan yang mana dalam asuhan kebidanan klien mengharapkan asuhan yang benar, seseuai dengan bukti dan teori serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

 

 3. Sumber Evidence Base

Sumber EBM dapat diperoleh melalui bukti publikasi jurnal dari internet maupun berlangganan baik hardcopy seperti majalah, bulletin, atau CD. Situs internet yang ada dapat diakses, ada yang harus dibayar namun banyak pula yang public domain. Contoh situs yang dapat diakses secarea gratis (open access) seperti:

1)    Evidence Based Midwifery di Royal College Midwives Inggris : http://www.rcm.org.uk/ebm/volume-11-2013/volume-11-issue-1/the-physical-effect-of-exercise-in-pregnancy-on-pre-eclampsia-gestational-diabetes-birthweight-and-type-of-delivery-a-struct/

2)    Midwifery Today :

http://www.midwiferytoday.com/articles/midwifestouch.asp

3)    International Breastfeeding Journal :http://www.internationalbreastfeedingjournal.com/content

4)    Comfort in Labor : http://Childbirthconnection.org.

5)    Journal of Advance Research in Biological Sciences :

 http://www.ejmanager.com/mnstemps/86/86-1363938342.pdf?t=1370044205

6)    American Journal of Obstetric and Gynecology : http://ajcn.nutrition.org/

7)    American Journal of Clinical Nutrition : http://ajcn.nutrition.org/

8)    American Journal of Public Health : http://ajcn.nutrition.org/

9)    American Journal of Nursing :

http://journals.lww.com/ajnonline/pages/default.aspx

10) Journal of Adolescent Health : http://www.jahonline.org/article/S1054-139X(04)00190-9/abstract

 4. Tingkatan Evidence Base

Quality

: Type Of Evidence

1 a (best)

: Systematic review of randomized controlled trials

1 b

: Individual randomized controlled trials with narrow confidence interval

1 C

: All or one case series (when all patients died before a new therapy was introduced but     patient receiving the new therapy now survive)

2a

: Systematic review of cohort studies

2b

: Individual study or randomized controlled trials with <80% follow up

2c

: outcome research: ecological studies

3a

:Systematic review of case –control studies

3b

: Individual case –control study

4

: Case series

5 (worse)

: Expert opinion

 Tidak semua EBM dapat langsung diaplikasikan oleh semua professional kebidanan di dunia. Oleh karena itu bukti ilmiah tersebut harus ditelaah terlebih dahulu, mem[ertimbangkan manfaat dankerugian serta kondisi setempat seperti budaya, kebijakan dan lain sebagainya.

 

5.  Evidence Base – Midwifery

Dibawah ini akan dipaparkan Evidence Base dalam praktik Kebidanan terkini menurut proses reproduksi: 5-7

1)      EBM-ANC

KEBIASAAN

KETERANGAN

Diet rendah garam untuk mengurangi hipertensi

Hipertensi bukan karena retensi garam

Membatasi hubungan seksual untuk mencegah abortus dan kelahiran prematur

Dianjurkan untuk memakai kondom ada sel semen  yang mengandung prostaglandin tidak kontak langsung dengan organ reproduksi yang dapat memicu kontraksi uterus

Pemberian kalsium untuk mencegah kram pada kaki

Kram pada kaki bukan semata-mata disebabkan oleh kekurangan kalsium

Diet untuk memcegah bayi besar

Bayi besar disebabkan oleh gangguan metabolism pada ibu seperti diabetes melitus

Aktititas dan mobilisasi/latihan (senam hamil dll) saat masa kehamilan menurunkan kejadian PEB, gestasional diabetes dan BBLR dan persalinan SC

 

  • Berkaitan dengan peredaran darah dan kontraksi otot. (lihat jurnal)8

 

 

2)      EBM INC & PNC

KEBIASAAN

KETERANGAN

Tampon Vagina

Tampon vagina menyerap darah tetapi tidak menghentikan perdarahan, bahkan perdarahan tetap terjadi dan dapat menyebabkan infeksi

 

Gurita atau sejenisnya

Selama 2 jam pertama atau selanjutnya penggunaan gurita akan menyebabkan kesulitan pemantauan involusio rahim

 

Memisahkan ibu dan bayi

Bayi benar-benar siaga selama 2 jam pertama setelah kelahiran. Ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan kontak  kulit ke kulit untuk mempererat bonding attachment serta keberhasilan pemberian ASI

 

Menduduki sesuatu yang panas

Duduk diatas bara yang panas dapat menyebabkan vasodilatasi, menurunkan tekanan darah ibu dan menambah perdarahan serta menyebabkan dehidrasi

 

Review dari Cochrane menginformasikan bahwa epidural tidak hanya menghilangkan nyeri persalinan, namun seperti tindakan medikal lainnya berdampak pada perpanjangan persalinan, peningkatan penggunaan oksitosin, peningkatan persalinan dengan tindakan seperti forcep atau vakum ekstraksi,  dan tindakan seksio sesarea karena kegagalan putaran paksi dalam, resiko robekan hingga tingkat 3-4 dan lebih banyak membutuhkan tindakan episiotomy pada nulipara. 9

 

Studi lain tentang sentuhan persalinan membuktikan bahwa dengan sentuhan persalinan 56% lebih sedikit yang mengalami tindakan Seksio Sesarea, pengurangan penggunaan anestesi epidural hingga 85%,  70 % lebih sedikit kelahiran dibantu forceps, 61% penurunan dalam penggunaan oksitosin; durasi persalinan yang lebih pendek 25%, dan penurunan 58% pada neonatus yang rawat inap.10

Menyusui secara esklusif dapat meingkatkan gerakan peristaltic ibu sehingga mencegah konstipasi ibu. Ibu yang menyusui secara eksklusif akan lebih sedikit yang konstipasi.11

3)      NEWBORN CARE

TEMUAN ILMIAH

Breastfeeding berhubungan dengan perkembangan neurodevelopment pada usia 14 bulan.12

 

Perawatan tali pusan secara terbuka lebih cepat puput dan mengurangi kejadian infeksi TP dari pada perawatan tertutup dengan penggunaan antiseptik13

 

Penyebab kematian terbanyak pada anak adalah pneumonia dan diare, sedangkan penyebab lain adalah penyakit menular atau kekurangan gizi. Salah satu upaya untuk mencegah kematian pada anak adalah melalui pemberian nutrisi yang baik dan ASI eksklusif. 14

 

Penelitian yang dilakukan di Banglades melaporkan bahwa pemberian  ASI ASI secara eksklusif merupakan faktor protektif terhadap infeksi saluran pernapasan akut OR (IK 95%) : 0,69 (0,54-0,88) dan diare OR (IK95%) : 0,69 (0,49-0,98)15

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

1)    Yuniati I. Filosofi Kebidanan. Bandung: Program Pascasarjana Program Studi Magister Kebidanan Fakultas Kedokteran  Universitas Padjadjaran Bandung; 2011.

2)    Simkin P. Comfort in Labor. How you can help your self to a normal satisfying childborth 2007. Available from: http://Childbirthconnection.org.

3)    Stillerman E. A Midwife’s Touch. Midwifery Today. 2008(84).

4)    NICE. Antenatal Care, routine care for the healthy pregnant woman. 2 ed. London: Royal College of Obstetricians and Gynaecologists; 2008.

5)    Saifuddin AB, Wiknjosastro GH, Affandi B, Waspodo D, editors. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2002.

6)    Sandip S, Asha K, Paulin G, Hiren S, Gagandeep S, Amit V. A comparative study of serum uric acid, calcium anf magnesium in preeclampsia and normal pregnancy. Journal of Advance Research in Biological Sciences. 2013;5(1):55-8.

7)    Black S, Yu H, Lee J, Sachchithananthan M, Medcalf RL. Physiologic concentration of magnesium and placental apoptosis: prevention by antioxidants. Obstetrics & Gynecology. 2001;98(2):319-24.

8)    Dignon A, Reddington A. The physical effect of exercise in pregnancy on-pre-eclampsia, gestational diabetes, birthweight and type of delivery. Evidence Based Midwifery. 2013;11(2):60-6.

9)    Rock JP. Epidural Anasthesia in Labor. Journal for Midwifes. 2000.

10) Field T, Hermandez-Reif M, Taylor S, O.Quintino, Burman I. Labor pain is reduced by massage therapy. 1997.

11) Worthington-Roberts BS, Williams SR. Nutrition throughout the Life Cycle. 4 ed. Singapore: McGraw-Hill International Ed; 2000.

12) Guxens M, Mendez MA, Molto-Puigmarti C, Julvez J, Garcia-Esteban R, Forns J, et al. Breastfeeding, long chain polyunsaturated fatty acids in colostrum and infant mental development. Official Journal of The American Academy of Pediatics. 2011;128(4):e880-e9. Epub 4 October 2011.

13) Moegni EM, Ocviyanti D, editors. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dasar dan Rujukan. Jakarta: WHO, UFPA, UNICEF, Kemenkes RI, IBI, POGI; 2012.

14) Black RE, Moris SS, Brice J. Where and why are 10 million children dying every year? The Lancet. 2003;361(9376):2226-34. Epub 28 June 2003.

15) Mihrshahi S, Ichikawa N, Shuaib M, Oddy W, Ampon R, J.Dibley M, et al. Prevalence of exclusive breastfeeding in Bangladesh and its association with diarrhoea and acute respiratory infection: result of the multiple indicator cluster survey 2003. J Nutr Educ Behav. 2007;25(2):195-204.

 

Posted in Uncategorized | 55 Comments

About

About.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

About

About.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Total Quality Management

BAB 1

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta adanya globalisasi, maka setiap organisasi baik yang bergerak dibidang jasa maupun produk berupa barang dituntut mampu memberikan dan menghasilkan produk yang berkualitas. Untuk dapat memenuhi tuntutan masyarakat tersebut, maka setiap institusi harus memiliki manajemen yang baik. Salah satu bentuk manajemen yang berhasil dimanfaatkan dalam dunia industri dan biasa diadaptasi oleh institusi manapun adalah Total Quality Management (TQM).[1]

Kualitas telah banyak didefinisikan sebagai tingkat keunggulan, kesesuaian untuk tujuan atau penggunaan, zero defect, kesesuaian dengan persyaratan. The British Standards Institute melihat kualitas sebagai totalitas fitur dan karakteristik dari suatu produk atau jasa yang beruang pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat.[2] Deming pada tahun 1986 menekankan bahwa kualitas harus ditujukan pada kebutuhan pelanggan, sekarang dan masa depan dengan perbaikan secara terus menerus.[3] Konsep perbaikan terus menerus inilah yang melandasi TQM yang diadopsi baik di dunia industri maupun dunia pendidikan.

B.     Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini untuk memahami TQM dari aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis.

C.    Metode

Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah studi pustaka.

BAB 2

PEMBAHASAN

 A.    Aspek Ontologis Total Quality Management

  1. Pengertian Mutu

Beberapa pengertian mutu dari para tokoh mutu seperti W.Edwards Deming, Philip B. Crosby, Armand Feigenbaum, Karou Ishikawa dan Joseph Juran akan dibahas berikut ini. Definisi mutu yang dirumuskan oleh kelima tokoh tersebut dapat digolongkan menjadi 2 level yaitu sesuai dengan spesifikasi dan memuaskan pelanggan.Adapun definisi mutu menurut  tokoh diatas antara lain:

  1. Menurut Crosby mutu adalahsesuai dengan persyaratan, yang merupakan satu tingkat untukformulasi. Hal yang ditekankan Crosby dalam definisi mutu adalah bahwa (1) seseorang harus tahu apa persyaratan dan mampu menerjemahkan persyaratan menjadi produk terukur atau karakteristik layanan, dan (2) perlu untuk mengukur karakteristik produk atau jasa untuk menentukan kualitas yang tinggi.[4]
  2. Menurut Deming konsep mutu terdiri dari dua tingkat yaitumultidimensi untuk memproduksi suatu produk dan memberi jasa pelayanan sesuai harapan pelanggan untuk mencapai kepuasan pelanggan. Argumennya yang esensial adalah (1) mutu harus didefinisikan sebagai kepuasan pelanggan, (2) kualitas multidimensional di mana tidak mungkin menentukan kualitas suatu produk atau jasa hanya dengan karakteristik tunggal atau agen, dan (3) ada derajatmutu yang berbeda, karena mutu pada dasarnya disamakan dengan kepuasan pelanggan.[5]
  3. Menurut Feigenbaum mutu adalah produk komposit total dan layanan karakteristik pemasaran, teknik manufaktur, dan pemeliharaan di mana produk dan jasa yang digunakan akan memenuhi harapan pelanggan. Poin penting Feigenbaum ini adalah bahwa (1) kualitas harus didefinisikan dalam hal kepuasan pelanggan, (2) kualitas adalah multidimensi dan harus didefinisikan secara komprehensif, dan (3) karena terjadi perubahan kebutuhan dan harapan pelanggan, maka mutu adalah dinamis. [6]
  4. Menurut Ishikawa mutu adalah dua tingkatandefinisi, yaitu “Kami terlibat dalam kontrol kualitas untuk memproduksi produk-produk dengan kualitas yang dapat memenuhi persyaratan konsumen.” Poin penting definisi mutu menurut Ishikawa adalah bahwa (1) kualitas setara dengan kepuasan konsumen, (2) kualitas harus didefinisikan secara komprehensif, (3) kebutuhan konsumen dan persyaratan berubah terus menerus, oleh karena itu definisi mutu juga selalu berubah, dan (4) harga suatu produk atau jasa merupakan bagian penting dari kualitas.[7]
  5. Menurut Juran mutu merupakan upaya simultan untuk menjadi definisi tingkatsatu dan tingkat dua. Juran mendefinisikan mutu berdasarkan makna ganda, yaitu (1) Kualitas terdiri dari fitur-fitur produk yang memenuhi kebutuhan pelanggan dan dengan demikian memberikan kepuasan produk, (2) Kualitas terdiri dari kebebasan dari kekurangan. Adapun poin penting dari definisi mutu menurut Juran adalah (1) definisi praktis kualitas mungkin tidak mungkin, dan (2) kualitas terkait dengan kebutuhan pelanggan, dan kemampuanmemenuhinya menunjukkan adanya kesesuaian dengan karakteristik produk yang terukur.[8]

Terdapat pengertian lain dari mutu yaitu mutu adalahKualitas adalah derajat nilai tambah bagi produk dan / atau pelayanan seperti yang dirasakan oleh semua pemangku kepentingan melalui kesesuaian dengan spesifikasi dan tingkat untuk menambahkan keunggulan suatu produk dan/atau pelayanan melalui motivasi tenaga kerja untuk mencapai kepuasan pelanggan.

Berdasarkan berbagai konsep mutu diatas, maka dapat disimpulkan bahwa mutu adalah suatu konstruk teori yang dibangun berdasarkan dua aspek yaitu sesuai dengan harapan dan memenuhi kepuasan pelanggan secara komprehensif, dimana produk/jasa yang diberikan provider dapat memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak.

  1. Pengertian Total Quality Management

TQM merupakan perpanjangan dari pendekatan tradisional terhadap mutu.Meskipun asal usul TQM kembali ke tahun 1940-an dan 1950-an, Feigenbaum pertama menggunakan istilah resmi pada tahun 1957.TQM menurut Deming bukan hanya tentang produktivitas dan pengendalian mutu, tetapi merupakan visi yang luas tentang sifat organisasi dan bagaimana organisasi tersebut harus diubah.

Menurut Oakland (dikutip Pycraft, Singh & Phihlela 2000:736), TQM adalah filosofi, cara berpikir dan bekerja yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dan harapan pelanggan. TQM berlaku untuk semua bagian, departemen dan bagian dari institusi dan menjadi tanggung jawab semua orang dalam sebuah institusi.TQM dapat dilihat sebagai perpanjangan logis dari cara di mana kualitas yang berhubungan dengan praktik telah berkembang.

Wilkinson dan Witcher dalam Oschman, Stroh dan Auriacombe (2006) ringkasan TQM memiliki tiga persyaratan utama, seperti diuraikan di bawah ini:[9]

  1. Total: Partisipasi orang, proses, institusi: “TQM membutuhkan perbaikan terus menerus dan dilakukan secara benar yang benar sejak awal. Ketika solusi tentang mutu kebanyakan berada di luar kendali setiap individu timTQM membutuhkan kerja tim dan maintenance hubungan yang baik.
  2. Kualitas: ditemukannyapersyaratan pelanggan dengantepat: TQM membutuhkan persetujuan pelanggan terhadap spesifikasi yang memungkinkan provider untuk mengukur kinerja dan kepuasan pelanggan. Individu dan tim perlu menggunakan peralatan berkualitas dan sistem untuk memfasilitasi pengukuran dan pemecahan masalah.
  3. Manajemen: kondisi yang memungkinkan untuk Total Quality: TQM membutuhkan kepemimpinan dan komitmen total dari manajemen senior untuk mencapai tujuan mutu tersebut. Mereka harus memastikan tersedianya infrastruktur yang tepat untuk mendukung secara menyeluruh dan bukan pendekatan terkotak-kotakan.

Konsep TQM tidak dapat sepenuhnya dipahami melalui satu definisi saja. TQM dapat digolongkan padasatu pengertian yang luas dan terdiri dari:

  1. TQM sebagai budaya
  2. TQM sebagai manajemen
  3. TQM sebagai filosofi manajemen dan prinsip
  4. TQM sebagai strategi
  5. TQM sebagai suatu sistem

TQM merupakan kombinasi dari kepemimpinan yang efektif, hasil dalam organisasi dan melakukan dengan benar sejak awal. TQM juga merupakan jalan untuk mengelola masa depan, dan tidak hanya menjamin mutu suatu produk atau jasa tetapi juga mengelola proses usaha untuk memastikan tercapainya kepuasan pelanggan secara menyeluruh pada setiap tahap.

Inti dari TQM adalah interfaces dari pelanggan baik internal maupun eksternal pada beberapa tahapan proses. Hal lain yang harus tersedia adalah komitmen terhadap mutu harus dimiliki oleh keduanya, serta dikomunikasikan dengan jelas, serta perubahan budaya organisasi yakni adanya perbaikan terus menerus untuk mencapai mutu yang komprehensif.

Berdasarkan berbagai definisi TQM diatas maka dapat disimpulkan bahwa TQM adalah konsep mutu yang luas untuk dapat mencapai tujuan dengan menggunakan strategi cara melakukan perubahan terus menerus sehingga menjadi budaya kerja dari tim yang solid, melibatkan seluruh komponen dan memberdayakan merekaagar dapat memenuhi harapan pelanggan dan mencapai kepuasan pelanggan.

B.     Aspek Epistemologis TQM

TQM dipandang sebagai perpanjangan alami dari pendekatan sebelumnya untuk kualitas. TQM merupakan konsep mutu dari hasil evolusi konsep sebelumnya seiring dengan berjalannya waktu, diawali dengan tahap inspeksi untuk mengontrol adanya kesalahan sehingga dapat dilakukan pembetulan; kemudian quality control pada kualitas institusi dengan menggunakan statistik, standar kualitas pada tahapan proses dan quality assurance yang terdiri dari system mutu, biaya mutu, pemecahan masalah, dan perencanaan mutu. Pada TQM semua konsep tersebut disintesiskan dengan melibatkan semua komponen dari institusi, menggunakan strategi mutu, bekerja secara tim, memberdayakan para staf dan juga pelanggan serta pemasok atau rekanan.

Pada prinsipnya, perbedaan TQM dengan manajemen proses lainnya terletak pada perubahan yang terus menerus pada individu, kelompok dan institusi. Setiap individu dalam suatu organisasi harus mengetahui apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, mempunyai peralatan yang bagus agar dapat melakukannya secara baik dan benar serta mampu melakukan pengukuran terhadap hasil yang diperoleh serta mendapat umpan balik dari atasannya. Hal ini akan dapat memperbaiki performance bahkan meningkatkan kinerja setiap individu yang terlibat didalamny dimana dengan teori psikologi bahwa ketika seseorang dihargai keberadaannya, maka dengan sendirinya produktivitasnya meningkat.

Meskipun demikian ada beberapa hambatan di lapangan dimana TQM tidak dapat diterapkan dengan optimal. Hambatan – hambatan tersebut antara lain:[12]

  1. Pemimpin tidak memberikan arah yang jelas
  2. Tidak memahami posisi kompetitifatau mengabaikannya
  3. Setiap departemen bekerja hanya untuk dirinya sendiri
  4. Tidak memahami dengan baik antara mutu dengan kualitas dengan tingkatan
  5. Menerima bahwa tingkat cacat atau kesalahan tidak bisa dihindari
  6. Perilaku yang reaktif
  7. Sikap “Ini bukan masalah saya”

Hal yang harus diperhatikan oleh pemimpin dalam melaksanakan TQM adalah para harus mempertimbangkan:

  1. Organisasi membutuhkan komitmen jangka panjang untuk perbaikan terus menerus.
  2. Mengadopsi filosofi dari zero errors/defectsagar terjadi perubahan budayasejak pertama kalinya dilaksanakan dengan tepat.
  3. Melatih orang untuk memahami hubungan pelanggan / pemasok
  4. Jangan membeli produk atau jasa pada harga sajatanpa melihat/membandingkan harga yang sudah ada disekitar
  5. Peningkatan sistem harus dikelola secara tepat
  6. Mengadopsi metode modern yaknipengawasani dan pelatihan serta menghilangkan rasa takut dalam melakukannya.
  7. Menghilangkan hambatan antar departemen dengan mengelola proses dengan meningkatkan komunikasi dan kerja sama tim.
  8. Eliminasi sasaran tanpa metode, standar yang berdasarkan angka, barrier kebanggaan workmanshipfiction,mendapatkan fakta-fakta dengan mempelajari proses
  9. Terus-menerus mendidik dan melatih – mengembangkan.menciptakan para ahli dalam organisasi
  10. Mengembangkan pendekatan sistematis untuk mengelola pelaksanaan TQM

Dengan demikian seperti telah diuraikan diatas bahwa dalam TQM yang terdiri empat pilar yaitu proses, individu, sistem manajemen dan pengukuran kinerja dimanaperbaikan terus menerus harus dilaksanakn tidak hanya pada proses produksi, namun juga perubahan perilaku dari individu yang terlibat. Perubahan budaya bukan hanya pada teknis pelaksanaan SOP namun juga pada perilaku individu.Perubahan ini harus menjadi komitmet dari semua yang terlibat.

C.    Aspek Aksiologi TQM

Pada prinsipnya, perbedaan TQM dengan manajemen proses lainnya terletak pada perubahan yang terus menerus pada individu, kelompok dan institusi. Setiap individu dalam suatu organisasi harus mengetahui apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, mempunyai peralatan yang bagus agar dapat melakukannya dan mampu melakukan pengukuran terhadap hasil yang diperoleh serta mendapat umpan balik dari atasannya. Hal ini akan dapat memperbaiki performance bahkan meningkatkan kinerja setiap ndividu yang terlibat didalamnya.Hal ini sesuai dengan teori psikologi bahwa ketika seseorang dihargai keberadaannya, maka dengan sendirinya produktivitasnya meningkat.

Berdasarkan uraian diatas maka manfaat yang dapat diperoleh dengan melaksanakan TQM dari antara lain:

  1. Memangkas biaya produksidikelola dengan baik pada setiap tahap dan diawali dengan benar pada awalnya.
  2. Meningkatkan profit perusahaan/institusi
  3. Dapat diukur
  4. Memberdayakan SDM yang ada
  5. Karyawan merasa dihargai karena adanya kontribusi dari mereka untuk mencapai tujuan organisasi/institusi
  6. Memberikan keuntungan secara psikologis bagi karyawan menuruh hirarki Maslow yakni terpenuhiny akebutuhan dihargai
  7. Citra organisasi meningkat
  8. Mencapai sasaran yaitu dapat memenuhi harapan serta kepuasan pelanggan

 

BAB 3

KESIMPULAN

 

TQM merupakan filosofi mutu yang mengalami evolusi seiring dengan adanya perubahan kehidupan manusia, merupakan sintesis dari konsep mutu sebelumnya dari inspeksi, Quality control, dan quality assurance.Dalam budaya kita dikenal dengan istilah ”legowo” yakni pimpinan menerima masukan dari bawah, karena pada TQM merupakan kombinasi antara top down dan bottom up.Pengkotak-kotakan antar departemen dan sikap tidak peduli dengan lingkungan serta ketidak cakapan pimpinan dalam memberikan arahan menjadi hambatan terlaksannya TQM di lapangan.

Pelaksanaan TQM sejak awal sudah dmulai dengan benar dan dikelola dengan baik pada setiap tahapanya.Strategi yang telah dirumuskan harus dikomunikasikan dengan baik dan benar, agar semua individu yang terlibat tahu apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapainya, difasilitasi dengan baik dan diukur secara objektif.

Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari dengan menganut filosofi TQM dan melaksanakan dengan baik. Bagi pelanggan sudah dapat dipastikan bahwa harapan dan kepuasan akan terpenuhi. Bagi provider akan mengalami surplus karena manajemen yang baik sejak awal hingga akhir, meningkatkan produktivitas SDM dan menjadikan mereka ahli dibidangnya serta menghargai mereka dan menciptakan citra institusi yang baik.

Filosofi TQM ini tidak hanya dapat dilaksanakan di dunia industri, tetapi dapat diadopsi juga oleh dunia pendidikan sehingga kualitas pendidikan dapat ditingkatkan sekaligus memenuhi harapan pelanggan baik internal dan eksternal serta memenuhi tujuan pembangaunan manusia Indonesia secara utuh.

 DAFTAR PUSTAKA

  1. Anon. Total Quality Management (TQM) from Quality to Excellence, Departmen of
  2. Trade and Industri.www.dti.gov.uk/quality/tqm Dikutip 14 Februari 2013
  3. British Standards Institution, Quality Systems, BS EN ISO 9002, BSI, London, 1994
  4. Crosby,P.B, Quality is Free, New York:McGraw-Hill Book Co, 1979
  5. Deming, W.E, Out of The Crisis: Quality Productivity and Competitive Position, Cambridge University Press, Cambridge, 1986
  6. ____Out of The Crisis, Cambridge, MA:Massachusetts Institute of Technology, 1988
  7. Garbut S. The Transfer of TQM form industri to education. Journal of Education + Training. 1996;38(7):16-22.
  8. Feigenbaum, A.V, Total Quality Control, Third Edition, New York: McGraw-Hill Book Co, 1983
  9. Hindle T. Guide to Management Ideas and Gurus. The Economist, 2001
Posted in Uncategorized | 2 Comments

PENGARUH CHRONICAL PELVIC PAIN TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. 1.    Latar Belakang

Nyeri panggul kronis adalah masalah ginekologis yang umum terjadi dengan estimasi prevalensi 38 per 1000 pada wanita berusia 15-73, sebanding dengan asma (37/1000) dan nyeri punggung kronis (41/1000). Keadaan ini menjadi indikasi paling umum terhadap rujukan ke klinik ginekologi, terhitung 20% dari semua pasien rawat jalan yang ada di tingkat pelayanan sekunder di Amerika. 1

Chronic Pelvic Pain (CPP) adalah sakit perut dan panggul yang nonsiklik dengan durasi minimal 6 bulan. Keadaan ini adalah masalah umum pada wanita dari semua kunjungan ginekologi (10-40%).2-4 Beberapa studi telah berusaha untuk mengidentifikasi faktor risiko nyeri panggul kronis tetapi seringkali dengan hasil yang bertentangan. Sebuah meta-analisis sebelumnya melaporkan bahwa faktor-faktor sosial dan psikologis turut berperan terhadap kejadian CPP tersebut.1

Nyeri panggul kronis tidak hanya berlangsung pada saat haid, tapi dapat juga disebabkan oleh kondisi lain seperti perlengketan, tumor, visceral pain, apekdiksitis dan lain sebagainya. Kondisi ini menjadikan 10% dari kunjungan ginekologi, 20% dari indikasi laparaskopi serta 12% dari indikasi laparatomi. CPP dapat mempengaruhi psikologi dan aktivitas sehari-hari. Keadaan ini lambat laun akan mempengaruhi produktivitas seseorang. 3

Dampak yang dapat ditimbulkan oleh nyeri panggul kronis antara lain turunnya status kesehatan secara umum serta kualitas hidup, depresi, membatasi aktivitas dan penurunan produktivitas. Beberapa studi melaporkan bahwa faktor umur, status ekonomi, ras dan tingkat pendidikan karyawan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kejadian PCC. Sementara itu PCC lebih banyak terdapat pada wanita yang bercerai dari pada wanita yang menikah atau yang masih singgle.4

Sebesar 15% sampai 20% wanita yang berusia antara 18 dan 50 tahun, mengalami nyeri panggul kronis dengan durasi lebih dari satu tahun.
kasus nyeri panggul kronis menempati 2%-10% dari semua konsultasi rawat jalan ginekologi per tahun (Reiter dalam Zaitoun, 2011)

Pada umumnya setelah dirujuk ke dokter kandungan sebagai penyelidikan awal untuk mengungkap penyebab patologis misalnya, endometriosis atau perlengketan, namun memiliki hasil negatif di lebih dari setengah kasus. Selain itu, sejauh mana kondisi seperti itu menyebabkan rasa sakit tidak pasti karena ada tumpang tindih dengan faktor psikososial dalam banyak kasus. Bahkan laparoskopi mungkin memiliki efek menguntungkan melalui mekanisme psikologis. Jadi pengobatan empiris semakin banyak direkomendasikan sebagai manajemen awal standar.2

Data di Indonesia secara umum tentang nyeri panggul kronis belum ditemukan secara nasional, maupun menurut daerah atau institusi pelayanan kesehatan sekunder atau tersier.

 

  1. 2.    Rumusan Masalah

Dari paparan diatas dapat diketahui bahwa sekalipun nyeri panggul kronis tergolong rendah prevalensinya, namun berdampak buruk terhadap kesehatan secara umum, psikologis dan produktivitas hingga penurunan kualitas hidup individu. Setiap praktisi kesehatan harus dapat memahami dengan baik kasus ini dan dapat menanganinya dengan benar serta tahu penatalaksanaannya sesuai dengan wewenang serta tanggung jawabnya, agar dapat meningkatkan produktivitas kliennya.

 

  1. 3.    Tujuan

Tujuan penulisan makalah ilmiah ini agar dapat memahami dengan benar konsep nyeri panggul kronis serta mengetahui upaya yang dapat diambil petugas kesehatan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup klien.

 

  1. 4.    Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan makalah ilmiah ini diawali dengan penelusuran ilmiah baik dari textbook maupun jurnal dan artikel ilmiah dengan topik nyeri panggul kronis. Setelah itu menganalisa factor-faktor yang melatarbelakangi kejadian PCP. Langkah berikutnya adalah melakukan analisa untuk mengetahui upaya yang perlu dilakukan agar dapat meningkatkan produktivitas individu sehubungan dengan PCP, sesuai dengan kewenangan bidan.

BAB II

KAJIAN TEORI

 

 

  1. 1.    Definisi Nyeri Panggul Kronis

Nyeri panggul kronis/Chronic Pelvic Pain (CPP) didefinisikan sebagai sakit perut dan panggul yang nonsiklik dengan durasi minimal 6 bulan.2-4 Sementara itu Reiter dalam Zaitoun (2011) CPP adalah nyeri pada perut dan panggul yang diderita oleh wanita berusia antara 18 dan 50 tahun, kadang berlangsung lebih dari satu tahun. 4

Chronic Pelvic Pain adalah masalah ginekologis yang umum terjadi dengan estimasi prevalensi 38 per 1000 pada wanita berusia 15-73, tingkat sebanding dengan asma (37 per 1000) dan nyeri punggung kronis (41 per 1000). Keadaan ini menjadi indikasi paling umum terhadap rujukan ke klinik ginekologi, terhitung 20% dari semua pasien rawat jalan yang ada di tingka pelayanan sekunder Amerika. 1

            Definisi lain dari nyeri panggul kronis adalah rasa sakit nonmalignant yang dirasakan dalam struktur yang terkait dengan panggul dari pria dan wanita. Dalam kasus nyeri nosiseptif yang didokumentasikan menjadi kronis, nyeri pasti terus menerus atau berulang selama minimal 6 bulan. Jika mekanisme sensitisasi nonacute dan tengah sakit didokumentasikan dengan baik, rasa sakit dapat dianggap sebagai kronis, terlepas dari jangka waktu tersebut. Dalam semua kasus sering dikaitkan dengan kognisi negatif, perilaku, seksual, dan konsekuensi emosional. Nyeri panggul kronis dibagi menjadi sindrom nyeri panggul dan non-sindrom nyeri panggul.       

Nyeri panggul kronis (juga dikenal sebagai persisten) adalah nyeri yang berhubungan dengan perubahan dalam sistem saraf pusat (SSP) yang dapat mempertahankan persepsi nyeri dengan tidak adanya cedera akut. Perubahan ini juga dapat memperbesar persepsi sehingga rangsangan nonpainful dianggap menyakitkan (allodynia) dan rangsangan yang menyakitkan dianggap lebih menyakitkan daripada yang diharapkan (hiperalgesia). Inti otot (misalnya otot panggul) dapat menjadi hyperalgesic dengan poin memicu ganda. Organ lain juga bisa menjadi sensitif (misalnya, rahim dengan dispareunia dan dismenorea atau usus dengan gejala iritasi usus). 5

Perubahan dalam SSP terjadi di seluruh neuroaxis keseluruhan. Akibatnya, aktivitas eferen abnormal dapat menjadi penyebab perubahan fungsional (misalnya, gejala iritasi usus) dan perubahan struktural (misalnya, edema neurogenik ditemukan di beberapa sindrom sakit kandung kemih). Perubahan pusat mungkin juga bertanggung jawab untuk beberapa perubahan psikologis, yang juga memodifikasi mekanisme nyeri di kanan mereka sendiri. 5

 

  1. 2.    Prevalensi Nyeri Panggul Kronis

Prevalensi pada wanita di Amerika sebesar 38 per 1000 pada wanita berusia 15-73.1  Sumber lain menyebutkan bahwa kasus CPP menempati 20% dari semua pasien rawat jalan di tingkat pelayanan kesehatan sekunder, dan 10-40% dari semua kunjungan ginekologi yang ada di Amerika. CPP di tempat lain diinformasikan bahwa 10% dari kunjungan ginekologi, 20% dari indikasi laparaskopi serta 12% dari indikasi laparatomi.3

 

  1. 3.    Etiologi

Penyebab CPP dibagi menjadi dua yaitu faktor ginekologik dan nonginekologikal. Faktor genekologik dapat nerupa:3

  1. Siklik : endometriosis, adenomiosis, mioma ovarium dan remnant syndrome
  2. Non-Siklik: mioma

Faktor Non-Ginekologik dapat berupa :  apendiksitis, visceral pain dan referred pain.

Sedangkan faktor lain yang berhubungan dengan kejadian CPP dapat dilihat dibawah ini:1

  1. Presentasi dengan dismenorea dikaitkan dengan usia (<30 tahun), menjadi kurus (IMT <20), merokok, menstruasi dini (<12 tahun), lebih lama siklus/masa perdarahan, menstruasi tidak teratur atau berat, adanya gejala pramenstruasi, secara klinis diduga penyakit radang panggul, sterilisasi, dan penyerangan seksual historyof.
  2. Risiko dismenorea meningkat dengan jumlah rokok yang dihisap (P <0,05 dengan uji trend). Penggunaan kontrasepsi oral, asupan ikan, latihan fisik, menikah atau dalam hubungan yang stabil, dan paritas lebih tinggi dikaitkan dengan penurunan risiko dismenorea.
  3. Dispareunia lebih umum pada wanita yang telah “disunat,” telah secara klinis diduga adanya penyakit radang panggul, atau apakah peri/pascamenopause. Kecemasan, depresi, dan kekerasan seksual lebih umum pada wanita dengan dispareunia.
  4. Non-siklus nyeri panggul dikaitkan dengan berbagai kondisi umum obstetri dan ginekologi seperti riwayat keguguran sebelumnya, adanya endometriosis, secara klinis diduga penyakit radang panggul, bekas luka operasi caesar, adhesi pelvis, pelecehan fisik pada masa kanak-kanak dan pelecehan seksual seksual yang berlangsung seumur hidup.

 

Faktor lain yang ditemukan tidak berhubungan dengan CPP adalah umur, status ekonomi, ras dan tingkat pendidikan karyawan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap kejadian PCC. Sementara itu PCC lebih banyak terdapat pada wanita yang bercerai dari pada wanita yang menikah atau yang masih singgle.4

 

  1. 4.    Diagnosa

Sangat sedikit yang dapat dilihat dan dievaluasi oleh dokter. Sekitar 75% wanita yang melaporkan CPP belum melihat dokter selama 3 bulan terus-menerus, meskipun rasa sakit telah mempengaruhi kegiatan sehari-hari.5

Kenyataan di lapangan 61% tidak ada diagnosis yang diberikan oleh dokter, 39% diagnosis diberikan oleh dokter, 25% endometriosis, 49% siklus tidak berhubungan gangguan ginekologi (misalnya infeksi jamur kronis atau PID), 10% non-ginekologi dan gangguan16% lainnya. Untuk mendiagnosa secara pasti, pemeriksaan diagnostik yang dilakukan adalah dengan tindakan inspekulo, laparaskopi dan histeroskopi. Jika memerlukan terapi, saat itu langsung diberikan atau dilanjutkan dengan histerektomi.

 

  1. 5.    Terapi

Terapi yang diberikan disesuaikan dengan penyebabnya, apakah dengan laparaskopi atau histerektomi, atau hanya perlu konseling dan terapi kimiawi.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat bada bagan berikut ini.5

 

 

Gambar 2.1 Algoritma Diagnosa dan Penatalaksanaan CPP

 

  1. 6.    Dampak Nyeri Panggul Kronis

Dampak CPP dapat berupa:

  1. Skor kesehatan umum lebih rendah
  2. Terkait gangguan suasana hati dan tingkat energi (> 50%)
  3. Depresi
  4. Kualitas hidup menurun
  5. Terbatasnya aktivitas
  6. Penurunan produktivitas
  7. Keluhan dispareunia (90% pada wanita dengan CPP)

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

Dari pemaparan teori dan hasil penelitian pada bab sebelumnya, dapat diketahui bahwa nyeri panggul kronis dapat berlangsung minimal 6 bulan, atau bahkan lebih dari itu baik secara siklik mapupun non siklik. CPP juga tidak hanya pada kasus ginekologik, tapi juga dapat terjadi pada kasus urologi, sistem persarafan, sistem intestinal dan kondisi lainnya. Oleh karena itu, CPP tidak hanya diderita oleh kaum perempuan, tapi dapat juga diderita oleh laki-laki.

Penatalaksanaan dimulai dengan anamnesa yang lengkap, pemeriksaan fisik, pemeriksaan ginekologi hingga ke pemeriksaan diagnostik seperti histeroskopi dan laparaskopi atau pemeriksaan lainnya. Penatalkasanaan kasus ini hendaklah disesuaikan dengan kemampuan, tanggung jawab dan wewenang praktisi, agar tidak menimbulkan kerugian bagi klien.

Bidan sebagai praktisi kesehatan di lini terdepan pelayanan kesehatan, mempunyai tanggung jawab untuk mengatasi masalah ini. Karena CPP berdampak pada penurunan kualitas hidup, produktivitas dan gangguan psikologis individu. Yang harus diperhatikan adalah dalam penatalaksanaannya, harus disesuaikan dengan peraturan maupun kebijakan di tingkat nasional dan daerah yang berlaku. Hal ini disebabkan karena bidan maupun praktisi kesehatan lainnya harus dapat mempertanggung jawabkan apa yang telah mereka berikan kepada klien. Perlu diperhatikan juga adalah praktik yang diberikan harus sesuai dengan eviden base dan filosofi profesi masing-masing.

Dalam kasus CPP,  kewenangan bidan mulai dari anamnesa secara mendalam, pemeriksaan fisik yang terdiri dari inspeksi, palpasi dan auskultasi serta pemeriksaan ginekologi dengan inspekulo. Jika ditemukan hal-hal yang tidak normal, bidan harus melakukan rujukan.

Selain itu, dalam penatalaksanaan, bidan harus lebih banyak memberikan tindakan pencegahan maupun promosi kesehatan. Yang dapat dilakukan oleh bidan adalah dengan memberikan edukasi bagi klien tentang konsep CPP, dan faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Sebagai contoh misalnya depresi yang berhubungan dengan CPP. Jika ibu juga merokok, maka akan cenderung meningkatkan resiko dismenore yang merupakan salah satu penyebab CPP. Oleh karena itu, gaya hidup yang sehat perlu di terapkan.

Depresi yang disebebkan oleh faktor lain misalnya perceraian yang meningkatkan kejadian CPP, juga perlu mendapat perhatian. Peran bidan dalam kasus ini adalah menjadi konselor bagi klien, agar dapat meringankan beban pikirannya dengan memberikan motivasi dan support sehingga dapat lebih “nrimo” dalam menjalani kehidupan.

Sementara itu, penyebab lain seperti depresi karena adanya riwayat pelecehan seksual pada masa kecil, bidan juga berperan sebagai konselor sehingga masa lalu tidak lagi membebaninya pada kehidupan sekarang dan dimasa yang akan datang.

Sedangkan kondisi-kondisi patologis obstetri maupun ginekologi seperti adanya dismenore karena penyebab lain, PID, endometriosis, mioma dan lain sebagainya bukan menjadi wewenang bidan sehingga jika menemukan kasus seperti ini bidan harus melakukan rujukan.

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. 1.    Kesimpulan

Nyeri panggul kronis adalah nyeri panggul yang dapat dialami baik oleh pria maupun wanita, durasinya dapat berlangsung selama 6 bulan atau lebih. Kondisi ini dapat disebabkan oleh kelainan baik ginekologik maupun non-ginekologik. Pentalaksanaannya disesuaikan dengan penyebab dan kewenangan masing-masing praktisi kesehatan.

Bidan harus memperhatikan faktor-faktor yang melatarbelakangi kejadian CPP, mengkajinya dengan teliti, melakukan pemeriksaan sesuai dengan batas kewenangan serta merujuk kasus yang bukan menjadi wewenangnya.

Filosofi masing-masing profesi dan peraturan–peraturan nasional maupun daerah harus menjadi landasan bagi para praktisi kesehatan dalam menjalankan tugasnya.

CPP dapat berdampak buruk tidak hanya bagi kesehatan secara umum, tetapi juga dapat menyebabkan gangguan psikologis dan penurunan produktivitas yang berakhir dengan kualitas hidup individu yang rendah. Oleh karena itu, upaya yang dapat dilakukan bidan adalah pada upaya preventif dan promosi kesehatan agar dapat mengurangi dampak dari CPP tersebut. Pemahaman yang lebih baik dari kontribusi relatif dari berbagai faktor patologis, sosial, dan faktor psikologis akan membantu dalam evaluasi klinis serta dalam pengembangan strategi pencegahan dan pengobatan.

 

  1. 2.    Saran
    • Setiap praktisi kesehatan harus memahami dengan baik konsep CPP, faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya CPP dan manajemen CPP sesuai dengan wewenang menurut undang–undang yang berlaku.
    • Perlu melakukan refresing atau peningkatan wawasan serta ketrampilan bagi pra praktisi kesehatan dalam hal manajemen CPP
    • Institusi kesehatan baik pendidikan maupun pelayanan seyogyanya memberikan perhatian terhadap konsep dan penatalaksanaan CPP bagi para kandidat maupun praktisi kesehatan yang ada.
    • Perlu adanya studi ilmiah lebih lanjut mengenai CPP dan korelasinya dengan produktivitas kerja serta kualitas hidup.
    • Jurnal-jurnal ilmiah hendaknya difasilitasi oleh pemerintah, khususnya instansi terkait sehingga para praktisi/mahasiswa dapat dengan mudah mengakses sumber-sumber tulisan ilmiah guna peningkatan ilmu dan pengetahuannya.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Latthe P et al. Factors predisposing women to chronic pelvic pain: systematic review. BMJ. February 2006
  2. Belenky A et al. Ovarian Varices in Healthy Female Kidney Donors: Incidence, Morbidity, and Clinical Outcome. American Journal of Radiology(AJR). September 2002.
  3. Gandamiharja S. Chronic Pelvic Pain. Disampaikan pada kuliah formal FK Unpad Prodi Ilmu Kebidanan. SMF Obstetri  dan Ginekologi FKUP/RSHS. Bandung. 2011
  4. Zaitoun K. Chronic Pellvic Pain (CPP). Assistant Clinical Professor Columbia University. 2011
  5. Fall et al. EAU Guidelines on Chronic Pelvic Pain. European Association of Urology. Published by Elsevier B.V. All rights reserve. 2009

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sentuhan Persalinan

a mother's pain n love

Pendahuluan

Nyeri persalinan merupakan suatu hal yang alamiah, namun tidak semua perempuan mampu menerima hal tersebut. Dengan adanya kemajuan ilmu dan teknoogi, dewasa ini sebagian ibu hamil memilih untuk melahirkan dengan bantuan anastesi epidural, karena pengaruh orang-orang yang berada disekitar mereka. Namun ketika epidural dapat mengeliminasi sensasi nyeri, tindakan tersebut tidak mampu mengusir kekhawatiran, ketakutan, kesendirian, ketidakberdayaan dan berbagai emosi lain yang akan menyebabkan distres, ketidakpuasan atau bahkan penderitaan ibu. 1

Ibu hamil yang telah siap secara mental untuk menghadapi persalinan secara alamiah, termasuk nyeri persalinan yang merupakan efek samping dari proses tersebut, dengan sendirinya dapat mengkoping masalah ini. Nyeri persalinan bukan merupakan suatu penderitaan, namun perasaan tidak enak atau efek samping yang harus dirasakan sebagai proses untuk menjadi seorang ibu. Nyeri merupakan suatu keadaan dimana sensasi fisik yang tidak mengenakan, dapat berhubungan atau tidak sama sekali dengan penderitaan/suffering. Sedangkan penderitaan merupakan suatu distress fisiologis, misalnya ketidakberdayaan, kesedihan, ketakutan, penyesalan, panik dan kehilangan kontrol. 2

Review dari Cochrane menginformasikan bahwa epidural tidak hanya menghilangkan nyeri persalinan, namun seperti tindakan medikal lainnya berdampak pada perpanjangan persalinan, peningkatan penggunaan oksitosin, peningkatan persalinan dengan tindakan seperti forcep atau vakum ekstraksi, dan tindakan seksio sesarea karena kegagalan putaran paksi dalam, resiko robekan hingga tingkat 3-4 dan lebih banyak membutuhkan tindakan episiotomy pada nulipara.3

Studi lain tentang sentuhan persalinan membuktikan bahwa dengan sentuhan persalinan 56% lebih sedikit yang mengalami tindakan Seksio Sesarea, pengurangan penggunaan anestesi epidural hingga 85%, 70 % lebih sedikit kelahiran dibantu forceps, 61% penurunan dalam penggunaan oksitosin; durasi persalinan yang lebih pendek 25%, dan penurunan 58% pada neonatus yang rawat inap.4

Simkin dan Ohara (2002) melaporkan bahwa dengan sentuhan dalam persalinan dapat mengurangi kecemasan, mengurangi nyeri dan meningkatkan kenyamanan, mengalami waktu persalinan secara signifikan lebih pendek, tinggal di rumah sakit lebih singkat dan kejadian depresi postpartum lebih rendah. 4-5

Asuhan maternitas di abad kedua puluh satu telah menyingkirkan praktik kebidanan tradisional. Hal ini disebabkan karena ketergantungan terhadap kelebihan teknologi yang ditawarkan. Seni kebidanan tradisional sedang disingkirkan, khususnya praktek inti dari sentuhan. Jumlah perangkat teknologi di ruang persalinan berbanding terbalik dengan jumlah kontak manusia antara staf dan pasien. Dalam rangka untuk merebut kembali seni kebidanan itu, ketergantungan terhadap kelebihan teknologi dalam persalinan harus dikurangi dan sentuhan kasih perlu diremajakan kembali. 6

Setiap perempuan adalah unik, begitupula dengan proses persalinannya. Ada ibu yang menginginkan sentuhan selama proses persalinan berlangsung, ada pula yang hanya menginginkan sentuhan pada fase-fase tertentu, ada juga yang tidak menginginkan sentuhan sama sekali. Keinginan-keinginan tersebut haruslah dihargai. Setiap wanita yang berada dalam proses childbirth haruslah menjadi fokus utama asuhan, yang menjadi bagian dari filosofi kebidanan yang harus diterapkan.6

Dari paparan diatas, maka setiap bidan harus memahami sentuhan-sentuhan dalam persalinan, yang dapat menjamin suatu proses persalinan dapat berjalan secara alamiah, juga mengurangi persalinan dengan tindakan yang banyak mengakibatkan komplikasi.4-8

Sejarah dan Pengertian Sentuhan dalam Persalinan

Pada jaman dahulu, perempuan belajar tentang persalinan dari ibu dan saudara perempuannya. Persalinan berlangsung di tempat yang familiar dengan mereka yang memberikan suasana yang nyaman. Tradisi dan ritual yang ada termasuk sentuhan dan masase dalam persalinan, memberikan keyakinan bahwa mereka mampu untuk melahirkan dengan baik. Selama proses persalinan, mereka akan ditemani oleh keluarga, dan kaum perempuan yang bijaksana, yang terus memberikan dukungan yang membesarkan hati mereka dalam menjalani proses tersebut. Bidan yang berada pada seting komuntaslah yang menolong hampir sebagian besar persalinan pada jaman itu. 2

Tahun 1960 organisasi Lamaze berhasil memperjuangkan pasangannya untuk masuk kedalam ruang bersalin. Pasangan tersebut memberikan support emosi yang spesial, karena mereka akan terus hadir untuk menemani sampai anaknya lahir. Hal ini membuat para ibu tidak melewati proses persalinan seorang diri.2

Sebelum praktik-praktik medis Barat menggantikan kebidanan tradisional, sentuhan dan pijatan oleh bidan atau petugas pendamping persalinan merupakan komponen utama dari perawatan childbirth di seluruh dunia. Dengan tidak adanya peralatan, bidan mengunakan mata, telinga dan tangan untuk memberikan asuhan pada kliennya. Kemampuan ini diasah terus menerus, melalui indra pengamatan dan intuisi yang halus. Saat ini, penyembuh tradisional dan ketrampilan bidan yang terintegrasi digunakan dalam praktik kebidanan.6

Dengan adanya perubahan orientasi pelayanan kebidanan pada abad keduapuluh ke medikalisasi, maka pertolongan persalinan yang awalnya berlangsung dirumah diallihkan ke rumah sakit. Tentunya nilai-nilai yang dimiliki oleh perempuan sebelumnya tidak dapat diterapkan seluruhnya di rumah sakit. Para provider memberikan pelayanan dan dukungan namun tidak dapat secara utuh karena perhatian mereka terbagi karena begitu banyak klien yang menjadi tanggung jawabnya. Pada abad ke-21 orientasi pelayanan kebidanan kembali ka abad sebelum abad ke-20 karena para perempuan sudah memperoleh pengetahuan tentang proses persalinan. Mereka berharap agar para providernya baik itu dokter, bidan dan perawat dapat menemani mereka untuk melewati proses persalinan tersebut hingga selesai. Namun kembali kepada tanggung jawab mereka terhadap banyak klien/pasien yang ada, tentu harapan tersebut tidak dapat dipenuhi. 2

Persalinan mungkin akan mengejutkan ibu (dan pasangan) dengan kekuatannya. Didampingi oleh seorang wanita yang berpengalaman dalam persalinan untuk meyakinkan ibu dan pasangannya, akan sangat membantu. Mereka akan meyakinkah ibu bahwa persalinannya akan berjalan dengan normal dan mereka akan terus membantunya dan pasangannya dalam mengatasinya. Seorang wanita yang berpengalaman dengan kelahiran juga akan tahu bagaimana caranya memberikan sentuhan yang menghibur seperti masase dan menyarankan posisi yang nyaman yang akan membantu kemajuan dan kenyamanan persalinan ibu.4

Laporan penelitian membuktikan bahwa dukungan persalinan yang berkelanjutan memberikan keuntungan yang mengesankan.4,8 Review dari Cochrane Pregnancy and Childbirth Group menginformasikan bahwa dukungan yang berkelanjutan dalam persalinan sangat menguntungkan dibanding yang tidak memperoleh dukungan persalinan secara kontinyu. Ibu yang mendapat dukungan persalinan secara kontinyu, lebih sedikit yang mengalami persalinan dengan tindakan seperti:

  1. Seksio Sesarea
  2. Vakum Ekstraksi
  3. Anastesi persalinan seperti Epidural
  4. Laporan tentang negative Feeling tentang pengalaman persalinan

Beberapa peneliti melaporkan bahwa, dukungan persalinan akan lebih efektif jika orang yang akan mendukung ibu tidak merupakan bagian dari tim rumah sakit tersebut. Dan sebaiknya dukungan tersebut dimulai sejak awal persalinan, terutama pada ibu yang berasal dari ekonomi menengah kebawah.2

Hampir tidak ada orang baik pada jaman dahulu maupun modern, yang tidak memberikan sentuhan maupun ekspresi dalam persalinan. Pernyataan tersebut dibuat pada tahun 1884, tetapi tetap bertahan dengan ujian waktu. Pada awal abad berikutnya, dokter dan antropolog Hrdlicka Ales, yang bepergian di seluruh Amerika Utara, melaporkan bahwa bantuan yang diberikan di mana-mana secara substansial sama, terdiri dari tekanan atau memijat dengan tangan atau dengan perban disekitar perut, tujuannya adalah untuk memberikan bantuan langsung dalam proses kelahirannya. Bidan mempunyai posisi unik dalam memanfaatkan keuntungan dari pijatan ini pada proses persalinan. Dengan demikian, para ibu dapat mengontrol rasa sakit, mendorong relaksasi lebih dalam dan bahkan mempercepat proses persalinan tersebut.4-6

Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa sentuhan persalinan adalah suatu tindakan yang diberikan pada ibu yang dapat mengurangi rasa nyeri persalinan dan kecemasannya melalui sentuhan-sentuhan dan pijatan ringan, dapat dilakukan oleh pasangannya maupun orang lain yang menemaninya dalam proses persalinannya yang dipilih oleh ibu sendiri.

Studi Tentang Sentuhan Persalinan

Sebuah studi yang dilaporkan Mental Helth Update (1993) menunjukkan bahwa dukungan fisik dan emosional oleh doula memberikan manfaat besar bagi wanita dalam persalinan. Dalam studi tersebut, kelompok wanita yang menerima sentuhan fisik (pijatan ringan dan counter-pressure) dan dukungan emosional, dibandingkan dengan kontrol (yang tidak mendapat pijatan ringan/counter-pressure), 56% lebih sedikit yang mengalami tindakan Seksio Sesarea; pengurangan penggunaan anestesi epidural sebesar 85%; sebanyak 70% lebih sedikit kelahiran yang dibantu dengan forseps; 61% penurunan dalam penggunaan oksitosin; durasi persalinan yang lebih pendek 25%, dan penurunan 58% pada neonatus yang rawat inap.2,4

Touch Research Institute (Miami, Florida) melaporkan bahwa wanita yang dipijat pasangannya merasa kurang tertekan, mengalami nyeri persalinan yang kurang dan memiliki stres dan tingkat kecemasan yang lebih rendah. Selain itu, ibu yang dipijat ringan mengalami waktu persalinan secara signifikan lebih pendek, tinggal di rumah sakit lebih singkat dan depresi postpartum kurang. 4,5,7,8

Keterlibatan mitra berkorelasi dengan kurangnya kebutuhan terhadap obat pereda nyeri, proses persalinan pendek, lebih sedikit komplikasi perinatal dan sikap yang lebih positif.4 Dalam studi lain, masase yang disediakan oleh pasangan dipandang oleh para ibu memiliki nilai lebih daripada terapi sentuhan bidan atau perawat. 2,4Penggunaan Sentuhan dalam Persalinan

Respon wanita terhadap sentuhan dalam persalinan tidak dapat diprediksi dan sangat bervariasi. Bidan harus memahami bahwa karena tidak ada cara yang jelas untuk mengetahui bagaimana seorang ibu akan menjawab, dia akan perlu untuk menggunakan sejumlah teknik dan strategi yang berbeda.4

Sentuhan selama persalinan bukan berarti dipijat seperti pengertian secara tradisional. Sentuhan tidak memerlukan resep yang diberikan secara rutin. Sentuhan ini tidak memiliki awal, tengah atau akhir dan tidak berdasarkan pada jarum jam. Sebaliknya, selama proses persalinan, sumber dan jenis sentuhan harus berubah seiring dengan kemajuan persalinan, jika usaha tersebut di sambut dengan baik. Dari membelai hingga menggunakan lebih banyak dukungan/counter-pressure harus dilakukan bidan dalam manajemen nyeri pada ibu.

Umumnya, selama istirahat di antara kontraksi, elongated strokes-predominantly Effleurage (teknik pijat yang digunakan untuk pemanasan otot sebelum bekerja jaringan dalam) digunakan untuk mengendurkan otot, mengurangi asam laktat dan mengendalikan nyeri. Ibu juga dapat secara efektif menggunakan latihan peregangan pada saat ini, untuk meningkatkan sirkulasi dan mengurangi ketegangan otot. Bergerak di sekitar dan/atau mengubah posisi melahirkan sering berfungsi sebagai penghilang rasa sakit.1

Teknik lain untuk memberikan menghilangkan nyeri adalah menggunakan counter-pressure, sacral lift, panggul miring/pelvic tilts, hip squeezes dan stimulasi untuk mendapatkankan titik akupuntur persalinan yang spesifik selama kontraksi. Seorang ibu inpartu juga juga dapat menggoyangkan pinggulnya secara berirama dengan pola angka delapan sambil berdiri, bersandar atau membungkuk. Berikut ini adalah beberapa gambar tentang teknik untuk mengurangi nyeri persalinan.

Berbagai posisi melahirkan dan alat lain dapat memfasilitasi persalinan dan meringankan nyeri persalinan, terutama di bagian punggung. Misalnya, bidan dapat menekan bola tenis di bagian belakang ibu atau pinggul, di lokasi rasa sakit, selama kontraksi. Ibu juga mungkin memposisikan punggungnya menekan bola dan biarkan berat badan sendiri memberikan tekanan pada bola tersebut. Teknik lain adalah dengan menggunakan rolling pin berongga diisi dengan es atau air dingin untuk meredakan sakit otot punggung. 1,4

Tekanan yang diberikan tergantung pada tingkat kenyamanan ibu, yang dapat diharapkan untuk mengubah tingkat nyeri, seiring dengan kemajuan proses persalinan. Jenis sentuhan yang menenangkannya sebelumnya kini mungkin mengganggu dirinya. Bidan dapat meminta ibu untuk memberikan umpan balik, atau hanya mengetahui perasaannya bahwa ibu merasa rileks dari sentuhan yang diberikan bidan. Ketika seorang wanita tidak bisa mengartikulasikan kebutuhannya, dia akan mengungkapkannya melalui bahasa tubuh. Menjadi sadar akan perubahan halus dan reaksi sangat penting.

Stimulasi taktil seperti membelai, dapat meningkatkan input pada serabut saraf yang membantu menghambat impuls nyeri. Semakin proaktif suatu proses persalinan, semakin penting untuk diperhatikan dalam pengaturan pernapasan atau strategi relaksasi.

Bidan atau orang lain yang memberikan dukungan dapat dengan mudah memberikan pijatan di berbagai posisi dan dalam lingkungan yang akrab bagi perempuan yang pulang selama fase laten/kala satu, atau yang tinggal di rumah selama proses persalinannya. Mereka harus siap untuk membantu dan mendukung ibu dalam berbagai posisi tanpa mengorbankan tubuh mereka sendiri.

Caranya jika pendamping berdiri dibelakang ibu, pertahankan bahu dan lengan anda tetap dalam keadaan rileks. Gunakan kedua tungkai/kaki untuk bertumpu sebagai sumber kekuatan. Angkat berat badan anda dari kaki yang satu ke kaki yang lain, bersandarlah pada ibu untuk menambahkan kekuatan pada ibu dari pada mengunakan kedua tangan anda.

Ketika penolong sementara berlutut dibelakang ibu, tempatkan bantal dibawah lutut dan lanjutkan mengangkat dari kaki ke kaki ketika melakukan masase atau tekanan. Pertahankan bahu anda tetap rileks dan ingatlah selalu untuk menarik napas. Berdiri atau duduk setiap selesai suatu stroke/kontraksi untuk mengembalikan sirkulasi kekaki anda.

Relaksasi penting untuk mempromosikan kemajuan persalinan; banyak tindakan dilakukan untuk kenyamanan ibu dan coping strategies selama persalinan untuk memastikan bahwa ibu yang melahirkan tetap tenang dan terkendali. Bidan dapat menggunakan sentuhan ringan untuk membuat ibu menyadari daerah yang tegang pada tubuhnya yang perlu untuk dibuat rileks. Bidan juga dapat mendorong ibu untuk bernapas dan buang napas sambil mendesah keras. Bernapas bersama dengan ibu akan membantu menciptakan suatu pola pernapasan yang teratur.

Selama kala satu persalinan, impuls nyeri ditransmisikan sepanjang tulang belakang, antara T11 dan T12 dan melalui aksesori torakalis bawah dan atas saraf simpatis lumbal. (Saraf ini berasal dari rahim dan leher rahim). Ibu biasanya merasa sangat neri dan tidak nyamanan karena perubahan serviks pada abdominal bagian bawah. Mereka juga mungkin mengalami rasa sakit yang terpancar dari rahim dan dirasakan di daerah lumbosakral, puncak iliaka, gluteals dan menuruni paha. Secara umum, nyeri datang hanya selama kontraksi, meskipun beberapa wanita mungkin merasa tidak nyaman karena adanya residu nyeri di antara kontraksi.

Hampir 25-65% wanita mengalami nyeri punggung bagian bawah, yang dapat memperlambat kemajuan persalinan. Nyeri ini dapat berasal dari perubahan rahim, iskemia uterus dan distensi dari posisi oksiput posterior janin di mana kepala janin meregangkan ligament sakroiliaka. Kebanyakan bayi akan berputar selama kelahiran dan mengurangi tekanan pada punggung bawah. Alasan lain yang mungkin terjadi adalah nyeri lumbosakral cephalo-pelvic disproporsi, yang memberikan tekanan pada saraf sakral dan struktur panggul lainnya. Ketika kontraksi awal mulai, ibu harus mengambil napas pembersihan yang dalam, melalui hidung dan keluar melalui mulut. Pola pernapasan harus diulang setelah kontraksi berakhir.4

Teknik Masase pada Awal Persalinan

4.1 Pijatan dimulai diantara kontraksi dengan Effleurage (long, gliding stroke) pada pertengahan dan kembali ke sakrumnya, sesuai arah serat otot. Tekanan yang diberikan harus sesuai dengan keinginan ibu. Pijatan ini dapat dilakukan dalam posisi duduk di bangku, membungkuk di atas tempat tidur atau tumpukan bantal, atau berbaring miring. Secara bertahap pijatan dilakukan lebih dalam ke otot erector spinae, lebih rendah dari T11 ke sakrum menggunakan ujung jari anda, ibu jari, buku-buku jari atau siku di serat-serat otot dari batas lateral dari erector spinae ke prosesus transversus tulang belakang dan turun ke sendi lumbosakral.

4.2 Pijatlah seluruh punggungnya dari sakrum, naik searah tulang belakang hingga bahu atas, juga sekitar bahu dan lehernya.

4.3 Ketika kontraksi mulai, pakailah counter-pressure di tempat nyeri atau bagian yang tidak nyaman. Jaga pergelangan tangan anda tetap netral dan sebagai alternatif antara menggunakan pergelangan tangan anda, dapat menggunakan buku-buku jari, siku atau lutut (pada sakrum nya). Tahan counter-pressure ini selama kontraksi dan ingatkan untuk bernapas.

4.4 Gunakan sacral lift selama kontraksi untuk mengurangi tekanan kepala janin pada saraf tulang belakang, mengurangi tekanan perut bagian bawah, pembengkakan wasir dan mendukung dasar panggul untuk melebar. Tempatkan tangan anda pada bagian rendah sakrum dan angkatlah ke atas dan sedikit ke arah umbilikusnya. (hal ini tidak dapat dilakukan pada orang dengan nyeri tulang ekor atau subluksasi.) Gunakan buku-buku anda, lengan, bahu, lutut dan kaki sebagai alternatif dari tangan Anda. Tahanlah selama kontraksi berlangsung. Lebih baik dilakukan ketika ibu duduk, tapi bisa sangat efektif dalam posisi berbaring hanya menggunakan kepalan tangan anda secara netral. Lipat handuk tangan kecil atau kain kering di atas buku-buku anda untuk mencegah kontak antara tulang dengan tulang yang dapat memberikan ketidaknyamanan.

4.5 Selama kontraksi miringkan panggul, lakukan dengan klien anda di sisinya. Ini memanjang lumbar spine, meregangkan otot-otot dan mengurangi nyeri punggung bagian bawah. Gunakan lengan anda yang berotot di pinggul atas dan perlahan-lahan tarik ke arah kepalanya, sementara tangan anda lebih rendah pada sakrum dengan lembut ditarik ke arah kakinya. Sebuah variasi dari pelvic tilt adalah menekan lutut, juga dilakukan dengan klien anda di sisinya. Duduk di belakang ibu dan tempatkan secara aman pinggul anda secara langsung pada sakrumnya. Membungkuk dan genggamlah tangan anda di sekitar lutut bagian atas ibu. Posisikan pinggulnya di sudut kanan dan tarik lutut ke arah pinggul anda. Untuk dukungan tambahan, tekan tubuh anda ke pinggulnya, sehingga memberikan tekanan panggul pada saat yang sama.

4.6 Jika dia memiliki sakit punggung, cobalah menekan panggul atau hip squeeze (menemukan bokong bagian tengah dan gunakan kepalan tangan anda dengan pergelangan tangan netral, lakukan gerakan seperti memeras kearah atas membentuk huruf X dan tahan selama kontraksi). Sebuah titik akupunktur dapat melepaskan banyak ketegangan pada bagian belakang selama persalinan: Gall Bladder 34 ditemukan dalam depresi anterior dan inferior pada small head of fibula pada kedua kaki. Tahan kedua titik pada waktu yang sama untuk 10 hitungan, ulangi hinga 10 kali.

4.7 Titik akupunktur yang lain dapat meminimalkan nyeri, ditemukan di posterior sudut luar kuku jari kedua kaki. Titik ini adalah kandung kemih 67. Di Cina, titik ini ditususk dengan jarum untuk menghentikan rasa sakit saat persalinan. Sebuah studi baru-baru ini menginformasikan bahwa teknik Cina kuno telah terbukti efektif dalam mengurangi nyeri persalinan.4

4.8 Untuk mempercepat persalinan pada setiap tahap/kala, gunakan tekanan pada titik-titik akupunktur tertentu, terutama selama kontraksi. Tahan setiap titik bilateral selama kontraksi, lepaskan hanya untuk meringankan jari-jari anda.

 Kala I Fase Aktif

Sebagaimana persalinan berkembang menjadi fase aktif, terlihat terjadi pergeseran dalam pola kontraksi dan respon emosional ibu. Tujuan bidan adalah untuk menjaga agar ibu tetap tenang, nyaman dan terfokus yang akan mendorong kemajuan persalinan normal. Tugas lain yang penting adalah memenuhi kebutuhan emosional dengan pemahaman, memelihara dan menghormati ibu. Hal ini akan membuat ibu mempunyai kemampuan kontrol persalinan yang lebih besar, yang berdampak pada self esteem yang tinggi, lebih puas dan pengalaman terhadap persalinan yang lebih baik.

Teknik-teknik bodywork sekarang harus disesuaikan dengan kebutuhan emosional dan fisik ibu dan perubahanya. Pola napasnya akan berbeda dan harus didorong oleh untuk bernapas bersama ibu.

Teknik untuk persalinan Kala 1 Fase Aktif

5.1 Dorong ibu untuk mengubah posisi setiap kali diperlukan, setidaknya setiap 30 menit obati sakit punggung dan mempercepat persalinan.

5.2 Pertahankan pelvic tilting selama kontraksi.

5.3 Gunakan kompres panas atau dingin dengan atau tanpa tekanan bergulir pada punggung bagian bawah.

5.4 Gunakan tekanan lutut dengan posisi ibu duduk di kursi dengan punggung didukung oleh bantal. Tekanan rendah hanya pada lutut dan pertahankan tekanan ini selama kontraksi. Jika pergelangan tangan anda lelah, duduk di lantai dan berpaling darinya, menghadap ke luar. Bersandar pada lututnya dengan punggung anda, istirahatkan tangan Anda.

5.5 Gunakan pelvic squeezel untuk meringankan nyeri persalinan pada bagian belakang, karena mereposisi sendi sakroiliaka yang sedang diregangkan oleh bagian belakang kepala bayi terhadap sakrum ibu.

5.6 Lakukan drainase limfatik secara lembut, membelai ke jantungnya, jika kakinya goyang atau merasa lelah dan berat.

 Masa Transisi

Proses persalinan yang berkembang ke tahap transisi kala satu, kebanyakan wanita tidak lagi nyaman dengan setiap kontraksi yang lama dengan frekuensi yang semakin cepat. Beberapa wanita mungkin benar-benar menarik diri dari sentuhan sama sekali. Kompres panas atau dingin, atau potongan es (mungkin mengandung obat herbal seperti black cohosh, jika tekanan darahnya rendah dan stabil) dapat diterima. Memegang, goyang atau berayun dengannya mungkin dibutuhkannya. Tempatkan tangan Anda di atas daerah yang tegang dan berikan tekanan pada sakrumnya selama kontraksi dapat meredakan sakit punggung. (Jangan lupa untuk membiarkan wajah dan rahang rileks, karena banyak ibu meringis kesakitan diakhir persalinan dan mengunci rahang mereka.)

Dorongan yang tenang dan kepastian adalah hal yang terpenting selama masa transisi. Menjaga ibu tetap rileks dan tenang memungkinkan ritme alamiah persalinannya berjalan lancar.

 Kala Dua Persalinan

Setelah fase istirahat singkat kala dua, di mana ibu mungkin menikmati luncuran beberapa stroke di punggung atau perut, resume kontraksi yang kuat dan dorongan untuk meneran dirasakan dengan sendirinya. Relaksasi sangat penting untuk menghemat energi dan memuluskan jalan, terutama dasar panggul dan adductors, karena setiap ketegangan fisik dapat meningkatkan rasa sakit dan persalinan yang lambat. Secara lembut dan tenang ingatkan ibu untuk melepaskan ketegangannya.

Cara yang tepat untuk membantu ibu adalah dengan mendukung dan memberikan dorongan, tetap tenang dan membantunya mengikuti pola pernapasan dan relaksasi. Bantulah dengan perubahan posisi dan menggosok setiap daerah yang tegang jika dia ingin disentuh. Stroke dari Effleurage perut selama fase aktif dimulai pada fundus dan bergerak ke arah tulang kemaluan seiring dengan kontraksi uterus. Antara kontraksi, cobalah Effleurage dari punggung bawah, atau dia mungkin lebih suka menggoyang panggul dengan lembut. Kaki kram atau kejang otot dapat diobati dengan pijatan ringan, peregangan aktif atau pasif, atau pijatan kaki yang sesuai. Ibu akan mungkin memerlukan bantuan untuk meluruskan kakinya setelah jongkok untuk kembali berdiri tegak atau duduk.

 

 Kelahiran

Sebagian besar dukungan selama kelahiran bayi adalah membantu ibu untuk tetap tenang dan mengingatkannya untuk tetap santai dan menghemat energinya. Bidan dapat menawarkan beberapa bantuan fisik seperti dukungan counter-pressure atau support perineum dan membantunya menemukan posisi melahirkan yang nyaman.4

 Kala  III Persalinan

Pada beberapa suku, kelahiran plasenta biasanya sangat cepat karena ibu berada dalam kondisi fisik yang baik dan mereka menggunakan posisi melahirkan efisien. Berdiri dan peregangan dapat mempercepat kelahiran plasenta. Pijat digunakan hampir secara eksklusif untuk mendorong pelepasan plasenta pada suku-suku tertentu. Prosedur lainnya termasuk kontraksi otot perut, bersin, gigitan ibu pada sesuatu yang sangat keras atau setelah dia meniup ke tangannya atau botol kosong. Aplikasi panas juga digunakan untuk  mengefektifkan pengeluaran plasenta.

Para wanita dari Maroko merendam ujung tali pusar yang telah dipotong dalam minyak yang dipanaskan di atas bara panas. Dalam beberapa menit tindakan tersebut dilakukan, ibu yang baru saja melahirkan tersebut berdiri dan plasenta jatuh keluar. Orang-orang Filipina menghangatkan gagang sendok nasi yang terbuat dari kayu, lalu menekan pusar wanita. Di daerah tertentu di Meksiko, tortilla panas ditempatkan ke sisi kanan ibu. Di India, penolong persalinan meminyaki kepalanya lalu dengan kepalanya  menggosok ke  perut ibu sambil berdiri sampai semua darah keluar. Di Tahiti, plasenta dikeluarkan dengan cara ibu meremas perutnya sendiri sambil mandi di laut. Suaminya menekan kakinya melawan dia untuk merangsang pelepasan plasenta.

Pijat perut dari fundus ke tulang pubis, kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi (perawatan kanguru), stimulasi puting atau stimulasi oral (oleh pasangannya) mendorong pelepasan endogenous oksitosin yang merangsang kontraksi rahim dan melepaskan plasenta. Bidan dapat merangsang titik akupunktur Limpa 10 untuk melepaskan plasenta. Tempatkan tumit tangan Anda di perbatasan atas lutut ibu. Ibu jari Anda harus mencapai perut otot medialis vastus dimana titik ditemukan. Tahan selama 10 hitungan, ulangi sampai rahim mulai berkontraksi. Jika ibu mulai gemetar, tekan lengkungan kakinya untuk mengontrol gerakan.

 Kebijakan pemerintah sehubungan dengan sentuhan dalam persalinan

Dalam kebijakan Kemenkes 369/MEKKES/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan. Dijelaskan bahwa asuhan kebidanan adalah proses pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan.9

Berdasarkan Kemenkes diatas, maka bidan dapat melakukan praktik sentuhan persalinan, karena sesuai dengan filosofi kebidanan. Praktik ini telah terbukti dapat meminimalkan persalinan dengan tindakan, baik forcep maupun vakum ekstraksi, seksio sesarea, pengunaan oksitosin, anestesi epidural dan berbagai emosi negatif pada ibu bersalin serta memberikan pengalaman persalinan yang memuaskan pada ibu.

 Kasus

Kasus Ny. X di RS Rujukan Pemerintah Tahun 2007 . Nyonya X, G1 P0 A0 dirujuk oleh salah satu BPS di Jakarta karena kala 1 memanjang. Jam 10.00 WIB pembukaan 5 cm, effacement 50%, ketuban sudah  merembes, putih keruh, presentasi kepala, Hodge 2. Ibu hanya tergeletak di tempat tidur ruang bersalin, tanpa ditemani oleh keluarganya. Sentuhan dalam persalinan tidak ada sama sekali. Mahasiswa bidan DIV, karena merupakan salah satu staff di RS tsb, memperbolehkan keluarga untuk masuk dan menemani ibu di ruang persalinan. Mahasiswa bidan juga membantu memberikan dukungan dan motivasi bahwa persalinan ibu dapat berlangsung secara alamiah. Ibu dan suaminyapun menginginkan proses persalinan tersebut berjalan dengan normal. Ibu dan keluarga diperbolehkan berdoa bersama di ruang persalinan. Persalinan berlangsung progresif, dan 8 jam setelah diberikan dukungan persalinan baik itu penkes dari mahasiswa bidan, motivasi, pendampingan dari suaminya serta sentuhan berupa masase ringan di bagian belakang/sacrum, ibu melahirkan spontan, anak dan ibu sehat. Ibu dan suami sangat berterimakasih pada mahasiswa bidan yang membantu proses tersebut sehingga dapat berjalan dengan normal.

Pembahasan

Dari pemaparan teori pada bab sebelumnya dan kasus diatas, maka akan dibahas lebih lanjut pada tulisan ini tentang faktor-faktor penghambat sentuhan persalinan tidak dapat diterapkan oleh bidan, serta hubungan sentuhan persalinan dengan filosofi kebidanan.

2.1      Faktor–Faktor yang Menyebabkan Sentuhan dalam Persalinan Tidak Dapat di Terapkan

2.1.1      Kurangnya pemahaman bidan tentang sentuhan dalam persalinan.

2.1.2      Kebijakan diseting pelayanan yang tidak memperbolehkan praktik sentuhan dalam persalinan atau dukungan  dalam persalinan dapat dijalankan.

2.1.3      Seting dalam praktik bidan sendiri tidak menerapkan asuhan yang dapat mendukung persalinan agar dapat berlangsung secara fisiologis

2.1.4      Mental model bidan yang tidak mau tahu, tidak peduli dengan kliennya.

2.1.5      Kurikulum, pendidikan bidan yang kurang menggali praktik asuhan berdasarkan filosofi kebidanan.

2.2      Hubungan sentuhan persalinan dengan filosofi persalinan

2.2.1      Normal and natural childbirth. Praktik sentuhan dalam persalinan merupakan praktik yang mendukung filosofi bidan dimana bidan yakin bahwa proses persalinan merupakan suatu proses yang alamiah. Hal ini disebabkan karena dengan sentuhan dalam persalinan dapat mengupayakan pesalinan dapat berlangsung secara alamiah. Sentuhan tersebut dapat mengoptimalisasi fungsi tubuh dalam memanajemen nyeri. Sentuhan seperti membelai akan memberikan stimulasi taktil yang dapat meningkatkan input pada serabut saraf sehingga membantu menghambat impuls nyeri. Teknik elongated strokes-predominantly Effleurage (teknik pijat yang digunakan untuk pemanasan otot sebelum bekerja di jaringan dalam) dapat berfungsi untuk mengendurkan otot, mengurangi asam laktat dan mengendalikan nyeri. Latihan peregangan juga dapat meningkatkan sirkulasi dan mengurangi ketegangan otot. Dengan melakukan gerakan berirama membentuk pola angka delapan juga dapat memberikan efek mengurangi nyeri persalinan. Sentuhan tidak hanya berupa fisik, namun dalam praktik kebidanan praktik sentuhan juga berupa sentuhan verbal yang berdampak secara fisiologis, yakni memberikan semangat dan kesabaran kepada ibu sehingga kuat untuk melewati proses persalinan tersebut. Dengan demikian maka baik sentuhan fisik dan psikologis akan memberikan kenyamanan kepada ibu sehingga nyeri tidak dirasakan lagi sebagai suatu penderitaan/suffer, namun sebagai bagian dari proses untuk menjadi seorang ibu yang bahagia. Akan lebih bijaksana jika dukungan psikologis secara verbal berisi filosofi pribadi yang dilator belakangi oleh keyakinan ibu. Keyakinan dan kepercayaan tersebut mempunyai power yang mampu memberikan kekuatan kepada setiap umat yang meyakininya. Sentuhan kalbu tersebut diberikan sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan ibu, sehingga dengan praktik sentuhan, asuhan kebidanan dapat diberikan secara komprehensif, baik itu bio, psiko, sosio dan spiritual.

2.2.2      Empowering Woman. Dengan memberikan pendidikan kepada ibu tentang upaya apa saja yang dapat dilakukan oleh ibu dan keluarga agar persalinan dapat berlangsung secara normal. Ibu akan mengerti dan dapat membiarkan pendampingnya membantunya melewati proses persalinan seperti nyeri persalinan dengan tenang dan memahami bahwa nyeri merupakan efek yang fisiologis dari persalinan. Bidan dapat memberdayakan ibu, dimana pijatan/sentuhan dalam persalinan memampukan ibu untuk memberitahu bagian mana yang ingin dimasase, oleh siapa, kapan dan bagaiman caranya sehingga proses persalinan dapat berjalan sealamiah mungkin, yang akan menjadi pengalaman yang menyenangkan dan membahagiakan. Alangkah bijaksana jika bidan memiliki kepekaan karena pada ibu yang sudah kesakitan, kadang tidak mampu berkomunikasi secara verbal. Kepekaan bidan tentu diperlukan dalam memberikan asuhan yang sesuai dengan kebutuhan dari bahasa tubuh ibu. Setiap manusia itu unik, sehingga praktik sentuhan tidak dapat secara sama diberikan pada setiap ibu. Di Timika, Papua, praktik untuk meredakan nyeri menggunakan daun yang disebut ‘daun gatal’. Efeknya memberikan rasa gatal sehingga mengalihkan perhatian ibu terhadap rasa nyeri tersebut. Bidan tentu memberikan asuhan sesuai dengan budaya yang dimiliki ibu, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri ibu dalam menjalani proses persalinannya. Yang harus diperhatikan adalah apakah praktik berdasarkan budaya tersebut memberikan dampak positif atau negative terhadap kesehatan ibu, dan harus menyikapinya dengan santun dan bijaksana.

2.2.3      Woman and Family Patnership. Partnership antara ibu dan bidan dapat berjalan dengan baik, begitu pula dengan keluarganya kaena bidan memberikan kiat berupa praktik sentuhan persalinan pada suami atau keluarga yang mendukung ibu agar proses persalinan dapat dilalui dengan baik. Praktik ini juga memungkinkan bidan membina hubungan dengan ibu sehingga terjadi ikatan yang erat. Dengan ikatan yang erat ini bidan mendapat kepercayaan dari ibu sebagai pendamping persalinannya. Membangun hubungan dengan keluarga khususnya pasangannya, dengan sendirinya suami dapat menghargai isterinya, karena dapat mengalami proses persalinan yang begitu menyakitkan sendirian, tanpa bisa dibantu olehnya. Akibatnya hak-hak isterinya akan mendapat tempat untuk dihargai. Pandangan terhadap isterinya akan berubah. Ibu dapat menentukan hak reproduksinya sendiri yang merupakan bagian dari hak asasi manusia. Selain terbina ikatan dengan ibu, juga ikatan dengan suami atau anggota keluarga lainnya. Hal ini dapat memberikan keuntungan pada kedua belah pihak, karena keberlanjutan asuhan dapat berlangsung kkarena telah terbina kepercayaan antara bidan dengan ibu serta keluarganya.

2.2.4      Woman Center Care. Asuhan yang berpusat pada wanita dapat dijalankan, karena antara ibu dan bidan telah terjalin suatu ikatan, bidan tahu apa yang diinginkan ibu. Apakah pijatan diberikan selama proses persalinan, atau jika ibu menginginkan atau tidak menginginkannya. Apakah pijatan diberikan oleh suami, oleh bidan, atau anggota keluarganya sendiri. Selain bidan, keluargapun dapat memahami apa yang menjadi keinginan maupun kebutuhan ibu, serta dapat meresponinya dengan baik. Koping ibu terhadap nyeri persalinan akan lebih baik, karena menjadi pusat dalam asuhan dengan memperoleh support dari semua pendamping persalinannya.

2.2.5      Continuity of Care. Praktik yang berkelanjutan dapat dilaksanakan, karena kepercayaan ibu terhadap bidan telah terbina, sehingga bidan dapat melakukan asuhan selama proses persalinan, bahkan hingga masa nifas. Kepercayaan ini dapat dibina pada masa ANC, melalui kelas ANC, persiapan menjadi orang tua dan berbagai program dan kegiatan lainnya. Dengan memberikan sentuhan dalam persalinan, ibu akan merasa bahwa bidan peduli terhadap keadaannya atau ‘penderitaannya’ sehingga dapat terjalin ikatan tersebut. Keberadaan bidan sebagai perempuan memberikan kesempatan lebih besar untuk terbinanya ikatan tersebut. Tidak menutup kemungkinan jika kontak pertama bidan dengan ibu terjadi pada saat inpartu. Dengan sentuhan persalinan, bidan memberikan perhatian dan kepedulian kepada ibu, dan menjadi sahabat yang dapat memahami apa yang dialaminya, sehingga ikatan dan kepercayaan dapat terjalin dan keberlanjutan asuhan dapat terjadi, tidak hanya sampai masa nifas, namun dalam seluruh siklus reproduksi ibu tersebut dan keluarganya.

KESIMPUDAN DAN SARAN

 Kesimpulan

Sentuhan persalinan telah dijalankan sejak jaman dahulu dan telah terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan proses persalinan yang alamiah. Dengan sentuhan persalinan persalinan dengan tindakan seperti forcep, vakum ekstraksi, seksio sesarea, penggunaan oksitosin, anastesi epidural dapat dikurangi.

Praktik ini sesuai dengan filosofi kebidanan, yang harus dipahami oleh bidan dan diterapkan dalam asuhannya sehari-hari. Sentuhan dalam persalinan dapat diterapkan oleh bidan dalam berbagai seting pelayanan, baik di rumah sakit maupun di komunitas seperti BPS, Klinik atau Puskesmas

Saran

Berdasarkan pemaparan teori dan pembahasan pada bab sebelumnya maka saran yang dapat di usulkan adalah sebagai berikut:

2.1     Untuk masalah mental model para bidan, harus dimulai dari pendidikan kebidanan dimana dalam kurikulum sebaiknya memuat dan membahas secara mendalam tentang etika kebidanan, budi pekerti sehingga dapat memahami secara mendalam filosofi kebidanan yang menjadi pedoman dalam asuhannya.

2.2     Organisasi profesi sebaiknya terus merefresh ilmu dan ketrampilan yang berhubungan dengan praktik kebidanan yang sesuai dengan filosofi maupun evidence base, agar asuhan yang diberikan para anggotanya sesuai dengan keyakinan profesinya.

2.3     Praktisi bidan sebaiknya menerapkan asuhan yang sesuai dengan filosofi, yang dapat menjadi acuan bagi kandidat bidan, sebagai role model mereka dalam memberikan asuhan dikemudian hari.

2.4     Akses terhadap jurnal-jurnal kebidanan yang sulit, menyebabkan bidan sedikit sekali bahkan tidak samasekali terpapar dengan praktik kebidanan yang sesuai dengan keyakinannya maupun filosofinya. Alangkah baiknya organisasi profesi dapat memfasilitasi keterbatasan ini agar para anggotanya dapat mengakses ilmu pengetahuan yang baru.

Daftar Pustaka

  1. Simkin P. Comfort in Labor. How You Can Help Your Self to a Normal Satisfying Childbirt. 2007. [Online] Diakses tanggal 10 Desember 2011 dari: http://www. Childbirthconnection.org
  2. Green J, Amis A, Barbara A., Continuous Labor Support. Journal of Perinatal Education. Vol.16. Page 25-28. May 2007.
  3. Rock JP. Epidural Anasthesia in Labor. Journal for Midwives. 2000 [Online] diakses tanggal 10 Desember 2011 dari: http://midwifeinfo.com/articles/epidural-anesthesia-in-labor
  4. Stillerman E. A Midwive’s Touch. Midwifery Today. 2008. [Online] diakses tanggal 20 November 2011 dari: http://midwiferytoday.com/articles/midwifestouch.asp
  5. Field T et al. Labor pain is reduced by message therapy.1997. [Online] diakses tanggal 9 Desember 2011 dari: http://informahealthcare.com/doi/abs/10.3109/01674829709080701?journalCode=pob
  6. Spencer KM. The Primal Touch of Birth: Midwives, Mothers and Massage. 2004. Midwifery Today. [Online] diakses tanggal 10 Desember 2011 dari: http://www.midwiferytoday.com/articles/primaltouch.asp
  7. Childbirth Conection. Labor Pain. 30 Juni 2008. [Online] diakses tanggal 10 Desember 2011 dari: http://www.childbirthconnection.org/printerfriendly.asp?ck=10183
  8. Pairman S. Pinocomble J. Thorogood C. Tracy S. Midwifery Preparation for Practice.Elsevier. Autralia. 2006
  9. Keputusan Menteri Kesehatan No.369/MEKKES/SK/III/2007 tentang Standar Profesi Bidan
Aside | Posted on by | 6 Comments